Dunia Izza (2)

Wesiati Setyaningsih

 

Masuk ke sekolah baru, pasti diiringi dengan perubahan fisik. Dulu kecil, sekarang sudah makin besar. Dulu itik buruk rupa, sekarang mulai jadi angsa yang rupawan. Izza juga begitu. Waktu SD dia gemuk, pipinya bikin gemas. Waktu masuk SMP dia jadi langsing, tinggi, pipi gembulnya hilang, hingga hidungnya mulai nongol. Kulitnya tidak terlalu hitam meski juga tidak putih bersih. Tapi lumayan pantas untuk disebut cantik.

Tak heran kalau dulu dia sering dinakali teman-teman lakinya, justru sekarang kakak kelas laki mulai menghubunginya lewat line atau BBM. Di sekolah dengan banyak kelas seperti sekarang, menjadi bahan pembicaraan menandakan dia anak populer. Kalau dibicarakan untuk hal yang baik, itu menyenangkan. Kalau dibicarakan untuk hal yang dia tidak senang, bisa menjengkelkan. Padahal orang tidak mungkin mau diatur untuk membicarakan hal yang baik-baik saja.

Yang menjengkelkan mulai muncul ketika Izza mengenakan kaos dengan bahan tipis dan nempel ke badan. Bukan salah dia kalau payudaranya lebih besar dari teman-temannya. Bukan salah dia kalau anak laki-laki mulai melotot ke bagian itu. Tapi dilihat dari sisi fisik itu menjengkelkan kalau caranya tidak elegan.

Ketika teman laki-laki tertawa-tawa melihat dia latihan bernyanyi dan dadanya naik turun, dia kesal. Pulang sekolah dia cerita sama Mamanya sambil nangis-nangis. Hidup ini memang tak adil. Bukan salah dia punya fisik seperti itu. Tapi anak laki-laki tertawa-tawa dari balkon kelas atas sambil menonton dia yang sedang latihan menyanyi di lapangan upacara.

Mamanya bilang, laporkan BK saja.

Kesal luar biasa, Izza berketetapan hati besoknya menghadap BK saat istirahat. Paginya, ditemani temannya, Izza menghadap BK melaporkan anak laki-laki yang mentertawakan dia hari sebelumnya. Salah satu yang selalu menjadi biang kerok dipanggil. Di hadapan BK dia ditanya, kenapa dia mentertawakan Izza. Ternyata anak laki itu menghindar dan bermanis-manis bahwa dia tak mungkin melakukan itu pada Izza yang teman baiknya.

“Teman baik dari mana?” rutuk Izza kesal di depan Mamanya. “Tiap hari kerjaannya ngeledek, kok baik.”

“Yah, kamu memang harus belajar menghadapi kaya gini. Orang bisa aja membalik kata-kata. Menyebalkan, memang. Tapi kamu nggak bisa apa-apa. Satu-satunya jalan, jangan pernah dekat-dekat orang kaya gitu lagi.”

Izza mengangguk. Dia belajar satu hal lagi. Mulut orang bisa begitu busuknya.

Hari itu ternyata ada pelajaran IPS. Pak guru yang sudah menjelaskan semua materi yang mesti disampaikan hari itu masih punya waktu sedikit. Jadi dia memutarkan video yang dia download dari youtube. Izza sudah senang hingga dia tahu ternyata itu video tentang siksa kubur!

Kurikulum 2013 menyarankan guru menyentuh materi mapel lain dalam mengajar dan pak Guru pelajaran IPS memilih untuk menghubungkan dengan pelajaran agama Islam. Beliau pernah membuat Izza bingung di mana Mama dan Ayahnya menanam ari-arinya. Pulang-pulang dia ribut bertanya.

“Ditanam di halaman rumah Uti. Kenapa, memangnya?” Mamanya balik bertanya.

“Itu kan syirik. Kata pak guru gitu.”

“Guru agamamu bilang gitu?”

“Bukan, guru IPS.”

“Kok bisa?”

“Soalnya katanya kalo ditanam di halaman itu nanti dikasi lampu dan ditaburi bunga. Itu syirik.”

“Syirik dari mana? Enggak ada yang nyembah-nyembah, kok. Dikasi lampu itu biar kalau ada hewan ndeketin lalu ngaduk-ngaduk, bisa ketauan. Bisa aja ada anjing yang bau amis-amis lalu garuk-garuk tanah, lantas itu diambil, dimakan. Nah, bunga ditaburkan biar menyamarkan baunya.”

Izza mengangguk mengerti. Dia kini paham bahwa guru tidak selalu benar karena bisa saja berbeda pendapat dengan orang tuanya. Maka ketika gurunya memutarkan video siksa kubur, dia tertawa-tawa dalam hati.

“Kali kalo lagi nggak ada kerjaan dia donlot video gituan,” lapornya pada Mamanya.

Usai pelajaran, ternyata ada peringatan Maulud Nabi. Dia bergegas ke rumah Uti karena dekat dengan sekolah untuk mengambil kerudung. Semua anak perempuan muslim diwajibkan memakai kerudung di acara ini. Sampai di sekolah, teman-temannya surprise. Dia kelihatan cantik dengan kerudungnya, kata mereka.

Tak kurang guru agama Islam mendekati dia.

“Kamu cantik lo, pake kerudung begini. Pak guru menunggu kamu pake kerudung tiap hari.”

Pak Guru laki-laki yang masih muda dan belum menikah ini ditimpali teman-teman perempuan Izza yang lain.

“Iya, kamu pake jilbab aja,” kata mereka.

selfcontrol

Izza diam sejenak. Lalu menggeleng. Meski di kelas tinggal dua anak yang tidak memakai jilbab, dia belum ingin memakai. Apalagi,

“Aku nggak boleh Mama pake jilbab.”

Teman-temannya heran mendengar ini.

“Kenapa?” tanya mereka bingung. “Kan Mama kamu pake jilbab juga.”

“Kata Mamaku, aku nggak boleh pake jilbab kalo Cuma ikut-ikutan. Apalagi disuruh orang. Aku bolehnya pake jilbab kalo memang aku sudah ingin. Harus benar-benar dengan hati. Kalo enggak, ya enggak boleh.”

Teman-temannya terdiam, merenung, seolah mulai mencari apakah mereka memakai jilbab dengan hati, atau tidak.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Dunia Izza (2)"

  1. Wesiati  11 February, 2016 at 12:20

    JC lha mbuh…

  2. J C  11 February, 2016 at 11:35

    Wesi, komentarku kenapa sekarang semakin banyak golongan yang sangat mementingkan KEMASAN yo?

  3. EA.Inakawa  9 February, 2016 at 14:18

    Begitulah anak, mereka akan menjadi SIAPA akan bermula dari rumahnya,nasihat ibu & ayahnya,saudara kandungnya,saudara sepupu dan sewalinya,om & tantenya, semua bermula & kembali dari RUMAH kecil dimana iya dididik dengan BAIK & BENAR, sebuah Rumah dengan fondasi yang bermoral,bertatakrama, apapun agamanya tidak ada masalah.

  4. Lani  8 February, 2016 at 07:36

    BAW : mahalo ucapannya………..tp mana kadonya???? Klu udah ngucapin selamat kurang lengkap tanpa kado………..kkk

    James: ah ndak percaya klu kamu spt gajah bunting…………jangan2 malah kurus kering hahaha……….spt tiang listrik?

  5. Bayu Winata  7 February, 2016 at 19:33

    mba lani: wedew ada yang ulang tahun, selamat ya mba, semoga diberi kesehatan, keberkahan aamiin

  6. James  7 February, 2016 at 08:47

    mbak Lani, saya semakin sweet atau semakin gembrot kaya gajah bunting dong

  7. Lani  7 February, 2016 at 01:07

    Wesi: Hah????? dipaksa pakai jilbab???? itu sdh tdk benaaaaaar……..

  8. Lani  7 February, 2016 at 01:06

    James: Klu kamu ke Kona pasti aku showering you with permens………….mau permen apa? Yg pasti semuanya pakai macadamia nuts………….biar kamu semakin sweet ya hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *