PKI Gaya Baru

djas Merahputih

 

Tahun baru, resolusi baru. Tahun baru selalu menjadi momentum banyak orang. Entah mengapa slogan kebaruan selalu menjadi populer. Seolah-olah sesuatu yang baru itu pasti bagus. Di luar negeri beberapa kota menggunakan awalan new (baru) di depan namanya. Contoh: Newcastle, New York, New Mexico, New Hampshire dan New Jersey. Ada juga negara bernama New Zealand dan Papua New Guinea. Dan entah mengapa kabar berita dalam bahasa Inggris disebut news yang jika diterjemahkan secara brutal artinya menjadi “hal yang baru-baru”. Padahal tak semua kabar berita itu adalah hal terbaru, sebut saja misalnya kegaduhan KPK dan “mitra”nya di Kepolisian, atau skandal seleb yang hampir selalu berbarengan dengan kegaduhan politik. Itu kan cerita lama yang seharusnya sudah expired.

Indonesia ternyata cukup responsif mengadopsi fenomena kebaruan ini. Kejeniusan “orang-orang” Suharto membaca gairah orang terhadap sesuatu yang baru membuat rezim mereka mengidentifikasi diri sebagai Orde Baru. Sukarno sendiri terpaksa menerima cap sebagai bagian dari Orde Lama. Padahal, anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dewasa) juga tau tak ada yang baru di bawah matahari.

img. 1 Masih Alergi Palu Arit?

img. 1 Masih Alergi Palu Arit?

Begitu populernya ungkapan <baru> ini seorang tokoh nasional mewanti-wanti generasi muda terhadap sesuatu yang juga baru bernama; PKI gaya baru atau lebih keren disebut KGB (Komunis Gaya Baru). Bagi generasi muda, apalagi di tahun baru ini tentu pesan tersebut harus dihayati sebaik-baiknya. Hanya saja, penulis sedikit khawatir, apakah generasi baru pasca Orde Baru masih mengenal sesuatu yang disebut komunis? Apalagi bangsa kita terkenal memili’i sifat pelupa. Nulisnya aja masih sering salah, Kuminis..! Gimana dengan fahamnya..??

Tapi sudahlah, generasi sekarang memang harus tetap waspada, terutama di tahun-tahun mendatang. Anda harus terus waspada terhadap bahaya PKI gaya baru..!! Bilkhusus bagi para wanita (Lho kok..??).

Kartini pasti sangat gembira melihat kemajuan pendidikan kaum wanita di negeri kita. Emansipasi kaum wanita maju pesat di segala bidang. Bahkan, Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak negara demokratis yang pernah dipimpin oleh seorang presiden wanita. Amerika saja belum pernah. Peranan wanita di parlemen juga terus didorong dengan persyaratan komposisi legislator perempuan yang mencapai 30%. Pemimpin wanita dalam organisasi maupun perusahaan bukan lagi hal aneh.

Kita sudah biasa melihat menteri wanita seperti Susi, walikota perempuan kayak Risma, Lurah bernama Susan, Rektor, Kepala Sekolah, Professor, Doktor, Insinyur, hingga atlit angkat besi maupun buruh bangunan. Yang dulu hanya bisa diperankan oleh kaum lelaki kini sudah bisa pula dikerjakan oleh para wanita. Meski demikian, jangan pernah berharap untuk menemukan Imam Istiqlal, Uskup, Biksu atau seorang Penghulu wanita, yah..! Membayangkannya saja sudah susah. Dan jangan pernah sekalipun memaksa seorang Kuminis untuk berkomentar tentang hal ini. Ssstt.., katanya, mereka tak kenal agama… (aaPAA..!!!?)

Tapi, yang mungkin tak terbayangkan oleh Kartini adalah bahwa meskipun para wanita moderen telah berhasil mensejajarkan diri dengan kaum pria, kebanyakan wanita masih percaya bahwa pria yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak harus lebih mapan dari segi intelektual dan finansial dari si wanita sendiri. Semangat untuk selalu menempatkan wanita di bawah pria masih tetap tumbuh dalam masyarakat. Sementara data statistik menunjukkan proporsi penduduk wanita cenderung mendekati atau lebih tinggi daripada jumlah penduduk pria, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Artinya, peluang seorang wanita intelek dan kaya untuk mendapatkan pasangan ideal akan menjadi semakin sempit. Maaf yah, ini sedikit menyimpang dari pokok bahasan kita tentang Kuminis.

img. 2 Man v.s Woman

img. 2 Man v.s Woman

Persaingan para wanita untuk mendapatkan pria semakin sengit. Di Korea, para wanita moderen dikenal sangat gemar melakukan operasi plastik untuk mempercantik diri. Entah untuk menarik lawan jenis atau sekedar untuk membuat iri sesama wanita. Namun, jika fenomena ini juga menjangkiti wanita moderen di Indonesia, patut diduga motifnya adalah yang pertama. Masyarakat kita masih akrab dengan pertanyaan bernada teror, “Kapan kawin..?” jika bertemu teman lama atau keluarga dan kerabat dekat. Belum lagi, wanita moderen saat ini juga mendapatkan saingan tambahan untuk memperebutkan para pria, “wanita berkumis penyuka sesama jenis..!!” (Hiiiiii…!!).

Banyak yang lupa bahwa tujuan awal penciptaan hawa adalah untuk menjadi ibu bagi anak adam. Cantik, kaya dan pintar sebenarnya hanyalah pelengkap dan baru muncul kemudian setelah ada manusia lain yang lebih jelek, kere dan lebih bodoh. Cantik, kaya dan pintar itu relatif dan tidak menganulir tujuan utama penciptaan kaum hawa. Sebagai gambaran (bukan perbandingan), meskipun mobil Alphard di showroom itu keren, mahal dan canggih, hal tersebut tak menghapuskan tujuan utama Alphard tersebut nangkring di showroom mobil. Tujuan akhirnya adalah agar ia bisa berjalan di jalan raya, bukan mondok di garasi atau showroom. Tentu saja setelah perkara adminstratif diselesaikan dahulu lewat mekanisme perjodohan. Alphard yang lebih suka mondok di showroom bisa kita anggap sebagai Alphard jomblo yang belum bertemu jodoh. Jika ada yang tak sependapat dengan hal ini, pastilah ia seorang Kuminis.

Fenomena jomblo yang semakin meningkat, selain karena “Single” sudah menjadi salah satu pilihan hidup, juga banyak disebabkan oleh semakin sempitnya peluang bagi wanita mapan untuk mendapatkan pasangan ideal, dalam arti lebih intelek dan lebih kaya. Untuk beberapa kasus, sang wanita mungkin bisa menerima, namun keluarga dan lingkungan lebih sering memiliki sikap berbeda. Emansipasi kaum perempuan belum bisa sejalan dengan sikap sosial dalam masyarakat. Superioritas pria atas wanita nyatanya masih tetap hadir sebagai sikap sosial di luar sana. Maaf sekali lagi, kita semakin jauh dari pembahasan tentang Kuminis.

img. 3 Superioritas milik siapa?

img. 3 Superioritas milik siapa?

Di masa depan, harta dan tingkat pendidikan sebaiknya tak lagi menjadi hambatan untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Seorang wanita tamatan S3 boleh saja berpasangan dengan pria tamatan SMA, perempuan kaya ngga perlu nyari pria yang lebih kaya, gadis hebat tak harus memilih pria yang lebih hebat. Meskipun dalam beberapa kasus, para pria standarlah yang justru enggan memilih dan menikahi wanita terpelajar hanya karena si wanita akan semakin sulit dikadalin. Mudah-mudahan penulis tak termasuk tipe jagoan seperti ini.

Bagi para jomblo wanita yang membaca tulisan ini, saran penulis, tetaplah istiqamah dalam menuntut ilmu. Wanita Indonesia harus hebat dan terpelajar, jangan sia-siakan perjuangan Kartini. Tahun baru 2016 harus disambut dengan semangat dan harapan baru pula. Tak perlu risau tentang jodoh, masih banyak jomblo pria yang menunggu di luar sana (Ayo ngacung..!!). Mereka hanya perlu diyakinkan, bahwa Kartini tak pernah melarang pria Indonesia untuk “nembak” kaumnya yang lebih terpelajar. Kartini pun tak pernah mengajarkan kaum wanita untuk meremehkan suami-suami mereka. Kartini juga tak menghendaki generasi penerusnya untuk menjadi pengikut dan penganut PKI Gaya Baru, seperti pesan sesepuh kita.

Tau kenapa? Sebabnya adalah bahwa ia merupakan sebuah aliran berbahaya yang teramat sangat patut untuk terus diwaspadai. PKI Gaya Baru harus dicegah..!! PKI gaya baru itu adalah Perawan Karena Ilmu. Aliran ini bahkan lebih mencemaskan daripada Kuminis era Sovyet.

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture’nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "PKI Gaya Baru"

  1. djasMerahputih  19 January, 2016 at 07:27

    Kang JC:
    Ha ha ha….
    Prinsip Kang Anoew kayaknya mirip2 djas deh, lebih mementingkan isi daripada kemasan…

    Kang Anoew masih sibuk motret yah Kang JC…??

  2. djasMerahputih  19 January, 2016 at 07:24

    Makasih sudah mampir om DJ, telat balasnya nih…

    Yang menarik, meskipun agama-agama cenderung berciri maskulin namun sistem sosial masyarakat Minang malah menganut Matrilineal, sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan.

    Salam dari Pantai Losari.

  3. J C  18 January, 2016 at 15:39

    Kang djas, kalau Kang Saroe van Anoew lebih tertarik dengan apa yang ada di balik palu arit di artikel ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *