Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)

Handoko Widagdo – Solo

 

Catatan khusus:

Berikut adalah tiga buku kontroversial Slamet Muljana. terutama buku tentang Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa yang disebabkan oleh kelompok China Muslim. Buku ini dulu dilarang oleh Orde Baru.

Buku ketiga, yaitu Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa sangat menarik untuk terbit di saat Imlek. Sebab di situ memuat peran Orang China Muslim dalam meruntuhkan Majapahit. Namun buku ini harus dibaca urut dari

(1) Tafsir Nagara Kretagama,

(2) Menuju Puncak Kemegahan, baru

(3) Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa. Monggo kalau mau terbit secara beruntun.

 

puncak kemegahan majapahit

Judul: Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)

Penulis: Slamet Muljana

Tahun Terbit: 2012 (Cetakan VI)

Penerbit: LKIS

Tebal: x + 276

ISBN: 979-8451-35-x

Slamet Muljana menggunakan Negarakretagama sebagai acuan utama dalam membangun sejarah kejayaan Majapahit. Namun demikian Slamet Muljana juga menggunakan sumber-sumber lain, seperti Pararaton, Kidung Panji Wijaya Krama, Kidung Harsa Wijaya, Kidung Sorandaka dan Kidung Rangga Lawe. Slamet Muljana juga menggunakan sumber-sumber prasasti/piagam, khususnya piagam Kudadu. Itulah sebabnya di tiga bab awal buku ini dibahas dalam sebuah bab khusus tentang Negarakretagama dan penulisnya Prapanca. Pembahasan ini membuat posisi Negarakretagama sebagai sumber sejarah menjadi lebih jelas. Sebagai sebuah pujasastra Negarakretagama tidak memuat hal-hal yang memperlemah posisi raja-raja Majapahit dan kerajaan Majapahit itu sendiri (hal. 49).

Negarakretagama adalah sebuah sumber sejarah yang paling lengkap menggambarkan wilayah Majapahit saat jayanya. Untuk memperkuat klaim atas wilayah Majapahit, Slamet Muljana menggunakan cerita-cerita rakyat setempat. Ternyata di banyak empat yang disebutkan oleh Prapanca dalam Negarakretagama terdapat cerita atau nama-nama tempat yang bisa menjadi bukti bahwa Majapahit pernah hadir di sana.

Slamet Muljana menggunakan metode penghilangan sastra pada dokumen Negarakretagama dan kidung-kudung. Selanjutnya Slamet Muljana membandingkan berbaga informasi sejarah yang ada di berbagai sumber tadi. Demikianlah Salmet Muljana menyusun sejarah kejayaan Majapahit yang disampaikan dalam buku ini. Sebagai sebuah pujasastra, Negarakretagama jelas ditulis untuk memuji raja-raja Majapahit. Demikian pula kidung-kidung yang ditulis dengan sastra yang berbalut dengan kepercayaan masyarakat saat itu (Hindu). Slamet Muljana berasumsi bahwa fakta-fakta sejarah dibalut dengan pujasastra dan kepercayaan yang ada pada saat itu. Itulah sebabnya informasi yang ada pada naskah kidung tersebut harus dikeluarkan dulu dari pujasastra dan balutan kepercayaan yang menempel kepadanya.

Kerajaan Majapahit yang gilang-gemilang tidak muncul begitu saja. Sejarah kegemilangan Majapahit tak lepas dari kerajaan-kerajaan sebelumnya, khususnya Singasari. Adalah Raja Kertanegaralah yang mempunyai visi “Cakrawala Mandala” berupaya menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Raja Kertanegara cukup berhasil menyatukan Nusantara termasuk kerajaan di Selat Malaka dan Bali. Selamt Malaka begitu penting dalam perdagangan global saat itu. Bahkan Kertanegara berani membendung ekspansi Mongolia ke Asia Tenggara. Visi memperluas wilayah kerajaan ini berakibat fatal bagi Singasari. Dendam antara keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Arok, yang sama-sama lahir dari Rahim Ken Dedes menjadi perintang dalam upaya menyatukan kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara oleh Kertanegara. Saat Singasari kosong, karena ditinggal tentaranya ke Selat Malaka (misi Pamalayu), Raja Jayakatwang melakukan pemberontakan. Pada saat yang sama Singasari juga menghadapi ancaman dari armada Mongol yang segera akan datang.

Visi Cakrawala Mandala Raja Kertanegara ini adalah Gerakan Nusantara pertama. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Patih Gajahmada bersama Raja Tribhuwana Tunggadewi dan dilanjutkan di era Raja Hayamwuruk adalah Gerakan Nusantara kedua (hal. 248). Gerakan penyatuan Nusantara I yang dijalankan oleh Kertanegara utamanya menggunakan pendekatan damai, yaitu mengawinkan putri Majapahit dengan para raja/sanak raja yang ada di Nusantara (hal. 156). Kekerasan baru dilakukan apabila upaya damai ini ditolak. Sedangkan di era Gajahmada penaklukan lebih banyak dilakukan dengan pedang.

Gerakan Nusantara II ini bisa berhasil setelah Gajah Mada berhasil melakukan konsolidasi di lingkungan keratin Majapahit. Para era Kertarajasa dan Jayanegara, Majapahit muda mengalami banyak pemberontakan. Para tokoh yang dulunya bahu membahu melawan Jayakatwang dan tentara Tartar (Mongol), satu per satu memberontak. Dimulai dengan pemberontakan Rangga Lawe, Lembu Sora, Nambi, Kuti sampai dengan Tanca. Salah satu alasan pemberontakan ini adalah karena politik adu domba yang dilakukan oleh tokoh yang bernama Mahamati. (Slamet Muljana) mengajukan argument bahwa tokoh ini bukanlah tokoh dongeng, seperti diduga oleh beberapa ahli. Tokoh ini juga bukan Patih Nambi, karena Nambi sendiri menjadi korban politik adu domba ini. Slamet Muljana lebih memilih Patih Halayudha yang menjabat sebagai patih menggantikan Nambi.)

Konsolidasi ke dalam membuat kekuatan Majapahit bisa dipakai oleh Gajah Mada untuk melaksanakan Sumpah Nusantaranya, yatu menyatukan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. Setidaknya (menurut Negarakretagama) wilayah Majamahit membentang dari Semenanjung Melayu sampai Pulau Seram. Kehadiran Majapahit di wilayah-wilayah yang disebut dalam Negarakretagama dibuktikan dengan bukti lokal berupa cerita rakyat, kisah-kisah dan nama-nama tempat.

Namun Gajah Mada tersandung ambisinya sendiri untuk menyatukan Nusantara. Saat berupaya menundukkan Pasundan, Gajah Mada dianggap melakukan kesalahan. Yaitu menimbulkan perang Bubat yang berakibat pada tewasnya Dyah Pitaloka yang akan dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Akibat dari gagalnya pernikahan ini membuat Hayam Wuruk menjadi sedih dan akhirnya meninggal. Akibatnya Gajah Mada diberhentikan sebagai Mahapatih Amangkubhumi dan amukti palapa.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

9 Comments to "Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)"

  1. Lani  11 February, 2016 at 12:27

    Hand : moga2 menjadi kenyataan kedepannya Indonesia modern titisan zaman Majapahit

  2. Handoko Widagdo  11 February, 2016 at 12:25

    Mimpi tentang kembalinya kejayaan Majapahit sudah ada sejak jaman Majapahit surut. Ramalan bahwa keturunan raja-raja Mataram Hindulah yang akan memerintah menyebabkan keturunan Girindrawardhana melarikan diri ke arah barat (ke Gunung Lawu) untuk mencari kembali akar mereka di Pengging. Itulah sebabnya ada Candi Sukuh dan Candi Cetho di lereng Lawu. Sukarno mengidentifikasikan Indonesia modern sebagai penjelmaan ulang Majapahit.

  3. J C  11 February, 2016 at 11:34

    Pak Hand, akankah kejayaan Majapahit kembali lagi? Apakah sudah pernah membaca trilogi SABDA PALON?

  4. Handoko Widagdo  10 February, 2016 at 11:04

    Avy, Majapahit menjadi sangat penting bagi NKRI karena wilayah Majapahit yang disebut sebagai Nusantara adalah wilayah yang sekarang menjadi Indonesia.

  5. James  6 February, 2016 at 15:02

    bang Djas, memerankan James Petruk saja….

    Ci Lani, kemegahan setia hadir di Baltyra, komen di Baltyra, megah pekerja rajin semua, orang santun semua….ha ha ha kan numplek kemegahannya tuh, itu juga belum komplit

  6. djasMerahputih  6 February, 2016 at 08:01

    Hadir bang James…
    Setuju usulan mba Avy. Bang James mau memerankan siapa?

  7. Lani  6 February, 2016 at 05:14

    James: kemegahan para kenthirs??? Megahnya disisi mananya?

  8. Alvina VB  6 February, 2016 at 04:10

    Cerita kerajaan Majapahit gak akan ada habis2nya Han… coba dibikin drama berseri sekalian dah…, dari pada sinetron yg gak genah di RI saat ini.

  9. James  5 February, 2016 at 15:27

    1……menuju kemegahan Para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *