HORMAT

Anwari Doel Arnowo

 

Hormat yang diam-diam dan yang kentara sebenarnya dan seharrusnya sama nilainya. Ini kita lakukan sehari-hari tanpa terasa. Saya sering menaruh rasa hormat kepada sesuatu, kepada seseorang dan kepada sesatu organisasi, tanpa mereka mengetauinya  karena saya memang tidak bersuara, tanpa berujar apapun kepada yang saya tuju.

Tidak saya sampaikan secara langsung karena adanya keterbatasan dalam tata cara protokol  menyampaikannya. Yang menerima rasa hormatpun sering tidak mengetaui bahwa saya memberi rasa hormat terhadap dirinya. Kalau di dalam kalangan militer dengan suara keras seorang prajurit itu menyatakan hormatnya dengan memberi tau sekelillingnya dengan cara yang dianutnya di dalam institusi di mana dia adalah anggotanya. Prajurit selain bersikap sempurna dan bersuara keras dimana saja tanpa kontrol volume, itu JELAS terlihat dan terdengar.

Anda dan saya juga menyaksikan bagaimana warga Keraton di Yogyakarta dan Surakarta berperilaku dalam menghormat atasannya yang Raja, Sultan, Kanjeng,  Raden dan segala rupa kepangkatan yang ada di sana. Kebudayaan ini dilestarikan sejak lama mungkin juga sepanjang kita ingat, dan mungkin ratusan barangkali ribuan tahun yang lalu.

Saya tidak tau. Kedua tempat ini sering saya saksikan upacaranya amat sepi dan diam seribu bahasa, ini karena “tekanan” kebudayaan bahwa para bawahan itu memang dianggap kurang baik, tidak hormat bilamana menyatakan pendapat pribadinya. Yang berlaku adalah pendapat para Pucuk Pimpinan,  Raja, Sultan dan para Sinuhun, Petinggi serta para bawahan terdekatnya. Oleh karena sejak saya sadar mengenai masalah ini, saya memang bestatus seperti ayah ibu saya yang adalah rakyat biasa.

Saya tidak pernah merasa bahwa saya merasa rendah diri terhadap mereka itu. Saya merayakan perkawinan anak-anak saya, telah menolak berpakaian seperti raja-raja dari Jawa Tengah, oleh karena memang saya bukan berasal dari situ. Banyak komentar saya terima, dengan senyum saja, terhadap masalah ini, meskipun dari “family senior” dari pihak saya sekalipun. Saya lebih memilih untuk memakai pakaian Jawa Timuran, terutama Suroboyoan. Ikat kepala saya ada dua ‘antena’nya yang mencuat seperti simbol Playboy. Karena beberapa kali saya melakukannya pada waktu Pak Harto menjadi Presiden dan banyak orang yang membebek mengikuti dari mana asal sang Presiden.

Tentu saja cara saya ini banyak menbuat mereka itu mencibirkan bibirnya. Jawaban saya tentu saja saya ucapkan bersuara ataupun tidak bersuara biasa saja: “Itu adalah urusan saya selaku yang punya hajat, mau apa?!”  Mungkin saya bisa saja bersuara, tetapi terbukti selama lima kali melaksanakan saya cuma senyum-senyum saja secara terus menerus. Baik-baik saja.

Tentu sekali teman-teman saya diam-diam memaklumi dan tidak berkomentar apa-apa, karena mereka mengenal saya dengan lebih baik. Saya juga menolak bentuk pagar ayu dan pagar bagus. Itu hanya membuang biaya dan terlalu tampak feodal. Meskipun demikian tampak saudara-saudara saya dan kawan-kawan saya sepergaulan, maupun kawan-kawan bisnis saya yang orang-orang Bule dan Asia lainnya menyikapi dengan senang hati. Bagi mereka itu adalah experience menyaksikan dikenakannya pakaian daerah Nusantara, padahal itu hanya dari daerah salah satu asal saja. Semua telah berjalan lancar tanpa hal-hal yang kurang menyenangkan.

Saya ingin mengulangi yang berikut ini. Saya sedang berjalan kaki di Bloor Street, Toronto , Canada. Arah berjalan saya di atas trotoar sebelah kiri. Ada bus berhenti dan pintunya terbuka kira-kira beberapa meter di depan kami. Seorang wanita berdandan pakaian wanita pengantin lengkap berwarna putih, turun keluar. Dia tidak langsung berjalan tetapi menunggu busnya berangkat lagi, baru dia menyeberang jalan dan menuju gereja yang berada di ujung jalan yang lain.

Saya lihat di pintu gereja ada seorang berpakaian pastor  Katholik berdiri dengan sikap menunggu. Pengantin wanita masuk ke gereja itu dan kami meneruskan perjalanan. Beberapa waktu kemudian kami, saya dan istri,  kembali dan harus meliwati trotoar yang sama, tampak keluar dari gereja itu sang pengantin lengkap dua orang, Wanita dan Pria, bergandengan tangan dan menyeberang ke arah trotoar di mana kami berhenti menantikan apa yang akan bisa kami saksikan.

Ternyata mereka berdua menunggu bus dan ketika bus tiba, mereka berdua saja menaiki busnya, melanjutkan ke tempat tujuannya. Saya ingin bertepuk tangan, tetapi saya lihat di sekeliling saya tdak ada yang terlalu perduli seperti kita, yaaa, “terpaksa” diam sedikit terpana juga. Saya berpikir di kalangan saya mungkin tidak akan ada yang seperti itu. Tetapi saya beberapa kali membaca di media bahwa banyak juga terjadi pernikahan massal yang amat sederhana di mana-mana. Di Jakarta dan kota-kota besar lain juga. Di sebuah hotel di Los Angeles di lobby saya lihat sebagian ditutup dengan kain putih dan tampak dari celah-celah yang terbuka sedikit, ada sepasang pengantin duduk di sebuah meja panjang yang saya pikir hanya akan memuat 10 orang saja. Mereka sedang mengangkat gelas wine atau champnagne tetapi berkata-kata dan berseru dengan suara keras, senang bergembira ria.

Nah ini paling top: pengemudi kendaraan saya setiap hari, nanti pada bulan Maret akan menikahkan anak perempuan tunggalnya.

Kemarin dia minta ijin tidak masuk untuk kerja karena ikut mengurusi mendaftari semua famili terdekat, jangan sampai lupa katanya, serta undangan-undangan lainnya. Iseng saja saya bertanya berapa undangan yang akan disebarkannya? Terkejutlah bukan alang kepalang saya. Dia jawab: “1500 an”. Bukan main saya tersepona , ini bercanda, bukan saja terpesona. Dia memang sudah duda, akan tetapi rumahnya kecil sekali sekitar paling hanya 100 meter persegi. Tetapi 1500 undangan? Wah kali ini saya kembalikan seperti diri saya sendiri dulu:

“ITU URUSAN DIA SENDIRI, MEMANGNYA SAYA MAU APA?? “ Ha ha ha. Dalam hal ini saya diam-diam menaruh rasa hormat juga kepadanya, pasti TIDAK dengan bersuara, karena saya tidak tau akan bersuara apa?! Bukan begitu?

hormat

Kembali mari kita bicarakan mengenai masalah hormat. Saya melihat sehari-harinya orang Jepang ketika saya pernah beberapa tahun tinggal di sebuah kampung di sebuah Kelurahan bernama Sendagaya di Tokyo. Setiap hari selama sekian lamanya setiap menit saya saksikan rasa hormat yang otomatis dari setiap orang yang ada di depan hidung saya ataupun di samping dan meski tidak saya lihat pasti ada di belakang saya juga, orang menghormat orang lain.

Diperlihatkan atau tidak, dikatakan atau tidak. Tidak bertatap muka dan juga tidak bertatap pandang mata sekalipun. Mereka hormat terhadap siapapun di sekelilingnya. Contoh yang selalu saya sebut-sebut adalah: Ada dua orang bertabrakan ketika berjalan kaki. Dua-duanya terjatuh dan belum melihat siapa “lawannya” kedua-duanya hampir selalu pada waktu yang bersamaan sudah keluar kata-kata: “Sumimasen” berkali-kali. Lalu ditambahi dengan “Gomen nasai” juga berkali-kali sambil belum melihat sipa lawannyapun sudah membungkuk-bungkuk. Kedua-duanya!!

Meskipun saya sudah amat amat sering melihat yang seperti ini, saya masih mengaguminya, sampai hari ini. Saya sering cerita seperti ini kepada sejawat-sejawat saya tetapi pada umumnya saya mendapatkan kesan bahwa hal itu tidak masuk di dalam akal mereka yang mendengarkan saya. Kesan tambahan pasti: “Ngapain begitu?” Ya sudahlah, lain lubuk lain ikannya!!

Kalau ini saya lanjutkan bilamana dua orang Indonesia akan berbuat seperti apa bilamana mereka mengalami tabrakan yang sama, saya nanti bisa saja diberi label sok luar negeri atau lain-lain yang kurang nyaman. Saya kan sekadar menuliskan saja, bukan mengarang-ngarang. Itulah sebabnya mengapa saya selalu menyebut diri saya sebagi seorang penulis. BUKAN PENGARANG.

Saya bisa juga menggambarkan bagaimana seorang Letnan Kolonel Angkatan Laut Jepang yang menahkodai sebuah kapal penyapu ranjau, yang kawan saya, membawa sebuah bungkusan dan mengajak saya mampir ke sebuah toko serba ada yang keciiil. Begitu masuk toko mukanya sudah merah menyala dan berkata, seperti biasanya laki-laki Jepang bersuara keras. Suara menggeledek dan berwibawa, menggeram dan tidak melihat muka si empunya toko sama sekali.

respect

Dia menyatakan bahwa roti tawar yang dibelinya dari toko ini, kemarin, ternyata keluar jamurnya. Si empunya toko terus menerus membongkok-bongkok beberapa kali dengan mengucapkan minta maaf yang berkali-kali pula.  Jelas sekali berlebihan menurtut ukuran bangsa kita, Indonesia. Dia mengambilkan roti yang sama merek dan bentuknya  tetapi yang baru dan memberikannya dengan cara mengulurkan kedua tangannya serta membongkok-bongkok berkali-kali. Begitulah rasa hormat, respect yang diam-diam.

 

Anwari Doel Arnowo –  Januari 15, 2019

 

 

4 Comments to "HORMAT"

  1. J C  1 February, 2016 at 17:00

    Hormat orang lain kepada kita akan timbul dengan sendirinya tergantung bagaimana sikap kita terhadap orang lain juga…

  2. Lani  28 January, 2016 at 00:45

    James: mahalo dan setuju dgn komentar Al, biar kenthirs tp ngerti hormat menghormati

  3. Alvina VB  27 January, 2016 at 13:08

    James, kenthirs bisa bedain respect krn memang murni respect/ respect (kelihatannya aja) krn takut. (captca code: tauaj, baca: /tau aje/….he..he…

  4. James  26 January, 2016 at 12:37

    1……hormat Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.