Bukan Kepedulian Terhadap Isu Lain, tapi Keterikatan Simbol Keagamaan

Juwandi Ahmad

 

Bila bom di Jalan Thamrin itu murni teror dari kelompok radikal-ekstrimis Islam, dikatakan sebagai pengalihan isu untuk menekan-menutupi perkara-perkara yang lain: kontrak Freeport, proses pengadilan, dan sebagainya, maka justru disitulah sedang terjadi upaya pengalihan isu. Sebab dengan begitu, terorisme yang menjadi pokok dan fokus permasalahan menjadi terabaikan, terpecah, dan orang akan asyik meributkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan persoalan.

Pertanyaannya, bila murni teror kelompok radikal-ekstrimis Islam, mengapa ditarik pada isu-isu lain? Ini menarik. Sebab yang menjadi akarnya bukan pada kepedulian terhadap isu lain itu (Freeport, dll), tapi keterikatan simbol keagamaan. Jadi, bila ada teror dan tidak ada isu yang dapat diangkat untuk menyangkal, akan tetap ada kritik bahkan hujatan terhadap aparat (tentang proses penangkapannya, pengadilannya, dan semacamnya). Mengapa begitu?

religious+symbols

Ada orang-orang yang secara psikologis merasa menjadi bagian dari Islam, merasa terusik, terpojokkan, terlukai, dan karena itu berusaha menyangkal-melakukan pembelaan, terlebih peristiwa teror dimanapun akan dikuti dengan kritik, hujatan, dan hinaan terhadap Islam sebagai suatu agama. Ada ego keagamaan yang terikat dengan simbol-simbol Islam yang tidak dapat mereka lepaskan, yang mendorong mereka untuk melakukan penyangkalan dengan mengatakan bahwa semua itu adalah pengalihan isu, rekayasa, konspirasi tingkat tinggi, dan paling tidak kritik atas prosedur penanganannya. Bahkan dalam taraf yang lebih dalam, sekeji dan sekejam apapun seorang teroris, tetap mendapatkan tempat yang mulia dimata mereka. Sebab pada diri teroris, ada semangat, heroisme, bentuk, dan simbol-simbol Islam yang dianggap mengagumkan. Jadi, jelas, bukan kepedulian terhadap isu lain, tapi keterikatan simbol kegamaan.

Sebenarnya, terorisme yang sudah kadung diidentikkan dengan Islam, entah nyata, entah rekayasa, sama buruknya bagi umat dan wajah Islam. Lebih buruk lagi, Islam itu sendiri dianggap sebagai masalah, bukan saja bagi umat lain, tapi juga bagi kalangan umat Islam sendiri. Saat orang luar mengutuk Islam sebagai agama teror, umat Islam sendiri justru saling menteror: dengan wahabinya, syiahnya, jamaah ini, jamaah itu, gerakan ini, gerakan itu. Apakah untuk berislam dengan tenang, kita mesti pergi ke puncak gunung?

 

 

8 Comments to "Bukan Kepedulian Terhadap Isu Lain, tapi Keterikatan Simbol Keagamaan"

  1. Swan Liong Be  16 February, 2016 at 17:50

    Bukan semua Islam adalah teroris, mayoritas umat islam juga ingin damai seperti umat lainnya juga, tapi semua teroris beragama islam. Sangat disayangkan bahwa umat islam yang liberal kurang aktif dan tegas menunjukan ketidaksetujuan mereka terhadap tingkah laku kaum fanatis ini. Kebanyakan dari mereka kan hanya diam saja dan kalo protes hanya pasca peristiwa tertenu seperti bom Sarinah, teror diParis. Aku gak pernah denger ada unjukrasa atau demo besar²an terhadap IS atau Boko Haram , Bahwa ada organisasi teror ini umat islam dan umat lain keliatasnnya pasrah; they take it for granted!

  2. Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia  16 February, 2016 at 15:53

    ADAKAH PENJAJAHAN ARAB?

    Oleh : Indra Ganie – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

    • Mengenang 505 tahun (1511-2016) awal penjajahan di Nusantara
    • Mengenang 115 tahun (1901-2016) lahir Soekarno
    • Mengenang 70 tahun (1946-2016) gugur pamanku R Supardan di Front Karawang-Bekasi
    • Renungan terhadap nasib para TKI di (dunia) Arab yang diperlakukan seenaknya

    Beberapa waktu lalu Indonesia sempat digegerkan dengan info hukuman mati seorang TKI di Arab Saudi yaitu sebut saja dengan nama Ry binti SS, suatu kasus yang bukan pertama dan agaknya bukan yang terakhir. Penulis mendapat kesan agaknya dari sekian banyak kasus TKI diperlakukan seenaknya di negeri Arab, kasus inilah yang paling heboh hingga saat ini. Sepertinya sejumlah anak bangsa sudah habis kesabaran terhadap kasus semacam ini, suatu hal yang wajar mengingat sedikit banyak terkait dengan harga diri bangsa. Seakan-akan bangsa Indonesia adalah bukan manusia atau setengah manusia, sehingga “layak” diperlakukan tidak sebagai manusia seutuhnya.

    Sesungguhnya kisah-kisah pilu para TKI di luar negeri tidak hanya terjadi di dunia Arab, namun terkesan bahwa kasus-kasus ini sering terjadi di sana. Yaitu suatu dunia yang dihuni mayoritas Muslim sebagaimana halnya Indonesia, yang diharapkan ada semacam “ukhuwwah Islamiyyah” dalam menjalin hubungan tingkat apapun.Dan ironisnya, orang Indonesia diperlakukan seenaknya di negeri Arab justru keturunan Arab diperlakukan enak di Indonesia, ada yang dicium tangannya karena konon keturunan nabi. Orang-orang yang dikenal dengan habib, syarif dan sayid sudah lama mendapat perlakukan enak di dunia (mayoritas) Muslim termasuk di Indonesia.

    Penulis menilai bahwa perlakuan kejam para majikan Arab terhadap pelayan rumah tangga tidaklah terlepas dari budaya Arab yang pada dasarnya tidak beradab. Budaya Arab berciri feodal, patriarkal dan brutal. Kaum perempuan nyaris tak punya hak, sejumlah negara Arab masih menganut monarki absolut – bahkan yang menganut republik juga sulit dinilai demokratis. Contoh yang nyata antara lain Suriah, Presiden Hafizh Assad diganti oleh putranya yaitu Bashar Assad. Mesir nyaris meniru Suriah, Presiden Muhammad Husni Mubarak berniat menunjuk putranya yaitu Jamal Mubarak sebagai penggantinya namun keburu tumbang oleh demo rakyatnya. Ada lagi bentuk feodal, perbudakan di dunia Arab baru resmi berakhir pada 1960-an, namun perlakuan terhadap pelayan rumah tangga – terutama warga asing – masih tidak beda jauh dengan budak.

    Mengenai budaya brutal dapat disimak dari sejarah Arab yang penuh dengan kekerasan atau pertumpahan darah. Diantara mereka sulit bersatu, rasa kesukuan dan kekeluargaan lebih menonjol dibanding kebangsaan. Persatuan yang dengan susah payah diwujudkan oleh Nabi Muhammad hanya bertahan sekitar 30 tahun. Persaingan lama antara Bani Hasyim dan Bani Ummayyah – padahal mereka masih satu silsilah – muncul kembali dalam bentuk yang lebih keras : pertumpahan darah yang berkepanjangan. Pada abad-10 imperium Arab yang membentang dari Iberia hingga Turkistan terbagi 3 kerajaan besar – yang kalau diusut masih keluarga besar beliau – yaitu : Ummayyah, Fathimiyyah dan ‘Abbasiyyah.

    Riwayat Kerajaan Arab Saudi juga tak terlepas dari pertumpahan darah yang mengerikan. Berawal dari gerakan sosio-religi yang muncul dari duet “2M” yaitu ulama militan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan penjahat kejam Muhammad bin Sa’ud pada abad-18, mereka melakukan serentetan kampanye berdarah untuk menjadi penguasa di Arabia. Dinasti Sa’ud melaksanakan hukum yang kaku, pemahaman yang tekstual atau skriptualis terhadap teks ayat dan hadits nyaris tanpa menyimak latar belakang munculnya ayat dan hadits membuat citra buruk bagi Islam dan kaum Muslim. Hal ini dapat terjadi karena mayoritas orang di seantero dunia masih sulit membedakan mana agama Islam dan mana budaya Arab, termasuk di Indonesia. Di Indonesia cenderung ada anggapan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik hendaklah (atau mungkin haruslah) “Arab minded” atau meniru Arab, semisal pelihara brewok, pakai surban, pakai kafiyah, pakai gamis atau perempuan pakai cadar.

    Perlu diketahui bahwa persekutuan Saudi-Wahhabi berdasar kesepakatan yaitu Wahhabi mendukung keluarga Sa’ud menjadi penguasa turun temurun dan keluarga Sa’ud berjuang menyebar faham Wahhabi ke seantero dunia.

    Perihal faham Wahhabi, pada dasarnya tidak ada yang baru. Faham tersebut adalah “kembali pada Islam yang berdasar kitab dan sunnah”, memberantas syirik, bid’ah, khurafat dan takhyul. Ditinjau dari ini memang menarik karena begitulah tuntunan dalam Islam. Dan mayoritas kaum Muslim pada dasarnya tidak keberatan.

    Persoalan menjadi lain ketika mereka memaksakan fahamnya kepada orang lain, bahkan menganggap kafir siapapun yang tidak sefaham walau orang tersebut masih Muslim. Penulis teringat dengan gerakan Khawarij yang muncul pada abad-7, dengan faham “siapa yang tak berhukum kepada Allah adalah kafir” walau dia syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Wahhabi dan Khawarij memiliki riwayat brutal yang panjang justru lebih banyak terhadap sesama Muslim dibanding non Muslim. Konon, sejak abad-18 hingga Kerajaan Arab Saudi terbentuk pada 1932, gerakan Saudi-Wahhabi telah membunuh sekitar 400.000 orang dan mencederai sekitar 350.000 orang, yang semuanya adalah Muslim. Berdasarkan latar belakang di atas penulis harap semua tidak heran lagi dengan kasus-kasus kekerasan di Arab Saudi.

    Telah disebutkan bahwa Dinasti Sa’ud berjanji akan menyebar faham Wahhabi, dan itu sampai ke Indonesia. Diperkirakan faham Wahhabi masuk ke Nusantara pada akhir abad-18, di Sumatera – tepatnya di Minangkabau – faham tersebut membentuk gerakan “Paderi” yang kelak mengobarkan revolusi melawan imperialisme Barat yang disebut dengan “Perang Paderi”. Walau gerakan tersebut dapat ditumpas namun fahamnya tidak. Di Jawa faham tersebut menjelma dalam gerakan yang “lebih santun” yaitu “Muhammadiyah”. Ormas ini tidak menempuh revolusi namun evolusi. Mengubah masyarakat secara “pelan tapi pasti” yaitu dengan cara pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Hingga kini Muhammadiyah masih ada dengan berbagai aset : sekolah, kampus, klinik dan hospital.

    Gejala-gejala gerakan Muslim militan dengan pengaruh Wahhabi (dan antara lain ada yang dengan sokongan Arab Saudi) muncul kembali pada tahun 1970 an, dan marak setelah rezim Orde Baru tumbang. Sejumlah ormas mulai berani bertindak anarkis – atau dicurigai sebagai teroris. Kasus pemboman Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott pada 2009 disinyalir terjadi karena ada aliran dana dari Timur Tengah dan warga sana terlibat. Agaknya Indonesia menghadapi apa yang disebut oleh Bung Karno dengan “nekolim” (neo imperialisme/kolonialisme). Selain pelakunya “pemain” lama yaitu Barat dan Jepang – yang (pernah) melakukan penjajahan secara fisik/militer, ternyata ada pemain lain lagi yaitu Arab. Ketiga fihak ini kini melakukan pertarungan yang sengit namun tidak secara militer, yaitu menyebarkan faham-faham yang diusahakan membuat Indonesia merasa dekat – kalau perlu tergantung – dengan fihak asing. Dengan demikian penjajahan gaya baru terlaksana nyaris tanpa terasa, kita jalani hidup sehari-hari seakan Indonesia baik-baik saja. Jika Barat dan Jepang (kemudian Cina) dengan berbagai manuvernya lebih sejak awal kehadiran mereka di Indonesia nyata-nyata terutama adalah bidang/motif ekonomi, Arab agaknya lebih fokus pada bidang agama – minimal pada permulaan. Peluang yang tersedia bagi Arab untuk mempengaruhi Indonesia selain mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim adalah bangsa Arab dan bangsa Indonesia sama-sama mengalami penjajahan Barat. Indonesia dijajah Belanda dan Dunia Arab dibagi-bagi oleh penjajahan Inggris, Perancis, Spanyol dan Italia. Bahkan hingga kini kehadiran negara Israel dengan mencaplok Palestina adalah warisan penjajahan. Apa yang disebut “bangsa Israel” sesungguhnya adalah bangsa-bangsa Eropa yang (kebetulan) beragama Yahudi yang ditindas di benua tersebut lalu mengalir ke Palestina dengan bantuan Inggris, yang beberapa waktu menguasai Palestina dengan istilah halusnya “mandat”. Pendudukan militer asing di ‘Iraq yang dipimpin Amerika Serikat sejak 2003 semakin mengokohkan pendapat bahwa “Barat = penjajah”. Hal tesebut memudahkan muncul faham-faham yang disebut “garis keras” karena memakai kekerasan untuk mencapai tujuan, dengan istilah-istilah “radikalisme”, “fundamentalisme”, “ekstrimisme”, “militanisme” dan “terorisme”. Kesamaan agama yang dianut mayoritas kedua bangsa tersebut menyebabkan muncul solidaritas hingga faham garis keras tersebut masuk relatif mudah ke negeri ini.

    Penulis menilai sejak “Peristiwa WTC” 11/09/2001 faham garis keras dari Arab masuk (kembali) dengan begitu intens ke Asia Tenggara. Perang anti penjajah – dengan cap sebagai terorisme – yang dikobarkan kelompok “al-Qa-idah” pimpinan Usamah bin Ladin ke seantero dunia juga terasa di Indonesia. Perang kolonial yang kemudian berlanjut dengan perselisihan – bahkan benturan – sesama anak bangsa antara pendukung faham “negara agama” (Islam) dengan “negara bangsa” (Pancasila) sejak lama, menjadikan negeri ini lahan subur bagi faham/gerakan garis keras. “Revolusi Darul Islam” yang sempat melahirkan “NII” (Negara Islam Indonesia) yang berdarah-darah, walaupun dapat ditumpas ternyata tidak dapat menghapus mimpi/ide tersebut. Pasca kekalahan Darul Islam, sejumlah pengikutnya bergerak merekrut anggota walaupun terus menerus dihambat oleh pemerintah. Perioda yang disebut “reformasi” pada 1998 memberi kebebasan para aktivis berazaz Islam – baik yang ekstrim maupun moderat – untuk bergerak dengan rasa lega.

    Penyerbuan dan pendudukan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat ke Afghanistan pasca Peristiwa WTC memaksa kaum militan bergerilya di dalam maupun di luar Afghanistan. Sel-sel al-Qa-idah pelan-pelan menyebar dan organisasi tersebut bukan hanya identik dengan nama organisasi namun juga telah menjadi ideologi kaum militan Muslim seantero dunia. Tambahan pula, sistem desentralisasi yang diterapkan kelompok tersebut menyebabkan aksi-aksi kaum militan dapat berlangsung terus walau pucuk pimpinan tertangkap atau terbunuh. Kematian Usamah bin Ladin pada awal Mei 2011 oleh sergapan pasukan khusus AS tidak mengakhiri aksi-aksi kaum militan. Mereka sudah tahu apa yang harus dikerjakan tanpa perlu izin atau perintah pucuk pimpinan.

    Di Indonesia, faham atau aktivis DI dan al-Qa’idah bertemu menghasilkan sejumlah aksi kekerasan (atau disebut teroris) semisal Bom Bali-1 (2002), Bom JW Marriott-1 (2003), Bom Kuningan (2004) dan Bom Bali-2 (2005). Walau aparat menangkap atau membunuh para tersangka, aksi-aksi militan masih berlanjut. Indonesia pasca Orde Baru seakan tak punya ideologi atau konsep yang jelas bagaimana mengelola negeri ini beserta isinya, ya alamnya ya manusianya. Keadaan tersebut agaknya merupakan peluang bagi sejumlah pengaruh/kepentingan asing untuk masuk dan bermain di negeri ini, termasuk dari Timur Tengah.

    Di atas telah disebut bahwa bangsa ini sulit membedakan mana Islam mana Arab. Dari riwayat Islam masuk kemari maka budaya Arab juga ikut masuk. Penulis ulangi, ciri budaya Arab antara lain feodal dan brutal, ini juga sama dengan budaya Indonesia. Sebelum pengaruh Timur Tengah masuk, riwayat kekerasan sudah ada di Indonesia mengingat sifat bangsa ini memang demikian. Masuknya pengaruh dari sana seakan “merestui” atau “melegalkan” kekerasan. Tatanan tidak adil baik level lokal maupun global menimbulkan reaksi keras dari fihak yang terpinggirkan atau tertindas dalam wujud tindak kekerasan. Sejak Orde Baru tumbang pemerintah seakan (terkesan) bimbang untuk menindak tegas aksi-aksi anarkis, pengalaman masa Orde Baru yang menindas yang berbeda faham dengan pemerintah membuat rakyat alergi atau trauma. Sehingga tindakan tegas dari pemerintah kini mudah dituduh sebagai melanggar hak azazi manusia.

    Ada lagi masalah, sebagai akibat cara-cara indoktrinasi ala Orde Baru melestarikan nilai-nilai kebangsaan atau menjadi penafsir tunggal terhadap Pancasila, rakyat trauma dengan segala simbol atau identitas bangsa semisal Pancasila, lagu “Indonesia Raya” – atau pelajaran sejarah bangsa yang disesuaikan dengan penguasa dengan maksud melegitimasi kekuasaan. Pemerintahlah yang menetapkan “siapa yang pahlawan” dan “siapa yang pengkhianat atau musuh bangsa/negara” dalam pelajaran sejarah.Akibatnya ketika rezim Orde Baru tumbang, pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” dan “Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa” dihapus dan dimasukkan ke dalam “Pendidikan Kewarganegaraan”. Inilah yang kelak dinilai sejumlah kalangan menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, ekstrimisme, terorisme dianggap sebagai akibat dari lunturnya rasa identitas bangsa.

    Sebagai dampak dari faham-faham militan dari Timur Tengah, penulis sempat menemukan tulisan di internet dengan menampilkan istilah “imperialisme Arab”. Mungkin istilah ini kurang akrab dibanding istilah “imperialisme Barat” namun kelak suatu saat akan akrab. Maka. sebelum nekolim dari Arab tersebut tidak berlanjut lebih jauh izinkanlah penulis mengusulkan :

    1. Kaum Muslim – terutama Muslim di Indonesia – segeralah membuang anggapan bahwa bahwa untuk menjadi Muslim yang baik hendaklah menjadi “Arab minded” atau meniru Arab. Fahamilah bahwa Islam dan Arab adalah 2 hal yang berbeda, Islam hadir pertama kali di Arabia untuk memperadabkan (budaya/bangsa) Arab yang pada dasarnya tidak beradab.
    2. Fahamilah bahwa Nabi Muhammad diutus untuk mengislamkan orang, bukan mengarabkan. Yang diubah dari umat manusia adalah spiritualnya, bukan identitas ras, suku atau bangsa. Seseorang dapat menjadi Muslim yang baik sekaligus tetap menjadi misalnya orang Cina, orang India, orang Jepang, orang Turki, atau orang Eropa.
    3. Bangsa ini perlu memperkuat rasa identitasnya sebagai bangsa dengan cara menyajikan kembali pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dengan demikian bangsa ini tahu asal muasal atau proses terbentuknya bangsa dan negara ini. Metoda hafalan (nama orang, nama tempat, nama peristiwa dan tanggal peristiwa) harus diganti dengan metoda renungan atau analisa peristiwa yang dapat ditemukan relevansinya dengan zaman kini. Jadi, terasa ada kesinambungan antara masa lalu dengan masa kini.
    4. Jika pelajaran Pancasila harus disajikan kembali, metodanya juga diubah. Jangan pakai metoda hafalan atau indoktrinasi, tapi pakai juga renungan atau analisa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
    5. Segala dinamika yang terjadi pada masyarakat segera disimak dan dicari solusinya, jangan terkesan ada pembiaran oleh pemerintah atau menjadi komoditas politik. Hal tersebut perlu untuk memperkecil peluang fihak asing masuk dan bermain di negeri ini sesuai dengan agenda mereka.
    6. Kurangi ketergantungan dengan fihak asing, Indonesia memiliki banyak hal yang tak dimiliki sejumlah fihak luar : alam kaya, wilayah luas dan letak strategis sungguh dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat jika dikelola dengan tepat. Kriterianya adalah selalu mengutamakan kepentingan nasional, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
    7. Bangsa ini perlu suatu standar penyaring yang dapat mencegah faham-faham yang merugikan kepentingan nasional masuk ke negeri ini. Dengan demikian segala faham luar dapat memperkaya dan bukan memperdaya bangsa, atau keragaman di dalam adalah kekayaan dan bukan kerawanan bangsa.

    Usulan yang disajikan penulis masih dapat dibahas dan bukan satu-satunya kebenaran mutlak, artinya masih terbuka untuk penyempurnaan.

    Salam “MERDEKA” dari seorang anggota keluarga Pejuang 1945!

  3. J C  1 February, 2016 at 16:55

    Masalahnya adalah hampir semua teroris dan aksi teor belakangan ini selalu mengaku Islam…

  4. EA.Inakawa  28 January, 2016 at 09:50

    adakalanya : orang Islam itu sendiri yang mencabik cabik akidahnya,ironis memang ketika Agama menjadi tameng untuk TEROR, salam sejuk

  5. Dewi Aichi  26 January, 2016 at 05:38

    Sebenarnya juga banyak yang paham, teroris bukan Islam…tapi tetep saja dengan simbol agama, Islam , beberapa negara melakukan pemeriksaan super ketat di airport.

  6. Dj. 813  26 January, 2016 at 04:36

    Mas Juwandi . . .
    Terimakasih untuk artikelnya yang pendek, tapi padat .
    Dimana-mana ada orang baik dan jahat .
    Semoga mereka yang berkalakuan buuuruk, satu saat bisa melihat terang
    dan kembali ke jalan yang benar .
    Salam manis untuk keluarga dirumah .

  7. James  26 January, 2016 at 04:27

    halo mbak Lani, yakin sih para Kenthirs semua pecinta Damai dan Kasih

    Benar seperti yang dikatakan Ahok bahwa Pemerintah Indonesia terlalu lemah lembut terhadap Teroris, itu saja para mantan anggota Gafatar sangat membahayakan Negara, seharusnya di proses Hukum karena sudah jelas itu radikal terhadap NKRI, malah oleh Pemerintah para PNS yang ex Gafatar Tidak Akan Di Pecat dan diproses Hukum

  8. Lani  26 January, 2016 at 01:06

    Kang Djuwandi: terus bagaimana solusinya? Apakah manusia didunia ini mmg sdh lebih cinta perang, permusuhan dibanding menyebarkan cinta kpd sesama?

    Halo para kenthirs sebarkan peace and love drpd kebencian………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.