Sindiran di Media Sosial, Harus Bagaimana?

Nury Ris

 

Sepuluh tahun lalu, kita belum mengenal Facebook, Twitter, Instagram atau YouTube. Kehidupan berjalan tanpa dipengarui status update, nge-tweets, berbagi foto, apalagi video. Namun kehidupan kini berubah total. Kita tidak bisa lagi sepenuhnya mengabaikan apa yang terjadi di dunia maya. Sekali mengunggah status, itu akan cepat menyebar seperti virus influenza yang ditembakkan ke udara.

Aku hendak mengutip Keenan Pearce dalam tulisan kali ini. Ia mengatakan di akun Instagramnya, “Social media is not about technology, is about people. Connection, emotion, expresssion become the souls and personalities of online communities.”Sekarang ini kita hidup di dunia yang sama sekali berbeda dengan sepuluh tahun lalu. Sosial media telah menjadi tempat manusia untuk mengekspresikan perasaannya.

social-media

Baiknya, dengan semakin banyak orang yang terhubung jaringan internet, berita menjadi cepat tersebar luas. Efek buruknya mungkin bisa dilihat dari begitu banyak tercipta orang nyinyir di dunia ini. Orang menjadi semakin terbuka mengomentari apa saja, baik yang dianggap sesuai atau tidak sesuai dengan dirinya, termasuk mengomentari kehidupan orang lain.

Apa yang kau lakukan jika mengetahui seorang teman menyindirmu di sosial media? Oke, reaksinya bisa bermacam-macam. Bagi yang reaksioner, akan membuat status tandingan. Segera mengklarifikasi dengan emosi jika menurutnya sindiran itu jauh dari kebenaran. Meskipun ini lazim dilakukan oleh para remaja alay, namun masih sering kutemui dilakukan juga oleh mereka yang secara umur cukup dewasa. Stop! Aku tak hendak ganti menyinyiri orang di tulisan ini.

Reaksi ke-dua, boleh dikata lebih elegan dari yang pertama adalah tetap tenang dan mengabaikannya. Silent is gold. Jadi ketika mengetahui seseorang menyindir di sosial media, diam saja dan tak peduli mungkin pilihan yang lebih cerdas. Bukankah tak ada yang paling menyakitkan bagi musuh dibanding menang dari seseorang yang tak merasa kalah? Kalau kata temanku, “Woles bro, anggap saja angin lalu!”

socialmedia

Selain dua reaksi umum di atas, masih ada satu reaksi lagi yang agak jarang dilakukan; menanyakan langsung pada si pembuat postingan. Apakah benar bahwa postingan yang dimaksud adalah untuk dirinya? Kita tahu sendiri, jarang sekali sindiran di dunia maya disertai penyebutan nama. Jadi tidak menutup kemungkinan yang disindir satu, yang merasa tersindir sepuluh orang.

Baru-baru ini aku juga menerima sebuah sindiran di status Facebook. Aku tahu itu untukku karena yang dibahas cukup spesifik. Sebab merasa diri sudah dewasa, aku menghindari reaksi yang disebut pertama. Perang status sama sekali bukan gayaku. Lalu aku gagal pula melakoni reaksi kedua. Bukan tidak berusaha, tapi kalimat itu seperti terus terngiang dan mengganggu tidur. Aku tak bisa mengabaikan kata-kata yang ditulisnya karena bisa jadi benar.

Lantas apakah aku melakukan reaksi ke tiga? Aku yang dulu mungkin akan memakinya, atau setidaknya menanyakan langsung pada yang bersangkutan. Tapi aku yang sekarang sudah kenal Gobind Vashdev ini malah sibuk berpikir (siapa Gobind Vashdev akan hadir pada tulisan berikutnya). Pada dasarnya, ketidaktahuan ia tentang diriku yang sebenarnya, sama dengan ketidaktahuanku tentang mengapa ia melakukan itu. Jadi, aku yang sekarang akan duduk merenung dengan tenang, mencoba memikirkan kemungkinan kebenaran dari pendapatnya, introspeksi lalu menggunakannya sebagai ide untuk mengetik tulisan ini. Hehehe…

 

-end-

 

 

About Nury Ris

Penyuka martabak yang jarang makan martabak saking takut gendut. Penyuka puisi yang gak gape bikin puisi. Penyuka cerpen yang masih terus belajar membuat cerpen. Berusaha meluangkan waktu untuk menulis setiap hari, walaupun hanya berupa status Facebook yang gak penting.

Arsip Artikel

12 Comments to "Sindiran di Media Sosial, Harus Bagaimana?"

  1. triyudani  6 February, 2016 at 20:28

    Aneh tapi nyata.Wong gur sosmed,dumay kok dibikin serius
    Guyonan itu lebih asyik.Bisa tertawa bahagia.
    Apalagi bersahabat itu hal yg terindah.
    Wiss stop permusuha. Gak ada gunanya.

  2. Lani  6 February, 2016 at 06:36

    Al: setuju dgn komentarmu………..aku tdk pernah peduli dgn dunia sos-med krn isinya kebanyakan pertengkaran……….

    James: kenthir yg di Kona mencungul…………lagi sibuk, mahalo udah diingat

  3. Alvina VB  6 February, 2016 at 06:08

    Setuju dengan komentarnya EA. Inakawa. Saya gak pernah nimbrung di med-sos yg demen menyindir/menuding/mencemooh/menghakimin org, lah…apa gak ada kerjaan yg lebih baik? Sebisa mungkin saya menghindari med-sos, kl nimbrung paling kl ada acara fundraising utk kepentingan organisasi, selain itu kaburrrrr….sampe hari ini saya gak punya FB pribadi dan gak pernah tertarik buat bikin, sampe temen bilang wah kamu kok ndeso amet sich padahal tinggal lama di LN, he..he…ya wis biarin aja tetep ndeso ttp gak pernah punya masalah di dunia maya…

  4. Itsmi  4 February, 2016 at 22:42

    Setiap kasus berlainan… begitu juga orangnya…

  5. Dj. 813  4 February, 2016 at 21:34

    Nury Ris . . .
    Terimakasih . . .
    Begitulah sifat manusia, baik didunia maya atau nyata .
    Kalau ada orang senang, pasti ada yang iiri dan bikin olah .
    Tapi kalau lihat orang susah, pasti ditertawakan nya .
    Olehnya, jangan terlalu serius, santai saja .
    Kalau tidak cocok dengan seseorang, ya stop it .
    Tidak usah diteruskan, tapi juga harus tegas .

    Okay, salam Damai dari Mainz .

  6. djasMerahputih  4 February, 2016 at 20:37

    Untung saja djas berteman baik sama mba Maya, jadi apapun yg dikatakan orang di dunia maya bukan soal bagi djas. Itukan masalahnya mba Maya.., djas nggak ikut campur… @#$%^&*&^%$#@

  7. Dewi Aichi  4 February, 2016 at 18:48

    Nury…wah emang begitu adanya di sosmed ya…benar semua itu apa yang kau tulis….acara sindir menyindir dan perang status..kemudian blokir hahaha….aku belum mengalami, tapi aku berusaha untuk tidak pernah menyindir yang terlalu kentara, terlalu spesifik, terlalu jelas….tapi yang samar-samarlah hahahaha….sesama pengguna sosmed pasti tau…dan pernah menyindir…..tapi saya orangnya ngga kejam kok hahaha…

  8. James  4 February, 2016 at 17:24

    diamkan saja……seperti mendiamkan para Kenthirs meski belum muncul juga

  9. EA.Inakawa  4 February, 2016 at 16:35

    Ayo kita manfaatkan media sosial untuk hal hal yang positif , Perlu di ingat tidak ada masalah yang tak terpecahkan , pasti ada solusinya . Lapang dada ,sabar & tetap berpikir positif, kita jadikan jejaring sosial sebagai wahana mencari teman untuk saling memotivasi,salam

  10. donald  4 February, 2016 at 16:15

    Sebaiknya hindarkan sindiran2 tak perlu di media sosial…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.