Pengalaman Spiritual di Balik Buku “Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)”

JC – Global Citizen & Peter Carey

 

Undangan di Group Whatsapp “Komunitas Penulis PBK” (PBK = Penerbit Buku Kompas) untuk acara rutin bulanan yang disebut dengan ‘Kamisan’, kali ini dengan topik “Karut Marut Dunia Penerbangan Indonesia”.

IMG_2503

Namun tulisan ini bukan untuk mengulas pertemuan itu, karena sudah diulas oleh Mas Ninok Leksono dan terbit di harian Kompas cetak.

IMG_2683

Di pertemuan tersebut diawali dengan sharing session oleh Peter Carey, penulis buku “Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Membaca resensi buku ini yang diulas oleh pak Handoko Widagdo beberapa waktu lalu di “Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)” dan membacanya sendiri (walaupun belum tuntas) membuat pikiran saya melayang-layang dan seperti terloncat pemikiran bahwa Peter Carey sang penulis sepertinya mengalami beberapa kali pengalaman spiritual ‘bersinggungan’ entah secara langsung ataupun tidak langsung dengan Sang Pangeran ataupun keturunannya. Rasa penasaran ini tersimpan rapi sampai dengan 14 Januari 2016, saya mendapatkan kesempatan bertanya.

Singkat cerita, Peter Carey menyampaikan bahwa dirinya mengalami sedikitnya tiga kali ‘encounters’ dengan Pangeran Diponegoro dan seputarnya.

 

Tegalrejo, 7 Desember 1971

“Kembali ke kisah saya: pada awal bulan Desember 1971, saya pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, tempat saya akan menghabiskan waktu delapan belas bulan berikutnya (Desember 1971 hingga Juni 1973) meneliti perpustakaan keraton, juga arsip bekas asosiasi budaya sebelum Perang Dunia II, Djåwå

(Institut Jawa), Sono Budoyo, dan perpustakaan umum lainnya baik di Yogyakarta maupun Surakarta. Kedatangan saya di ibu kota sultan pada suatu malam di akhir Desember itu sangat aneh. Ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke Jawa Tengah dan saya tiba pukul 7 malam menaiki kereta “Senja Utama” yang murah dari Jakarta. Saya tidak mempunyai banyak kenalan di ibu kota kerajaan itu dan saya

memutuskan untuk bermalam di penginapan murah di salah satu gang di Jalan Malioboro dimana tidak lama saya berpapasan dengan orang Inggris dari Jakarta yang bekerja untuk UNICEF dan diberi tugas ke Gunung Kidul. Dia baru saja selesai mandi dan berkata kepada saya bahwa ia akan pergi untuk melihat wayang wong dan bertanya apakah saya mau ikut dengannya. “Di mana pertunjukan ini?” tanya saya. “Saya sama sekali tidak tahu; tetapi saya kira di pinggir kota”. Penasaran, kami memanggil becak yang membawa kami melalui bagian barat pinggiran Yogya melewati sawah dimana kunang-kunang beterbangan berkedip-kedip di udara malam. Sungguh terasa suasana perjalanannya. Setelah sekitar dua kilometer, kami menyeberangi sebuah jembatan kecil di atas arus sungai dan memasuki lingkungan yang tampak seperti sebuah lahan. Tebersit dalam benak saya bahwa ini adalah bekas kediaman Diponegoro di Tegalrejo yang telah dibakar oleh Belanda pada hari sepeninggalnya tanggal 20 Juli 1825 saat Perang Jawa dimulai. Bahkan, pertunjukan wayang wong dipentaskan di pendopo yang baru saja dibangun oleh Panglima Divisi Diponegoro, Jenderal Surono. Tentu ini adalah sebuah kebetulan. Bukankah demikian? Saya tidak yakin bahwa saya mengatakannya dengan jelas saat itu, namun tampak bagi saya bayangan Diponegoro menyambut saya di Tegalrejo yang dicintainya pada malam pertama kedatangan saya di Yogyakarta. Keberadaan saya di ibu kota kesultanan mulai menunjukkan harapan.”

 

Jogjakarta, circa Januari – Februari 1972

Tetapi bagaimana dengan “stille kracht” yang tidak dapat dielakkan, suatu kekuatan gaib yang tampaknya menghantui setiap orang yang tinggal di Jawa?

[Untuk tekst lengkap ini lihat Takdir, hlm.437-8]

Ya benar, Louis Couperus (1863-1923) dan novel terkenalnya (De Stille Kracht, 1900)! Saya merasakan hal itu juga! Melalui seorang teman, Ibu Kusumobroto, yang menikahi anak Pangeran Tejokusumo yang sudah berumur (1881-1973), saya diberi suatu paviliun di Tejokusuman di kampung Pasar Ngasem tepat di seberang rel kereta api yang mengarah dari Yogya ke pabrik gula sultan di Madukismo ke arah selatan kota.

