Jangan Cintai Aku

Ida Cholisa

 

“Yakin tak kecewa kalau Mas bertemu aku?” tanyaku.

“Kenapa harus kecewa? Sudah lama aku menginginkan pertemuan denganmu.”

Ia menyudahi pembicaraan setelah meninggalkan satu pesan padaku. Tanggal enam Januari ia akan mendatangiku.

Kulempar handphone ke atas kasur. Lelah seluruh tubuhku. Pekerjaan kantor terasa meremukkan seluruh tulang belulangku. Aku terkapar dalam kelelahan yang amat sangat.

***

Dia akan datang. Sudah kukatakan tak usah datang, tapi ia bersikeras melakukan perkenalan. Taaruf sebelum meminang. Datang mengunjungiku di sela padatnya pekerjaan.

Aku tak bisa menolak. Kubiarkan ia menemuiku, dengan segala resiko yang mungkin akan membuatnya mundur menjauhiku.

“Kau Rati?” Ia menyalamiku.

“Ya, silakan duduk.”

Lelaki itu, Mas Agung, yang selama ini hanya muncul di profil dan chat WA, duduk menelanjangiku. Aku mengenalnya di group WA alumni SMA-ku. Kuketahui kemudian bahwa ia adalah kakak kelasku, delapan tahun di atasku. Ia tak lagi muda. Ia lelaki matang dengan beberapa kilau helai rambut putih di atas kepalanya.

“Aku duda, Rati. Istriku meninggal tiga tahun lalu. Aku datang dengan maksud baik, ingin mengenalmu lebih jauh.”

“Setelah itu?” tanyaku.

“Setelah itu aku akan meminang dan menikahimu. Kudengar suamimu telah meninggal dua tahun lalu.”

“Semudah itu?” aku menukas perkataannya.

“Ya, lelaki seusiaku tak lagi berpikir tentang cinta seperti masa muda, Rati. Aku ingin melanjutkan kehidupan dengan baik. Aku butuh pendamping hidup, aku butuh seorang ibu untuk dua anak remajaku.”

Aku tersenyum kecut.

“Apa yang membuatmu tergerak ingin meminang dan menikahiku?”

Ia memandangku lekat.

“Kau wanita yang baik, Rati. Kau cerdas dan berpendidikan tinggi. Kau juga pandai menulis, itu awal pertama aku terpikat padamu.”

“Selanjutnya?”

“Selanjutnya… aku ingin kau menerima maksud baikku.”

Aku tersenyum.

“Pulanglah, aku beri jawaban tiga hari ke depan.”

 

donotloveme

***

Enam Januari kurasakan jantungku berdetak kencang, lain dari biasanya. Kedatangan lelaki itu menyisakan degub rasa di hatiku. Tapi segera kutepis rasa yang tak kumau itu.

Sembilan Januari ia mengirim pesan, menagih janji. Belum sanggup kuberi jawab, entah mengapa berat lidahku tuk memberi ucap.

Sepuluh Januari, ba’da Isya, ia kembali datang. Dengan wajah yang berkilau tenang, ia menunggu jawaban.

“Rati, jangan buat aku kecewa,” ia membuka suara.

Kelu terasa lidahku, tak mudah kuperdengarkan parau suaraku. Antara ya dan tidak, antara tidak dan ya.

“Aku takut membuatmu kecewa,” keluar juga suaraku, akhirnya.

“Kenapa?”

Ia menunggu jawabku. Aku tertunduk dikepung ragu.

“Aku cancer survivor,” kataku.

“Aku telah tahu,” ia menjawab sembari tajam menatapku.

“Aku hanya memiliki sebelah payudara,” kuberanikan diri mengakui dengan setumpuk nyali.

“Itu pun aku telah tahu.”

“Kemoterapi berefek banyak….”

“Itu pun aku tahu…” Ia memotong kalimatku.

Aku menatapnya. Ia telah tahu semua tentangku, bahkan seolah menangkap seluruh kekhawatiranku.

“Aku menyukai semua keterusteranganmu. Bahkan itu semua semakin menambah keyakinanku. Aku tak salah memilihmu.”

Aku terdiam cukup lama. Kalimat apa lagi yang akan kukatakan padanya. Aku tak ingin menerimanya, tapi tak juga ingin menolaknya…

Lelaki itu bermaksud baik. Ia juga lelaki yang sangat baik.

“Datanglah tiga hari lagi,” kataku.

Ia meninggalkan rumahku. Semburat kecewa melintas di raut wajah nan teduh itu.

***

Tiga belas Januari. Ia kembali datang. Tapi tak banyak kalimat terucap, hanya tatap menunggu jawab.

Kutenangkan diriku. Naluriku mengatakan ia lelaki baik. Tak ada salahnya aku mencoba berdamai dengan rasa khawatirku, dengan menerima ajakan baik lelaki itu. Merajut cinta kembali, melanjutkan kehidupan dalam utuhnya keluarga lagi. Bukankah itu lebih baik?

“Bagaimana, Rati?”

Entah mengapa aku tak sanggup menatap mata lelaki itu…

“Rati…”

Aku mencoba mengangkat kepala. Menatapnya lurus. Hatiku mengatakan ‘ya’…

“Aku tak bisa, Mas.”

Tiba-tiba kalimat itu yang keluar dari mulutku.

Ia terkejut. Tak berusaha meminta penjelasan. Ia bangkit dan pamit pulang.

“Mas….”

Aku berusaha menjelaskan, tetapi lelaki itu telah memasuki mobil dan melesat kencang meninggalkan rumahku….

Aku terduduk lesu. Ingin kukatakan bahwa aku menerima cinta lelaki itu, tapi kekhawatiranku sebagai perempuan tak sempurna membungkam kejujuran hatiku…

Kanker stadium 3 B telah menggerogoti sebagian keperkasaanku. Dokter melakukan radikal masektomi, membuang seluruh payudara kananku hingga yang tertinggal satu payudara kiriku. Pengobatan demi pengobatan kemoterapi berakibat menopause dini padaku, hingga entah mengapa selalu kutepiskan setiap cinta yang datang dalam kesunyianku.

 

 

4 Comments to "Jangan Cintai Aku"

  1. EA.Inakawa  15 February, 2016 at 19:02

    Rati hanya menghindar disebabkan merasa tidak bisa memberikan sebuah kesempurnaan HAK nya pria, karena Payudara itu sama dengan obat penenang yang bisa menenangkan

  2. Dj. 813  11 February, 2016 at 19:05

    Okay . . .
    Dj. tidak akan mencintai anda . . .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

  3. James  11 February, 2016 at 14:50

    artikel pendek namun menggugah hati

  4. J C  11 February, 2016 at 11:38

    Jadi inget lagunya Taylor Dayne: “Love will lead you back”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.