Dunia Izza (1)

Wesiati Setyaningsih

 

Masuk SMP menjadi sebuah dunia baru buat Izza. Teman-teman baru dari sekolah yang berbeda-beda, gedung baru, suasana baru, semua baru. Cuma hape dan tas yang tidak baru. Buku, sepatu, seragam, itupun ikut baru.

Kalau dulu di SD hanya ada dua kelas pada satu level, sekarang ada 8 kelas! Wow banget. Kalau dulu di SD kelasnya kumuh, nggak ada AC, padahal satu kelas isinya 40 anak. Ngebayanginnya aja sudah sumuk. Sekarang satu kelas hanya berisi 20 anak, dan kelasnya ber-AC. Alhasil pernah Izza pulang dan merasa badannya meriang, habis itu pileknya kumat. Ternyata dia duduk tepat di tempat yang kena sentor AC paling kenceng.

dunia-sekolah

Kalau dulu di SD gurunya Cuma satu, tiap hari liatnya ya itu-itu aja, dapat doktrinasi ya dari beliau itu saja, sekarang gurunya banyak. Sehari bisa ketemu 4-5 guru. Masing-masing dengan cara mengajar, cara pandang, cara bicara, yang berbeda-beda. Jelas sekarang Izza jadi kaya tiba-tiba disentor berbagai wacana.

Dulu di SD ekstra kurikuler paling heboh Cuma drum band. Dia sempat ikut dua tahun dan ‘nunut mulya’ menang lomba, jadi dapat piagam yang membantu dia masuk SMP. Lalu ikut Pramuka, ikut lomba, dan menang lagi. Sekarang di SMP ekstra kurikulernya banyak. Ada paduan suara, English Conversation, basket, Pramuka, Cheer, jurnalistik, dan tari. Bingunglah dia mau ikut yang mana. Awalnya ikut EC, akhirnya bergabung intens dalam Pramuka menjadi tim inti. Dasar anak itu suka sekali Pramuka. Entah kenapa. Padahal kalau dipikir, Pramuka itu capek sekali.

Mamanya suka menggoda, “Pramuka itu buat apa coba? Sekarang semua ada. Mau makan tinggal pesan delivery. Nggak usah bikin api unggun lagi. Mau kontak orang ada Whatsapp, Line, Messenger. Ngapain repot ngibarin bendera apa tiup-tiup sempritan? Repot amat.”

Tapi dasar Izza, dia ngeyel mau ikut Pramuka. Semua omongan Mama dan Kakaknya tak dia pedulikan sama sekali. Show must go on. Dan show terhebat buat dia ya Pramuka. Konyol buat Mama dan kakaknya, tapi Ayahnya tak heran. Adik bungsunya dulu juga suka sekali Pramuka. Jadi ketika anaknya semangat sekali ikut Pramuka, dia diam saja.

Di balik semua itu, Izza jadi makin sadar kalau dia dididik dengan cara yang sangat berbeda. Banyak hal yang membuat dia gagal paham, sebagai mana Mama dan Kakaknya sering alami.

Hal pertama, masalah nilai akademis. Buat Mamanya, nilai akademis itu tidak terlalu penting. Sejak SD dia tidak pernah dituntut ranking satu. Juga Kakaknya yang selalu belajar sendiri tanpa disuruh-suruh. Kalau Mama lain menyuruh anaknya belajar, yang dia dengar dari Mamanya pada Kakaknya malah, “Mbok sudah, nggak usah belajar terus. Sesekali orang itu nyantai. Hidup kok spaneng amat.”

Itulah kenapa Izza selalu santai. PR yang penting dikerjakan. Kalau lupa, besok dikerjakan di sekolah pagi-pagi. Ulangan, belajar aja malamnya. Nilainya jelek, biar aja, toh Mama nggak pernah marah.

Ketika baru masuk SMP ini, teman-teman Izza sudah pada ikut les mapel. Maka Izza pengen ikutan juga. Dia bilang ke Mamanya minta ikut les juga. Tapi Mamanya bilang, “Waktumu udah habis. Mending fokus les gitar aja.” Malah sekarang Mama support supaya Izza bikin band aja.

Alhasil, ketika terima raport, teman-temannya pada takut nilainya jelek, Izza diam saja. Dia merasa kehilangan rasa horor yang seru karena takut dimarahi orang tua. Ketika teman-temannya ribut ketakutan saling bersahutan, dia Cuma bilang, “Aku nggak dimarahin kok kalau nilaiku jelek, dari dulu juga gitu.” Dan itu sangat tidak menarik karena dia seolah tidak nyambung dengan teman-temannya.

Kedua, di SMP ini dia melihat bahwa orang tuanya sudah mendidik dia menjadi anak yang melihat agama dari sisi yang berbeda. Banyak hal yang membuat dia kesal dan gagal paham bercampur jadi satu. Misalnya ketika anak laki-laki berbondong melihat anak cheer latihan. Anak cheer ini hebat-hebat. Mereka pandai main akrobat, muter balik enggak capeknya. Prestasinya tak diragukan lagi. Mereka menang banyak kompetisi, bahkan sudah ikut tingkat nasional!

Tapi rok mereka pendek. Di situ masalahnya. Meski di balik rok pendek yang lebar dan mudah terbuka itu ada celana pendeknya, tetap saja itu dianggap tidak senonoh. Maka ketika anak laki-laki berbondong melihat mereka latihan, ada yang berteriak, “jangan liat anak cheer latian, itu zina mata.” Dan nyatanya cheer ini menjadi bahan perbincangan seru karena rok pendek mereka. Izza gagal paham, hampir sama dengan dia gagal paham kenapa payudara sapi diblur. Atau belahan dada di acara tivi kabel pun sekarang mulai di blur. Dunia Izza jadi blur semua. Keaslian alamiah dari Tuhan ditutup hingga dia kesal.

Hal lain adalah guru-gurunya yang berbeda. Hampir tiap hari dia membicarakan gurunya, tapi yang paling seru adalah ketika dia marah-marah saat pulang. Begitu sampai rumah dia sudah ngomel.

“Masak guruku bilang, orang Islam itu banyak, tapi nggak banyak yang menonjol. Yang menonjol malah orang non Islam!”

Sejak di SMP ini dia jadi punya kosa kata ‘Is’ (islam) dan ‘Nonis’ (non Islam). Sangat diskriminatif. Tapi gimana lagi? Inilah kosa kata yang digunakan di pergaulan teman-temannya.

“Gimana sih maksudnya?” Mamanya nggak paham.

“Tuh, katanya Ahok kan nonis. Dia bisa jadi gubernur dan terkenal. Kok orang Islam nggak bisa.”

Mamanya menatap bingung. “Lha kan di Indonesia ini banyak propinsi. Gurumu sudah menghitung belum, gubernur Islamnya ada berapa, yang agama lain ada berapa?”

“Itu dia! Aku sebel…”

Omelannya masih panjang lebar. Apalagi hampir tiap kali masuk kelas dia guru IPS ini membicarakan masalah agama. Karena menggunakan kurikulum 2013, guru satu mapel boleh membicarakan mapel lain, dengan dalih kontekstual. Masalahnya, apa yang disampaikan gurunya biasanya berlawanan dengan apa yang dia terima di rumah. Toh, dari sini Izza belajar tentang perbedaan pendapat. Sebuah jalan menuju kebijaksanaan.

duniasekolah

Sore lalu dia curhat lagi dengan surprise. Soalnya ada guru baru, dan kali ini gurunya Nonis! Dia bilang, “kan agak aneh gimana gitu. Biasanya gurunya Islam semua. Ini ada guru Nonis. Seru juga.”

Lantas dia cerita, kalau gurunya yang nonis ini bilang kalau meski tidak beragama Islam, dia juga punya saudara yang beragama Islam. Kalau saudaranya ini sedang di rumahnya dan tiba waktu solat, dia sediakan tempat untuk solat. Dia punya sajadah untuk kerabat dan teman-temannya yang Islam.

Teman-temannya berpandangan, katanya. Melihat Izza yang tenang-tenang saja, mereka menoleh pada Izza.

Mereka bertanya, “apa dia nggak dosa menyediakan tempat buat solat?”

Izza menatap tak mengerti. “Enggak lah. Memangnya kenapa?”

“Kan dia Nonis…” bisik temannya.

Sepertinya daftar gagal paham Izza bakal semakin banyak.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Dunia Izza (1)"

  1. J C  1 February, 2016 at 16:45

    Wesi, aku juga gagal paham setelah membaca ini…

  2. Alvina VB  25 January, 2016 at 06:25

    Wes, biasanya anak2 spt Izza akan betah tinggal di LN dan gak mau pulang lagi, kl pulangpun dia gak akan betah, krn pemikirannya dia gak akan nyambung lagi dgn pemikiran kebanyakan org di tanah air, banyak anak2 yg kuliah di sini lalu pulang ke tanah air pada frustrasi dah….buntut2nya ya pada keluar lagi, he..he…
    OOT nich…btw, nama Izza jadi inget jaman duluuu di sini, anak2 Ind yg kuliah di sini, kl ngomong suka ganti j, y dan s sama z, jadi kl mau ngomong iya, iya, suka2 situ aja ..jadi iza, iza zuka2 zitu aza…he..he….

  3. Wesiati  23 January, 2016 at 09:35

    Alvina, memang saya maunya anak-anak nanti lanjutin master ke luar negeri. Biar nambah pengetahuan. Tapi nanti harus balik lagi ke Indonesia buat ngacak-acak pikiran orang sini lagi secara lebih masif. Haha…
    Masalah nanti pas udah tua mau hidup di mana, terserah. Tapi harus sempat ‘mengacau’ di sini.

    Silvia : toss…

  4. silvia  22 January, 2016 at 16:25

    Aku <3 Wesiati.

    Ttd,
    Emak Somplak (juga)

  5. Alvina VB  22 January, 2016 at 09:07

    Wes, saya rasa Izza bukannya gagal paham, temen2nya aja yg pemahamannya cetek beneran; kayanya Izza pemilirannya lebih klop kl tinggal di sini aja, di sini gak ada yg namanya is dan nonis, org agama disuruh simpen di rumah, ha..ha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.