Sepi

Fidelis R. Situmorang

 

1. “Tak perlu cemburu pada rejeki orang lain, karena kita tak tahu apa yang telah hilang darinya. Dan jangan teralu jauh tenggelam dalam kesedihan saat hidupmu tak berjalan sesuai rencanamu, karena kita tak tahu berkat apa yang akan kita terima kemudian,” kata dispenser kepada rice cooker. Saya jadi bengong.

2. Saya sudah tak bengong lagi mengetahui dispenser sering ngobrol-ngobrol dengan rice cooker. Mungkin ini yang namanya indra kelima.

Sambil membawa kopi sachet instan kesukaan saya, saya dekati mereka yang tampak sedang membahas sesuatu yang serius.

“Apakah maaf itu?” kata dispenser kepada rice cooker. “Ia adalah harum wangi yang diberikan bunga saat dihancurkan*,” katanya lagi.

Langsung saya peluk dispensernya, tak jadi bikin kopi.

3. Langit kelabu. Pepohonan di balik jendela seperti sedang murung. Entah kenapa ada perasaan kosong yang tak kumengerti saat memandang pada kejauhan. Sesuatu yang sunyi, sesuatu yang terasa begitu dingin.

Tiba-tiba terdengar suara memecah kesunyian. Suara dispenser kepada rice cooker. “Apa pendapatmu tentang rasa sepi?”

Kampret! Segera kupasang headset, memutar lagu Pink Floyd.

4. Langit kelabu perlahan berubah menjadi gelap ketika saya mendengarkan Wish You Were Here, Pink Floyd. Tak jadi turun hujan ternyata, hanya hawa dingin yang datang dibawa angin.

Entah kenapa saya jadi memikirkan apa yang dikatakan dispenser pada rice cooker. Apa sebenarnya rasa sepi itu? Kenapa ada perasaan hampa yang bisa datang begitu tiba-tiba? Apa saya memang sedang kesepian?

Saya sandarkan kepala saya pada sandaran sofa. Tampak rice cooker sedang mengangguk-angguk mendengarkan kotbah dispenser. Segera saya matikan lampu. Saya sedang ingin sendiri.

5. Lagu-lagu Pink Floyd yang menemaniku dalam gelap tak mampu mengubah suasana hati. Aneh sekali perasaanku ini. Entah apa maunya. Lalu sekarang ada tanya pada diri sendiri, ngapain gelap-gelapan ‘gini? Hanya memandangi langit-langit yang juga gelap. Seorang diri.

Aneh ya, bahwa perasaan sepi, perasaan kosong, perasaan sedih itu bisa datang tanpa kita tahu apa sebabnya. Apa mungkin ia adalah suatu alarm alami di jiwa yang mencoba mengingatkan kita pada sesuatu yang entah apa namanya.

Keanehan lain yang aku alami adalah mendapati bahwa dispenser dan rice cooker bisa bicara. Apa benda-benda itu memiliki jiwa juga sama seperti diriku?

Kuganti lagu Pink Floyd dengan lagu Thank You for Loving Me. Lagu yang kutunggu-tunggu pada konser Bon Jovi September kemarin, tapi tak dibawakannya. Suara piano melantun lembut. Kuatur posisi duduk senyaman mungkin, ikut bernyanyi pelan, meresapi setiap kata cinta dalam lagu itu.

Ada suara berdehem lalu cekikikan kudengar. Pasti dispenser dan rice cooker sedang menertawakanku.

Bodo amat, ah… Kuteruskan duetku bersama Jon Bon Jovi:

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn’t see
For parting my lips
When I couldn’t breathe
Thank you for loving me

Suara cekikikan berubah jadi gelak tawa.
Asem!

6. Saya rasa sudah waktunya untuk menegur dispenser dan rice cooker supaya tidak semakin songong. Suara tawanya semakin menjadi-jadi. Berani-beraninya mereka menertawakan keadaan saya. Saya hampiri mereka. Tawa mereka tidak lagi berderai-derai.

“The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others**,” kata dispenser kepada rice cooker, tak mempedulikan kehadiran saya.

Busyettt! Pakai bahasa Inggris segala sekarang!

Rice cooker kembali manggut-manggut.

“Uhuk uhuk…” Saya pura-pura batuk. Mereka menengok ke arah saya.

“Kenapa tadi menertawakan aku?” tanya saya.

“Hah?” Kedua filsuf itu saling pandang, lalu serempak tertawa.

Saya pasang muka tak senang.

“Bagaimana kami tidak tertawa melihat keanehanmu…”

“Aku aneh?”

“Iya. Kamu aneh akhir-akhir ini.”

“Aku aneh bagaimana?”

“Ya, anehlah. Kau berlagak seolah-olah kau itu adalah manusia. Apa kau sudah hilang ingatan?”

“Hah? Aku…?!”

“Coba sekarang lihat dirimu. Ngaca!” katanya lagi.

Segera saya menuju cermin. Berdiri tepat di hadapannya. Saya lihat ada benda putih besar di sana, bertuliskan kata “Sanyo” di bagian kanan atas.

“Kau itu kulkas! Cuma kulkas!” kata Dispenser lagi.

Saya mendadak lemas.
* Peribahasa Sufi
** Gandhi

 

 

5 Comments to "Sepi"

  1. Alvina VB  22 January, 2016 at 09:25

    Betul mbakyu Lani…btw, sepi nian di lapak ini, ttp gak kesepian kok….ada 2 kenthirs yg dah muncul, yg satunya masih bobo kali ya….

  2. Lani  21 January, 2016 at 23:35

    Jelas beda embekkkkkkk……..sama kuda meringkik bikin bulu kuduk mengkirik…………hahah……..ditanggung James kaga ngarti……….

  3. Dj. 813  21 January, 2016 at 15:52

    Kadang, kita memerlukan kesepian .
    Agar bisa mawas diri dan menjadi tenang .

    Terimakaksih dan salam,

  4. James  21 January, 2016 at 14:29

    BeDa dong antara Embe dan Kuda

  5. Lani  21 January, 2016 at 11:58

    Sepi dan kesepian berbeda bukankah begitu trio kenthirs???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.