Kesetiaan itu adalah Sebuah Perjalanan

EA. Inakawa

 

Pagi minggu yang masih malu-malu ini dingin sekali, Cardigan warna Ivory pemberian Patricya kalah bersaing melawan dinginnya pagi hari ini, dan sesayup ada nyanyian dari pucuk pohon ketapang kecil yang bentuknya berpayung, sesaat aku menyeruput satu tegukan teh hangat daun serai dengan gula nira powder, lega sesaat minuman ini membuat badanku bugar.

Dengan rasa malas, ku ajak kompromi kakiku menuju dapur, kuhangatkan bubur kacang hijau dan sepotong roti dengan selai kacang.

Saat duduk di beranda depan sembari melahap buku “Perahu Kertas” milik si mbak Dewi Lestari masih di tangan, kulihat seseorang membuka pintu pagar dengan setengah memaksa, berderit nyaring suara kesakitan dari besi tua.

Lani namanya…..dengan langkah tergopoh dia datang, bajuh basah dengan lepotan peluh, rambut yang berantakan dan dengus nafas seperti lokomotif, di tangannya tergenggam 1 buah tas kresek ber-isi 1 pasang baju ganti komplit dengan celana dalam dan 2 buah kutang, gayanya semakin gambreng dengan tampilan sandal jepit yang berbeda warna dan model, yang pertama dia katakan “aku lapar, ada nasimu?”

Tanpa mempersilakannya masuk dia sudah masuk ke dalam rumahku, Sofa yang baru kubersihkan menjadi santapan tubuh semampainya, bau tak sedap dari pakaian yang berbau peluh mulai mencemari ruangan tamuku….. secangkir air dia lenyapkan dalam satu tegukan panjang, melepas dahaga.

“Suamiku mati!” katanya. Suaranya tak lagi semerdu seperti dulu…..wajah cantik dan manisnya mulai sirna, wajah yang dulu teramat sangat kukagumi, sepasang mata bola yang berbinar selalu menatap tajam, kini mata itu menangis kering dan kuyu, mata yang kemarau…..sang angin membawanya pergi, semua pikiranku mulai mengingat dan tertuju kepada keburukannya saat dulu dia pergi meninggalkanku tanpa pamit, saat Lani menempatkan orang lain dengan begitu mudah dan tanpa sesal di hatinya.

Anganku mulai berkelana menebus ruang waktu sepanjang 35 tahun dibelakang, Perempuan ini dulunya sangat luar biasa…..terlahir dari sebuah keluarga yang sangat berkecukupan, anak seorang pengusaha property yang sukses pada masa itu, sintal dan sexy ….. seperti kata pengacara sesumbar Farhat Abbas wanita yang sexy itu adalah yang punya payudara besarrrr, si Lani ini masuk dalam kriteria itu, masih tak habis pikir kok bisa yaaa…..mantan Puteri Kampus idola almamater kami yang cerdas bisa senasib seperti ini.

Dari bibir mungil yang mulai reot dan tanpa lipstik itu dia mulai berkisah tentang warna-warni kehidupannya, suami yang pecandu minuman dan wanita …..anak yang kecanduan narkoba dan mertua yang tidak perduli sama sekali, semua tentang pernikahannya yang hancur dan tak seindah impiannya. Pernikahan yang masih terlalu muda kala itu, saat masih kuliah di tahun pertama. Lani adalah korban sikap ortodok keluarga yang menjodohkannya.

Sesal hidup dalam keterbatasan yang tidak biasa, kehilangan kebebasan setelah berumah tangga, berpikirpun sulit baginya setelah menyadari semua kemungkinan seperti buntu dijalani.

Aku memang iba, karena dia mantan kekasihku, tapi terlalu sulit bagiku untuk perduli tak lebih dari rasa perihatin saja, saat masih bersama…..keluarganya selalu menitipkan dia kepadaku lebih dari sebuah kepercayaan biasa, rasa percaya itu sampai hari inipun tak pernah kunodai…..aku tak biasa dan tak bisa untuk mengkhianati Patricya.

Kedatangannya hari inipun akan kusampaikan kepada Patricya, trust yang harus selalu kepelihara di dalam perkawinanku, mengingat kami hanya bertemu 1 minggu sekali.

kesetiaan

Ok Lani, buatku tidak ada masalah jika kau ingin churhat denganku dan kau bisa menelponku, sebaiknya kembali ke rumahmu dan jaga anak-anakmu, saranku….. jika nanti kondisimu sudah dalam keadaan baik aku akan membantumu untuk mencarikan sebuah pekerjaan sesuai kemampuanmu.

Saat 3 jam telah berlalu, hembusan angin yang vulgar tanpa salam tiba-tiba menyapaku dari kisi-kisi jendela, akupun mempersilakan Lani untuk kembali ke rumahnya, ku antarkan dia sampai di halte bus, kusalamkan secukupnya uang buat pegangannya, miris memang melihatnya menitikkan air mata dengan kondisi seperti itu, sosok yang lelah di batas pengharapan tak usai.

Hatiku plong dan lega, jujur saja aku tak ingin menuai badai lagi, perpisahan panjang membuat aku sudah nyaman dalam kenangan…..boleh jadi Lani membenci sesuatu atas penolakan halusku, tapi sejatinya hal itu akan menjadi kebaikan bagi kami berdua, kepergiannya menyelamatkan aku dari sebuah rasa yang masih tersisa di hatiku. Kamu memang pernah menjadi yang ter-indah di saat kita masih kuliah namun bukan yang tepat untuk saat ini bagiku.

Cintaku yang sederhana dan kesetiaan ini akan selalu kupelihara dan kupupuk hanya untuk Patricya yang selalu mengirim getar-getar rindu melalui suara di handphone nya, duh Tuhan kebahagiaanku sempurna sudah, akan selalu kuzikirkan betapa indahnya cinta yang berjarak ribuan kilometer ini.

 

Salam Setepak Sirih Sejuta Pesan

EA. INAKAWA

 

 

19 Comments to "Kesetiaan itu adalah Sebuah Perjalanan"

  1. EA.Inakawa  1 February, 2016 at 18:13

    @ Koko JC : ” Selamat Hari Raya Imlek 2016 “…..Kamsia Ko, Alhamdulillah kami sehat seperti Ko JC juga, sorry banyak yaaa atas absen selama ini, mudah mudah an nama EA.Inakawa tidak masuk Museum eheheheh dan kami usahakan untuk aktif kembali seperti dulu di rumah kita Baltyra, salam jabat erat

  2. J C  1 February, 2016 at 17:02

    Inakawa, apa kabar? Long time no see, sudah cukup lama tidak mecungul. Terima kasih sudah memecungulkan diri lagi… salam kesetiaan dan salam nusantara…

  3. EA.Inakawa  1 February, 2016 at 15:48

    @ Hennie : “Asante Sana” sudah mampir di dinding saya, salam sehat kembali

  4. Hennie Triana Oberst  31 January, 2016 at 09:58

    Wow… Inakawa terhanyut saya membacanya.Tapi memang benar adanya, cinta masa lalu tidak membawa getar yang sama setelah lama ditinggalkan. Semoga langgeng dengan Patricya.
    Salam hangat dari jauh.

  5. Nury Ris  29 January, 2016 at 17:45

    Wooowww… meltiiiiing…

  6. Lani  29 January, 2016 at 12:17

    EA: betooooool sekali itu rahasia………tapiiiiiiii……..rahasia umum hahaha…….aku ledekin lagi nih dirimu, salah siapa menghilang terlalu lamaaaaaaaaa…………jd kangen ngledekin………mumpung msh mencungul!

  7. EA.Inakawa  29 January, 2016 at 09:45

    @ Cici Lani : husss ! itu rahasia kita para Diaspora & Expatriat jangan di publis ahahahaha, salam sejuk

  8. EA.Inakawa  29 January, 2016 at 09:37

    @ Mbak Dewi Aichi, salam sehat buat Brazil, iya nich baru sempat menulis lagi, dalam DOA senantiasa sehat & berbahagia selalu bersama keluarga di Brazil aamiin

  9. Lani  28 January, 2016 at 23:52

    DA: mmgnya kamu tdk tau klu EA punya berjuta-juta cinta atau bahkan ndak bisa keitung lagi……….dan sini aku bisiki, dia hobby bercinta hahaha………..kabuuuuuuuuuuuur……….takut dibalang dingklik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.