[Di Ujung Samudra] Mengatasi Masalah, Menambah Masalah

Liana Safitri

 

LYDIA berharap setelah dua atau tiga minggu berita tentang dirinya dan Tian Ya akan menghilang sendiri, tenggelam oleh berita-berita lain yang lebih penting di Taiwan. Pemilihan presiden Taiwan 2016, misalnya. Tapi ternyata tidak. Semakin lama berita yang muncul semakin tidak jelas, jauh dari kebenaran, dan semakin buruk.

 

-Istri Li Tian Ya Ternyata Pernah Menggugurkan Kandungan Karena Hamil di Luar Nikah

-Di Balik Pernikahan Li Tian Ya: Tak Ada Seorang pun Keluarga dari Pihak Mempelai Wanita yang Datang Karena Mereka Tidak Mau Memberikan Restu

-Lydia Menikah dengan Li Tian Ya Karena Menginginkan Hartanya

-Orang yang Dibunuh Li Tian Ya Adalah Sahabat Baiknya Sendiri!

-Latar Belakang Li Tian Ya Membunuh Orang Kemungkinan Besar Disebabkan Karena Memperebutkan Wanita

-Pasangan Suami Istri yang Kejam, Li Tian Ya Bersama Istrinya Pernah Menyiksa Pembantu yang Bekerja di Rumah Mereka Serta Tidak Memberikan Gaji

ikatan tali

Lydia benar-benar muak membaca tulisan-tulisan itu. Ia menutup layar laptop, menyingkirkan semua koran dan majalah yang selama beberapa hari menumpuk di meja. Apa ia harus menutup semua sumber informasi serta kembali ke zaman batu agar bisa melewati hari-hari dengan tenang?

“Lydia menikah dengan Li Tian Ya karena menginginkan hartanya? Sungguh menggelikan! Lucu sekali!” Pulang dari kerja Tian Ya langsung disambut oleh gerutuan Lydia. “Siap-siaplah jadi orang miskin karena aku akan menghambur-hamburkan uang yang kaumiliki sampai habis! Menggugurkan kandungan karena hamil di luar nikah? Saat kita tinggal bersama di apartemen sebelum menikah, semua baik-baik saja! Menyiksa pembantu dan tidak memberikan gaji, apakah wajahku tampak seperti seorang psikopat? Dari mana mereka mendapatkan gosip murahan semacam ini?”

“Jangan mengeluh! Keadaan di kantor sama saja. Orang-orang berbisik membicarakan kita. Papa bahkan tidak mau melihatku! Harga saham SKY Group merosot drastis. Kelihatannya papa serius ketika mengatakan bahwa dia tidak mau tahu lagi dengan kehidupan kita! Kalau kita sampai jatuh miskin, mungkin karena papa mencoretku dari daftar ahli waris atau melakukan pemutusan hubungan keluarga…” Dalam situasi demikian Tian Ya masih sempat-sempatnya bercanda. “Aku masih mencari informasi tentang Manajer Yang. Kita akan melawannya setelah punya cukup senjata!”

“Beginikah rasanya ‘menderita bersama-sama’? Aku tidak peduli kalau mereka menjadikan kita sebagai bahan gosip. Tapi lihat saja jika nama Louis sampai disebut-sebut… aku akan mendatangi kantor redaksi atau kantor berita mereka, lalu membuat keributan di sana!” Lydia berkata dengan nada mengancam.

 

Satu bulan yang panjang berlalu lesu dan muram. Tian Ya merasa terkucil di lingkungan perusahaannya sendiri. Untuk sementara waktu ia berusaha menghindari acara-acara besar yang mengharuskannya bertemu dengan banyak orang, jika tidak terpaksa sekali. Tapi Franklin tiba-tiba datang menemui Tian Ya di kantor, membuat ia merasa waswas.

Setelah Xing Wang dan Fei Yang sekarang giliran Franklin! Mungkinkah dia datang ke sini untuk membuat perhitungan denganku karena Lydia menjadi bahan gosip?

Ternyata Franklin hanya mengucapkan satu kalimat, “Tian Ya, aku ingin kau mengadakan konferensi pers!”

“Konferensi pers?” Dahi Tian Ya berkerut. “Apakah ada hubungannya dengan berita aku dan Lydia yang beredar akhir-akhir ini?”

“Ya!”

Tian Ya terkejut dan heran. “Kau mau membujuk wartawan berhenti membuat berita-berita tentang kami? Atau kau mau memohon pada orang-orang di seluruh Taiwan agar tidak membicarakan kami lagi? Jangan konyol, Franklin!”

“Akan kujelaskan nanti beberapa saat menjelang konferensi pers!”

“Tapi…”

“Tian Ya,” wajah Franklin tampak sangat serius. “…aku tidak mungkin mencelakakan Lydia, juga tidak mungkin mencelakaimu! Aku ingin membantu kalian, percayalah! Kau hanya perlu menyediakan tempat dan mengundang wartawan sebanyak-banyaknya.”

Tian Ya bimbang selama beberapa detik, namun akhirnya mengangguk. “Baiklah! Kelihatannya kali ini aku dan Lydia harus kembali merepotkanmu!”

“Satu lagi yang aku minta, kau jangan katakan apa-apa pada Lydia! Ini agak berisiko. Kalau dia tahu rencana kita pasti batal!”

Beberapa hari kemudian Tian Ya mengadakan konferensi pers di sebuah hotel seperti yang diminta Franklin. Setengah jam sebelum acara dimulai, hotel sudah dipadati oleh wartawan dari berbagai media massa yang akan meliput acara ini, bahkan disiarkan secara langsung oleh sebuah stasiun televisi swasta.

Di balik sebuah meja panjang penuh mikrofon, Tian Ya duduk bersama Franklin dan Zhong Yuan. Sejak awal kilatan kamera tak pernah berhenti membidik mereka. Franklin hadir dengan penampilan sangat berbeda. Ia memakai kacamata hitam dan topi yang ditarik ke bawah hingga hampir menutupi seluruh wajah. Kumis palsu tipis bertengger di atas bibirnya, sebuah jaket kulit pun menutupi tubuhnya.

Tian Ya menyapukan pandangan ke segala penjuru. “Selamat pagi!”

“Pagi!”

“Terima kasih karena kalian sudah bersedia datang di acara konferensi pers ini. Tujuan saya mengadakan konferensi pers hanya satu… yaitu ingin meluruskan berita-berita tidak menyenangkan tentang saya dan istri saya yang beredar di masyarakat selama beberapa minggu belakangan.” Tian Ya menoleh pada Franklin. “Di samping saya ada seseorang yang akan menjelaskan semuanya.”

Mendapat giliran berbicara, Franklin agak gugup. Pemuda itu berkali-kali mengingatkan diri sendiri dalam hati bahwa nasib Lydia bergantung padanya. Barulah kemudian kata demi kata mengalir lancar dari bibir Franklin. “Halo! Apa kabar? Sebelumnya, maaf jika ada yang merasa tidak nyaman dengan penampilan saya sekarang. Mata saya sedang iritasi, jadi harus memakai kacamata hitam.” Namun tidak ada yang curiga dengan penampilan Franklin. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan soal kacamata hitam Franklin. Para wartawan itu lebih peduli dengan masalah Lydia dan Tian Ya. “Izinkan saya memperkenalkan diri lebih dulu. Nama saya Frederick. Saya adalah… mantan kekasih Lydia!”

Seruan terkejut bercampur heran langsung memenuhi seluruh ruangan. Selama beberapa saat suasana menjadi sangat riuh sampai orang yang bertugas mengawasi acara ini harus maju ke depan dan mengangkat kedua tangan. “Tenang! Mohon semua tenang dulu!”

Setelah semua diam, Franklin alias “Tuan Frederick” meneruskan bicara. “Semua orang sudah tahu bahwa istri Li Tian Ya berasal dari Indonesia. Saya mantan kekasihnya, juga orang Indonesia! Saya mengenal Lydia sudah sejak lama. Lebih dari dua tahun kami menjalin hubungan dekat. Saya berencana akan melamar Lydia, menjadikannya sebagai istri. Tapi semua itu gagal setelah Li Tian Ya datang ke Indonesia dan membuat Lydia berpaling dari saya. Saya semakin marah ketika mengetahui Lydia menikah dengan Li Tian Ya.”

Terdengarlah suara bisikan di sana-sini.

“Saya cemburu dan merasa tidak rela… lalu mengikuti Lydia dan Li Tian Ya ke Taiwan, berusaha memisahkan kedua orang itu menggunakan berbagai cara. Salah satunya adalah membuat berita palsu dan menyebarkannya… Lydia pernah bekerja di kelab malam, Lydia pelacur, pernah menggugurkan kandungan, Li Tian Ya membunuh orang, pernikahan tak direstui, pernikahan karena harta, dan berita lain tentang mereka yang beredar di majalah, televisi, juga internet… semua itu hanya rekayasa!” Ruangan kembali gaduh. Perhatian para wartawan semakin tertuju pada Tuan Frederick.

“Tapi beberapa hari yang lalu saya mengalami sebuah kejadian yang membuat saya tersadar. Di tengah jalan saya bertemu dengan beberapa berandalan yang memeras dan menghajar saya. Saat saya mengira diri saya hampir mati tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Li Tian Ya dan temannya turun dari mobil itu, menghalau orang-orang yang memukuli saya lalu membawa saya ke rumah sakit. Waktu itu saya dalam keadaan tidak sadar. Saya baru tahu kalau orang yang menolong adalah Li Tian Ya. Saya menyesal dan mengakui semua kesalahan yang sudah saya perbuat…”

Franklin bahkan menunjukkan beberapa fotonya bersama Lydia ke hadapan para wartawan. “Kalian bisa melihatnya… ini adalah kenangan saat saya dan Lydia masih bersama!” Dan… pandai sekali, karena Franklin memilih foto yang diambil dari jarak jauh atau yang posisi wajahnya tidak terlihat dengan jelas sehingga tak menimbulkan kecurigaan. “Di hadapan kalian, sekarang saya akan merobek foto-foto ini!” Ada enam foto yang ditunjukkan Franklin. Para wartawan cepat-cepat memotret foto yang dipegang Franklin.

Ini hanya sebuah foto… hanya benda mati! Tidak apa-apa, tidak masalah kalau aku merobeknya. Yang penting orang di dalam foto ini bisa hidup bahagia, dan kenangan yang sebenarnya akan selalu tersimpan di dalam hati!

Franklin memejamkan mata, kemudian dengan kedua tangan ia merobek foto-foto itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Ketika membuka mata kembali dan melihat semua foto telah hancur, ia merasakan pedih tak terkira, seolah-olah hatinya lah yang telah dirobek-robek. Tak ada yang tahu bahwa dibalik kacamata hitam yang dikenakannya mata Franklin telah memerah. “Saya ingin meminta maaf pada Lydia dan seluruh keluarganya. Mulai sekarang, saya tidak akan berkata apa-apa lagi tentang Lydia, tidak akan mengganggu Lydia!” Franklin berkata pada Tian Ya, “Tuan Li, Anda bisa merasa tenang! Saya sudah selesai, terima kasih…”

Tian Ya kembali mengambil alih pembicaraan. “Saya juga akan menambahkan sedikit… Saya dan istri saya sepakat untuk memaafkan Tuan Frederick. Kami sudah berdamai, tidak ada lagi masalah di antara kami! Baiklah, sekarang saya memberi kesempatan pada teman-teman untuk bertanya…”

Semua orang sibuk mengacungkan tangan.

“Maaf Tuan Frederick, bisakah Anda menjelaskan lebih rinci tentang hubungan Anda dengan Nyonya Lydia?”

“Apakah sekarang Tuan Frederick tinggal di Taiwan?”

“Tuan Li! Tuan Li! Bagaimana dengan orangtua Anda? Ada yang mengatakan bahwa ibu Anda jatuh sakit karena masalah ini, benarkah?”

“Anda berkata sudah memaafkan Tuan Frederick, apakah itu artinya kalian bertiga masih bisa berteman lagi?”

Sementara itu di rumah Lydia kebetulan sedang menyaksikan siaran langsung acara konferensi pers Tian Ya dan “Tuan Frederick”. Sejak awal kemunculan Tuan Frederick, Lydia sudah merasa akrab dengan gerak-gerik pemuda tersebut. Apalagi saat mulai mengaku bahwa ia adalah mantan kekasih Lydia, kamera menyorot wajahnya dari dekat. Meski menggunakan topi, kumis palsu, dan kacamata hitam untuk menyembunyikan identitas, Lydia langsung dapat mengenalinya sebagai Franklin! Tuan Frederick! Apa-apaan ini? Mengapa Tian Ya tidak berkata apa-apa padanya dan malah ikut andil dalam mengadakan konferensi pers?

Setelah konferensi pers berakhir, Tian Ya mengantar Franklin pulang. Mereka meninggalkan hotel dengan susah payah, para pencari berita itu sepertinya belum merasa puas dengan konferensi pers selama dua jam. Mereka terus melontarkan pertanyaan sampai seorang petugas keamanan berhasil membukakan pintu mobil untuk Tian Ya dan Franklin.

“Benar-benar memusingkan! Semoga berita ini tidak sampai ke Indonesia!”

“Banyak-banyak berdoa saja agar tidak ada lagi orang yang berkata pernah melihat Lydia di kelab malam,” ujar Franklin.

“Aku masih tidak tenang… bagaimana kalau mereka menyelidiki keberadaan Tuan Frederick?”

“Kita bisa katakan dia pulang ke Indonesia atau apa saja! Hampir semua berita tentang kalian adalah bohong. Sudah sampai separah ini, mau diluruskan bisa-bisa malah semakin ‘bengkok. Jadi balas saja dengan berita bohong! Lama-lama orang akan bosan sendiri!”

“Ngomong-ngomong aku sudah mendapatkan alamat rumah Yang Da Wei. Aku juga menyuruh beberapa orang untuk mengawasi kelab malam tempat Lydia dijebak dulu, sekalian rumah Qiao Li dan Nyonya Zhou seperti yang kauceritakan…” kata Tian Ya.

“Bagus!” Franklin mengangguk-anggukkan kepala. “Suruh mereka semua tutup mulut, kalau masih macam-macam dituntut saja!”

Lama keduanya terdiam, sama-sama memikirkan Lydia. Rasanya aneh dan mengejutkan bagaimana ada dua orang pria yang berjuang mati-matian demi melindungi seorang wanita. Tapi nyatanya mereka memang dibuat tidak berdaya oleh Lydia!

“Sungguh, aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu?” Tian Ya menarik napas dalam-dalam.

Franklin tersenyum getir. “Kau cukup membalasnya dengan membahagiakan Lydia seumur hidup!”

“Bolehkah aku bertanya?” Tian Ya mengerling Franklin yang duduk di sebelahnya, “Apakah kau masih… mencintai Lydia?”

Franklin menatap lurus ke depan kaca mobil seperti sedang berpikir. Akhirnya ia menukas dengan mantap, “Ya! Aku masih mencintai Lydia!”

Tian Ya terkesiap.

“Kita harus mencintai saudara dan keluarga kita sendiri, bukankah begitu?”

Lanjutan kalimat Franklin disambut dengan senyum oleh Tian Ya. “Kita harus mencintai keluarga kita! Yang kaukatakan itu benar sekali, Kakak Ipar!”

Mobil Tian Ya memasuki halaman rumah Franklin.

“Tian Ya…” Franklin bermaksud menawari Tian Ya singgah sebentar untuk minum teh. Tapi ia langsung menutup mulut begitu melihat Lydia sedang berjalan ke arah mereka.

“Apakah konferensi persnya sudah selesai, Tuan Frederick?”

“Lydia!” panggil Tian Ya terkejut.

Lydia tidak menggubris Tian Ya. Ia bertanya pada Franklin, “Kenapa kaulakukan itu?”

“Kalau kau mau datang seharusnya menelepon dulu! Aku sangat sibuk, jadi mungkin kau bisa datang lain waktu!”

“Aku tanya, kenapa kaulakukan itu? Mengganti nama menjadi Frederick dan mengaku sebagai mantan kekasihku, membuat cerita bohong, merekayasa berita buruk tentang aku dan Tian Ya lalu sengaja menyebarkannya… Agar perhatian orang-orang teralih pada tokoh antagonis yang kauciptakan, sehingga kau menjadi satu-satunya orang yang disalahkan demi membersihkan nama kami!” Lydia sampai terengah-engah saking marahnya. “Benar, kan?”

“Kau tahu aku tidak bisa diam saja melihatmu berada dalam kesulitan!”

“Kau selalu menyusahkan diri sendiri dan mengorbankan diri sendiri! Apa kau mengira dirimu sangat hebat dan mampu menahan serangan semua orang yang tertuju padamu? Atau kau menganggap dirimu tidak berharga sama sekali sehingga tidak apa-apa kalau terjadi sesuatu padamu?”

Untuk kesekian kalinya Franklin maju sebagai tameng melindungi Lydia! Bukan, tapi melindungi Lydia, Tian Ya, Louis, Tuan Li, Nyonya Li, bahkan mungkin semua orang yang bekerja di SKY Group, semua orang yang ada hubungannya dengan keluarga mereka! Sulit melukiskan apa yang dirasakan Lydia pada saat itu. Marah, kesal, sedih, sekaligus tidak berdaya bercampur menjadi satu.

“Itulah gunanya seorang kakak!”

Kakak!

Dengan tenggorokan tercekat Lydia berkata, “Kau sengaja membuatku tidak bisa apa-apa tanpa dirimu begitukah? Lalu bagaimana jika suatu saat nanti kau benar-benar meninggalkanku?”

“Hari ini sangat melelahkan, aku ingin beristirahat!” ujar Franklin acuh tak acuh.

Tian Ya menarik Lydia. “Sudahlah, Lydia! Sekarang kita pulang dulu, besok kita bisa kemari lagi…”

“Tidak! Aku masih belum selesai bicara dengannya!”

“Ayo kita pulang! Kalau pergi terlalu lama Louis pasti mencarimu!” Tian Ya memaksa Lydia masuk ke mobil.

Sampai di rumah Lydia marah-marah pada Tian Ya. “Kenapa kau bersekongkol dengan kakakku dan membiarkan dia menanggung kesulitan karena kita! Apa dengan begitu kita tetap bisa menjalani hari-hari dengan tenang?”

“Aku tidak bersekongkol dengan kakakmu!” Tian Ya membantah. “Beberapa hari lalu kakakmu datang ke kantor, tiba-tiba menyuruhku mengadakan konferensi pers untuk meluuskan berita-berita tidak benar itu. Dia memintaku merahasiakan hal ini darimu. Saat kutanya, kakakmu berkata akan memberitahukan rencananya dengan lebih jelas menjelang konferensi pers. Aku juga tidak menyangka kalau kakakmu akan menyamar menjadi ‘Tuan Frederick’ dan mengaku sebagai mantan kekasihmu! Di depan begitu banyak orang aku hanya bisa mengikuti permainannya!”

Lydia tidak mau mendengar alasan-alasan Tian Ya. “Dulu saat aku dihajar Xiao Long kau gelap mata lalu membunuhnya! Sekarang saat aku dijadikan bahan gosip kau juga menggunakan pengalamanmu mencabut nyawa orang itu untuk menghadapi media massa, dengan bangga mengatakan bahwa Li Tian Ya pernah membunuh orang! Malah menyeret kakakku ke dalam kesulitan…” Lydia menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa kau selalu mengatasi masalah dengan menambahkan masalah baru?”

Tian Ya menjadi marah mendengar kata-kata Lydia. “Benar! Aku tidak becus mengatasi masalah, hanya bisa menambah masalah! Semuanya salah! Salah! Salah! Yang benar dan hebat cuma Franklin! Asal kau tahu saja, aku tidak datang ke tempat kakakmu dan mengemis-ngemis minta bantuan! Aku tidak menyeretnya ke dalam kesulitan, dia sendiri yang dengan sukarela menceburkan diri! Kalau identitas ‘Tuan Frederick’ terbongkar, ya sudah! Itu tidak akan memberi pengaruh besar pada Franklin! Kenyataannya dia memang mantan kekasihmu, kalian bahkan pernah menikah! Tuan Frederick dan Tuan Franklin hanya berbeda nama!”

“Kakak sudah berkali-kali menolong kita tapi kau tidak pernah benar-benar peduli padanya! Egois sekali! Kau bahkan tidak memperbolehkan kakak bertemu denganku setelah aku keguguran, sampai-sampai dia meninggalkan sepatu di depan rumah! Kaukira aku tidak tahu?”

Tian Ya mengambil sepatu putih Lydia yang di atasnya terdapat hiasan bunga lili. “Sepatu ini maksudmu?” Kemudian ia melempar sepatu pemberian Franklin tersebut ke luar jendela.

“Jangan!” Lydia berteriak. Tapi percuma. Ketika Lydia melihat keluar, sepatu itu telah melayang dan jatuh entah ke mana.

“Aku sudah cukup menahan diri melihat kedekatanmu dengan Franklin yang tidak wajar! Kau berkali-kali mengatakan kalau dia hanya seorang kakak bagimu… Hari ini Franklin mengaku jika dia masih mencintaimu karena menganggap kau sebagai saudara dan juga keluarganya. Aku berusaha mempercayai kalian… Tapi kau selalu menyalahkanku dan membuatku merasa tidak berarti!”

Air mata Lydia menetes. Tian Ya lebih tahu dibanding siapa pun betapa berarti sepatu pemberian Franklin bagi Lydia. Meski sudah jarang dipakai, tapi Lydia tetap menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Sungguh tidak menyangka Tian Ya bisa membuang sepatu itu. “Kau… seperti inikah dirimu yang sebenarnya? Sangat kasar dan pemarah? Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu kau langsung menghancurkannya…”

“Kau bicara apa, sih?”

“Siapa tahu… suatu saat kalau kau sudah tidak menyukaiku… kau juga akan menghancurkanku…” Lydia menyandarkan kepala ke dinding dengan sangat putus asa. “Sebelum benar-benar terjadi… mungkin sebaiknya kita berpisah saja…”

“Berpisah?” Mata Tian Ya melotot selebar-lebarnya, menatap Lydia dengan pandangan tak percaya. “Kaukira menikah itu apa? Main rumah-rumahan? Bilang ingin selesai lalu selesai? Bertengkar sedikit lalu langsung membubarkan diri? Louis! Mau ke mana dia kalau kita berpisah?”

Lydia hanya menangis tanpa suara.

Tian Ya mengesah keras, kehabisan akal menghadapi Lydia. Dengan masih dikuasai rasa jengkel ia berkata, “Baiklah! Kalau kau memang begitu menyesal karena telah menikah denganku… Kakakmu masih di Taiwan, belum terlambat untuk kembali ke sisinya!”

 

Malam itu pulang dari kerja Tian Ya mengajak Fei Yang bertemu di kafe Xing Wang. Ia bercerita panjang lebar tentang konferensi pers Tuan Frederick alias Franklin, yang membuatnya bertengkar dengan Lydia.

Xing Wang datang berkunjung ke rumah Tian Ya hanya selang beberapa hari setelah kedatangan Fei Yang dan Franklin, dengan membawa kado baju-baju bayi. Rupanya kelahiran seorang anak benar-benar membawa kebahagiaan bagi semua orang. Mencairkan hubungan yang beku, mendinginkan perasaan yang panas. Pemuda itu kini meninggalkan pekerjaannya sebentar dan ikut mendengarkan keluh kesah Tian Ya. “Bagaimana kau ini? Setelah hubungan dengan teman membaik, hubungan dengan istri malah memburuk!”

“Kau kan belum menikah, jadi mudah saja berkata-kata! Aku kira setelah membuat acara konferensi pers yang diusulkan Franklin masalah akan selesai, tidak tahunya malah jadi begini…”

Fei Yang mendengarkan percakapan antara Tian Ya dan Xing Wang dengan diam, namun hatinya bergolak.

Oh… ada apa? Apakah ini yang dinamakan cemburu? Cemburu karena Franklin mati-matian membantu Lydia? Padahal Lydia tidak sedang dalam keadaan yang bisa membuat iri siapa pun!

Gadis itu menertawakan diri sendiri, tapi masih mencoba berpikir rasional. “Kau tidak bisa menyalahkan Franklin! Dia tidak bermaksud membuat kalian bertengkar…”

“Aku tidak menyalahkan Franklin!” sergah Tian Ya. “Aku juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena selalu disalahkan! Oleh Lydia, oleh orangtuaku, dan juga oleh teman-temanku sendiri! Apa semua orang hanya bisa melihat bagian yang buruk dariku tapi tidak bisa melihat bagian yang baik? Apakah tidak ada sama sekali? Lydia bahkan berani mengucapkan kata berpisah, seolah pernikahan kami hanya sebuah permainan dan Louis adalah boneka yang bisa diletakkan begitu saja setelah selesai berperan sebagai anak!”

“Hei! Hei! Aku menyalahkanmu karena kau memang salah! Bukan berarti aku tidak bisa melihat bagian baik yang ada padamu,” Xing Wang merasa tersindir.

“Mungkin aku bisa sedikit membantu…” kata Fei Yang.

“Tidak usah!” Tian Ya menolak mentah-mentah. “Kalau menerima bantuanmu bisa-bisa aku disalahkan lagi!”

“Aku jamin kau tidak akan disalahkan! Yang akan aku lakukan kali ini bukan hanya menguntungkan salah satu pihak, tapi kedua belah pihak!”

Setelah malam cukup larut Fei Yang baru pulang. Ia turun dari taksi, berjalan kaki menuju rumah yang hanya tinggal beberapa meter. Keadaan di sekitar tempat tinggalnya sudah sepi sekali sampai Fei Yang bisa mendengar suara sepatunya membentur aspal. Dan suara dua orang sedang bercakap-cakap. Dari tempatnya sekarang Fei Yang melihat Franklin dan Fei Xiang berdiri di luar pagar rumah. Mungkin mereka juga baru kembali entah dari mana.

“Sebenarnya kau menganggap kakakku sebagai apa?”

Pertanyaan Fei Xiang membuat Fei Yang menghentikan langkah lalu sengaja bersembunyi di balik sebatang pohon.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu…” itu suara Franklin.

“Jangan pura-pura bodoh! Kau sering menghabiskan waktu bersama kakakku, sebentar-sebentar belajar ini, sebentar-sebentar belajar itu, setiap hari jalan-jalan ke sana kemari, membelikan kakakku piano, dan meski datang terlambat ke konser, kau membuatnya rela bermain piano sampai pagi! Aku tidak mau terlalu mengurusi masalah pribadi kakakku, tapi kalau kau hanya mau mempermainkan dia tentu aku tidak akan tinggal diam!” Fei Xiang berkata tegas.

“Aku tidak punya niat untuk mempermainkan kakakmu!” ujar Franklin.

Sementara dari balik pohon Fei Yang menunggu dengan perasaan berdebar-debar.

“Ketika pertama kali datang ke Taiwan aku tidak bisa bahasa Mandarin sepatah pun dan tidak tahu harus tinggal di mana. Tapi Fei Yang mau meluangkan waktu mengajariku berbicara bahasa yang sangat asing itu, mencarikanku rumah, dan menemaniku jalan-jalan ke berbagai tempat. Dia membantuku menyesuaikan diri dengan cepat. Fei Yang adalah seorang teman sekaligus guru yang terbaik untukku!”

Fei Yang merasa langit seolah runtuh menimpa kepalanya. Beban itu membuatnya tidak tidak bisa berdiri tegak. Namun Fei Yang tidak mau menghindar. Ia ke luar dari tempat persembunyian lalu berkata keras, “Jadi itu jawabanmu! Aku adalah seorang teman sekaligus guru yang baik!”

Franklin dan Fei Xiang sama-sama menoleh dan terkejut melihat Fei Yang ada di dekat mereka.

“Kakak!”

“Fei Yang!”

Fei Yang kini berdiri tepat di hadapan Franklin, memandang pemuda itu dalam-dalam.

“Maafkan aku… Fei Yang! Sungguh… aku minta maaf…”

“Maaf untuk apa?” Fei Yang tertawa, tawa yang terdengar sangat dipaksakan. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Franklin!”

Fei Xiang melihat Fei Yang dan Franklin bergantian. Meski sangat suka mengganggu kakaknya, ia tahu mana situasi yang bisa dijadikan bahan bercanda, mana yang tidak. “Karena Kakak sudah pulang aku jadi tenang. Kalau kau mau mengobrol dengannya dulu tidak apa-apa, tapi aku sudah lelah dan mengantuk. Jadi aku tidur dulu!” Fei Xiang meninggalkan Fei Yang bersama Franklin.

Fei Yang lebih leluasa berbicara setelah Fei Xiang pergi. “Waktu itu aku hanya mengungkapkan perasaan di hati. Mendengar apa yang baru saja kaukatakan… aku paham jika kita bebas menyukai siapa saja, tapi tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai kita juga. Seharusnya kau memberitahu sejak awal, jadi aku tidak membuang-buang waktu untuk menunggu dan berharap.”

Franklin tidak tahu bagaimana, ia hanya bisa menunggu Fei Yang selesai bicara tanpa berani menyela.

Fei Yang mengembuskan napas keras-keras, “Jadi kita tetap menjadi teman baik, kan?”

Hanya menjadi teman baik!

Franklin mengangguk penuh penyesalan, “Ya!”

“Kalau begitu tidak ada gunanya aku membeli ini! Lebih baik dibuang saja!” Fei Yang menunduk menatap tas plastik yang sejak tadi dibawanya, kemudian menjatuhkannya pinggir jalan begitu saja. Tanpa melihat Franklin lagi Fei Yang berjalan cepat memasuki halaman rumah.

“Fei Yang, kenapa kaubuang?”

Namun Fei Yang tak memedulikan teriakan Franklin, gadis itu sudah menutup pintu dan menguncinya.

Aku tidak bisa membantu memperbaiki hubungan Lydia dengan Tian Ya jika tidak dapat merebut hati Franklin, selama Franklin belum mampu melupakan Lydia!

Di dalam rumah, Franklin mengamati tas plastik yang ditinggalkan Fei Yang. Sepertinya barang ini baru dibeli, kenapa langsung dibuang? Franklin mengintip isi tas plastik dan melihat sebuah kotak warna hitam. Karena penasaran, pemuda itu tak dapat menahan diri untuk membukanya. Sebuah jam tangan. Dan Franklin terpana ketika membaca tulisan pada selembar kertas kecil yang diselipkan di dalam kotak.

Untuk Franklin, agar tidak terlambat lagi…

 

 

9 Comments to "[Di Ujung Samudra] Mengatasi Masalah, Menambah Masalah"

  1. J C  11 February, 2016 at 11:30

    Benar-benar serasa menikmati sinetron Taiwan ala F4…

  2. Lani  8 February, 2016 at 07:38

    Al: hahaha…………kamu benar, sdh kenthir mosok ditambah mikirin masalah……….orang kenthir mana bisa mikirin masalah…………..

  3. Liana  7 February, 2016 at 08:04

    Franklin ngaret karena jamnya sudah tidak layak pakai.

  4. Alvina VB  6 February, 2016 at 07:12

    Wah, ceritanya tambah berbeli-belit, ditunggu cerita lanjutannya dah….
    Kata org duluuuu kl punya masalah atasi masalah dengan betul, jangan pake bohong, krn kl dah bohong pasti nutupin kebohongannya dengan kebohongan yg lain, sampe2 gak tahu lagi yg mana yg beneran.
    Mbakyu Lani: para kenthirs gak ada masalah…lah wong kenthirs sich…

  5. Lani  6 February, 2016 at 06:34

    James: mahalo sdh diingat………ngomong2 para kenthirs banyak masalahkah???

  6. djasMerahputih  4 February, 2016 at 20:59

    Hadir bang James..
    Ha ha ha…ini mirip2 lingkaran Syoiton, menyelesaikan masalah tanpa solusi…

  7. James  4 February, 2016 at 17:27

    kurang lebih masalah bagaimana agar Kenthirs nongol

  8. EA.Inakawa  4 February, 2016 at 16:43

    Masalah lagi…..namanya juga orang hidup, Fei Yang salah tuh…..percuma kasih jam tangan buat Franklin, soalnya Franklin dari dulu selalu tidak komit dengan waktu

  9. donald  4 February, 2016 at 16:22

    Soal hati seseorang ya? Itu rumit…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.