Hujan, Imlek dan Tukang Becak

Tatang Mahardika

 

Dengan nada suara agak saya tinggikan, saya balik bertanya ke Pak Tukang Becak di depan saya, “Lha sampeyan mintanya berapa?”

Subuh menjelang. Hujan tak henti mengguyur dan Pak Tukang Becak itu satu-satunya yang tersisa di depan pintu masuk terminal tempat saya turun dari bis. Saya curiga dia akan “njegol” alias memasang harga seenak perut.

“Dua puluh ribu ya, Mas,” katanya. Mulutnya tampak sedikit bergetar. Mungkin menahan dingin.
Seraya mengangguk lemah saya mengiyakan. Sejujurnya saya kaget. Lebih tepatnya malu. Duh Gusti betapa mudahnya saya berprasangka.

Padahal, seandainya dia memasang tarif 50 ribu pun saya tak akan kuasa menolak. Rumah saya memang tidak bisa dibilang jauh dari terminal. Tapi tetap jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi di tengah guyuran hujan begini.

Saya pun naik ke becak motor (bentor). Ditutupi plastik di bagian depan. Dia menyetir, dengan mengenakan jas hujan.

“Saya lewatkan ke dalam terminal saja ya, Màs. Kalau lewat pos polisi itu nanti saya dikejar,” katanya.

Polisi belakangan memang rajin merazia bentor. Saya tak ingat persis peraturannya. Tapi sepertinya karena bentor dianggap kendaraan yang tak jelas jenis kelaminnya.

Bentor melaju dan Pak Tukang Becak itu nyaris tak putus bicara. Tentang anaknya yang jadi tentara dan bertugas di Aceh. Tentang istrinya yang tadi pagi dia antarkan berobat. Juga tentang arisan sebesar 30 ribu yang harus dia bayar keesokan harinya.

“Biasanya saya narik cuma pas siang. Tapi, siang tadi tak ada penumpang sama sekali,” tuturnya.

Tak ada nada keluhan di sana. Bahkan terdengar ceria. Sesekali dia bersenandung kecil.

“Maaf Mas saya ngomong terus. Biar nggak ngantuk,” katanya.
“Oh nggak apa-apa, Pak,” jawab saya.
“Tapi saya senang malam Ini. Sudah dapat 80 ribu,” katanya lagi.

Alhamdulillah. Tiba-tiba saya ikut senang di dalam hati. Saya teringat besok imlek. Orang Tionghoa percaya hujan di sekitaran perayaan tahun baru mereka itu adalah pertanda kelancaran rezeki.

“Padahal saya tak pernah njegol orang,” katanya lagi.

Duh, saya serasa ditempeleng. Apalagi pelan-pelan saya dengar dia bersenandung, “La Illa ha Illalah…

Sebagaimana saya yakin dia tidak bermaksud menyindir soal njegol tadi, saya juga yakin dia tidak bermaksud mengantarkan saya “pulang” sembari membawa prasangka yang belum saya mintakan maaf. Tiba-tiba saya merasa sumuk di tengah guyuran hujan.

Bentor pun memasuki kompleks perumahan. “Saya kalau lagi seneng ya begini. Nggak ada capeknya,” katanya.

Dia mengaku terakhir makan siang hari tadi. Sepanjang malam itu perutnya hanya diganjal dua gelas kopi.

“Tadi itu saya mau makan, tapi kalau malam gini makanan mahal-mahal. Nasi goreng saja 7 ribu atau 8 ribu.

Mending saya tahan sampai pagi, ada warung langganan nasi lodeh cuma 5 ribu

“Hati-hati masuk angin, Pak,” kata saya berbasa-basi.
“Ah ndak, Mas. Asalkan hati seneng nggak akan sakit,” jawabnya.

Saya merogoh saku, lalu melihat dompet. Di luar 20 ribu buat ongkos, hanya ada 3 ribu di saku dan 2 ribu di dompet.

Saya ingin memberi dia lebihan. Entah untuk alasan apa, yang pasti bukan karena kasihan.

Bentor pun berhenti di depan rumah. “Alhamdulillah (sampeyan) punya rumah bagus,” katanya sembari membuka tutup plastik.

Tentu saja itu berlebihan. Rumah saya termasuk paling standar di antara deret satu gang. Tiap kali hujan sangat deras saya selalu mencemaskan bocor di bagian dapur dan kamar depan.

Tapi saya tak hendak menyanggahnya. Ongkos saya berikan dengan tambahan 5 ribu. Pak Tukang Becak berlalu setelah berkali-kali berterima kasih.

