Money Can’t Buy Manners

Nia

 

Terbang dari Jogja kemarin saya duduk di kursi nomer 17B. Sebelah saya di 17C mbak TKI asal Wonosobo yang sudah kerja di Singapore sekitar 4 tahun. Di seberang isle nomer 17D duduk mbak TKI yang juga dari Wonosobo yang kerja di Singapore sekitar 7 tahun.

‘Neng pesawat ora oleh nguripke handphone yo?’

‘Oleh tapi digawe seng ono gambare pesawat kae lho’ (flight mode maksudnya)

Saya perhatikan tidak sekalipun mereka berdua menyalakan handphone. Selama di pesawat mereka ngobrol dengan suara normal. Tidak ngakak-ngakak seperti TKI pada umumnya.

Di belakang kami di nomer 18C dan 18D duduk pasangan perempuan Singaporean dan laki-laki bule. Sudah 40an lebih kira-kira umur mereka.

‘IF YOU WANT TO HAVE KIDS YOU SHOULD BE PREPARED TO TEACH THEM WHATTT.’ kata si perempuan ke penumpang yang duduk di sebelahnya (tepat di belakang saya). dari sejak belum take off pasangan ini memang sudah menggerutu karena penumpang yang duduk di belakang mereka bawa anak kecil yang nangis terus.

Saya bisa dengar jelas apa yang dikatakan perempuan itu karena dia ngomongnya keras-keras. Sengaja biar penumpang yang bawa anak dengar.

‘HOW CAN TAHAN IF YOUR SEAT GOT KICK?!’ Rupanya anak kecil di belakang dia nendang-nendang kursinya.

Saya dengar dia bilang sudah mengingatkan ibu si anak tapi anaknya masih tetap saja dibiarkan menendang-nendang sandaran kursinya. Kalo menurut saya wajar dia marah tapi yang saya gak habis pikir kok ya betah marah-marah dari sebelum take off sampai landing! Mana si cowok bulenya juga ikut-ikutan nggrundel. Mbok ya ngomong ke pramugari biar dicarikan solusinya.

Waktu mau turun dari pesawat mereka masih saja nggrundel dan saya dengar si perempuan sempat bilang ke penumpang lain kalo dia sering ke Jogja untuk mencari furniture antik dan dikirim ke Singapore. Horang kayah dong… paling gak lebih kaya dari mbak-mbak TKI dari Wonosobo (termasuk saya).

good-manners

Selama si Singaporean dan si bule itu nggrundel saya liat salah satu mbak TKI dari Wonosobo membantu menurunkan koper penumpang yang duduk di sebelahnya. Pasangan sepuh Singaporean. Si suami sepertinya ada masalah dengan penglihatannya karena kalo jalan dibantu tongkat atau dipandu istrinya.

Entah berapa ‘thank you’ yang keluar dari pasangan sepuh Singaporean tadi. Dan si mbak TKI hanya menjawab ‘no problem’ sambil senyum.

Pas sudah bisa jalan turun dari pesawat mbak-mbak TKI tadi masih mau membantu membawakan koper tapi ditolak. Lagi-lagi suami istri sepuh itu mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Di mata saya mbak-mbak TKI tadi jauh lebih kaya dan lebih tinggi derajatnya dari si tukang nggrundel itu!

 

 

About Nia

Don’t judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Money Can’t Buy Manners"

  1. nia  26 February, 2016 at 08:47

    halo semua
    hormat untuk para kenthirs hahaha…

    walo masih remaja (hihihi… dilarang protes) saya sudah paham pake banget kalo tingkat kekayaan dan pendidikan gak selalu berbanding lurus dengan attitude. kan banyak OKB hahaha…

    oom Dj… saya lagi oom bolak-balik Singapore-Indonesia sudah pasti bareng mbak-mbak TKI. yang ribut dan norak banyak tapi banyak juga yang elegan. pernah terbang pas turbulence kenceng. trus mbak-mbak itu pada ngaji dan saya jadi tenang hihihi… pikir saya kalo jatuh mati bakal masuk surga bareng mbak-mbak itu

  2. J C  1 February, 2016 at 16:49

    Hhhmmm…sangat menarik ini Nia, memang bener banget kok!

  3. Lani  20 January, 2016 at 00:48

    Miss ngaing-ngaing: Ya begitulah adanya………ada yg dibilang org dr kampung tp kelakuannya lebih dr yg ngakunya kaya, menjunjung tinggi unggah-ungguh, sopan santun tapi kenyataannya????? Menyebalkan……..

  4. Lani  20 January, 2016 at 00:46

    JAMES : hahaha……….la wong udah kenthir gawan bayi ya ngga usah dibeli dunk……….lagian mana mau kenthirs dijual belikan………..mahalo udah diingat kenthir di Kona telat nih………….

  5. Alvina VB  20 January, 2016 at 00:08

    Ha..ha….James kocak.
    Nia: Ya begitulah hidup…ada org kaya/terpelajar ttp kelakuannya kampungan, ttp ada org kampung yg kelakuannya terpelajar donk.

  6. Dj. 813  19 January, 2016 at 15:37

    Mbak Nia . . .
    Terimakasih untuk artikelnya . . .
    Kalau mudik dengan MAS dan leat Kuwait .
    Paling senang bersama mereka , rame .
    Jadi sepert dikampoeng halaman, dengar bahasa Jawa .
    Hahahahahahahaha . . . ! !!
    Salam manis dari Mainz .

  7. James  19 January, 2016 at 14:38

    1……money can’t buy Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *