Perhatian

Meitasari Mberok

 

Sebagai seorang yang cuek, aku jarang sekali memperhatikan seseorang secara pribadi. Bertegur sapa, ataupun memberi salam, berkomunikasi secara intens merupakan kendalaku atau lebih tepatnya kemalasanku.

Bahkan ketika ada pertemuan, apa pun itu, semua orang yang datang kemudian menyalami yang datang terlebih dahulu. Aku sendiri yang selalu malas. Aku orang yang sukar berbasi-basi. Padahal menurut suamiku, kadar sukses rendah tanpa basa-basi. Hahahahaha…

Aku lebih suka ngobrol bercanda dalam sebuah grup ramai-ramai. Membully atau dibully sebagai ekspresi suatu keakraban.

care and concern

Suatu ketika dalam komunikasi japri, seorang teman bercerita lengkap tentang keluarga, pekerjaan, bahkan hal-hal pribadi teman yang lain. Aku sangat heran bagaimana dia bisa tahu. Hahahahaha. Lha aku???

Sungguh, aku merasa kebangetan. Tidak mengerti info apa-apa tentang teman-temanku. Padahal, aku ini tukang ngumpulin teman. Tukang rame-rame. Tapi kok ya bertanya tentang pekerjaan, alamat rumah, keluarga dan hal-hal pribadi jarang terpikir olehku.

Aku sungguh minta maaf, jika ada di antara teman-teman, mempunyai perasaan, “Meita ki nek ana perlune wae nembe menghubungi.” – Meita itu menghubungi jika ada perlunya.

Sungguh aku tidak bermaksud demikian, meskipun mungkin terasa demikian. Aku sungguh tahu, bahwa sapaan merupakan bumbu pergaulan. Tapi entahlah bagiku esensi perhatian bukan pada sapaan. Tetapi jika teman dalam keadaan kesulitan atau kesedihan, itulah perhatian yang sejati.

Aku pernah bercerita tentang seorang tetangga yang menderita myom. Dan besarnya myom itu setara dengan ibu hamil 9 bulan. Banyak orang yang memperhatikan ibu ini, tetapi simpati itu berhenti pada batas tertentu.

Aku sendiri, merasa bahwa tak cukup dengan simpati.

Maka aku datang ke rumahnya, mengantar ke dokter, menghadapi kendala-kendala dan pertentangan keluarganya, hingga mendorongnya untuk operasi sampai persiapan operasi. Ketika merasa semuanya beres dan berjalan lancar, aku merasa tugasku sudah berakhir, aku berlalu dari hingar bingar itu. Dan lupa bahwa aku pernah berjasa pada ibu ini.

Bukan aku yang mengingat-ingat jasaku. Justru ibu ini yang selalu mengatakan demikian. Dalam setiap pertemuan lingkungan, atau setiap bertemu denganku berulang-ulang dia selalu mengatakan bahwa karena akulah, dia tetap hidup hingga sekarang dan bisa bekerja.

Terakhir, sekitar sebulan lalu, saat menengok rumahku yang dikontrak. Aku melewati tempat berjualan ibu itu. Aku melihat dia melambaikan tangannya dan memintaku mampir. Tapi waktuku terlalu sempit untuk sekedar beramah-tamah. Sehingga aku hanya membalas lambaian tangannya sekilas.

Saat PILKADA yang baru lalu, karena aku masih nyoblos di rumah lamaku, ku sempatkan sekeluarga mengunjungi ibu ini di warungnya untuk sekedar nglarisi. Aku sering malas membeli dagangannya, karena pasti akan ribut soal membayar. Demikian juga kali ini. Dia berkeras ingin membalas jasaku. Padahal aku sedikit pun tidak mengingat-ingat apa yang telah kulakukan padanya.

Sampai tiba saatnya aku pamit. Dia minta ijin untuk memelukku. Aku terbengong. Aku suka kikuk untuk hal basa-basi. Parahnya aku ya… hahahahaha.

Setelah memeluk dia menangis tergugu. Lha tambah bingunglah aku. Dia kembali mengulang kata-katanya.

“Terimakasih ya bu Meita, tanpa bu Meita, mungkin aku sekarang tinggal nama.”

Aku jadi terharu. Ah, ternyata perhatian kecil itu sangat berarti buat dia. Padahal sungguh, aku cuma berbagi semangat saja. Karena aku tahu, dia bisa diselamatkan, asal ada yang mau menunjukkan jalannya.

Ucapan terimakasih ibu ini sebenarnya menghibur aku. Bahwa ternyata aku tidak terlalu cuek-cuek amat. Ternyata aku masih punya perhatian pada orang lain. Xixixi. Ini dikuatkan dengan kejadian pagi ini.

Seorang office girl di tempatku bekerja tiba-tiba memelukku untuk mengucapkan Selamat merayakan Natal sambil mengucapkan terimakasih dan menciumiku bertubi-tubi. Hal yang tidak dia lakukan pada temanku lainnya yang merayakan Natal. Hahahahaha…

Ternyata aku dicintai. Bangganya aku. Meski aku cuek, tetaplah aku disayangi, entah karena apa. Mungkin karena aku SUDRUN. Wkwkwkwk.

Akhirnya, di penghujung tahun ini, aku minta maaf pada teman-teman yang terluput dari perhatianku. Aku hanya ingin mengatakan,

Aku menyayangi kalian, tapi mungkin aku tak pandai mengukirnya dalam tindakan dan ucapan.

Selamat Tahun Baru 2016…

 

Semarang, 28 Desember 2015

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Perhatian"

  1. J C  1 February, 2016 at 16:45

    Aku juga pernah dijemput naik Panther terus mangan es bareng…

  2. Alvina VB  22 January, 2016 at 09:22

    Perhatian gak musti dengan kata2 ttp tindakan yg nyata lebih mantaf, mbak Meita…dari pada NATO (No Action Talk Only).
    Mahalo mbakyu Lani….

  3. Lani  21 January, 2016 at 23:35

    Mas DJ: nanya yg hobby tidur sapa? Mas apa nyi mberok???

  4. Dj. 813  21 January, 2016 at 15:50

    Bagaimana mau menyapa atau kasih salam, wong hobby nya tidur . . .
    Hahahahahaha . . . ! ! !
    Salam,

  5. James  21 January, 2016 at 14:37

    mbak Lani, makasih dan halo sudah diingat untuk hadir

  6. Lani  21 January, 2016 at 12:34

    Nyi Mberok: betooooool sekali kamu Sudrun, krn ke Sudrunanmu itulah kamu malah dicintai oleh orang lain……..jd jgn berubah tetep Sudrun ya…….kkk

  7. Lani  21 January, 2016 at 11:57

    Perhatian buat trio kenthirs…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.