Riuh Rendah Cu Lak di Kota Bengkalis

Bayu Amde Winata

 

“Ratatatatata, ratatatatata,” rentetan ledakan di kiri saya membuat telinga menjadi berdenging. Bunyi ini semakin bergaung karena adanya ruko yang berada di sebelah kiri kanan saya. Jika pernah menonton film Black Hawk Down, didalam salah satu scene film besutan Ridley Scott, Kapten Steele, salah seorang komandan perang yang berasal dari US Ranger, tiba-tiba menjadi tuli sementara karena suara dentuman roket. Kondisi saya sekarang hampir sama. Tenang, saya tidak sedang berada pada medan perang. Saya sedang berada di sebuah ritual yang berlangsung setiap hari keenam bulan Pertama dalam Kalender Cina. Dan suara ledakan ledakan  ini berasal dari suara mercun yang merupakan bagian dari ritual.

Klenteng ini bernama klenteng Hok An Kiong. Klenteng ini berdiri sejak tahun 1828 di Kota Bengkalis, Riau

Klenteng ini bernama klenteng Hok An Kiong. Klenteng ini berdiri sejak tahun 1828 di Kota Bengkalis, Riau

Umat yang tengah melakukan sembahyang di Klenteng Hook An Kiong

Umat yang tengah melakukan sembahyang di Klenteng Hok An Kiong

Dewa-dewa yang tinggal di klenteng Hook An Kiong. Sebelum upacara dilaksanakan, dibersihkan terlebih dahulu

Dewa-dewa yang tinggal di klenteng Hok An Kiong. Sebelum upacara dilaksanakan, dibersihkan terlebih dahulu

Di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, enam hari setelah Imlek, akan berlangsung sebuah ritual. Ritual ini merupakan peringatan hari ulang tahun dari Dewa Ching Cui Cho Se. Dewa ini adalah dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Quan Zhou, Cina. Panggilan akrab dewa ini  adalah Zu Shi Gong, dalam dialek Hok Kian, disebut dengan Co Su Kong. Terdapat pula berbagai sebutan kehormatan untuknya, seperti Qing Shui Yan Zu Shi (Guru Besar dari Cadas Air Jernih), Zhao Ying Zu Shi (Guru Besar Zhao Ying), San Dai Zu Shi (Leluhur dari Tiga Keturunan), Luo Bi Zu Shi (Dewa yang Hidungnya Terlepas), dan Hei Mian Zu Shi (Leluhur yang Berwajah Hitam). Dewa Ching Cui Cho Se sering ditampilkan dengan wajah berbeda-beda, kadang berwarna hitam, kuning atau merah. Wajah yang hitam melambangkan kemenangan atas roh-roh jahat yang mengganggunya pada saat bermeditasi di Qing Shui Yan.

Masyarakat memenuhi klenteng Hook An Kiong di malam hari

Masyarakat memenuhi klenteng Hok An Kiong di malam hari

Persediaan Kertas Doa untuk memenuhi permintaan umat

Persediaan Kertas Doa untuk memenuhi permintaan umat

Dewa yang diletakkan di joli untuk kemudian di arak ke wilayah sekitar klenteng

Dewa yang diletakkan di joli untuk kemudian di arak ke wilayah sekitar klenteng

Ritual peringatan hari ulang tahun dewa ini sudah berlangsung sejak hari keempat setelah Imlek. Pada hari keempat, Dewa Ching Cui Cho Se akan dibersihkan, baju kebesarannya akan diganti, meja meja altar akan dipersiapkan, kemudian sesaji-sesaji dari umat silih berganti akan dibawa dan diletakkan pada meja. Perayaan ulang tahun ini berlangsung pada klenteng yang terletak di tengah pasar kota Bengkalis. Klenteng ini bernama klenteng Hook An Kiong. Klenteng yang berdiri sejak tahun 1828 sudah ramai dengan masyarakat Tionghoa Bengkalis saat saya datang. Joli-joli yang merupakan tempat dari dewa-dewa yang nantinya akan diarak mengelilingi Kawasan Pecinan sudah berada pada dinding kanan klenteng yang dicat merah ini.

Malam hari di Klenteng Hok An Kiong, suasana menyambut hari ulang semakin terlihat. Halaman klenteng penuh dengan masyarakat Tionghoa. Mereka ada yang duduk di kursi merah yang sudah disediakan oleh panitia acara dan ada yang berdoa di dalam klenteng. Di halaman depan kleteng yang dipisahkan oleh jalan raya, berbagai kegiatan seperti Barongsai, Liong, dan permainan Tambur dimainkan diatas pentas. Masyarakat Tionghoa Bengkalis menikmati suasana malam itu. Tepat pukul 23.00 WIB, kembang api menghiasi langit kota. Hari keenam atau Cu Lak  sudah masuk.

Joli yang ditempati Ne Zha, membuat pembawa joli kewalahan dengan goyangannya

Joli yang ditempati Ne Zha, membuat pembawa joli kewalahan dengan goyangannya

Tang Kie merupakan orang yang dimasuki oleh dewa

Tang Kie merupakan orang yang dimasuki oleh dewa

Tang Kie sebelum melakukan arak-arakan melakukan ritual di depan Dewa

Tang Kie sebelum melakukan arak-arakan melakukan ritual di depan Dewa

Klenteng Hok An Kiong, kembali penuh dengan para pengunjung pada pagi harinya. Joli yang berisi Dewa Ching Cui Cho Se sudah siap di depan Klenteng. Pada pukul 08.00 WIB, suara tambur tedengar dengan keras dari dalam klenteng. Saya langsung berlari kearah klenteng. Suara tambur ini berasal dari ritual memanggil dewa. Jika pernah melihat acara Cap Go Meh di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Kita akan melihat orang-orang yang mulut, tangan, dan punggungnya penuh dengan paku-paku tajam. Mereka ini adalah salah satu ikon dari Cap Go Meh di kota Singkawang, icon ini dikenal dengan nama Tatung. Pada ritual ulang tahun Dewa Cing Cui Cho Se hal ini juga ada. Masyarakat Tionghoa Bengkalis menyebut mereka  dengan nama  Tang Kie. Tang Kie merupakan orang-orang yang dimasuki oleh dewa. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa Tang Kie bisa membersihkan hal-hal buruk.

Setelah Tang Kie yang berjumlah delapan orang selesai melakukan ritual, arak-arakan dari peringatan ulang tahun Dewa Ching Cui Cho Se pun berlangsung, joli-joli tempat dari dewa mulai diarak. Dari empat joli yang diarak, ada salah satu joli yang terlihat sangat aktraktif. Joli ini membawa Ne Zha, sang penjaga altar tengah. Dalam perjalanan mengelilingi Pecinan, joli yang membawa Ne Zha berkali-kali berganti orang. Mereka kecapean melayani goyangan dan tarikan dari Ne Zha.

Tang Kie pada saat melakukan arak-arakan. Hampir seluruh tubuhnya tertusuk tetapi tidak mengeluarkan darah setetespun

Tang Kie pada saat melakukan arak-arakan. Hampir seluruh tubuhnya tertusuk tetapi tidak mengeluarkan darah setetespun

Tang Kie yang menjadi pemimpin dalam ritual ulang tahun Dewa Ching Cui Cho Se

Tang Kie yang menjadi pemimpin dalam ritual ulang tahun Dewa Ching Cui Cho Se

Tang Kie sedang melakukan doa pada suatu titik di sekitar wilayah kota Bengkalis

Tang Kie sedang melakukan doa pada suatu titik di sekitar wilayah kota Bengkalis

Selama arakan petasan akan dibunyikan di halaman rumah dan ruko gunanya adalah untuk membuang sial

Selama arakan petasan akan dibunyikan di halaman rumah dan ruko gunanya adalah untuk membuang sial

Perjalanan arak-arakan ini di mulai dari jalan Yos Sudarso, melewati beberapa jalan di kota Bengkalis hingga kembali ke jalan Yos Sudarso. Dalam perjalanan sejauh lima kilometer ini, Tang Kie akan berhenti sebentar untuk mendoakan persimpangan-persimpangan pertemuan jalan-jalan ini. Suasana di kiri kanan jalan dari Kota Bengkalis penuh dengan masyarakat. Tionghoa dan Melayu berbaur. Arak-arakan menjadi semakin seru karena ruko-ruko dan rumah yang ada di kiri kanan jalan membakar petasan. Asap mesiu yang terhirup hidung membuat air mata saya mengalir.

“Ramai kan..” ujar salah seorang peserta arak-arakan ini, dengan senyum simpul salah seorang peserta arak-arakan berkata kepada saya, “ya inilah hari raya kami,” ujarnya. Perkataan koko ini saya aminkan di dalam hati “hari raya leluhur saya juga.” Peringatan Ulang Tahun Ching Cui Cho Se merupakan salah satu ritual budaya yang harus didatangi di Provinsi Riau.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Riuh Rendah Cu Lak di Kota Bengkalis"

  1. Bayu Winata  29 February, 2016 at 23:47

    Maaf baru bisa membalas teman-teman

    Mba Lani: Iya mba, Bayu juga mengalami hal yang sama, tapi ya namanya menangkap moment, ga boleh ngeluh hehe

    Mas djasMerahputih: iya, Singkawang jadi destinasi unggulan di saat Imlek, tapi tahun ini juga Pekanbaru masuk ke dalam list agenda Imlek nasional Kementrian Pariwisata mas, senang sekali..

    mas Jc: Suwun mas..

    mba Linda Cheang: iya, pada mudik mba

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *