Wedar Wejangan

Dian Nugraheni

 

Semalam, dua bocah yang udah ga kecil lagi, si Kakak dan si Adek, aku kumpulkan di kamar, si Mak memberikan satu sesi pelajaran penting, di masa krusial mereka yang sedang meremaja menuju dewasa…

Kataku, “meski kita mungkin lahir dari keturunan campuran berbagai daerah, tapi Mamah merasa, bahwa Mamah lebih sebagai orang Jawa, karena Mamah lahir dan dibesarkan dalam lingkungan culture Jawa..”

“Orang Jawa itu banyak diam, anteng, tahan lelaku, seperti prihatin menahan diri dari suatu hal, puasa, dan akhirnya memang tidak akan cocok menjadi bangsa yang “hura-hura”…”

wayang

Bla..bla..bla…Aku “candra”kan, aku tunjukkan, siapa masing-masing bocah itu menurut pasaran mereka lahir, Pon, Wage, Kliwon, Pahing, Legi…Aku ceritakan tentang para Malaikat yang melingkupi kita, tentang Kakang Kawah dan Adhi Ari-ari, tentang tugas hidup, “tugas hidup adalah stay focus melakukan hal-hal baik secara kontinyu, jaga gerak langkah jangan sampai terperosok, judulnya selalu waspada, gunakan pikiran dan hatimu..”

Si Kakak teriak, “stop it…” (hixixixixi…, belom-belom udah ngeri dia…)

Aku, “No, seburuk-buruknya, kalian harus dengar, dan Gusti Ingkang Murbeng Dumadi masih tetap akan memberikan kesempatan kita untuk memperbaiki diri, waspadai itu, kalau kalian nggak menggunakan kesempatan itu, tentu kalian akan rugi dunia akhirat..”

Aku teruskan, “Kalau di antara kalian, akhir-akhir ini ada yang berbuat dosa, maka cepat-cepatlah mohon ampun pada Tuhanmu, bertobatlah.., tobat itu ya selesai dari perbuatan dosa itu, dan tidak lagi melakukannya..”

Bla..bla..bla..(lagi)
Aku nggak akan menjudge satu demi satu, apa kesalahan anak-anakku, tapi aku harap mereka akan instrospeksi diri secepatnya, dan bisa mengatasi masalah mereka masing-masing secara batin dan lahir…

“Mamah cuma dikasih Gusti Allah, tugas mendampingi kalian, mengingatkan, memberi tahu, tapi bukan seratus persen memerintahkan kalian untuk begini begitu, that’s all your own life, terserah kalian..”

Kenapa Si Mak sampai wedar wejangan seperti ini? Karena si Mak baru mendapat “penglihatan tentang suatu kejadian..” dan ini harus dikomunikasikan…, perkara hasilnya kayak apa, si Mak sudah menjalankan tugas si Mak, “melihat, menyampaikan, mengingatkan…”

 

 

8 Comments to "Wedar Wejangan"

  1. J C  11 February, 2016 at 11:26

    LUAR BIASA, Dian! Aku suka banget baca ini…

  2. EA.Inakawa  4 February, 2016 at 09:01

    saya menyukai wejangan ini, sebuah wejangan warisan para leluhur biasanya datang dari pendalaman QOLBU , wejangan dari hati yang begitu dekat dengan Sang Kaliq……ada wejangan berdasarkan Logika tetapi akan lebih sempurna ketika Hati/Qolbu ikut handil didalam nya

  3. Lani  3 February, 2016 at 23:38

    Kenapa Si Mak sampai wedar wejangan seperti ini? Karena si Mak baru mendapat “penglihatan tentang suatu kejadian..” dan ini harus dikomunikasikan…, perkara hasilnya kayak apa, si Mak sudah menjalankan tugas si Mak, “melihat, menyampaikan, mengingatkan…
    ++++++++++++

    Dian: pertanyaannya apakah telah lahir cenayang baru dirumah ini???

    Aku setuju wlu tdk pernah jd ibu/orang tua, dgn kalimatmu diatas

    Kang Djas: Kenapa wejangannya nunggu sama sang penunggu Kona?????? Aku kalah awu lo mungkin ada member yg lebih tua-an dr aku, bener kan James??????

  4. Dj. 813  3 February, 2016 at 23:08

    Mbak Dian . . .
    Disisi satu memang sangat bagus menerapkan yang baik ke anak-anak.
    Memang itu tugas kita .
    Apakah mereka mau dengar atau tidak, tapi tugas itu harus disampaikan .
    Namun, kita juga harus konsekwen, tidak hanya disatu sisi kita menasehati mereka, tapi disisi
    lain kita memberi contoh yang berlawanan .
    Maaf ini sangat banyak orang tua yang demikian, walau jelas tidak semuanya.
    Satu sisi menasehati agar menjadi baik , tapi disi lain . . .
    Anak umur 12 tahun sudah dibelikan sepeda motor, agar kelihatan mengikuti jaman .
    Disatu sisi, mengajarkan ke anak-anak agar mengasihi sesama manusi .
    Disisi lain, kita sendiri tidak bisa memaafkan orang lain dan masih menyeimpan amarah.
    Ya . . . bahkan tidak mau bertegur sapa .
    Nah, kalau anak-anak ini lihat tingkah kita, maka mereka akan menjadi bingung .
    Mengajarkan melalui kata-kata memang muudah, tapi lebih bak juga kalau diberi contoh yang kongkrit.

    Terimakasih dan salam manis dari Mainz .

  5. donald  3 February, 2016 at 17:12

    Tugas Mak memang terlaksana…

  6. djasMerahputih  3 February, 2016 at 14:53

    Intinya: Keep Eling, Stay Sabar….
    bang James: wejangannya nunggu mis Kona aja…

  7. James  3 February, 2016 at 14:19

    apa wejangan nya para Kenthirs ?

  8. Handoko Widagdo  3 February, 2016 at 13:03

    Medhar sabda ambabar pangertosan (mengucap kalimat, menjelaskan pengertian).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *