90 TAHUN JAM’IYYAH NAHDLATUL ‘ULAMA

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

APA hubungannya Nahdlatul ‘Ulama (NU) dengan Janis Joplin? Ya ada dan erat lagi. Karena NU, lagu penyanyi rock blues legenda di era ‘Flower Generation’ akhir 1960s asal AS, bisa berkumandang di Istana Merdeka sejak Indonesia merdeka. Gedung Putih mah lewaaaat… Ora ono opo-opone.

Seorang pemimpin NU, ormas terbesar di Indonesia, diangkat jadi presiden RI pada 1999. Dia seorang santri pada awalnya. Santri Jawa tepatnya. Dan mati sebagai humanis. Presiden yang satu ini cucu pendiri NU. Sosoknya mewakili representasi NU dalam dunia kontemporer.

NU-Janis Joplin

NU didirikan dengan paham ‘Ahlus Sunnah wal Jama’ah’ (sering disingkat Ahwaja). Paham netral yang tak mau ikut kaum rasionalis (aqli) dan kaum skripturalis (naqli). Ambil jalan tengah. Sumber hukum NU bukan cuma Quran dan Sunnah, tetapi juga kemampuan akal serta kenyataan empirik.

NU sangat menghargai kebudayaan dan kearifan lokal selama itu tidak bertentangan dengan akidah agama dan hukum agama. Selama hanya asesoris, ya apa salahnya? Kita ‘kan di Indonesia? ‘When in Rome, do as the Romans do’. Jangan heran, waktu saya hadiri maulud Kanjeng Rasul di markas PKB, ada aroma bakar kemenyan di tiap tangga. Bukan manggil setan kayak di pelem-pelem. Persepsi yang salah! Tapi sekedar aromatherapy jaman lalu. Dulu ‘kan belum ada The Body Shop dengan aromaterapi aroma lavender, white musk atau ilang-ilang.

Makanya, NU memamerkan ajaran Islam Nusantara. Islam tetep Islam seperti ajaran asli. Tetapi dikondisikan dengan alam budaya Nusantara. Mirip-mirip teologi Gereja Katolik Roma yang haram menghilangkan identitas budaya dari sebuah suku selama tak bertentangan dengan ajaran agama.

Nah, presiden RI yang ketua NU itu seperti itu. Satu kaki berpijak pada tradisionalis, satu kaki menginjak masa depan dengan kekinian. Walau presiden RI itu, santri, kampungan, sarungan, ‘teklekan’ kata orang Jawa, tetapi pikirannya maju dan tak dikekang oleh ajaran NU.

Hafal kitab-kitab kuning kuno (sumber hukum NU), harus kenal kyai-kyai di pelosok desa, harus tahu budaya Jawa tempat asalnya, harus hormat dengan etika Jawa. Di sisi lain, bacaannya buku Karl Marx, Fyodor Dostoevsky, doyan film karya Roman Polanski, melahap buku Gabriel Marquez, menikmati alunan karya Brahms, Beethoven dan mendengarkan musik Janis Joplin di Istana Merdeka, rumahnya selama 21 bulan jadi presiden. Tokoh NU ini fans berat Janis Joplin.

nahdlatul-ulama

NU membuat orang beragama (agama Islam) jadi bergairah. Tak disandera oleh aturan-aturan yang menyusahkan pengikutnya. Apalagi sampai menyuruh orang bunuh diri untuk membunuh banyak orang lain yang tak bersalah. ‘Gak ada dalam kamus NU. Romo-romo katolik, pastur, pendeta, bhiksu, pandhita, ya akrabnya dengan orang-orang NU. Meresa klop. Majalah sastra dan filsafat ‘BASIS’ yang dikeluarkan oleh Keuskupan Agung dan STF Driyakarya, mayoritas pembacanya dan pelanggannya adalah cendikiawan muda NU.

Ya kayak gitu NU, seperti yang saya kenal dan tahu. Agama kok dibikin pusing dan mumet…

 

 

7 Comments to "90 TAHUN JAM’IYYAH NAHDLATUL ‘ULAMA"

  1. Sumonggo  2 February, 2016 at 10:45

    Numpang Udut

  2. EA.Inakawa  2 February, 2016 at 09:38

    Mbak Hennie : Yang KEREN itu bukan hanya tulisan ISK, orangnya juga KEREN lho

  3. HennieTriana Oberst  2 February, 2016 at 08:44

    Keren tulisan ISK seperti biasa.

  4. Dj. 813  2 February, 2016 at 02:57

    Mas Iwan . . .
    Ya, memang benar, agama memang tempatnya bikin pusing . . .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Karena didalam agama selalu di didasari hukum . . . hukum . . dam hukum . . .
    Tidak ada orang yang benar dibawah hukum . . .
    Tapi orang bertuhan mereka memiliki “KASIH” dan “KASIH” menyelamatkan .
    Dengan kata lain, agama membunuh, tapi Kasih memberi HIDUP ( kehidupan )

    Salam manis untuk keluarga dirumah .

  5. djasMerahputih  1 February, 2016 at 18:55

    NU kalo dibaca bule kan jadi New…
    Islam Nusantara itu Islam Kaffah. Menafsirkan agama sebagai ajaran untuk memuliakan manusia dan alam. Air bisa saja tawar (murni) dihulu tapi pasti asin di muara. Ia telah merangkum seluruh hal dalam perjalanannya menuju lautan.

  6. J C  1 February, 2016 at 17:09

    Hahaha…hanya mas Iwan yang bisa mengaitkan NU dengan Janis Joplin…

  7. EA.Inakawa  1 February, 2016 at 16:18

    jadi inget : Gitu Aja Kok Repot !

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.