Militer

Anwari Doel Arnowo

 

Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu saya menulis berkali- kali dan berkali-kali, agar kita semua melepaskan diri dari militerisme. Republik kita ini belum pernah perang dengan Negara lain. Antara 1945 dan 1949 kita tidak berperang dengan keratuan belanda, karena belanda itu bukan Republik dan bukan Kerajaan karena pimpinannya perempuan yang pangkatnya Ratu.

Kurun waktu 4 atau 5 tahun, adalah perlawanan Repoeblik Indonesia melawan tindakan agresi belanda yang amat jelas telah dibantu oleh Sekoetoe yang antara lain adalah Amerika Serikat dan Inggris (3 Division British – Indian) dibawahi LetJen Christison dan Australia (2 Division dibawahi LetJen Leslie Ming the-Merciless– Morshead). N.I.C.A. (Netherlanands Indies Civil Administration) digunakan oleh belanda yang menugaskan 150.000 tentara aktif dinas wajib militer belanda yang didatangkan dari negerinya. Di samping adanya pasukan ini tetapi direkrut juga, sekitar 65.000 orang-orang dari bangsa Indonesia asli sendiri, antara lain yang saya alami dan lihat sendiri dari Maluku (5.000 personil) dan Madura dan tentu saja ada dari daerah-daerah lain juga. Orang-orang ini pada saat Repoeblik Indonesia menerima proses Penyerahan Kedaulatan dari belanda, melakukan pembiaran.

Pembiaran terhadap banyak sekali mereka yang hanya berganti bajoe. Dari bajoe kooperatif seragamnya belanda, menjadi Tentara Nasional Indonesia. Hatinya? Siapa tau? Menurut hikayatnya almarhum Suharto juga termasuk yang seperti ini. Seingat saya sejak masa setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, terasa yang bertugas di dalam TNI itu terlihat ada yang ingin duduk di Pemerintahan resmi, baik R.I., maupun R.I.S. maupun N.K.R.I. sambil tetap mengemban tanda bintang di atas bahunya, kiri dan kanan.

militer-indonesia

Bukti: Perdana Menteri Soetan Sjahrir diculik oleh siapa? Tidak usah diingatkan lagi sepanjang Pemerintahan Presiden Soekarno, gerakan militer yang menginginkan untuk ikut memerintah di dalam Kabinet telah berulang kali terjadi. Alasan macam-macam pula. Saya pikir hanya sedikit yang tetap tinggal hidup sederhana dan tetap setia kepada Proklamasi Kemerdekaan Repoeblik Indonesia, yang pada tanggal 17 Agoestoes, 1945 telah memakloematkan Kemerdekaan Indonesia (silakan baca bunyi Proklamasi yang hanya berdua ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia).

Dan pada keesokan harinya pada tanggal 18 Agoestoes 1945 barulah diberi nama resmi Repoeblik Indonesia. Dari dalam maupun dari jumlah 65.000 orang yang Co (cooperatief) belanda itu banyak yang masih setia kepada belanda sampai bertahun-tahun lamanya. Silakan berpikir bahwa bagaimana mungkin Lapangan terbang Maguwo di Djogdjakarta dapat didarati belanda dengan mulus.

Praktis amat sedikit (hanya 150 orang personil yang mempertahankannya) yang akhirnya semuanya mati tertembak karena perlawanan mereka.

Ini terjadi karena adanya mata-mata yang orang Indonesia yang menyebabkan Maguwo jatuh dan Presiden Soekarno bisa ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Data-data mengenai Agresi belanda ini saya kutip dari catatan ahli sejarah yang piawai dan masih aktif: Batara Hutagalung putra dari dr. Hutagalung di Soerabaia, silakan buka: http://batarahutagalung.blogspot.co.id/2015/12/mereka-yang-tidak-pernah-punya.html

Di dalam pertempuran yang menjadi jagoan adalah tentara, itu cerita lama, sejak jaman Fir’aun sampai sekarang. Bilamana tentara berbuat seperti apa yang memang semestinya sebagai aparat yang mempertahankan kedaulatan Negara, penghormatan yang tinggi atau sering yang paling tinggi pasti diberikan kepada Tentara yang dilengkapi oleh hasil tindakan kepahlawanannya.

Apakah itu yang sesungguhnya dan sebenar-benarnnya? Wallahualam. Seperti biasa hampir semua penguasa yang baik maupun yang buruk selalu memiliki seseorang yang dekat yang bisa mengatur, menghaluskan yang kasar dan meluruskan yang bengkok dan membuat Sang Penguasa menjadi bersinar seperti matahari. Tetapi seperti biasanya semua keculasan dan kebohongan tidak bisa bertahan lama. Tabir, semir dan bedak kosmetik secanggih apapun, pada waktunya dibuka oleh sejarah. Di dalam bahasa Inggris ada kata history yang pasti BUKAN his story.

Bila karir sedang menanjak, jangan pongah. Semua yang ke atas itu pasti akan turun lagi seperti yang dialami burung bangau. Karir itu persis sama. Di dalam grafik sinus dan cosinus terdapat dua titik kritis. Yang paling tinggi namanya titik Zenith (kulminasi) dan yang paling rendah adalah titik Nadir.

Kalau cara karirnya dikerjakan dengan sembarang dan sembrono, maka garis grafiknya tidak utuh seperti garis, akan disambung-sambung berupa titik-titik yang mudah berserakan. Pada awal pemerintahan orde baru banyak yang mengincar jabatan yang basah, yang basah kuyup oleh karena banyak gratifikasi dan fasilitas berlebihannya.

Misalnya banyak kenalan saya berpangkat Kolonel Angkatan Darat bermimpi menjadi Direktur Bank atau menjadi Kadolog. Jabatan Kepala Daerah juga menjadi idaman. Apapun yang basah duit, pasti menjadi incaran para penguasa tersebut. Salah seorang Kolonel kenalan saya minta tolong diantar ke Jombang dari Surabaya dengan syarat saya diminta dengan amat sangat mengemudi mobil sendiri tanpa pengemudi. Harus saya sendiri yang mengemudikan mobil milik saya. Ternyata di Jombang itu dia bertamu ke seorang wanita. Karena saya lihat ini urusan pribadi, saya memilih duduk di luar saja, di teras. Setelah lama mereka berbicara saya diminta masuk ikut berbincang. Saya diminta langsung, tanpa basa basi menanyakan apa saja.

Juga yang berhubungan dengan masa depan saya, apa saja proyek yang bisa saya capai. Baru sadar saya bahwa wanita tadi adalah tergolong semacam dukun.

Dunia yang seperti ini saya tidak mengenali, karena berada di luar lingkungan saya, maka saya tutup mulut rapat dan saya biarkan saja dia ngoceh mengenai diri saya di masa depan. Tentu saja sedikit saja yang bisa didengarkan, karena saya sengaja tidak memberi wanita tadi data-data apapun mengenai diri saya. Biar saja dia meraba-raba di dalam gelap. Itulah contohnya seorang sudah berpangkat Kolonel sekalipun masih ingin jabatan Kadolog tetapi melalui jalan yang bukan dalam lingkup bidang keahliannya.

Saya ketaui belum satu tahun setelah peristiwa Jombang itu dia sudah dipensiunkan dari ABRI. Kalangan sipil, terutama pegawai negeri, mereka yang tidak melalui dukun tetapi menggunakan istilah mencari backing dari kalangan Tentara. Di sini Tentara sering terlibat dengan pekerjaan yang non militer karena bisa menghasilkan uang lebih banyak dan lebih cepat dan juga  banyak kesenangan lainnya. Haram atau tidak, itu tidak masuk di dalam TOR (Term Of Reference).  Ha.. ha.. ha .. pertimbangan saat itu.

Uang dan Tentara sungguh menjadi lekat. Gambaran Tentara adalah pintu masuk ke arah kemakmuran dan kesejahteraan. Banyak contoh yang menjadi acuan masyarakat umum. Di saat seperti itulah dimulainya pemujaan  idola dan impian menjadi penguasa seperti Tentara dan yang sudah sejahtera tetapi masih ingin berkuasa.

Mereka yang sipil memiripkan diri seperti Tentara adalah menjadi tindakan yang patut. Tentara sendiri sigap siap menggunakan potongan baju safari yang menjadi simbol pejabat penguasa.

Lalu timbul juga penguasa yang menjadi pengusaha: PENGUASAHA.  Boleh saja diteruskan dengan ha ha ha ha …. Yaaa saya sendiri yang memang seorang pengusaha sering dikira saya ini berasal dari Tentara juga. Sekarang inipun saya masih sering ditanya seperti itu. Bersyukur  meski saya pikir memang tidak mungkin diterima, karena kondisi gigi saya waktu itu, ketika saya selesai pulang belajar dari Jepang. Waktu itu tahun 1967 (?) saya ditawari oleh seorang perwira tinggi Angkatan Laut menjadi anggota ALRI dengan pangkat awal kapten. Itu karena saya belajar arsitektur Kapal Laut. Saya menolak. Sekali lagi saya bersyukur menjadi orang sipil saja.

Ada data peroleh yang membuat saya takut: bahwa sebanyak lebih dari separuh pensiunan Pasukan Khusus Amerika Serikat sekarang hidup di atas kursi roda. Padahal tingkat kesejahteraan USA kan bagus bila dibanding dengan yang di Negara kita. Kalau tawaran di atas saya terima, apa ya kondisi tubuh saya saat ini?

Sesungguhnya tulisan ini saya mulai karena terpicu oleh sebuah berita di koran Jakarta Post tanggal 6 Januari, 2016 halaman 3 (Lihat halaman terakhir). Isinya adalah reaksi prihatin datang dari Angkatan Udara kita yang melihat pemakaian resmi seragam aparat pemerintahan sipil, yang terlalu banyak menggunakan atribut militer dengan berlebihan.

Hal ini banyak menyebabkan pengaburan tampak luar pakaian yang kurang patut. Itu pegawai sipil atau militer? Mereka yang pegawai negeri sipil ikut-ikut berbaris dan memberi hormat dan tidak lupa bertingkah laku seakan-akan seperti militter yang asli.

Saya selaku rakyat biasa sungguh ikut prihatin melihat para Gubernur, para Jaksa dan banyak Kementerian berbuat seperti itu. Anak-anak yang menjadi siswa peguruan tinggi, belajar ilmu apapun jua mengerjakan banyak imitasi peniruan seperti militer. Belajar di Akademi Perikanan, Meteorologi, Pelayaran dan disiplin ilmu apapun banyak dimasuki oleh peniruan militer. Saya pernah mengajar di Akademi Maritim di kota Palembang pada tahun 1969. Pada suatu saat saya sedang berada di sebuah Toko Buku dan terkejut sekali, bukan main, karena ada yang berteriak di sebelah kiri saya dengan suara menggelegar: HORMAAATT!! Yang tadi berteriak itu memberi hormat diikuti oleh beberapa temannya secara serentak.

Jantung saya berdegup cepat dan keras.  Saya tau itu tata cara yang dipakai di kampus tempat belajarnya di daerah pelabuhan Boom Baru.

Tetapi karena saya sedang berada di sebuah Toko Buku, tentu saja saya sama sekali tidak mengharapkan yang seperti itu bisa terjadi. Bukankah itu sama sekali TIDAK PERLU, kan? Saya terkejut tanpa ada sebabnya, atau karena saya tenaga pengajar biasa, mengapa harus diberi perlakuan serta  dihormati seperti demikian itu. Saya sama sekali tidak merasakan manfaatnya  dan kenyamanan dengan cara-cara seperti itu.

Marilah kita tunggu bagaimana kelanjutan pernyataan keprihatinan Angkatan Udara kita terhadap sipil yang dimiliterkan di segala lapisan itu. Anda pikirkan yang berikut ini: Di jalan raya di luar kota dipasang tong-tong atau drum-drum bekas minyak.Di dalam jumlah yang banyak dan malah diberi tulisan: Kecepatan maksimum 15 KM per jam, ada kendaraan ABRI keluar masuk komplek militer. Menurut logika saya yang sepanjang hidup saya sipil, apa bukan mestinya harus sebaliknya.

Kendaraan ABRI yang keluar masuk itulah yang harus berhati-hati keluar masuk komplek untuk menghormati rakyat biasa yang notabene adalah pembayar pajak. Pajak adalah salah satu sumber dana yang membiayai gaji ddan biaya operasi pemerintahan yang sah, di dalamnya ada unsur militer. Saya mengerti mengapa kejadian puluhan tahun yang lalu itu mungkin sudah tidak ada lagi saat ini. Tetapi ketauilah bahwa itu amat membekas di pikiran di hati saya. Sungguh lain kondisinya ketika Tentara kita bersembunyi di daerah pedalaman, dilindungi oleh rakyat kecil di desa desa di gunung gunung berlindung dari serangan belanda laknat waktu itu. Siapakah yang berani membantu logistik Tentara waktu itu?

Mereka adalah orang-orang biasa, petani biasa dan kondisi ekonomi merekapun amat prihatin. Sawah dan kebun mereka pun tidak nyaman digarap karena prertempuran juga ada terjadi di situ.

Lebih dari 400 orang di desa Rawagedeh Jawa Barat ditembak mati oleh pasukan belanda secara semena-mena. Seorang ibu terpaksa memakamkan suami dan anak anak laki-lakinya bersamaan. Apa salah mereka? Itu karena mereka menyatakan dan memang tidak tau kemana kapten Tentara bernama Lukas yang dicari belanda itu berada di atau telah lari ke mana. Saya ada bersama mereka, keluarga para korban itu, ketika ikut demonstrasi masalah Rawagedeh di Kedutaan belanda di jalan Rasuna Said beberapa tahun yang lalu. Saya tinggal di Toronto Kanada waktu itu dan menyesuaikan tanggal demonstrasi dengan tanggal keberadaan saya di Jakarta. Pemerintah belanda akhirnya mengganti kerugian uang kepada mereka. Entah bagaimana peristiwa_peristiwa Rawagedeh Rawagedeh lain lain di daerah lain, termasuk Westerling di Sulawesi.

Nah pada jaman N.K.R.I. sudah merdeka seperti saat sekarang ini, kita terkadang masih mempunyai rasa was was oleh karena masih ada “ketakutan” jenis jenis lain yang sifatnya militerisme. Saya berpendapat kita sendiri yang sipil ini, mulaialh membuang kenangan yang buruk buruk di masa lalu terhadap milterisme. Sebaliknya mereka yang berada di dalam kalangan militer, kurangilah segala macam rasa SEREM yang pernah dialami kaum sipil seperti saya ini, yang pernah menjalar ke mana-mana di masa lalu. Saya kira kita tidak akan berperang dengan Negara manapun. Jadi berlatihlah segala sesuatu yang menyangkut pertahanan Negara.

Janganlah ikut-ikutan menyelesaikan masalah keamanan di dalam negeri, yang amat jelas itu ranah Kepolisian. Polisipun sudah tiba waktunya ikut membuang semua yang berbau militer yang masih lekat dan tampak terang benderang ada di tubuh Kepolisian. Saya condong Kapolri itu berjas dan dasi atau baju kerja Jokowi style.

Pak Kapolri tidak usah takut wibawanya menurun. Rakyat memerlukan kehidupan yang lebih tenang dan layak ikut merasakan bebasnya orang merdeka. Buatlah suasana agar rakyat merasa dilindungi oleh aparat keamanan dan aparat pertahanan, tanpa rasa ketakutan yang seperti apapun. Buatlah aparat pertahanan dan keamanan dicintai oleh rakyat Indonesia secara utuh dan menyeluruh.Rakyat tidak ingin hidup muluk-muluk seperti yang dibuat oleh mereka yang memiliki besar rekening bank yang luar biasa besar. Bila berita yang telah bertahun-tahun ini memang tidak benar, buatlah menjadi terang benderang, apapun risikonya.

 

Anwari  Doel  Arnowo – 7 Januari, 2016

 

 

7 Comments to "Militer"

  1. djasMerahputih  20 January, 2016 at 07:48

    Hadir telat bang James…
    Kalo djas sebenarnya lebih sreg dengan dwifungsi ABRI. Memanunggalkan tentara dan rakyat. Sayang pakteknya tak disertai jiwa kenegarawanan. Malah menggunakan jabatan untuk memperkaya diri dan keluarga.

  2. J C  20 January, 2016 at 04:48

    Titipan komentar pak Anwari:

    Sudah saya jawab melalui email, tetapi tidak keluar di comments seperti ini. Sudah sering.
    Tolong diperhatikan militerisme dengan militer itu tidak sama. Militer sendiri memang suka mencampuradukkan PERTAHANAN NEGARA dengan KEAMANAN NEGARA.Pertahanan oleh Militer, betul 100% Militer boleh membantu keamanan kalau diminta tolong oleh Polisi, begitulah bunyi Undang Undangnya. Militer punya atasan yaitu Menteri Pertahanan. Polisi tidak punya Kementerian tetapi langsung di bawah Presiden. As simple as that. Jangan bikin rumit lagi deh. Biaya kekeliruan bebannya ada di Rakyat, bayar pajak, ditindak dan lain-lain.Militer itu harus menghilangkan ambisi duduk di Kabinet dan pemerintahan, kecuali sudah melepaskan kemiliterannya. Itu boleh seperti halnya warganegara lainnya. Boeng Karno saja terpaksa pakai pakaian separuh militer karena dia adalah Panglima Tertinggi. Jokowi tidak pernah memakai Jabatan ini tetapi sekali sekali berpakaian militer untuk upacara tertentu.
    Salam saya,
    Anwari Doel Arnowo 19 Januari, 2016

  3. Lani  19 January, 2016 at 04:34

    MAS DJ : mesem2 sendiri baca kata “bancak-an” yg ber-putar2 dikepalaku aneka makanan ala ndeso………akan ttp semuanya wuenaaaaaaaak………….kebes ngileeeeeeeer mas

  4. Dj. 813  19 January, 2016 at 02:25

    Terimakasih cak Doel . . .
    Dj. rasa semua negara punya meliter .
    Dan tujuan meliter bukan hanya untuk berperang saja .
    Tapi juga untuk melindungi rakyatnya dari gangguan yang ” mungkin ” datang dari negara lain.
    Puji TUHAN . . . ! ! !
    Kalau Indonesia tidak pernah atau tidak harus berperang .
    Ini juga menunjukan bahwa dibawah perlindungan melter, maka tidak banyak yang ingin menggangu
    ketenangan negara kita.
    Dj tidak bisa bayangkan, negara kita yang begitu besar dan terdiri dari beribu-ribu pulau .
    Bila tanpa meliter, bisa jadi sudah lama pecah .
    Ambil contoh kecilnya saja, dengan adanya meliter pun , perikanan kita banyak dijarah oleh negara tetangga.
    Bbagaimana kalau tanpa meliter . . . ? ? ?
    Mungkin negara kita sudah dibikin bancakan oleh negara-negara gerombolan .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !

    Iini hanya sekedar pendapat Dj. saja .
    Salam,
    Meliter juga membantu untuk hdup disiplin dengan aturan yang ada .

  5. Lani  19 January, 2016 at 00:08

    JAMES: mahalo sdh dan sll diingat…………..kompak kenthirs!

    Cak Doel Anwari: Sejak dulu kesanku mengenai militer di Indonesia menakutkan………..pdhal seharusnya kan tdk begitu. Krn mrk adl pengayom rakyat………..akan ttp kenyataannya tdk begitu

  6. J C  18 January, 2016 at 15:45

    MANTAP, pak Anwari!! Untungnya Panjenengan “berhasil” keluar dari lingkaran militer ini padahal mendiang ayahanda sangat dekat dan kental kultur militernya…

  7. James  18 January, 2016 at 15:00

    1…….menantikan para Kenthirs muncul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.