Debu-debu Ibukota

Dwi Klik Santosa

 

Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan kejahatan. Peristiwa pagi ini di jalanan jalur saya bekerja, menurut saya seperti memasuki roh pemikiran Plato, filsuf yang hidup pada abad ke 3 SM itu. Seorang bocah TK yang mencelat tertabrak bus Metromini dengan bahu patah dan ibunya pingsan seketika karena melihat kondisi anaknya, serta kemudian membangkitkan barbar massa untuk menghakimi sopir bus itu adalah peristiwa tragis yang selalu terulang.

keruwetan-jakarta

Kalau kejadiannya, tergolong biasa yaitu tidak dibarengi dengan kebut-kebutan dan ugal-ugalan antar sesama bus itu untuk saling dulu berada di depan, mungkin sesuatu yang bisa dimaklumi oleh sebagian besar kita yang berada di jalan. Sudah jalanan sempit, macet, kedua bus itu nekad pula memasuki lajur berseberangan yang bukan lajurnya sebenarnya, hanya demi ingin memenangkan persaingan paling depan antar sesama mereka. Kalau ada mobil lain seakan-akan menghalangi, sepengalaman saya pernah naik bus itu, secepat itu sopir dan kenek bus itu mengumpat, “dasar mobil orang kaya.”

Memahami perilaku sopir-sopir bus metromini kebanyakan yang beroperasi di sekitar ibukota, nyaris mirip-mirip perangainya. Kasar, sok jagoan menguasai jalanan dan seenaknya menerabas lajur yang bukan semestinya. Kalau ditendang badan bus atau spion oleh pendendara motor yang jengkel, karena dua ruas jalan dipenuhi dari arus yang searah dan berlawanan, cepat sekali si sopir itu mengeluarkan kata-kata kotor, “Anjing Lu!”, “Monyet Lu” … begitulah, hukum di jalanan di keseharian ibukota.

Merasa menjadi penguasa atau yang paling berhak marah jika ruang lingkup seakan-akan menjadi ranah kebanggaannya diusik atau merendahkan adanya. Dan jika terjadi kemudian peristiwa yang menyebabkan orang lain celaka oleh perilaku bus yang kompreng sebenarnya itu — tidak layak angkut muatan di jalanan, karena sudah tua dan belel, rusak sana-sini dan dipaksakan jalan — massa yang memendam geram terhadap kebiasaan barbar bus-bus itu, bergerak cepat dan beringas untuk setidaknya ingin menghakimi sopirnya, bahkan tak jarang menghancurkan bus atau membakarnya.

Seperti menghakimi seorang copet atau maling saja, sosok sopir itu seperti sansak hidup, dan tak ada dari sekian yang berkerumun satu pun membelanya. Begitulah revolusi sosial dan kejahatan yang berdenyut dalam lagu keseharian ibukota yang sumpek penuh dengan macam-macam tabiat dan perangai. Kemiskinan nyata menjadikan latar kecemburuan sosial dan lantas menjadikan ambisi-ambisi yang kamuflase. Sekedar ingin pula memiliki tempat atau dianggap : waahh hebat ya, sopir itu! wahh gila benar sopir itu! lantas seakan-akan puji-pujian yang seperti itu menempatkan mereka seolah raja-raja kecil yang punya otoritas. Begitulah, debu-debu kota yang bertarung melawan bising, tapi lupa saling berebut: kapan mengendap!

 

 

12 Comments to "Debu-debu Ibukota"

  1. HennieTriana Oberst  6 February, 2016 at 17:05

    Menyedihkan. Didikan dari keluarga masing-masing menggambarkan perilaku seseorang.

  2. djasMerahputih  6 February, 2016 at 15:23

    Nah, tu dia bang James. Konsistensi dan keberlanjutan masih langka. Ganti penguasa ganti kebijakan. Mungkin sebaiknya kita balik ke jaman kerajaan, penguasa seumur hidup… (wadoh..!)

  3. James  6 February, 2016 at 15:10

    bang Djas, nanti kalau sudah saatnya Ahok diganti di jamin akan langsung amburadul lagi Jakarta, contoh nyata saja sewaktu Ali Sadikin Jakarta Tertib begitu bang Ali diganti kan langsung Betawi amburadul acak adut

  4. James  6 February, 2016 at 15:07

    memandang foto diatas persis seperti gerombolan semut yang sedang mengalami kemacetan lalu lintas, ternyata gerombolan manusia ibukota

  5. EA.Inakawa  6 February, 2016 at 11:44

    inilah sebuah Fenomena mental bangsa kita yang mengaku berbangsa,ber-agama…..kita sering miris melihat hal hal kecil saja bisa menjadi pemicu pertumpahan darah, mau berlindung dengan Polisi payahhhhh, mau mengadu ke Menteri Agama, menterinya terpidana, mau melapor ke DPR anggota dewan nya juga sama kelakuannya, dehidrasi moral, mudah mudahan pendapat ini salah

  6. djasMerahputih  6 February, 2016 at 07:38

    Telat nih bang James,
    Kalo kemiskinan adalah bapaknya kejahatan maka kesenjangan adalah ibunya. Kesetaraan dan pemerataan adalah cakrawala…
    Kita berjalan menyimpang jauh dari konsep bung Hatta, Ekonomi Kerakyatan..

    Saat sopir metro nyetir yang terbayang hanya setoran. Ya wajar toh, mereka pun berjuang untuk keluarganya. Benahi dulu sistemnya. Langkah maju sdh dimulai Ahok membenahi sistem transportasi Jakarta. Tinggal menunggu konsistensi dan keberlanjutannya saja.

  7. Alvina VB  6 February, 2016 at 06:14

    Hadir….bukan debu-debu ibukota….he..he…
    Perilaku semua di jalanan, kembali lagi dimulai dari rumah, dari masa kecilnya gak dididik tertib sama org tuanya, kebawa sampe dewasa dan jadi begitu itu perilakunya di jlnan, ugal2an gak keruan macem.

  8. Lani  6 February, 2016 at 05:19

    James: mahalo ini mencungul kenthir dr Kona…….lagi sibuk nih

  9. James  6 February, 2016 at 04:10

    He he he masih sepi lah cuma ada debu doang……halo lagi

  10. James  5 February, 2016 at 15:35

    1……sabar tunggu para Kenthirs sampai tiba disini meskipun kena debu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.