[Di Ujung Samudra] Kita Akan Menderita Sama-sama!

Liana Safitri

 

TIDAK perlu waktu lama bagi Lydia untuk memutar ingatan terburuk sepanjang hidupnya, saat terjebak di kelab malam.

Hei, kau! Kenapa diam saja? Angkat wajahmu, biar aku bisa melihatnya…

Lepaskan tangan kotormu itu! Kau membuatku jijik!

Manajer Yang adalah pemabuk yang dulu merayu Lydia di kelab malam. Berhadap-hadapan dengan Manajer Yang di tempat ini, wajah Lydia berubah menjadi seputih kertas. Ia mencengkeram lengan Tian Ya erat-erat.

Tian Ya belum pernah bertemu dengan Manajer Yang. Namun mendengar kata “kelab malam”, perasaannya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres. “Kelab malam apa maksud Anda? Istri saya tidak pernah pergi ke tempat semacam itu! Anda salah orang!” Tian Ya pun segera membawa Lydia pergi meninggalkan tempat itu.

Tidak ada yang menyangka jika konser piano Fei Yang yang indah justru merupakan mimpi buruk bagi Lydia dan Tian Ya. Sampai di rumah, Lydia mengempaskan tubuh dengan lemas di kursi. “Bagaimana Manajer Yang bisa datang ke konser piano Fei Yang? Ini bencana!”

“Jadi dia bermarga Yang?” Tian Ya menatap Lydia lekat-lekat. “Selain Manajer Yang… mungkinkah ada laki-laki lain yang sering datang ke kelab malam milik Xiao Long dan masih ingat padamu?”

“Aku tidak tahu!”

“Jangan terlalu panik! Kau hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang ditemui Manajer Yang di kelab malam. Kenapa dia mau buang-buang waktu mengurusimu? Tadi dia hanya melihatmu sebentar. Beberapa jam kemudian mungkin Manajer Yang akan segera melupakanmu, mengira dirinya telah salah mengenali orang.”

“Dulu di kelab malam Manajer Yang akan menyentuh wajahku… Aku lalu mendorongnya sampai jatuh dan memaki-maki dia, mempermalukannya di depan banyak orang. Kejadian itu membuatnya marah setengah mati, wajar jika dia terus ingat padaku.” Lydia kini tak dapat menyembunyikan kecemasannya. “Bagaimana kalau… Manajer Yang menyebarkan berita buruk tentangku? Bagaimana kalau… kalau mama dan papamu sampai tahu? Oh… habislah aku!”

“Kita harus waspada, tunggu dan lihat situasinya. Tapi jangan sampai masalah ini membuatmu terbebani dengan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Apalagi sampai mempengaruhi Louis.”

Lydia langsung terlonjak mendengar kalimat Tian Ya yang terakhir. “Louis! Louis masih di tempat mama dan papa! Aduh… dia pasti menangis…”

Tian Ya buru-buru mencegah. “Sekarang sudah terlalu malam, kukira Louis sudah tidur. Kalau anak itu rewel, mama dan papa pasti menghubungi kita sejak tadi. Biarkan saja Louis menginap di sana, besok aku akan menjemputnya.”

Pagi itu Lydia yang masih tidak tenang karena kejadian semalam bersikeras untuk ikut bersama Tian Ya menjemput Louis di rumah Tuan dan Nyonya Li. “Kau tidak bisa menyetir mobil sambil mengawasi bayi. Kalau Louis menangis kau lebih tidak mungkin lagi menggendong atau memangkunya.”

Kemudian mereka pergi bersama, meski sebenarnya Tian Ya berpendapat akan lebih baik jika Lydia tidak usah ikut. Firasat Tian Ya terbukti karena saat mereka memasuki ruang tamu sambutan yang diberikan Tuan dan Nyonya Li tidak seperti biasa. Tuan dan Nyonya Li duduk bersebelahan. Mereka seperti sengaja menunggu kedatangan Lydia dan Tian Ya.

“Kami datang menjemput Louis,” kata Tian Ya.

“Dia belum bangun!”

Tidak tahu kenapa tiba-tiba hati Lydia menciut. “Begitu, ya? Tidak apa-apa… Louis bisa tidur di mobil…”

“Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan pada kalian!” Suara Tuan Li yang besar dan berat langsung menyelimuti ruangan dengan atmosfer menegangkan.

“Tian Ya! Lydia!” Nyonya Li menatap anak dan menantunya bergantian. “Apa yang terjadi sebenarnya? Sejak matahari belum muncul banyak orang menelepon kemari menanyakan banyal hal yang kami sendiri tidak tahu. Semuanya sangat aneh dan membingungkan…”

“Ma! Pa! Kalian jangan mempercayai semua yang dikatakan orang! Kalau ada yang…”

Tian Ya tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena Tuan Li sudah memotong, “Jadi benar ada masalah yang terjadi?”

“Papa, itu hanya…”

Tuan Li tidak menghiraukan Tian Ya. Ia kini berpaling pada Lydia, “Lydia! Apa kau pernah bekerja di kelab malam?”

“Papa!” Tian Ya berteriak. Ia tahu papanya bukanlah orang yang suka bertele-tele. Tapi apa tidak bisa memilih kalimat yang lebih halus sedikit?

Lydia tersentak dan langsung mundur beberapa langkah. Lidahnya kelu. “Itu… itu…”

Harus menjawab mulai dari mana?

Tidak ingin Lydia semakin disudutkan Tian Ya pun berseru, “Lydia, ambil Louis dan bawa dia ke mobil!”

“Tidak ada yang boleh ke luar dari rumah ini sebelum kalian memberi penjelasan pada kami! Lydia, benarkah yang dikatakan orang-orang bahwa kau pernah bekerja di kelab malam? Aku bertanya, kau tinggal menjawab saja, tidak sulit, kan?” Tampak sekali jika Tuan Li berusaha keras menahan marah sampai urat-urat di wajahnya muncul.

“Lydia, ambil Louis dan bawa dia ke mobil! Tunggu aku di sana!” kata Tian Ya lagi.

Lydia khawatir jika Tian Ya dan Tuan Li bertengkar hebat. Ia juga tidak mau dianggap bersikap kurang ajar karena tidak memedulikan orangtua. “Tian Ya…”

“Kau tunggu apa lagi? Ambil Louis!”

Teriakan Tian Ya yang ketiga kalinya membuat Louis terkejut. Anak itu bangun dan menangis keras. Lydia buru-buru berlari ke kamar Tuan dan Nyonya Li, tak lama kemudian ia keluar rumah sambil menggendong Louis.

Tian Ya memandang kedua orangtuanya dan berkata dengan mantap, “Mama… Papa…! Lydia sedang mengurus Louis, jadi aku yang akan mengurus telepon orang-orang yang menanyakan tentang berbagai hal ‘aneh dan membingungkan’ itu!”

Lydia duduk di dalam mobil memeluk anaknya, beberapa kali melihat keluar jendela. Saat ini Tuan dan Nyonya Li pasti memandang Lydia sebagai seorang wanita yang sangat rendah! Lydia hanya berharap setelah mendengar penjelasan Tian Ya, kedua mertuanya bisa memahami dan tidak menelan mentah-mentah semua perkataan orang. Atau Lydia takkan mampu bertemu dengan mereka lagi.

Tian Ya bercerita tentang seluruh kejadian yang disembunyikannya bersama Lydia selama ini. Mulai dari pertengkaran mereka saat masih tinggal di apartemen, kecemburuan Lydia yang membuatnya pergi meninggalkan Tian Ya, bertemu Xiao Long, dan dijebak masuk ke kelab malam. Lydia diselamatkan Franklin, Franklin dihajar anak buah Xiao Long, lalu Tian Ya tertembak sampai mengalami koma. Kemudian yang baru saja terjadi, Lydia keguguran karena dianiaya Xiao Long. Hal paling sulit adalah ketika Tian Ya harus mengatakan jika dirinya telah membunuh Xiao Long.

“Kau… apa? Membunuh orang?”

“Ya, aku membunuh orang!” sahut Tian Ya tegas.

Tidak tahu berapa lama Tuan dan Nyonya Li bungkam oleh jawaban Tian Ya ini. Kata “membunuh” kedengarannya membuat mereka nyaris terkena serangan jantung.

“Kau membunuh orang! Hebat! Luar biasa!” gumam Tuan Li.

Nyonya Li tidak percaya dengan pengakuan Tian Ya. Ia menggelengkan kepala berulang kali. “Ini terlalu mengerikan… putraku jadi pembunuh…”

“Aku terpaksa melakukannya! Xiao Long sudah keterlaluan, dia membuat Lydia keguguran!” Tian Ya membela diri.

“Aku tidak tahu apakah semua yang kauceritakan itu benar atau hanya mengarang-ngarang cerita… Kalian berdua terlalu pintar berbohong dan mempermainkan orangtua! Sebentar-sebentar bilang begini, tidak lama kemudian bilang begitu! Waktu itu kau mengatakan kalau Lydia keguguran karena terjatuh dari tangga, lalu tiba-tiba ada seseorang bernama Xiao Long… Mungkinkah nanti muncul orang bernama Xiao Lei, Xiao Ming, Xiao Dong dan Xiao-Xiao lainnya yang akan membakar rumahmu atau meledakkan mobilmu?”

“Jangan bicara sembarangan!” Nyonya Li menegur suaminya.

LIFE-IS-EXAM

“Aku tidak sedang mengarang-ngarang cerita, juga tidak bermaksud mempermainkan Mama dan Papa! Yang aku ungkapkan sekarang adalah kebenaran yang sesungguhnya! Aku dan Lydia sepakat merahasiakan semua yang terjadi dari Mama dan Papa. Karena masalahnya memang sangat rumit, dan…” Tian Ya menarik napas dalam-dalam. “Sejujurnya kekhawatiranku dan Lydia yang paling utama pada waktu itu adalah, kalian tidak akan memperbolehkan kami menikah jika tahu Lydia pernah terjebak di kelab malam…”

Tuan Li melotot. “Nyatanya sekarang kalian sudah punya anak!”

“Tapi Mama dan Papa pernah melarang Lydia mendekatiku setelah aku tertembak dan mengalami koma! Mama dan Papa bisa saja menggunakan musibah yang menimpa Lydia di kelab malam untuk menolaknya lagi! Mama dan Papa tidak peduli jika dia adalah korban…”

“Apa kau masih menganggap kami sebagai mama dan papamu?” sergah Tuan Li. “Memangnya kau pernah mendengar nasihat kami? Membawa kabur Lydia ke Taiwan, tinggal berdua di apartemen, sampai Franklin sendiri datang ke rumah meminta agar kalian segera dinikahkan! Orangtua Lydia saja sampai sekarang masih belum memberikan restu, kaupikir ini sesuatu yang membanggakan?”

Tian Ya tidak berani bicara lagi, sementara Tuan Li masih menumpahkan kekesalan dan amarah dari dalam hatinya.

“Aku dan mamamu selalu menuruti apa yang kauinginkan, tapi kami tetap tidak dapat melewati masa tua dengan tenang! Hhh! Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan kalian! Aku tidak mau ikut campur! Terserah!” Tuan Li mendengus keras lalu pergi meninggalkan Tian Ya sendirian.

“Kalian membuat kami sangat kecewa!” Nyonya Li ikut berlalu dengan wajah keruh.

Tian Ya memutuskan mengambil libur dua hari untuk menenangkan diri—daripada di kantor bertemu papanya dan perang lagi. Lydia juga terus menanyakan tentang pembicaraannya dengan Tuan dan Nyonya Li, sementara Louis tidak juga berhenti menangis. Mungkin anak itu turut merasakan kegelisahan Lydia dan Tian Ya.

Cuaca panas, udara panas, suasana panas, penghuni rumah pun panas.

“Tian Ya… bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” Tian Ya melepas dasi dan jas lalu melemparnya ke tempat tidur, bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

“Mama dan papa!”

“Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka.”

Lydia masih tidak puas. “Aku ingin tahu apa yang mereka katakan…”

“Dan aku ingin kau berhenti bertanya!” potong Tian Ya. “Aku yang akan menyelesaikan masalah ini, kau sudah sangat membantu dengan diam! Kau tahu mengapa tadi aku menyuruhmu membawa Louis menunggu di mobil? Karena aku sudah menduga jika mama dan papa akan marah besar! Aku tidak mau kau mendengar kata-kata apa pun yang dapat membuatmu sedih atau terluka! Membiarkan diriku menjadi sasaran kemarahan mama dan papa! Tapi kau malah membuatku semakin pusing!” Tian Ya keluar kamar dan membanting pintu.

Dua hari berselang hal yang dikhawatirkan menjadi kenyataan.

Pagi itu selesai sarapan Bibi He membawa masuk beberapa surat kabar langganan Tian Ya. Lydia langsung memintanya. Ia berjalan sambil membaca judul-judul berita di koran secara acak. Ada sebuah artikel yang membuat darah Lydia seakan berhenti mengalir.

 

Siapakah Istri Li Tian Ya Sebenarnya?

 

Hari Sabtu tanggal 18 Juli lalu putra tunggal pemilik SKY Group, Li Tian Ya, hadir di konser piano Xu Fei Yang. Li Tian Ya datang bersama Lydia. Istri Li Tian Ya, wanita asal Indonesia tersebut memang jarang sekali muncul di hadapan umum.

Namun yang paling mengejutkan adalah pengakuan dari seorang pria yang juga menyaksikan konser piano Fei Yang pada hari itu. Yang Da Wei berkata jika dirinya pernah bertemu dengan Lydia di sebuah kelab malam…

 

Dulu di Indonesia, saat hubungan Lydia dengan Tian Ya tercium oleh media lalu menjadi bahan gosip, Pak Yudha dan Bu Yudha marah besar. Tidak hanya dilempar koran, Lydia juga dilarang pegi keluar rumah tanpa pengawalan Franklin. Keadaan sekarang justru lebih buruk! Lydia menunjukkan koran pada Tian Ya, namun pria itu hanya berkata, “Menjadi bahan berita di mana-mana, hal ini tidak dapat dihindari. Mulai sekarang kita harus siap mental, jangan sampai terpengaruh. Anggap saja seperti gunjingan para tetangga. Aku akan membereskannya…”

 

-Istri Li Tian Ya Ternyata Pernah Bekerja di Kelab Malam

-Li Tian Ya, Pengusaha Sukses Ini Menjadikan Seorang Wanita Pekerja Kelab Malam Sebagai Istrinya

-Benarkah Lydia Pernah Bekerja di Kelab Malam?

-Li Tian Ya Tidak Mau Memberikan Tanggapan Tentang Kabar Miring yang Berhubungan dengan sang Istri

-Seorang Pria yang Pernah Bertemu dengan Istri Li Tian Ya di Kelab Malam Mengatakan, “Lydia Adalah Mantan Wanita Penghibur!”

 

Koran, majalah, televisi, dan internet memuat berita tentang Lydia setiap hari. Lydia dan Tian Ya pun bertengkar setiap hari. “Mereka menyamakan istri Li Tian Ya dengan pelacur! Aku direndahkan orang sampai sedemikian parah tapi kau tenang-tenang saja! Berkata akan membereskan tapi tidak ada hasilnya! Apa saja sih, yang kaulakukan? Sebenarnya kau ini peduli padaku atau tidak?”

Tian Ya menatap Lydia sekilas. Ia meraih ponsel kemudian menghubungi seseorang. “Halo! Apakah ini kantor berita Good Morning Taiwan?”

Lydia tidak tahu apa yang akan dilakukan Tian Ya. Ia berhenti bicara, mendengarkan dengan saksama. “Anda tidak perlu tahu siapa saya! Tapi saya punya berita bagus tentang Li Tian Ya! Benar! Anda sudah tahu atau belum? Li Tian Ya pernah membunuh orang!”

