Bintang Senja

Nury Ris

 

SENJA menekuk muka, melipat kedua tangannya di bawah dagu. Semilir angin menerbangkan helaian rambut di keningnya. Di depan meja, teronggok segelas es kelapa muda yang dianggurkan begitu saja. Sudah cukup lama ia terdiam di tempat duduknya. Lagi-lagi ngambek!

senja

“Dik, mau sampai kapan marahnya?” tanyaku.

“Sampai Bebi sadar, kalau aku ini memang pelupa!” jawabnya ketus.

“Terus kenapa kalau adik pelupa?”

“Itu artinya, nggak seharusnya aku yang pelupa ini diberi tanggung jawab besar sama Bebi!”

“Lho, yang lupa bawa kamera kan adik, harusnya aku dong, yang marah. Ini malah adik yang marah sama aku?” tanyaku.

Kupikir ini aneh. Kami sudah lama merencanakan jalan-jalan sambil menikmati matahari tenggelam di tepi pantai seperti ini. Tapi semua jadi buyar hanya gara-gara Senja lupa membawa kamera. Jiwa narsisnya merasa sayang jika melewatkan momen seindah ini tanpa berfoto.  Kemudian dimulailah kerumitan itu. Segala kerumitan yang berakhir dengan uring-uringan. Ah, dasar Senja!

“Tuh kan, Bebi nyalahin aku lagi. Sudah tahu aku ini gampang lupa, kenapa kameranya dititip ke aku? Kenapa nggak dibawa sendiri?”

Haduh, mulai lagi ini. Ribet!

“Kenapa jadi nyalahin Bebi? yang ninggalin kamera siapa?”

“Iiih, Bebi jahat!” teriaknya sambil kembali menekuk muka. Kali ini ia memunggungiku.

Makin runyam sudah.

“Pake kamera hape, sama aja…”

“Nggak sama lah, Beb. Hasil gambarnya nggak sebagus kamera.”

“Nggak apa-apa lah, namanya juga darurat. Lain kali kita bisa kesini lagi bawa kamera,” rajukku.

“Lain kali belum tentu senjanya sebagus ini!” ucapnya semakin ketus.

“Lha terus, maunya adik gimana?”

Aku semakin bingung dibuatnya. Ia hanya manyun saja. Dahinya semakin berkerut. Mulutnya semakin cemberut. Pusing aku jadinya.

“Kayanya, kita berdua ini emang nggak cocok ya, Beb,” lontarnya tiba-tiba.

Mataku terbelalak, “Kenapa kamu bisa ngomong gitu?”

“Habisnya kita tengkar melulu. Aku capek, Beb…”

“Ah, nggak juga. Kita memang sering ribut, tapi itu nggak mengurangi rasa sayang kita, kan?”

“Kata siapa?”

“Lah, kataku barusan. Masa adik nggak dengar?”

“Bebiii … aku ini serius!” teriaknya sambil mencubit lenganku.

Aku terpekik kesakitan, ia cuek saja.

“Kalau diingat-ingat, kita memang nggak pernah ketemu,” imbuhnya lagi.

“Tahu dari mana?”

“Dari nama kita aja udah ketahuan kalau kita nggak pernah ketemu,” katanya, dengan ujung kalimat yang menggantung. Pandangannya menerawang seketika, entah ditambatkan ke mana.

“Kok bisa adik bilang begitu?” tanyaku bingung, “Apa hubungan antara nama dan kita yang menurutmu nggak pernah ketemu?”

“Ya, iyalah. Coba pikir, namaku Senja dan nama kamu Bintang.”

“Terus kenapa?”

“Bintang baru muncul kalau senja sudah tenggelam.”

“Terus?”

“Waktu senja muncul, bintang masih enak-enakan tidur.”

“Terus?”

“Kok terus-terus mulu sih, Beb?

Byuuuh, aku masih berusaha mencerna analisanya, tapi dia malah makin uring-uringan.

“Ah, itu kan cuma nama doang,” kilahku.

“Biar cuma nama tapi ngaruh, Beb…”

“Halah, kata siapa?”

“Secara nggak langsung, nama itu mempengaruhi,”

“Kata siapa?”

“Hiiih, Bebi … dari tadi kata siapa, kata siapa mulu.”

Aku menghela nafas,  “Terus?”

“Gimana kalau kita putus?”

Aku tiba-tiba tersedak, meski tidak sedang makan apa-apa.

“Hah? Serius dik? Kenapa tiba-tiba minta putus? Masa cuma gara-gara ketinggalan kamera langsung minta putus?” berondongku.

“Bukan! Bukan gara-gara ketinggalan kamera, Beb.”

“Terus kenapa?”

“Karena kita nggak cocok! Kalau kita emang nggak cocok, kenapa harus dipaksain?”

“Cuman gara-gara nama?”

Ia melirikku. Sepasang mata bulat coklatnya serasa menusukku. Ia terdiam, aku juga. Lalu hening. Keheningan itu baru berakhir ketika aku meraih tangannya. Oke, di saat seperti ini, aku harus putar otak.

“Adik pernah dengar istilah ‘bintang senja?’” tanyaku.

Aku menggenggam tangan halus itu sambil memandang matanya yang bulat bercahaya.

“…” tanpa sepatah kata, ia menggeleng ragu.

Aku melanjutkan kalimatku, “Dalam mitologi Romawi, nama lain Venus adalah bintang senja.”

“Terus?”

“Adik tahu kenapa?”

Ia menggeleng lagi.

“Karena Venus seringkali tampak di sore hari,” jelasku.

“Terus?”

“Dalam mitologi Yunani, Venus memiliki padanan Aphrodite.”

“Terus?”

“Adik ini ganti terus, terus mulu? Tahu nggak Aphrodite itu siapa?”

Lagi-lagi ia tetap menggeleng.

“Dewa cinta,” sebutku.

Ia tersenyum, tiba-tiba saja meraih lenganku ,“Hmmm … so sweet…”

“Jadi?” todongku.

“Jadi ternyata gabungan nama kita artinya bagus banget ya, Beb.”

“Siapa ya, yang tadi bilang mau putus?” candaku.

Ia tertawa lebar kali ini, “Nggak jadi!” katanya.

“Lho, kok bisa? Kenapa nggak jadi?”

“Mau ambil foto dulu. Kalau kita keburu putus, siapa yang motret aku?”

“Motret pake apa?”

“Pake hape”

“Tadi bilangnya nggak bagus?”

“Kalau darurat nggak apa-apa, Beb. Namanya juga darurat,” ia mengedipkan sebelah mata, genit.

Aku garuk-garuk kepala. Dasar Senja!

-end-

 

http://www.blukuthuk.com/2016/01/13/bintang-senja/

 

 

About Nury Ris

Penyuka martabak yang jarang makan martabak saking takut gendut. Penyuka puisi yang gak gape bikin puisi. Penyuka cerpen yang masih terus belajar membuat cerpen. Berusaha meluangkan waktu untuk menulis setiap hari, walaupun hanya berupa status Facebook yang gak penting.

Arsip Artikel

16 Comments to "Bintang Senja"

  1. J C  1 February, 2016 at 17:02

    Bener sekali, pakar cinta memang Nyai Kona (Lani)

  2. Nury Ris  29 January, 2016 at 17:38

    Haaiii, Purnama Pagi.. Apa kabar??

  3. Nury Ris  29 January, 2016 at 17:36

    Mbak Alvina, makasih sudah baca.. walaupun nyadar masih banyak kekurangan…

  4. Nury Ris  29 January, 2016 at 17:35

    Huuuaahh, beneran nih mbak Inakawa? Aseeekkk…

    Mepet-mepet mbak Lani aaahh…

  5. EA.Inakawa  29 January, 2016 at 16:35

    Nury : kalau ingin courses belajar Cinta Monyet sampai naik tingkat kejenjang Dewasa dan sampai Manula bisa belajar dari Cici Lani,beliau pakarnya, by email gratisss……buruan

  6. Alvina VB  29 January, 2016 at 13:58

    Ini cerita cinta monyet punya nich… he..he…
    Btw, personifikasinya apik di awal cerita.
    Kata anak saya kl saya kelupaan bawa kamera: just enjoy the moment…gak perlu diabadikan di kamera terus…
    James: Bintang Kejora kale…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.