Beri Jalan Orang Cina

Redaksi BALTYRA.com

 

Note Redaksi:

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2016 Tahun Monyet Api ini, ada tulisan lama dari almarhum Gus Dur yang luar biasa!

 

Oleh: Abdurrahman Wahid
Sumber: Majalah Editor, 21 April 1990

Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, ‘jalan buntu’ itu ternyata tidak membawakan alternatif yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.

Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata tidak membawa keberuntungan. Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak faktor kemiskinan.

Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita. Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka, dengan memanfaatkan satu-satunya ‘jalur kolektif’ yang masih terbuka: bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah ‘sasaran kolektif’ mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan.

Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh ‘posisi kolektif’ mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka. Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina, seperti semakin banyak terbukti saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun mayoritas.

Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan?

Jawabnya, menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina, karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: “Sampean waras?” Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama. Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan yang diajukan: “Sampean apa sudah cia?” alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

“Keanehan” seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh mengganggu keserasian hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga ‘keanehan’ suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian sebagai satuan etnis – padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan “menyatukan dengan orang Cina”. Akan banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai “orang sendiri”. Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan kehadiran mereka.
Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin.

Mengapakah hal itu menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak.

 

 

9 Comments to "Beri Jalan Orang Cina"

  1. Linda Cheang  27 February, 2016 at 08:43

    yang jelas saya suka Gus Dur tetap gunakan kata CINA.

  2. J C  11 February, 2016 at 11:35

    Hormat dan salut saya kepada Gus Dur!

  3. djasMerahputih  10 February, 2016 at 09:06

    Gus Dur menjabat presiden dalam waktu singkat tapi signifikan.
    Sayang keterbatasan fisik beliau sedikit mengurangi greget perubahan yang ingin dilakukan. Banyak belajar dari Beliau. Artikelnya keren….!!

  4. Lani  10 February, 2016 at 08:09

    James: mahalo sdh diingat dan ucapan Imleknya, wlu aku tdk merayakan, dan di Kona sepi2 aja krn mmg tdk ada komunitas orang Tionghoa.

    Ki Lurah: menurutku apapun rasnya, warna kulitnya, bahasa, dan agamanya dll klu mrk lahir, besar ditanah nusantara mrk adalah orang Indonesia, jd tdk ada itu istilah pribumi dan nonpri, hrs dihapuskan krn istilah itu hanya akan menimbulkan kesenjangan diantara mereka, krn mrk yg disebut nonpri merasa tdk pernah ditrima ditanah dimana mrk dilahirkan, merasa dibedakan dgn mrk yg menyebutnya pribumi/penduduk asli, klu boleh bertanya yg asli 100% yang mana?

    Klu mrk bs disatukan, bersatu, Indonesia akan menjadi Negara besar dan kuat di sel Asia raya krn perbedaan tdk utk saling memecah belah akan ttp utk saling melengkapi dan menjadi kuat bersama. Akuuuuuuuuuuur??????

  5. Dj. 813  9 February, 2016 at 21:05

    Terimakasih untuk share nya .
    Menurut Dj. yang sejak kecil akrab dengan keluarga Chna .
    Dj. melihat senndiiri, bahwa mereka sangat rajin untuk bekerja dan irit dalam pengeluaran .
    Menabung atau menyisihkan sebahagian besar harta mereka .
    KKalau orang China punya uang Rp. 1,- dan dia lihat harga barang juga Rp. 1,-
    Tidak mungkin mereka beli .
    Kalau dia punya Rp 3,- dia akan mikir 3X dan kemungkinan juga tidak beli .
    Kalau sudah punya Rp. 10 dan harga barang masih Rp. 1,- mungkin dia akan sayang untuk beli .
    tapi orang J awa , punya uang Rp. 1,- harga barang Rp 5,-
    Past akan dibeli, walau yang Rp. 4;- Utang .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !

    Itu perbedaan nya, jadi jangan disalahkan orang China, kalau mereka kaya .
    Salahkan diri sendiri, mengapa tidak menghemat .

    Terimakasih dan salam,

  6. Dewi Aichi  9 February, 2016 at 19:53

    Setuju..

  7. donald  9 February, 2016 at 16:50

    Setuju. Btw, Happy Sincia!

  8. EA.Inakawa  9 February, 2016 at 15:09

    Gus Dur sang Bapak Bangsa yang membedah batasan sektarianisme yang kebijakannya kita Nikmati sampai saat ini khususnya dikalangan kaum Tionghoa, semoga Tuhan memberi tempat yang layak baginya.

  9. James  9 February, 2016 at 14:44

    1…..yang jelas nyata kan sekarang Jakarta ada perubahan besar kan ? karena Gubernurnya Tionghoa, coba kalau Gubernurnya Cina

    halo para Kenthirs Khung Huey Fat Choy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.