Cerita dari Hutan Wisata Buluh Cina

Bayu Amde Winata

 

Perahu penyebrangan sarat muatan motor dan orang yang akan menyeberang. Delapan motor bebek mengisi semua sudut yang ada di pompong. Pada pintu masuk pelabuhan, jembatan penyeberang yang digunakan untuk motor menyeberang bergeser saat sebuah motor matic menyeberang ke arah desa. Banjir dan hujan deras yang berlangsung sehari sebelumnya membuat jembatan menjadi goyang karena terjangan air.

Saat menjejakkan kaki di kampung, genangan air sudah memenuhi sebagian besar halaman warga. “Lah biaso kami mode ko” ujar seorang penumpang pompong yang ikut menyeberang. Dia menjelaskan kepada saya, sudah biasa bagi masyarakat desa menghadapi banjir luapan dari Sungai Kampar yang membelah kampung mereka.

Saya sedang berada di sebuah desa yang berjarak 30 km dari kota Pekanbaru, desa ini adalah desa yang ditetapkan oleh pemerintah Provinsi Riau sebagai desa wisata dengan nama Desa Wisata Buluh Cina. Menurut cerita turun-temurun yang dipercaya oleh masyarakat desa, dahulu, sebelum bernama Buluh Cina, desa ini adalah sebuah kanal tempat dimana nenek moyang pendiri sungai mencari ikan. Saat mencari ikan, mereka menggunakan bambu atau buluh yang berwarna kuning. Dalam bahasa setempat, bambu ini dikenal dengan nama Buluh Cina. Mereka menggunakan bambu sebagai tonggak pengaman jaring-jaring apung mereka. Seiring berjalannya waktu, bambu-bambu yang ditanam ini tumbuh,berkembang dan menjadi besar. Nelayan-nelayan aslinya berasal dari luar desa ini,memilih menetap di pinggir kanal. Mereka memberikan nama kampung ini dengan nama Buluh Cina.

Malam Hari di Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar

Malam Hari di Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar

Suasana Penyeberangan menuju Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar. Buluh Cina adalah desa yang memiliki hutan adat sebagai tempat berwisata

Suasana Penyeberangan menuju Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar. Buluh Cina adalah desa yang memiliki hutan adat sebagai tempat berwisata

Jalan sisi luar dari Hutan Wisata Desa Buluh Cina. Luas Hutan Wisata ini 1000 ha

Jalan sisi luar dari Hutan Wisata Desa Buluh Cina. Luas Hutan Wisata ini 1000 ha

Desa ini memiliki sebuah hutan adat dengan luasan 2500 Ha, 1500 Ha digunakan dan dimanfaatkan oleh warga, sedangkan 1000 Ha dijadikan sebagai Hutan wisata. Hutan wisata ini dinamakan Hutan Rimbo Tujuh Danau. Pada saat hutan-hutan yang berada di Riau beralih fungsi menjadi Hutan Tanaman Industri dan Perkebunan Sawit, Masyarakat desa yang tergabung dalam Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung, Desa Buluh Cina mampu mempertahankan hutan adat ini dari penjarahan dan pengalih fungsian hutan. Berkat kegigihan mereka dalam mempertahankan hutan, mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Pemerintah menganugerahkan Kalpataru kepada desa ini pada tahun 2009. Tetapi, karena salah seorang ninik mamak dari desa membuat jalan desa yang menembus kawasan hutan, anugerah ini dicabut oleh Pemerintah Pusat. Namun, jangan khawatir, hutan wisata seluas 1000 ha yang menjadi daya tarik dari desa ini masih mampu mereka pertahankan.

