OSP dan IJP

djas Merahputih

 

Teror kembali hadir, bagaikan reality show. Sebuah kampanye eksistensi ISIS. Sebuah kelompok pengecut yang butuh panggung untuk tampil. Sayang mereka manggung di tempat salah. Indonesia negeri damai, ditambah lagi, rakyatnya bukan pengecut. Rakyat yang pada perang kemerdekaan hanya menggunakan bambu runcing dan senjata tradisional untuk melawan tamu asing bersenjata moderen. Rakyat yang telah kenyang dengan doktrin “terjajah itu = merdeka”.

Media massa adalah panggung terbaik. Teror di pusat kota jelas akan menarik banyak perhatian. Mereka berhasil untuk hal ini. Tapi, apakah ia juga berhasil menanamkan ketakutan seperti Orba menanamkan trauma kekejaman PKI? Belum tentu. Ketakutan dan kebodohan hanya akan betah pada manusia terjajah. Nah, kita sudah 70 tahun merdeka apakah masih gampang ditakut-takuti dan dibodohi juga? Therlaluh…!!

img. 1 T e r o r

img. 1 T e r o r

ISIS itu siapa sih? Beraninya cuma merekrut manusia OSP pengagum IJP untuk mementaskan pertunjukannya..? Yang macho dikit dong..!! Kalo mau, kalian tentukan tempat dan waktu sesuka kalian. Kami hanya akan mengirim satu pasukan kecil untuk malayani kalian. Boleh, kalian juga boleh minta ditayangkan langsung oleh TV nasional dan internasional. Kita perang terbuka di depan kamera, seperti yang barusan kalian lakukan di negeri kami. Berani…?? Kami tunggu undangan kalian…!!

Sudah, sekarang waktunya menyoroti para OSP pengagum IJP ini. Manusia-manusia martir yang belum menyadari kemerdekaan negerinya. Boleh jadi mereka tak sadar dan sedang galau, tapi bisa juga dikarenakan negara telah gagal menampakkan bagaimana rasa merdeka itu pada mereka. Mereka masih terhimpit dan tersisih dari kehidupan sebuah bangsa merdeka.

Sebuah masyarakat yang kuat akan ditandai dengan kepedulian dan rasa hormat kepada lingkungan sekitar, baik terhadap manusia maupun alam. Mereka tak mudah disusupi teroris. Negara berkewajiban memperkuat sendi-sendi kehidupan masyarakat. Negara wajib menafkahi rakyatnya, dalam arti bertanggung jawab terhadap kesejahteraan mereka. Kemiskinan akan selalu menjadi momok bagi sebuah masyarakat yang berkeinginan menjadi kuat. Kemiskinan dan kebodohan adalah virus sosial.

Miskin dan bodoh menyebabkan seseorang memiliki pilihan sempit dan waktu berpikir yang pendek. Otak dan perut saling berlomba menggapai hajat masing-masing. Biasanya, perutlah yang jadi pemenang. Seseorang masih mampu bertahan hidup tanpa berpikir, tapi tak akan bisa bertahan lebih lama tanpa makan dan minum. Membiarkan rakyat dalam keadaan lapar dan bodoh sama saja menyiapkan dinamit bersumbu pendek, manusia-manusia martir yang siap meledak kapan saja. Mereka hanya butuh sponsor dan waktu terbaik. Merekalah kaum OSP incaran organisasi teror di seluruh dunia. Ya, mereka adalah golongan Otak Sumbu Pendek.

img. 2 Dinamit bersumbu pendek

img. 2 Dinamit bersumbu pendek

Sebenarnya kaum OSP sendiri tidaklah terlalu mencemaskan, mereka selalu ada di setiap negeri. Yang membedakan adalah perlakuan negara dan masyarakat terhadap mereka. Negeri makmur tentu sanggup menafkahi segenap warganya, baik pekerja maupun para pengangguran. Lain lagi pada negeri pas-pasan, apalagi yang penuh sesak dengan bedebah dan koruptor. Di sini kaum OSP dianggap sampah, derajat koruptor dianggap masih lebih mulia. Di negeri ini orang tak sadar bahwa para koruptorlah yang telah mengambil bagian kaum OSP dari negara. Negara kehilangan anggaran untuk menafkahi rakyatnya. Sekali lagi, itu berarti mereka telah mengumpulkan dinamit bersumbu pendek. Tak banyak waktu untuk mencegah saat sumbu telah tersulut.

Bahaya kaum OSP baru akan terlihat nyata saat mereka berhasil direkrut dan dinafkahi oleh penganut kepercayaan IJP. Ideologi ini menawarkan nafkah lahir dan batin bagi pengikutnya. Mereka memiliki buanyak tiket murah menuju surga. Tentu sangat menggiurkan bagi kaum OSP, apalagi kalo bisa gratis? Kan, masang bom di badan nggak makan biaya? Bomnya dibeliin toh? Matinya langsung masuk surga pula. Nggak bakalan ditanya sana-sini, apalagi tentang siapa yang nyuruh mereka berlagak gila. Konon di sana mereka telah dinanti oleh lebih dari dua bidadari. Masih kurang? Iya deh, ditambahin dua lusin plus bonus satu lagi. Hitung sendiri jumlahnya ya, nggak usah pake kembalian.

IJP adalah ideologi paling populer di negeri ini. Dalam banyak hal ia dianggap bermanfaat. Contoh; ideologi ini mengajarkan ijazah sarjana dapat diperoleh tanpa perlu cape-cape kuliah, dapat gelar doktor tanpa perlu buang waktu untuk penelitian, jadi PNS tanpa perlu prestasi akademik, menghamili gadis tanpa perlu nikah atau ngurus SIM tanpa perlu ngantri dan masih di bawah umur. Sepintas ideologi ini sangat bermanfaat, tapi hanya sepintas, seperti namanya; Ideologi Jalan Pintas. Semakin ringkas semakin baik. Sayang birokrasi di negeri ini malah berjalan terbalik, semakin ribet semakin baik, makin banyak celah buat membegal. (Ck, ck, ck...)

img. 3 Jalan Pintas

img. 3 Jalan Pintas

Selain karena dianggap bermanfaat, IJP menjadi semakin populer oleh iklim ekonomi yang mendukung. Di tengah sistem keuangan piramid, kaum kaya akan bertambah kaya dan si miskin akan semakin miskin. Hanya orang kaya yang boleh sekolah tinggi, hanya si kaya yang pantas jadi pejabat tinggi, hanya si tajir yang diperkenankan mengelola hutan dan untuk posisi tertinggi dalam negara, faktor utama dan menentukan adalah seberapa baik tingkat kekayaan yang dimili’i. Kata orang, negeri ini menganut sistem Demokrasi Wani Piro. Rupanya, kita hanya mengenal ekonomi kerakyatan dalam buku-buku pelajaran.

OSP + IJP adalah resep sempurna meracik telor, eehh…. kok telor sih…? Ya, apalagi kalo bukan teror..? Teroris bertopeng agama yang ngajinya aja belum nyampe ke surah QS. 5:32 ini sudah yakin bahwa tiket menuju surga telah di tangan. Karena kebodohannya ia tak bisa membedakan mana tiket yang palsu dan mana yang asli. Apalagi mereka cuma nemu dari para calo surga. Calonya aja belum tentu masuk surga apalagi si pembeli tiket..?

Teror hanya bisa dicegah jika negara tetap mengusahakan tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya para simpatisan partai dan konco dewe. Seperti tubuh, penguasa negeri harus bisa berdiri, berjalan dan berlari di atas dua kaki. Di atas KIH dan KMP atau apapun jenis dikotomi dalam masyarakat. Tantangan utama adalah kemiskinan dan kebodohan. Kemiskinan hanya bisa diatasi dengan pemerataan dalam hal kesempatan memperoleh pendidikan dan ruang usaha. Kesejahteraan dapat diraih melalui kerja keras dan pengetahuan yang memadai. Negara memberi ruang dan menciptakan peluang, sementara tugas rakyat adalah untuk bekerja keras dalam bingkai kreasi dan inovasi serta semangat kebersamaan untuk saling berbagi. Bukan semangat untuk saling meminta, apalagi kalo mintanya saham segala. (iiiihhh…!!)

img. 4 Kebersamaan

img. 4 Kebersamaan

Masa depan akan lebih baik bagi insan kreatif yang menikmati setiap proses kehidupan setahap demi setahap. Ini tak berlaku bagi kaum OSP yang hanya gemar mencari jalan pintas. Segala hal butuh usaha dan proses. Kita tak butuh lebih banyak lagi Otak Sumbu Pendek ber-Ideologi Jalan Pintas, sebab hanya kerja jantung yang tak memerlukan usaha sedikitpun dari manusia. Ia bekerja sendiri, dalam gelap dan sunyi.

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "OSP dan IJP"

  1. Lani  8 February, 2016 at 22:38

    Kang Djas: mahalo ucapannya wlu aku secara pribadi tdk merayakannya

  2. djasMerahputih  8 February, 2016 at 19:48

    Met Tahun Baru Cici Koko Baltyra…
    Semoga semakin banyak menebar manfaat bagi sesama.

    Tahun yang menarik, Monyet Api..!!

  3. djasMerahputih  1 February, 2016 at 18:03

    Kang JC:
    ha ha ha… LOGIKA memang beda tipis sama LOGILA…
    apalagi kalo sudah nyerempet selangkangan…

  4. J C  1 February, 2016 at 17:04

    Kang djas: “martir berkorban untuk sesuatu yang tak dimengerti perkaranya. Hanya berdasarkan iming-iming hadiah” nah ini dia, masalahnya iming-iming hadiahnya juga abstrak tak jelas. Dan sepertinya masih erat hubungannya dengan urusan selangkangan…hadeeeehhh…dipikir dengan logika saja sebenarnya bisa…

  5. djasMerahputih  31 January, 2016 at 11:28

    Mba Henny:
    Ha ha ha.. iya, judul sengaja disingkat takut kepanjangan..
    Tapi kata mba Avy OSP masih rancu, diganti Osdek aja..
    Betul, kasian para martir berkorban untuk sesuatu yg tak dimengerti perkaranya. Hanya berdasarkan iming2 hadiah, watak khas otak bersumbu pendek..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *