Bangkrut?

Anwari Doel Arnowo

 

Saya jawab: TIDAK! Tidak sekarang dan juga nanti!!! Hari ini saya membaca email yang masuk dengan judul The Death of Samurai. Isinya memberitakan bagaimana perusahaan di Jepang sedang berjatuhan tumpang tindih menuju kebangkrutan memberitakan bagaimana panik dan resahnya kondisi dunia usaha. Negara manapun, mengalami yang seperti ini akan menjalani situasi yang sama. Sebuah Bank besar yang internasional pada bulan ini atau Maret 2016 sudah merebak akan membuat desas desus akan Pemutusan Hubungan Kerja sebanyak 30.000 karyawannya di seluruh dunia.

bankrupt

Ini sudah pernah terjadi terhadap kalangan perbankan pada tahun 1998 dan juga beberapa tahun kemudian (2008?). Yang menyedihkan adalah angkatan kerja yang usianya 50 tahun ke atas sekarang sudah mencapai angka di atas 50% jumlahmya. ANGKA SEPERTI INI DI NEGARA LAIN TENTUNYA JUGA ADA. Yang berbeda adalah kultur tata cara dan kebiasaan kerja di Jepang adalah selalu mendahulukan, karena menghormati, para senior.

Seorang muda akan merasa tidak pantas bila menaiki jenjang lebih tinggi dari seniornya. Itu sudah biasa sejak orang mengenal tatanan hidup masyarakat Jepang. Contoh kecil di dalam keluarga adalah posisi sang ayah yang amat tinggi dan dominan. Kalaupun sang ayah bukan tipe laki-laki yang menyukai hal seperti inipun, justru malah dia merasa amat kurang patut bila tidak melakukan sesuai pakem yang ada. Kepala keluarga yang laki-laki: ayah, adalah pemegang kunci.

Di dalam keluarga masyarakat di Jepang, Kepala Keluarga sering sekali disebut dengan istilah Danna-San yang konon adalah  kata dari bahasa asal dari India yang artinya DEWA. Seorang anak kalau di”marah”i oleh sang ayah, benar atau salah akan menahan diri sekuat tenaga tidak akan membantah ayahnya, karena diyakini kurang pantas.  Sekian tingginya kejengkelan hatinya karena merasa benar, dia akan diam saja, bila Danna San sedang marah. Sang Ibu juga sering membahasakan bagi cara memanggil ayahnya dengan sebutan Danna juga.

Apa hubungannya ini dengan kebangkrutan perusahaan? Panasonic, Sharp dan Toshiba sedang gonjang ganjing melorot produksinya dan juga kelihatan menurun tajam menyedihkan. Itu sebagai akaibat birokrasi yang lama dalam membuat keputusan karena senior harus sepakat penuh, dan itu memakan waktu. Dalam business tentu saja keputusan business harus cepat dilakukan tanpa perlu menunggu adat istiadat seperti masyarakat Jepang yang begitu.

Tetangganya di sebelah Barat: Korea Selatan adalah raksasa ekonomi yang sedang meroket ke arah yang berlawanan dengan Jepang. Saya pernah melihat kebangkrutan puluhan bahkan lebih dari ratusan pabrik perusahaan tekstil Jepang beberapa puluh tahun yang lalu. Bagaimana kita menyikapi penurunan usaha para industriawan seperti itu?

Indonesia melalui pemerintahnya pastilah harus ikut mencermati model apa yang dipakai menghadapi keruntuhan dunia usaha seperti ini.

Meniru itu bukan jelek, pilih sajalah meniru yang baik. Meniru bukanlah menjiplak, tetapi biasanya membuat penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan kebiasaan setempat yang yidak membuat terjadinya hambatan-hambatan baru yang akan mejadi muncul. Kita bisa menghilangkan kebiasaan “negative“ yang terjadi di Jepang. Kebiasaan yang tidak Indonesia.

Saya melihat dunia biasanya seimbang atau sendirinya menjadi seimbang. Kali ini bilamana industri di Indonesia menjadi tambah melemah maka itu bukan berarti akhir dari segala-galanya. Kebetulan dalam rencana kerja pemerintah sekarang ini, pembangunan infrastruktur secara nasional, maka akan menciptakan lahan kerja baru yang sekian ratus ribu pekerja. Perusahaan-perusahaan industri  yang sponsornya dari Jepang sedang melemah, maka masih ada peluang lapangan kerja di pembangunan Kereta Super Cepat Jakarta Bandung. Terlepas dengan bercelotehnya mulut para pengamat ekonomi, keuangan dan ahli-ahli lain ilmu yang terkait dengan pembangunan ini, jangan terlalu hirau. Kecelakaan? Gempa? Human error atau apapun. Itu semua terjadi di Tiongkok , Prancis dan lain-lain tempat.

Di Tiongkok sudah pernah ada kecelakaan dan malah tidak dipublikasikan. Juga di Prancis dan Jerman. Kita belum membangun sudah terlalu banyak CELOTEH pesimis. Silakan saja, ini Negara bebas kok. Terutama BEBAS BICARA. Bagi saya sendiri? Itu Kereta Cepat akan selesai di bangun akhir 2018 dan akan mulai dioperasikan awal 2019. BAGI SAYA: saya mungkin tidak akan tau, oleh  karena mungkin sekali saya sudah tidak ada di dunia yang sekarang ini. Jadi mungkin saya tidak akan tau. Tetapi bagi saya akan terjadinya peluang bekerja yang baru itu masih menggembirakan juga. Konstruksi jalur ini saja menciptakan lapangan kerja baru dan nafkah halal bagi lebih kurang 40000 pekerja baru.

Yang begini saya anggap sebagai manis-merdunya musik. yang berbunyi adalah musik yang saya sukai. Ada yang saya sukai dan ada yang tidak. Itu biasa. Tetapi hanya mengomel terus menerus itu membosankan penerimaan telinga saya. Anda yang tidak setuju, silakan. Kalau tidak berhasil menghentikan pembangunan Kereta Cepat ini, jangan ngomel lagi, kecewa yang berceloteh negative berkepanjangan. Ingat masa depan, karena hidup kita kan kerkelanjutan sampai anak cucu cicit, kan?

Yang tidak bisa kita ciptakan, kita bangun, kita lestarikan, akan diselesaikan oleh generasi berikutnya. Tidak ada satupun yang sekali jadi dan sempurna seperti impian manusia. Ada kegagalan, itu harus kita lalui dengan sikap positive. Lihatlah bagaimana dibangunnya Tembok China yang panjangnya sekitar 6.300 kilometer (3.915 mil). Bila termasuk bagian yang tidak ada temboknya oleh karena dibangun oleh banyak dinasti yang berlainan maka pajangnya 22.000 kilometer (13.670 mil). Berapakah. Itu adalah dua puluh dua kali  dari panjang Pulau Jawa. Menurut CIA Book of Records panjangnya khatulistiwa adalah 54.000 Kilometer. Bayangkan bangunan sebesar itu pada jamannya hanya dibangun oleh para Raja dan kaisar di Tiongkok. Juga Candi kita Borobudur dan Pyramida di Mesir!!  Itu tidak sekali jadi dan juga tidak terjadi tanpa korban nyawa. Saya harap agar proyek kereta api cepat ini tetap dilanjutkan dengan semangat tinggi. Tidak lupa berhati-hati. Semangat, niat kuat yang setara dengan yang dikumandangkan dengan suara menggeledek dan dijunjung oleh Presiden pertama kita Boeng Karno: Ever Onward, Never Retreat.

 

Anwari Doel Arnowo – 9 Februari 2016

 

 

5 Comments to "Bangkrut?"

  1. EA.Inakawa  12 February, 2016 at 08:52

    Belajar dari sebuah kasus Kebangkrutan saya jadi teringat dengan Yunani,tapi tentu tidak bisa kita sandingkan Yunani dengan Jepang atau Korea Selatan, keduanya berbeda, lalu kita bertanya apakah dikarenakan mereka tidak mampu mengatur ke-uangan negaranya atau terlalu ber-ambisi/selalu tergoda untuk membangun usaha lain sehingga mengabaikan untuk melakukan sebuah strategi yang efektif & efisien, lalu bagaimana dengan Indonesia yang sudah menggali kuburan sendiri buat anak cucu dengan Pinjaman Luar Negri yang semakin menggunung,akankah KITA mengalami kebangkrutan juga disatu hari nanti

  2. James  11 February, 2016 at 14:44

    Bankrupt…..

  3. Handoko Widagdo  11 February, 2016 at 13:21

    Jangan pernah menyerah.

  4. Lani  11 February, 2016 at 12:13

    Hahahaha……..ngakak baca komentar ki Lurah……mmgnya banyak tukang ngarang ya dinegeri ini?

  5. J C  11 February, 2016 at 11:39

    Refleksi luar biasa, pak Anwari! Eh, ngomong-ngomong Borobudur, konon ada yang merasa bahwa Borobudur adalah hasil karya Islam lho…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.