Pada saat musim hujan banjir limpahan dari Sungai Kampar masuk ke desa sehingga transportasi di desa ini menggunakan sampan

Pada saat musim hujan banjir limpahan dari Sungai Kampar masuk ke desa sehingga transportasi di desa ini menggunakan sampan

Anak-anak Desa Buluh Cina menggunakan sungai sebagai tempat bermain dan mandi

Anak-anak Desa Buluh Cina menggunakan sungai sebagai tempat bermain dan mandi

elain memiliki hutan wisata desa Buluh Cina juga merupakan perkampungan atlit dayung amatir pemuda pemudi di desa ini sekarang menekuni olahraga perahu naga dengan menggunakan sungai

elain memiliki hutan wisata desa Buluh Cina juga merupakan perkampungan atlit dayung amatir pemuda pemudi di desa ini sekarang menekuni olahraga perahu naga dengan menggunakan sungai

”Kalo ada tamu, kami biasa memainkan musik dari talempong” ujar Rudi Hidayat, “Tapi, seperti yang abang lihat, pemain alat musik ini generasi tua dari masyarakat desa Buluh Cina. Generasi muda masih belum menyadari” sambungnya. Rudi Hidayat adalah salah satu pemuda desa yang aktif dalam kegiatan kepariwisataan di desa Buluh cina. Selain Musik Talempong, Silat Pangean, Gondang Gong, dan Zikir Bebano adalah beberapa kesenian yang sering disajikan pada pengunjung desa. Terutama jika para pengunjung desa memilih untuk menginap di rumah rumah warga di desa. Selain itu, desa ini adalah desa dari atlit-atlit dayung perahu naga yang prestasi mereka sudah sampai ke mana-mana. Thailand dan Singapura adalah dua negara yang menjadi saksi bagaimana perkasanya pemuda pemuda desa ini menggayuh perahu hingga garis finish. Jika ingin melihat mereka latihan, kita bisa datang ke desa pada hari Rabu, Sabtu, dan Minggu.

Rumah dari kayu masih kita temukan di Desa Buluh Cina

Rumah dari kayu masih kita temukan di Desa Buluh Cina

Hutan Wisata Desa Buluh Cina menyimpan potensi yang besar. Salah satunya adalah tempat pengembangbiakan capung

Hutan Wisata Desa Buluh Cina menyimpan potensi yang besar. Salah satunya adalah tempat pengembangbiakan capung

Jalan menuju hutan desa yang sudah tertutup oleh banjir. Sampan digunakan oleh warga sebagai sarana transportasi

Jalan menuju hutan desa yang sudah tertutup oleh banjir. Sampan digunakan oleh warga sebagai sarana transportasi

Setelah Musik Talempong yang dimainkan sekitar sepuluh menit selesai. Pemandu hutan wisata mengajak saya dan rombongan berkeliling hutan adat yang ada di desa. Dalam perjalanan menuju hutan adatat, saya melewati rumah-rumah tua dengan Langgam Arsitektur Melayu Kampar. Rumah-rumah ini terbuat dari kayu, ada yang sudah lapuk termakan usia dan ada yang masih segar karena dirawat.

Pohon yang terdapat pada Hutan Wisata Desa Buluh Cina. pada saat banjir, sebagian besar hutan wisata ini terendam

Pohon yang terdapat pada Hutan Wisata Desa Buluh Cina. pada saat banjir, sebagian besar hutan wisata ini terendam

Hutan Wisata desa Buluh Cina adalah tempat yang ideal untuk melihat burung karena hutan di desa ini masih terjaga

Hutan Wisata desa Buluh Cina adalah tempat yang ideal untuk melihat burung karena hutan di desa ini masih terjaga

Di dalam kawasan seluas 1000 Ha ini terdapat delapan danau. Danau-danau ini menjadi salah satu keunikan dari hutan Buluh Cina. Nama-nama dari danau ini adalah Danau Tuok Tonga, Danau Baru, Danau Tanjung Putus, Danau Pinang Dalam, Danau Pinang Luar, Danau Rayo, Danau Tanjung Baling dan Danau Bunte. Rombongan saya diajak menuju Danau Baru, sayangnya dalam perjalanan menuju danau baru, perjalanan ini terhalang banjir dengan kedalaman sepinggang. Namun, saya tidak terlalu kecewa, karena di kiri kanan jalan setapak yang kami lewati. Terdapat pohon-pohon besar dengan umur puluhan tahun. Diameter batang pohon ini kurang lebih dua pelukan manusia. “Semakin kedalam, semakin besar bang,” ujar pemandu.

Perjalanan kami dialihkan ke jalan koridor yang membelah hutan desa. Di kiri kanan jalan, tanaman Putri Malu atau Mimosa Pudica terlihat bergerombol. Di jalan koridor ini, kupu-kupu dan capung terbang ke kiri dan kekanan rombongan kami. Pohon durian hutan yang banyak terlihat di kiri kanan jalan koridor ini memancing pertanyaan saya “Pernahkah di desa ini mengadakan festival durian?”

Danau Pinang Dalam yang berada pada zona inti dari kawasan Hutan Wisata Buluh Cina. Danau ini menyimpan potensi ikan yang besar

Danau Pinang Dalam yang berada pada zona inti dari kawasan Hutan Wisata Buluh Cina. Danau ini menyimpan potensi ikan yang besar

Jalan Masuk ke Danau Pinang Dalam yang berupa anak sungai. Di kiri kanan jalan masuk ini banyak terdapat kayu dengan ukuran yang besar

Jalan Masuk ke Danau Pinang Dalam yang berupa anak sungai. Di kiri kanan jalan masuk ini banyak terdapat kayu dengan ukuran yang besar

Saat rombongan kami sudah berada di Balai Desa, Rudi Hidayat mengajak kami menggunakan kapal menyusuri sungai menuju bagian dalam dari hutan adat. Dari desa dibutuhkan waktu satu jam untuk mengarungi anak sungai. Sepanjang perjalanan menyusuri anak sungai ini, kayu Rengas, Durian Hutan, Kempas, dengan ukuran besar berdiri dengan kokoh. Pohon-pohon ini sudah menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang selalu banjir pada saat musim hujan. Anak sungai yang tadinya menyempit, pelan-pelan menjadi melebar.

Pantulan matahari dari air pada Danau Pinang Dalam di Desa Wisata Buluh Cina

Pantulan matahari dari air pada Danau Pinang Dalam di Desa Wisata Buluh Cina

Kami berhenti sebentar di Danau Pinang Luar. Danau ini berdiameter 200 meter, pantulan dari pohon-pohon yang berada di kiri kanan danau terlihat pada air yang berwarna coklat pekat. Danau Pinang Luar berdampingan dengan Danau Pinang Dalam, rombongan kami hanya perlu melewati satu anak sungai untuk mencapai Danau Pinang Dalam. Kondisi Danau Pinang Dalam sama seperti Danau Pinang Luar. Berair coklat dan diapit oleh hutan-hutan alam dengan pohon yang berukuran besar. Sayangnya, kondisi hutan di Danau Pinang Dalam dan Luar, sudah ada yang dibuka untuk menjadi kebun sawit. Sepertinya demam sawit masih menjangkiti Provinsi ini.

Masyarakat Desa Buluh Cina masih menggunakan sampan sebagai sarana transportasi di desa mereka

Masyarakat Desa Buluh Cina masih menggunakan sampan sebagai sarana transportasi di desa mereka

Sinar matahari berwarna kemerahan yang masuk dari sela sela daun durian hutan mengiri perjalanan rombongan saya kembali ke desa. Walaupun berjarak 30 menit dari Pekanbaru, desa wisata Buluh Cina masih sepi dari kunjungan wisatawan.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Cerita dari Hutan Wisata Buluh Cina"

  1. Bayu Winata  29 February, 2016 at 23:42

    Mas Jc: Terima kasih banget mas..

  2. J C  11 February, 2016 at 11:26

    Mas Bayu…edian ciamik tenan ini jepretannya…muanteeeepppp…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.