Menonton Karya Film Masterpiece “The Hateful Eight”

Dwi Klik Santosa

 

The Hateful Eight karya skenario dan sutradara Quentin Tarantino barangkali sesuatu yang fenomenal bagi saya mengawali perjalanan di tahun 2016 ini. Film terbaik menurut saya, sampai hari ini di tahun ini, mengingat sejak 1 Januari yang lalu, mungkin sudah lebih dari 15 film layar lebar saya tonton, baik di bioskop maupun dengan memutar DVD di rumah.

Sebagai khasnya, karya garapan Quentin Tarantino sangat teatrikal dan mengandalkan betul kekuatan narasi dan akting dari para aktornya. Mustahil jika diperankan aktor yang mengandalkan ganteng atau cantik belaka, sebagaimana menjadi kebiasaan kebanyakan film-film kita mencari talenta pemerannya, padahal pas-pasan atau masih bergestur “seakan-akan” atau “seolah-olah” akan mampu mengikat hati penontonnya secara artistik dan bahkan memberikan penilaian yang lebih.

The-Hateful-Eight

Sejak dirilis di Amrik sejak akhir Desember 2015 konon kabarnya film “The Hateful Eight” menjadi tontonan yang booming dan berhasil menyabet box office. Dalam hanya beberapa hari diputar modal sebagai produksi pembuatan yang lebih dari setengah trilyun itu sudah menghasilkan uang berlipat lebih dari tiga kalinya. Namun ironis kiranya dengan apa yang terjadi di Indonesia, setidaknya di XXI CBD, bioskop yang saya tonton kemarin. Barangkali hanya sekitar 30 orang penontonnya dalam kapasitas ruang yang bisa menampung 400 orang, dalam satu kesempatan tayang, itu pun belum sampai setengahnya film berjalan sudah pada keluar. Tinggal 2 orang saja yang betah dan keluar hingga selesai, yaitu saya dan satu lagi laki-laki setengah baya. Membingungkan belaka jika harus direnungkan. Film sebegini bagus …. ya, ampun. Memang sangat jauh sih, dari pengertian layaknya sinetron yang mudah menghasilkan gelak tawa dan perhatian sedemikian fanatik dari kebanyakan para penikmat film kita.

Bagi saya, luar biasa film ini, berdurasi panjang lebih dari 3 jam, yaitu 187 menit, menghadirkan penyutradaraan yang prima dan akting yang teatrikal dan memikat dari para aktornya. Tidak ada aktor yang disebutkan paling dominan sebagaimana biasanya, semua yang berperan dalam film teater ini bermain sangat bagus dan memberi gambaran yang kompleks dalam benak saya, mumpuni sebagai manusia yang berwatak. Sangat politis, penuh tipu daya, tak mudah terbaca dan memberi kejutan. Hanya yang betah dan terpaku saja seseorang menyukai olah verbal dan gerak-gerak politis — pada dasarnya semua manusia, apalagi dijabarkan dengan cara yang teliti, detail dan dramatis — mampu pada akhirnya membaca misteri dan pada akhirnya kekuatan film itu sebagai karya bermutu, penting dan master piece.

Samuel W. Jackson dan Kurt Russel, barangkali tak asing lagi adalah bintang kawak, dan memang boleh saja dikatakan mereka menjadi tokoh sentral di film ini, namun seperti yang saya katakan tadi, semua pemeran film ini bermain bagus sekali. Andai kata dipindahkan lakon dan para pelakon ini ke dalam dimensi panggung teater pun, saya rasa, bagi para pecinta teater yang menonton akan mendapatkan katarsisnya. Banyak sekali teropong pembacaan saya setelah menonton film ini, tidak saja punya kedetailan dalam hal akting dan olah narasi. Tapi juga panorama alam Barat yang bersalju dan gejolaknya adalah semerdeka pandang kita yang makin memperjelas selera dari Quentin Tarantino dalam berkarya.

 

 

3 Comments to "Menonton Karya Film Masterpiece “The Hateful Eight”"

  1. J C  1 February, 2016 at 16:48

    Terus terang aku sering tidak mudheng nonton karya Quentin Tarantino…

  2. Dj. 813  21 January, 2016 at 15:54

    Puji TUHAN . . . ! ! !
    Dj. tidak suka nonton film .
    Kecuali dokumentar film .

    Sudah dibohongi, disuruh bayar pula .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakaksih dan salam

  3. James  20 January, 2016 at 14:22

    1…..Western movies

    mengabsenin para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.