Di dindingnya tergantung suatu lukisan cat minyak Diponegoro tahun 1950-an dan suatu ukiran kayu Jepara pasca-perang yang memesona yang menggambarkan Sang Pangeran menunggangi kuda Sumbanya, tangan kanan terentang ke atas dengan kuda yang berderap menuju pertempuran (rupanya didasarkan pada lukisan penunggang kuda yang terkenal karya Basuki Abdullah pada bulan Maret 1950 berjudul Diponegoro Memimpin Pertempuran). Sekali lagi sebuah kebetulan—bukankah demikian? Namun saya tidak menikmati tempat tinggal yang baru untuk waktu yang lama. Segera setelah kedatangan saya, beberapa kejadian yang tidak mengenakkan mulai terjadi:

Seorang bocah setempat yang saya jadikan pembantu rumah paruh waktu, terbukti tidak dapat diandalkan; ia bersenang-senang menggunakan sepeda motor saya ketika saya pergi ke Surakarta dan merusakkan persnelingnya. Suatu malam, saat kembali lebih awal dari kunjungan luar kota saya, saya memergoki anak itu dan teman-temannya tidur di tempat tidur saya. Saya segera memecatnya, tetapi tidak lama setelah dia saya perintahkan untuk berhenti dari pekerjaannya, kamera reflex lensa tunggal yang saya beli di Singapura untuk mengambil foto berbagai manuskrip, hilang.

Tuduhan segera tertuju kepadanya dan kasus sidang yang merepotkan pun terjadi, yang mana saya menjadi pihak yang dirugikan. Seolah-olah belum cukup, atap paviliun mulai bocor di musim hujan yang lembab (November 1971-April 1972) dan saya kembali merasakan penyakit perut yang parah. Semua kesusahan yang menumpuk ini membuat saya mencari bantuan seorang paranormal. Secara detail saya bertanya kepada pemuda ini, apa yang terjadi pada kamera saya karena saya sangat memerlukannya untuk pekerjaan saya.

Dia berkata kamera itu “tidak berada jauh”, yang berarti kamera tersebut akan kembali beberapa waktu setelah sidang berakhir. Meskipun demikian, bukanlah penyelesaian langkah hukum dan kembalinya barang hilang yang sungguh-sungguh menarik perhatian saya, namun pernyataannya bahwa paviliun yang sekarang saya tempati di Tejokusuman dihantui arwah mantan juru tulis Diponegoro, Raden Tumenggung Reksoprojo. Orang dekat Diponegoro ini berikut pengalaman pahitnya selama Perang Jawa telah membuatnya secara alami, kata si paranormal kepada saya, memusuhi semua hal yang berbau “Londo” (orang Belanda) yang amat dibencinya.

Kehadiran orang asing berkulit putih di wilayahnya telah membuatnya gusar sehingga ia membuat sebanyak mungkin masalah bagi saya—mulai dari sakit lambung, atap yang bocor, hingga bocah pembantu rumah yang tidak patuh. Sebagai solusi, paranormal muda kembali meyakinkan saya, setiap hari saya harus minum ramuan yang terbuat dari seduhan daun delima dan air mendidih, dan mengadakan sebuah selamatan untuk semua warga di Tejokusuman. Ini akan mengurangi sakit perut saya dan memulihkan hubungan saya dengan warga setempat.

Sementara itu, paranormal itu menjelaskan bahwa ia telah menenangkan sang arwah bahwa niat saya sebagai seorang penulis biografi Diponegoro tulus dan karena itu jangan mengganggu saya lagi. Masalah yang telah mengganggu di bulan-bulan pertama keberadaan saya di Tejokusuman tiba-tiba menghilang dan saya mampu memulai penelitian selama setahun yang melibatkan demikian banyak pekerjaan lapangan ke tempat-tempat yang sering dikunjungi Diponegoro. […]

 

Pengalaman di Benteng Ujung Pandang (sekarang Fort Rotterdam), Makassar, September 1972

Ujung Pandang (sekarang Makassar) di Sulawesi Selatan dimana saya menghabiskan satu minggu di Benteng Ujung Pandang, bekas Fort Rotterdam yang dibangun di akhir abad ketujuh belas, tempat Diponegoro tinggal selama dua puluh satu setengah tahun (11 Juli 1833-8 Januari 1855) pengasingannya sebagai tahanan di antara empat dinding benteng yang mengagumkan dari Laksamana Cornelis Speelman (1628-84).

Saat berada di sana, istri saya saat itu, Raden Ayu Koesmarlinah (Noes) (1940-2000), bermimpi dia memberikan saya sebuah manuskrip yang berhubungan dengan Diponegoro. Ini menjadi sebuah pertanda menarik karena saat saya mengunjungi keturunan pangeran yang masih hidup, Raden Mas Jusuf Diponegoro dan Raden Saleh Diponegoro—yang masih tinggal di rumah yang dibangun oleh pihak berwenang Belanda di Makassar untuk jandanya, Raden Ayu Retnoningsih, di Jalan Irian no. 83 (sekarang sudah dihancurkan dan digantikan oleh tempat belanja modern setelah dijual ke pengusaha Tionghoa pada tahun 2000)—mereka segera membawakan dua buku catatan.

Dua buku ini berukuran octavo (kertas yang dilipat menjadi delapan bagian sama besar) yang sudah dimakan serangga dan tertulis dalam tulisan pegon (tulisan bahasa Jawa dalam aksara Arab yang sering “gundul” atau tak bervokal), sebuah bentuk karya sastra yang lebih digemari oleh para santri di Jawa. Berjudul Sejarah Ratu Tanah Jawa (Januari 1838) dan Hikayat Tanah Jawa, keduanya berhubungan dengan sejarah Jawa dan legenda Jawa mulai dari jatuhnya Majapahit (sekitar 1510-an) hingga kedatangan Islam. Buku kedua juga termasuk doa Sufi yang digunakan tarekat (persaudaraan mistik). Tampaknya sang pangeran telah menulis buku-buku ini bagi pendidikan ketujuh anaknya di pembuangan di Makassar.

Mereka juga mengizinkan saya untuk memfoto lembar demi lembar, dan kamera saya, benda yang demikian membuat saya patah hati di awal keberadaan saya di Tejokusuman, sangat berguna.¹ Saya kemudian mampu mendapatkan orang untuk menerjemahkan halaman-halaman itu dan dua buku teks ini menjadi ladang informasi mengenai bentuk khusus Islam yang dipraktikkan Diponegoro, yang secara jelas dipengaruhi oleh tarekat Shaṭṭārīyya, yang telah tiba di Jawa dari Arab di akhir abad ketujuh belas dan pada zaman Diponegoro telah diterima oleh semua jenis sinkretisme Jawa dan ide mistik.

Selama wawancara saya dengan keturunan Diponegoro, saya kaget karena cucu ipar perempuan Diponegoro, Raden Ayu Mariati, yang menikahi cucu laki-lakinya— keturunan dari anak laki-laki termuda kedua, Raden Mas Rahab (yang kemudian disebut Bendoro Raden Mas Abdulrajab, lahir di Makassar sekitar 1837 – wafat di Makassar 1891)—masih hidup. Meskipun ia sangat lanjut usia (saya taksir ia berusia sembilan puluhan ketika saya bertemu dengannya pada bulan September 1972), saya dipersilakan menemuinya secara singkat saat dia berbaring seperti boneka lemah di tempat tidur besar bertiang empat ala abad sembilan belasan lengkap dengan kelambu dan guling model Belanda.

Di antara beberapa artefak material yang masih disimpan oleh pihak keluarga ada kain berpola Paisley yang sangat bernoda yang biasa digunakan sang pangeran untuk mengusap noda sirih dari mulutnya. Mengunyah sirih menjadi salah satu kebiasaan yang paling ditekuninya: dia bahkan sesumbar di dalam babad bahwa ia dapat mengetahui berlalunya waktu dari berapa lama ia mengunyah semulut penuh campuran jeruk nipis, daun, dan sirih.

Penelitian pustaka mungkin menarik, tetapi tidak ada yang mengalahkan kerja lapangan! Benar! Sepanjang tahun yang menakjubkan ini, saya mendapati diri saya bertumbuh dengan mantap menjadi semakin dekat dengan sang pangeran karena saya secara bertahap lebih memahami kehidupannya melalui berbagai kunjungan kerja lapangan ini dan melalui halaman-halaman sumber berbahasa Belanda dan Jawa. Ketika saya kembali ke Eropa di bulan Juni 1973, saya telah memperoleh bahan yang cukup untuk mulai menulis tesis doktoral Oxford saya

 

Artikel terkait:

Buku ini pernah diresensi oleh pak Handoko Widagdo di: Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)” (http://baltyra.com/2015/08/17/takdir-riwayat-pangeran-diponegoro-1785-1855/).

Idul Fitri Bersama Pangeran Diponegoro

‘Menemani’ Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro Hadir Kembali di Jakarta

Pangeran Diponegoro dan Pangeran Hendrik

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

13 Comments to "Pengalaman Spiritual di Balik Buku “Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)”"

  1. J C  1 February, 2016 at 16:39

    James: hahaha…bener, bener…terutama Nyai Kona tuh…

    Lani: kowe juga calon profesor… mbuh profesor opo…

    pak Djoko: yes, sure my Lord of Paisan…

    mbakyu Probo: matur nuwun sudah nambahi sekelumit cerita pelengkap…

    Alvina: seputar Pangeran Diponegoro ini memang banyak cerita yang bisa digali…

    Dewi: itu sudah dijawab pak Hand…

    pak Hand: matur kamsia tambahan infonya…

  2. Handoko Widagdo  28 January, 2016 at 15:00

    Mbak Dewi, perlakuan terhadap Pangeran Diponegoro di Manado, beliau bahkan pernah sampai melamar anak salah seorang tokoh agama, meski ditolak. Sedangkan saat di Makassar beliau diperlakukan cukup baik. Beliau mendapat rumah di dalam benteng, mendapat uang pensiun dan sarana untuk menulis. Hanya beliau tidak boleh meninggalkan benteng. Bahkan saat beliau wafat, Belanda menghibahkan tanah seluas 2 ha untuk tempat peristirahatan akhir beliau.

  3. Lani  28 January, 2016 at 13:42

    Ki Lurah: sik to, sing jd kenthir sak lawase pelukis nya atau yg dilukis……….itu berbeda lo……….hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *