Diary (1)

Wina Rahayu

 

Saat membuka-buka file lama, kutemukan tulisan-tulisan catatan harian saat bergumul dan berproses bersama dengan teman-teman buruh di wilayah industri Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Banyak hal yang aku dapatkan selama proses tersebut, perjuangan hidup, solidaritas dan nilai-nilai yang sangat menginspirasi. Semua itu menjadi “Benefit batin” yang sangat berharga buat hidupku.

Seorang buruh perempuan sebut saja namanya Gin, salah satu teman yang banyak memberikan cerita yang sangat menarik, dan sangat inspiratif. Gin adalah salah satu aktivis buruh yang sangat setia berproses dan memperjuangkan hak-hak buruh. Perjuangannya bukan hal sederhana dalam prosesnya. Gin harus menjalankan peran ganda sebagai ibu, istri dan juga buruh pabrik dengan jam kerja yang kadang tak mampu diprediksi. Bahkan para buruh pabrik, khususnya di industri garmen menyebut jam kerja yang tidak jelas itu dengan kata “PEKDAR” alias Sampek Modar atau sampek mati.

Gin sampai hari ini masih bekerja di sebuah pabrik garmen dengan posisi sebagai clearning service. Inilah rangkaian catatan harian bersama Gin.

Minggu, 4 Januari 2009

 

Mutiara yang Terus Mengasah Batin

Minggu siang pukul 13.30 Wib aku datang mengunjunginya, saat ia dan sumianya sedang tiduran sambil menonton TV di ruang tamunya yang tidak terlalu luas dengan kondisi yang masih sama seperti sekitar 1,5 tahun lalu. Suaminya membangunkan mbak Gin yang nampak tertidur. Iapun terbangun, namun tidak terlalu kaget dengan kedatanganku karena dua hari sebelumnya aku telah menelpon ke rumah mbak Gin dan diterima oleh Dini (anaknya) yang sekarang sekolah di SMK. Akupun bergabung bersama mereka duduk di kasur lipat tipis dengan warna pudar dan sudah banyak yang terkoyak.

Kasur seperti itulah yang dulu memberikan sumber pendapatan pada mbak Gin setelah terPHK dari Pabrik tektil tahun 2000-an. Menjadi buruh Home Base Worker sebagai penjahit sol sepatu di pabrik sepatu milik investor Jerman, menerima borongan pemotong benang juga pernah ia lakukan. Semua itu ia lakukan untuk menyambung ekonomi keluarga dengan 2 orang anak dan pendapatan suami yang pas-pasan. Terakhir aku bertemu dengannya, ia berencana membuat warung di pabrik tapi terkendala modal dan tempat.

Selama 8 tahun ia menjalani semua itu, dengan semangat yang masih membara sebagai buruh dan mantan aktivis. Ia sering kali sedih dan terusik nuraninya bila mendengar tetangganya yang bekerja di garmen tidak mendapatkan upahnya padahal telah bekerja sampai lembur berhari-hari dan menginap di pabrik dengan meninggalkan keluarganya. Ingin sekali ia mengajak mereka untuk menuntut haknya dengan belajar Undang-Undang tetapi semua itu terkendala karena para tetangga itupun sampai tidak punya energi lagi.

Akhirnya mimpi untuk bekerja lagi di pabrik terjadi, bulan Juni 2008 ia diterima di pabrik garmen. Pekerjaan itupun tidak dengan mudah ia dapatkan karena usianya telah berkepala empat. Ia melamar sebagai Clearning Service, dan dengan dibantu tetangganya yang berposisi sebagai supervisor iapun lolos seleksi. Ia menjalani pekerjaan itu dengan semangat yang membara, namun 2 hari setelah bekerja badannya terasa panas dingin.

Di kamar mandi pabrik, ia berdoa “ Ya Tuhan, kuatkan saya untuk dapat melanjutkan pekerjaan yang sudah dengan susah payah aku dapatkan”. Doa itu menjadi spirit jiwanya, dan untuk mengobati fisiknya dia beli jamu pegel linu di pasar. Menurutnya ini adalah masa penyesuaian dirinya dengan pekerjaan baru yang sangat berbeda jauh kondisinya dibanding waktu dia kerja di pabrik tektil. “Perlakuannya sangat tidak manusiawi mbak, beda dengan waktu kerja di pabrik tekstil,” ucap mbak Gin dengan mata berkaca-kaca.

Sebenarnya dia kuat menjalankan perannya sebagai Clearning Service merangkap peran serabutan yang lain seperti merawat buruh yang sakit di ruang istirahat, melayani pimpinan bahkan buyer yang datang. Tetapi ada situasi yang sangat mengiris batinnya,saat mendengar buruh di bagian produksi ditekan bahkan sampai keluar kalimat kasar dari pimpinan sambil menggebrak meja. Situasi seperti itu adalah hal biasa terjadi di pabrik garmen, namun bagi mbak Gin yang “lulus” dari pabrik tekstil situasi seperti itu sangat memprihatinkan dan melanggar hak buruh untuk mendapatkan perlakuan yang manusiawi. Kondisi tersebut membuat dia berkecamuk dan terusik batinnya, pelajaran tentang “Kasih” yang dia peroleh dari ajaran keyakinannya menuntun dia untuk melakukan beberapa hal yang berarti bagi banyak orang.

Kala hari masih pagi sekitar pukul 06.00 Wib dan ruangan personalia masih kosong, maka ia melakukan peran bak seorang “intelijen” sambil menyelesaikan tugasnya sebagai clearning service. Dokumen yang ada di meja pimpinan dia buka dan baca isinya, beberapa hal penting dia catat di kertas kecil dan dia simpan rapi disakunya. Banyak data-data penting yang dia dapatkan dan dijadikan pijakan untuk melakukan gerakan bawah tanah. Tepatnya setelah 2 bulan dia bekerja (September 2008) gerakan itu dia mulai, bekerja sama dengan seorang satpam perempuan (Yan). Dia membuat surat kaleng yang dimasukkan di kotak saran yang disediakan di perusahaan. Surat itu berisi beberapa hal antara lain : tuntutan uang makan, transport, uang premi hadir, perincian gaji dan lembur yang jelas,jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi maka akan ada demo besar-besaran. Ternyata surat kaleng tersebut dibuka dan dibahas perusahaan, info tersebut di peroleh mbak Gin dari sekutunya.

Apa yang dilakukan mbak Gin ternyata tidak sia-sia, tuntutan tersebut dipenuhi. Jika dilihat komitmen dia sebagai buruh dan hamba Tuhan yang penuh nilai “Kasih”, apa yang dilakukan mbak Gin memberikan efek positif pada banyak orang. Tetapi jika dilihat sebagai sebuah gerakan ada satu hal mendasar yang terlewatkan yaitu, gerakan tersebut hanya menjadi miliknya dan seorang sekutunya. Teman-teman buruh yang mendapatkan efek positif tidak pernah ikut berproses memperjuangkan nasibnya. “Dogma kasih harus didekonstruksi ulang, apalagi bila dalam prosesnya membuat orang lain menjadi tergantung dan tidak kritis.” ucapku saat berberdialog dengannya. Dan ditanggapi dengan anggukan kepala serta ekspresi setuju atas pernyataan tersebut. #####

Selasa, 26 Januari 2009

 

Tanpa Selimut

Peran Mbak Gin di pabrik garmen,selain sebagai clearning service juga sebagai perawat teman-teman buruh yang sakit. Paling sedikit 5 orang buruh dalam sehari yang harus ia urus di “ruang istirahat”. Mungkin sebutan itulah yang paling pas, karena prasyarat untuk sebuah poliklinik sangat jauh. Jangankan bicara ada atau tidaknya paramedis yang merawat jika ada buruh yang sakit, selimut tipis juga tak tersedia. Selama ini jika ada buruh yang sakit dan kedinginan karena masuk angin, hanya bisa tidur melengkung (bak udang yang diawetkan dalam es) di tempat tidur kecil. Kerokan dan obat warung yang berfungsi sebagai obat pengurang rasa sakit disimpan bagian personalia menjadi andalan pertolongan pertama. Ia harus hadapi situasi ini setiap hari. Dan dari cerita beberapa teman yang bekerja di beberapa pabrik garmen di Kabupaten Semarang, apa yang terjadi di pabriknya terjadi juga di pabrik lain.

Rasa kasih yang dalam terhadap sesama, mendorongnya   membeli sebuah selimut seharga Rp. 32.500,- dari gajinya. Selimut itu ia serahkan ke bagian personalia, “Bu, selimut ini saya serahkan ke ibu untuk dipakai jika ada temen yang sakit”, ucapnya sambil berpesan tak perlu orang lain tahu tentang hal ini. Dan sampai hari ini selimut itulah yang menghangatkan tubuh teman-teman saat sakit.

Jika pertolongan pertama tak mampu menyembuhkan buruh yang sakit maka ia bertugas membawa ke Poliklinik pabrik minuman yang juga bisa diakses untuk umum. Biaya pengobatan harus dibayar dulu oleh buruh yang sakit dan selanjutnya diganti oleh perusahaan. Namun selama ini banyak buruh yang tidak punya uang dan akhirnya Mbak Gin harus membayarnya. “Sekarang kalau kerja, aku harus bawa uang lebih mbak, karena sering harus bayari pengobatan buruh yang sakit. Setelah itu baru minta ganti”, cerita mbak Gin. “Kalau situasinya seperti itu, kenapa nggak minta disediakan uang kas dari perusahaan untuk berobat. Masak pakai uang Mbak Gin, ya kalau punya kalau nggak khan bisa kacau”, usulku menanggapi ceritannya.

Disela obrolan itu ternyata ia punya ide, tentang dana sosial yang dikelola bersama di setiap land (bagian). Dana sosial itu dipotong dari gaji teman-teman, tentang berapa besarnya sesuai kesepakatan bersama. Dana itulah yang akan digunakan jika ada buruh yang sakit dan harus berobat ke tempat lain dan harus mengeluarkan biaya dulu. Ide itu berpijak dari pengalamannya waktu masih bekerja di pabrik tekstil. #####

 

 

6 Comments to "Diary (1)"

  1. EA.Inakawa  4 February, 2016 at 12:28

    Empati,……perbuatan yang disukai TUHAN kepada sesama

  2. Lani  3 February, 2016 at 00:19

    Wina: artikelmu mengingatkanku ktk msh muda aku punya Diary akan ttp entah kemana buku itu, dan hobby itu jg tdk pernah aku lanjutkan

    James: kenthir yg di Kona jg buruh………kkkkkkkkk

    Mahalo sdh diingat

    James: kenthir yg di Kona jg buruh………kkkkkkkkk

    Mahalo sdh diingat

  3. Dj. 813  2 February, 2016 at 15:55

    Bisa menolong sesama manusia, apapun tingkatan nya .
    Itu satu hal yang mulia .
    Terimakasih dan salam,

  4. donald  2 February, 2016 at 15:45

    Diary itu tempat kenangan disimpan… hiks…

  5. djasMerahputih  2 February, 2016 at 15:27

    Nguntit bang James…
    Buruh juga manusia. Mereka selayaknya diperlakukan mulia. Nyatanya, kondisi buruh terkadang lebih buruk dari budak..

  6. James  2 February, 2016 at 14:42

    1……sambil menunggu Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.