Sampai di sini Lydia langsung merebut ponsel Tian Ya dan mematikannya. Ia berteriak, “Kau sudah gila, ya!”

“Ya! Aku memang gila!” Tian Ya yang emosi balas berteriak. “Aku berkata akan membereskan masalah ini, tapi bukan berarti bisa mengatasinya dalam waktu sehari semalam! Semua kabar yang beredar adalah bohong, kenapa kau masih memikirkannya? Kau merasa terganggu dengan tuduhan bahwa istri Li Tian Ya pernah bekerja di kelab malam lalu mengira aku tidak peduli padamu! Jadi sekalian saja kusebarkan berita kalau Li Tian Ya pernah membunuh orang! Pelacur dengan pembunuh, sungguh pasangan yang sangat serasi! Mulai besok kita akan melihat berita burukku berdampingan dengan berita burukmu! Kau tidak usah khawatir, kita akan menderita bersama-sama!”

Benar saja. Esoknya giliran wajah Tian Ya yang menghiasi halaman koran dan televisi dengan berbagai judul tak kalah heboh dengan berita Lydia. Tentang penelepon misterius yang mengatakan bahwa Li Tian Ya pernah membunuh orang. Di dalam tulisan sudah diberi keterangan jika hal tersebut masih diragukan kebenarannya. Namun itu tetap bukan merupakan hal yang bagus. Untuk apa menderita bersama-sama? Lydia bukan seorang pelacur, itu jelas! Lydia juga tidak ingin suaminya mendapat gelar pembunuh meski kenyataannya Tian Ya pernah membunuh orang! Yang ia inginkan hanyalah agar semua berita buruk menghilang, lalu hubungan mereka berdua dengan Tuan dan Nyonya Li kembali membaik!

 

Bukan hanya Lydia, Tian Ya, atau Tuan dan Nyonya Li yang dibuat kalang kabut oleh berita-berita yang beredar beberapa hari belakangan.

Franklin lebih bingung lagi.

Ia melihat Lydia dan Tian Ya mondar-mandir di layar televisi bersama seorang pria setengah baya berwajah licik. Pagi, siang, sore, malam. Dengan kemampuan bahasa Mandarin yang masih terbatas, bagaimana Franklin bisa menangkap semua berita-berita tersebut? Rasa ingin tahu yang besar mendorong Franklin menelepon Lydia.

“Aku melihat kau dan Tian Ya di berita, hampir setiap waktu. Apa apa, Lydia?”

“Tidak ada apa-apa, Kak! Kami baik-baik saja…”

“Tidak ada apa-apa bagaimana?” Franklin gusar sekali. “Kau tahu kan, bahasa Mandarin-ku sangat jelek! Aku juga belum bisa membaca huruf Cina! Tolong jangan mempermainkan kakakmu ini, ya!”

Lydia nyaris bertepuk tangan karena Franklin tidak bisa membaca huruf Cina dan bersyukur karena perkembangan bahasa Mandarin-nya sangat lambat! Lydia tidak mau terus membebani Franklin. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Lydia langsung memutus sambungan telepon.

Franklin kesal setengah mati. Ia pergi berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Sayangnya suasana di luar malah membuatnya semakin merasa sesak. Franklin berdiri di depan toko kecil yang menjual koran dan majalah. Hampir semua cover-nya bergambar Lydia dan Tian Ya. Franklin hanya bisa membaca nama “Lydia” yang ditulis dengan huruf latin di antara huruf-huruf Cina itu. Tidak tahu apakah mereka sekarang telah menjadi bintang besar, Franklin lalu membeli semua koran dan majalah yang menjadikan Lydia dan Tian Ya sebagai berita utama. Jika Lydia tidak mau menceritakan tentang masalahnya, hanya ada satu jalan.

Franklin berdiri di depan pintu rumah Fei Yang agak lama. Sejak Fei Yang mengungkapkan perasaannya pada Franklin setelah konser piano waktu itu, mereka berdua belum pernah saling bicara. Yang mengherankan adalah hal tersebut karena kegugupan Franklin, sedangkan Fei Yang justru tampak biasa saja. Franklin tidak habis pikir, bagaimana gadis seperti Fei Yang bisa mengatakan suka pada seorang laki-laki dengan begitu mudah, seolah kalimat “Aku menyukaimu” setara dengan kalimat “Aku pulang dulu.” Namun Franklin sedang tidak punya waktu untuk mencari jawabannya karena sekarang masalah Lydia jauh lebih penting.

Belum sempat menekan bel, pintu rumah sudah terbuka. Fei Xiang menjulurkan kepala dan membuat Franklin terkejut. Anak itu membawa tas di punggung, entah mau keluyuran ke mana lagi. “Kau pasti mencari kakakku, ya?” Tanpa menunggu jawaban Franklin, Fei Xiang lalu berteriak keras, “Kakak, pacarmu datang!”

Kalau tidak ingat bahwa orang yang menyebalkan ini adalah adik Fei Yang, Franklin pasti akan langsung memukulnya dengan gulungan majalah! Setelah Fei Xiang melewati Franklin dan berjalan keluar halaman, Fei Yang muncul.

“Fei Yang…” sesaat Franklin kebingungan mengutarakan maksud kedatangannya.

“Franklin! Maaf ya, beberapa hari belakangan ini aku tidak bisa datang ke rumahmu untuk belajar bersama! Setelah konser piano itu aku jarang berada di rumah!” Fei Yang sengaja berkata demikan untuk menghalau kecanggungan yang mungkin muncul di antara mereka setelah Franklin tahu jika Fei Yang menyukainya.

Taktik Fei Yang berhasil karena setelah itu Franklin tersenyum. “Aku tahu, tidak masalah! Lalu apakah sekarang kau punya waktu?”

“Tentu!”

“Aku membutuhkan bantuanmu…” Franklin mengacungkan tumpukan koran dan majalah di tangannya.

Di ruang tamu Fei Yang membuka-buka koran dan majalah yang dibawa Franklin.

Dalam beberapa detik saja Franklin dapat melihat perubahan di wajah Fei Yang. “Berita buruk, ya?”

“Beberapa hari ini aku tidak membaca koran atau menonton televisi, jadi aku juga baru tahu sekarang kalau Lydia dan Tian Ya…” Fei Yang tidak mampu meneruskan kalimatnya.

“Katakan intinya saja, Fei Yang! Kumohon…”

Dengan sangat hati-hati Fei Yang menjelaskan secara umum berita tentang Lydia dan Tian Ya yang ada di koran dan majalah itu. Kemudian ruang tamu sunyi senyap. Baik Fei Yang maupun Franklin sama-sama terkejut. Bagaimana bisa Lydia dan Tian Ya menjadi bahan berita dalam waktu bersamaan? Yang satu dikatakan pernah bekerja di kelab malam—kalau tidak mau disebut sebagai mantan wanita penghibur—kemudian yang satu lagi dikatakan pernah membunuh orang. Franklin, Fei Yang, dan Xing Wang, mereka bertiga adalah pemegang rahasia Lydia dan Tian Ya. Walau Xing Wang berkali-kali menyatakan ketidaksetujuannya atas tindakan Tian Ya membunuh Xiao Long, ia jelas tidak akan mengkhianati sahabat sendiri. Lydia sebagai istri saja tidak mampu mencegah Tian Ya melakukan pembunuhan, apalagi teman-temannya. Sedangkan masalah Lydia pernah terjebak di kelab malam hanya Franklin dan Tian Ya yang tahu.

“Sepertinya masalah ini sudah berkembang menjadi sangat serius,” kata Fei Yang.

“Kukira juga demikian…”

“Maukah kau menceritakan kepadaku, apa yang membuat Lydia sampai bisa diberitakan… pernah bekerja di kelab malam?”

Karena Fei Yang sudah bersedia membantu, rasanya akan sangat tidak adil kalau Franklin masih merahasiakan tentang masalah Lydia yang pernah terjebak di kelab malam itu. Jadi Franklin tidak keberatan bercerita pada Fei Yang. “Gara-gara Xiao Long! Ketika Lydia bertengkar dengan Tian Ya karena masalah Frida, dia meninggalkan apartemen dan diajak seseorang ke sebuah rumah. Ternyata rumah itu tempat berkumpulnya para wanita yang… ‘tidak benar’… Saat itu kebetulan aku juga berada di Taiwan dan tanpa sengaja menemukan Lydia di sebuah kelab malam. Sudah tiga hari Lydia terperangkap di sana. Aku membawanya ke luar dari tempat itu lalu menebusnya dari orang-orang yang menjual Lydia. Meski sangat syok, untunglah Lydia baik-baik saja! Setelah sekian lama Lydia baru bisa melupakan pengalaman buruknya, tidak tahu kenapa sekarang tiba-tiba masalah ini muncul kembali.”

“Tian Ya akan mengatasi semuanya…” Fei Yang bermaksud menenangkan Franklin, tapi setelah berkata demikian ia pun merasa ragu.

“Tian Ya!” Emosi Franklin langsung naik begitu mendengar nama ini. “Memangnya dia bisa apa? Kaulihat, dia sendiri juga jadi bahan gosip! Lydia tidak mau mengatakan apa-apa ketika aku meneleponnya. Hanya mendengar dari suaranya aku tahu kalau keadaan Lydia tidak begitu baik.”

Franklin sangat mencemaskan Lydia, tidak peduli jika Lydia sudah menikah! Tiba-tiba di hati Fei Yang timbul sebersit rasa cemburu. Rupanya ia benar-benar telah jatuh cinta pada Franklin! Tapi… belum tentu Franklin menyukai dirinya juga. Bagaimana kalau cintanya pada Franklin hanya bertepuk sebelah tangan? Apakah Fei Yang masih berhak cemburu?

“Aku percaya Lydia bisa menghadapinya. Dia orang yang kuat…” kata Fei Yang.

“Tidak! Lydia bukan orang yang kuat! Dia itu manja! Ada masalah sedikit bisanya cuma menangis, mengurung diri di kamar sampai berhari-hari, tidak mau makan…” Semakin dipikir Franklin semakin gelisah. Kemudian ia bangkit berdiri. “Fei Yang, aku pergi dulu!”

“Kau mau ke mana?”

Franklin tidak menjawab pertanyaan Fei Yang, ia hanya berkata, “Fei Yang, terima kasih atas informasinya. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, aku pasti akan membalasnya!” Franklin melangkah lebar meninggalkan rumah Fei Yang.

Fei Yang menatap nanar pada tumpukan majalah dan koran di atas meja.

Balasan yang kuinginkan darimu hanya satu…

 

 

7 Comments to "[Di Ujung Samudra] Kita Akan Menderita Sama-sama!"

  1. EA.Inakawa  2 February, 2016 at 18:54

    saya bukan marga Yang, tapi saya suka mempergunakan kalimat Yang kalau memanggil seseorang…..contoh nich : YANG Lani lagi dimana YANG ?

  2. J C  1 February, 2016 at 16:44

    Semakin seru ini!!

  3. Alvina VB  22 January, 2016 at 09:10

    Ha..ha…mbakyu Lani bisa aja…
    Liana ditunggu dah lanjutannya, makin banyak intriknya makin seru kan ya…apalagi ntar kl si Franklin ikutan turun tangan, bisa tambah runyam ya?

  4. Liana  22 January, 2016 at 06:35

    Memang cerita seharusnya begitu, semakin lama semakin naik menuju klimaks. Kalau datar saja tidak ada yang tertarik

  5. James  21 January, 2016 at 14:34

    hadir ci Lani, menetap di ujung benua Kangguru

  6. Lani  21 January, 2016 at 12:30

    Liana: nampaknya akan tambah ruwet…….rumit

  7. Lani  21 January, 2016 at 11:57

    Diujung samudra dimana para kenthirs menetap………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.