Saya masuk ke rumah dan menjerang air. Sembari duduk di kursi di garasi untuk menyesap kopi, saya baru sadar, Pak Tukang Becak tadi mungkin tidak bermaksud memuji. Dia justru mengingatkan saya untuk belajar bersyukur.
Di luar, hujan terus mengguyur. Imlek akan segera datang. Saya membayangkan Pak Tukang Becak tadi kembali bersenandung. Saya yakin dia berbahagia. Setidaknya di Subuh yang basah itu.

 

 

About Tatang Mahardika

Seorang 'juru tulis berita' alias wartawan salah satu harian besar di Jawa Timur ini gemar melanglang buana melihat keindahan dunia dan membagi foto-foto dan tulisan perjalanannya melalui BALTYRA.com

Arsip Artikel

11 Comments to "Hujan, Imlek dan Tukang Becak"

  1. J C  11 February, 2016 at 11:36

    Sangat menyentuh dan apik!

  2. EA.Inakawa  10 February, 2016 at 17:49

    Mbak Dewi : setujulah kalau sependapat ehehehe , kita kan biasa hidup diluar ya,kadang kadang hal hal kecil yg kita lakukan tetapi tulus sering berbalas kembali dengan kebaikan, contoh nich sebuah pengalaman nyata : saya pernah menolong orang disebuah perjalanan luar kota Kinshasa, ban mobilnya bocor, karena perjalanan panjang saya selalu membawa 2 bh ban serap & 30 ltr solar,lalu saya tolonglah orang Congolaise tsb…..singkat cerita, 1 tahun setelah kisah tersebut saya punya masalah di Airport N’djili,Visa Return saya habis masa berlakunya ( di Kinshasa berlaku 3 Visa : 1.Visa Kerja Orang Asing – Visa Izin tinggal – Visa Return/keluar masuk negara ) disaat saya berdebat kusir dengan pejabat Imigrasi tiba tiba seseorang menegur saya,ternyata orang tersebut adalah orang yang pernah saya tolong ketika ban mobilnya bocor ditengah hutan 1 tahun yg lalu, dia masih mengingat saya, dan dia ternyata bekerja di Goverment Imigrasi Airport, atas nama kebaikan/empati yg pernah saya lakukan diapun membalas kebaikan tsb dengan membantu saya memperpanjang Visa Return tsb. Di Kinshasa ini lucu ketika kita lupa mengurus Visa return tsb maka akan menggugurkan Visa kerja yg berlaku. Nasib baik masih setia menemani saya, selamatlah saya ….. semua itu hanya oleh sebuah rasa yang selalu saya pelihara namanya “ EMPATI “ luar biasaaaa

  3. djasMerahputih  10 February, 2016 at 09:01

    Tukang Bentor yang baik hati…
    Kisah yang menyentuh. Thanks sharingnya mas Tatang…

  4. Lani  10 February, 2016 at 07:57

    James: mahalo……selamat merayakan Imlek klu merayakan klu tdk ya dihapus saja…………

    Crita yg bagus menyentuh dan sekalian mengingatkan bhw msh banyak orang lain yg tdk beruntung dibanding diri kita

  5. Bayu Winata  9 February, 2016 at 22:49

    top!

  6. Dj. 813  9 February, 2016 at 20:44

    Bung Tatang Mahardika . . .
    Terimakasih untuk cerita yang mengharukan . . .
    Ingatan Dj. jadi kembali dimasa kecil, jaman SMP . . .
    Naik becak bersama adik dan tukang becaknya bernapas sesak ( maklum orang tua )
    Lalu kami minta agar si bapak istirahat didalam becak, Dj. yang genjot dan adik Dj. dorong dari belakang .
    Pertama pak tukang becaknya kaget, tapi Dj. jelaskan dan dia malah tertawa .

    Okay, salamt berkarya .
    Dan salam sejahtera dari Mainz .

  7. Dewi Aichi  9 February, 2016 at 19:55

    Sependapat dengan Pak EA Inakawa…”empati”

  8. donald  9 February, 2016 at 16:52

    Selamat Tahun Baru Imlek!

  9. EA.Inakawa  9 February, 2016 at 15:00

    kadang kadang empati itu muncul dari komunikasi , syukurlah masih ada penumpang yang baik hati , yang mau memberi lebih dan lebih lagiiiiiii, sadakah !

  10. James  9 February, 2016 at 14:33

    1…..Sin Nien Kwai Le juga termasuk untuk para Kenthirs yang ikut merayakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.