‘Jingga’, Gus Dur, Helen Keller

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

FILM ‘Jingga’ (2016) karya terbaru sutradara Lola Amaria menjadi film Indonesia pertama yang mengangkat drama kehidupan kaum disabilitas penyandang tuna netra secara utuh. Diluncurkan tanggal 25 Feb 2016, film ini untuk menggugah kepekaan kita terhadap eksesibilitas kaum disabilitas dengan lingkungan sekitar. Menjadi tuna netra (tunet) bukan akhir segalanya. Gus Dur menjadi ‘role model’ Jingga, tokoh utama yang tuna netra dalam film ini. Semua lokasi syuting di lakukan di Bandung. Pusat rehabilitasi kaum disabilitas kota Bandung pernah dikunjungi dan dikagumi sang The Miracle, yang juga tokoh kaum disabilitas dan seleb tuna netra dan tuna rungu dunia: Helen Keller.

Film ini berdasarkan fakta dan realitas lalu dikemas dan meromantisasikan ke dalam drama  kaum tuna netra. Ada empat tokoh utama dalam film ini dan semuanya tuna netra: Jingga, Nila, Marun dan Magenta. Ada warna-warni dalam kegelapan.

JINGGA Baltyra

 

TANGGAL 25 Februari 2016 bisa jadi catatan tersendiri dunia perfilman Indonesia. Hari itu, film ‘Jingga’ (2016) karya terbaru sutradara Lola Amaria di putar di seluruh bioskop Indonesia. Film berdurasi 110 menit ini menjadi film pertama berkisah drama kehidupan secara utuh tentang kaum disabilitas yaitu penyandang tuna netra. Mereka yang belum pernah masuk ke dunia tuna netra (tunet), sebaiknya menonton film ini.

Keempat tokoh utama film ini berakting bagus, meski semuanya pendatang baru dan bukan tunet. Bahkan pemeran Nila (Hany Valery) baru pertama kali bermain film. Sutradara Lola Amaria sengaja memilih newcomer agar terlihat nyata sebagai tunet. Dibanding memilih pemeran ternama yang sudah dikenal masyarakat yang berakting prima seperti tunet.

Ide cerita ini sangat sederhana yang ditulis Gunawan Raharja dan Lola Amaria (merangkap sutradara dan produser). Kisah kaum tunet dituturkan dengan alur yang fokus ke masalah A to Z penyandang tunet. Namun tersirat banyak pesan didalamnya yang dijejali dalam struktur cerita tanpa terasa sesak, melelahkan dan tak fokus.

Jingga (diperankan Hifzane Bob) dikisahkan berasal dari keluarga menengah yang mengalami kebutaan sejak di bangku SLTA karena sebelumnya menderita low vision akibat kelainan pada syaraf matanya sejak usia 7 bulan. Orang tua Jingga, terutama sang ayah Ireng (Ray Sahetapy) tak bisa menerima kenyataan anaknya tunet. Penyebab Jingga jadi buta total divisualkan sangat sepintas. Seolah mempercepat kebutaan Jingga  karena matanya terkena salah pukul temannya di sekolah.

Konflik antara Ireng dan Fusia (Keke Suryokusumo) sebagai ibu Jingga menjadi awal cerita film ini dibangun. Pertengkaran mereka berdua di awal film digambarkan lumrah yang dialami semua orang tua di ujung dunia manapun.

“Papa macam apa kamu?”, teriak Fusia menghardik Ireng yang menolak anaknya tuna netra.

Tetapi karakter ayah dan ibu yang saling berseberangan itu dibangun untuk saling mengisi. Memang demikian dalam dunia nyata. Ada pro dan kontra.

 

Gus Dur

Dari awal hingga pertengahan film produksi Lola Amaria Productions ini, emosi penonton digiring dalam tekanan yang berat seperti dialami Jingga. Sama halnya dalam dunia nyata yang juga dialami setiap manusia ketika mengalami perubahan fantastis yang sulit dibayangkan: tidak bisa melihat. Hingga akhirnya Jingga bangkit karena dukungan sang ibu, Violet (adik Jingga) dan – akhirnya – sang ayah. Di sekolah khusus penyandang tunet, Jingga bangkit menemukan dunia baru tanpa cahaya tapi menambah cakrawala.  Jingga dibimbing Pak Kirmizi. Dia seorang konselor tuna netra yang juga tunet. Baginya menjadi tunet sebuah pilihan sulit yang harus diterima. Apalagi Jingga sebelumnya pernah merasakan terangnya cahaya mentari.

“Malah dulu ada Gus Dur. Siapa tak kenal dia. Presiden yang juga sama seperti kita. Tidak bisa melihat”, nasehat Kirimizi yang gigih menganggao buta mata bukan halangan. Gus Dur jadi role model Jingga. Senasib menjadi tunet dan menjalani dengan menatap masa depan lebih berarti.  “Gitu aja kok  repot”, kata Kirmizi.

Akhirnya Jingga menemukan sahabat-sahabat barunya di sekolah itu.  Dunia baru. Ada Nila, Marun (Qausar H.Y.) dan Magenta (Aufa Assagaf). Mereka bertemu pada satu kesamaan hobi yaitu musik dan ini menjadi pengikat film ini (ending film berakhir di Taman Musik Centrum) . Ketiganya tunet dengan penyebab yang berbeda-beda. Nila tunet sejak kandungan. Marun karena kanker darah yang tercemar merkuri akibat limbah beracun sehingga syaraf matanya rusak. Dan Magenta yang sejak bayi padam penglihatannya karena malpraktek medis.

Dalam interaksi antar mereka berempat terjadi banyak hal yang menggugah kita sampai dimana kepekaan kita memberikan akses kaum tunet berbagai fasilitas. Hubungan pertemanan Jingga, Nila, Marun dan Magenta, baik dalam bermain musik (mereka membentuk band) atau cara kehidupan sehari-hari sebagai tunet diperlihatkan dengan baik. Sejak bangun pagi, berakifitas, berolahraga, mengenali benda, berjalan di jalan raya, mengenali pecahan uang kertas, berbisnis (kontrak sebagai grup band dengan studio rekaman), belajar huruf Braille untuk baca tulis, berpacaran sampai menonton film! Semua masalah sosial kaum tunet digambarkan lengkap berdasarkan fakta nyata, tapi dikemas cantik dengan romanticized (meromantiskan) percintaan, cemburu, canda, ambisi dan kepedihan (Marun akhirnya meninggal karena kadar merkuri dalam darah penyebab kebutaan sudah akut). Semua tak terasa membosanan karena penonton disajikan kehidupan dunia yang mereka tak tahu. Dunia tuna netra secara nyata.

 

Helen Keller

Satu hal perlu diperhatikan dalam film ‘Jingga’ (2016) tentang tunet ini adalah lokasi syuting. Semua dilakukan di Bandung. Kota yang dalam film diperlihatkan ramah terhadap kaum disabilitas penyandang tuna netra. Pusat pendidikan dan rehabilitasi kaum tunet di Bandung pernah dikunjungi dan dipuji oleh Helen Keller pada 7 Mei 1955. Tokoh sekaligus selebriti kaum disabilitas dunia asal Amerika Serikat. Helen yang menjadi tamu Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata saat itu, kagum dengan kompentensi para konselor membimbing murid-murid tunet. “Mereka berani menatap jauh ke depan tanpa rasa cemas”, kesan Helen Keller yang dijuluki The Miracle, karena tuna netra dan tuna rungu.  Helen ‘mendengar’ orang bicara dengan memegang dagu lawan bicaranya.

Entah kebetulan atau tidak, kekaguman Helen Keller akan fasilitas kaum disabilitas penyandang tunet di Bandung ingin dibuktikan oleh film ini. Sutradara Lola Amaria, seperti karakter Helen Keller, tidak mau film terbarunya ini untuk menguras emosi belas kasihan kepada tunet. Justru struktur cerita film dibangun untuk menggugah kita dalam hal persepsi, aksesibilitas, kepekaan terhadap disablitas. Batas antara buta dan melihat dipetakan kembali oleh Lola Amaria. Dan dia berhasil.

Semua tokoh utama tuna netra dalam karakter film ‘Jingga’ (diambil dari warna mentari fajar pagi hari) dinamakan nama-nama warna. Ada warna-warni dalam kegelapan.

 

IWAN SATYANEGARA KAMAH
http://baltyra.com/tag/iwan-satyanegara-kamah/

 

 

16 Comments to "‘Jingga’, Gus Dur, Helen Keller"

  1. Alvina VB  19 February, 2016 at 23:33

    Mustinya film kaya gini ikutan international film festival dunk.
    Hellen Keller, wanita luar biasa walaupun tuna netra dan tuna rungu, sangat optimistik, spt yg dia katakan dlm bukunya:
    “Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence.”
    “The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched – they must be felt with the heart.”

  2. J C  15 February, 2016 at 14:58

    Aku kok malah merasa sepertinya ulasan di artikel ini jauh lebih bagus dan lebih keren dibanding film’nya sendiri…

  3. HennieTriana Oberst  15 February, 2016 at 13:13

    Terima kasih tulisannya Lieber Iwan. Jadi pingin nonton filmnya.

  4. Tammy  12 February, 2016 at 11:39

    Dari dulu aku suka film yg diperankan oleh Lola Amaria. Sayangnya pas dia menjadi aktif di belakang layar jadi jarang nonton karyanya krn susah dapat filmmya di LN. Dia salah satu pekerja film yg berbobot di Indonesia.

  5. Dj. 813  12 February, 2016 at 02:07

    Mas Iwan . . .
    Tumben tulisan nya panjang, tapi enak dibaca .
    Jadi ingat sekitar tahun 1968, sering ke panti TunNet, jemput langganan tukang pijet .
    Yang mengherankan Dj. saat itu , kalau Dj datang , dia sudah tahu kalau itu Dj .
    Kalau mendengar suara, Dj. rasa mungkin bisa dibedakan dengan suara yang lain .
    Tapi ini Dj. belum berbcara, dia sudah panggil, mas Djoko . . .
    Pertama Dj.agak ragu, apakah dia benar-benar buta .
    Satu saat Dj. tanya, darimana dia tahu . . . ? ? ?
    Dia jawab dengan tenang, karena mas Djoko kalau jalan kakinya sedikit diseret
    dan tidak diangkat . Hahahahahahaha . . . ! ! !

    Tterimakasih dan salam manis untuk keluarga dirumah

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 February, 2016 at 17:07

    Terima kasih Pak Inakawa. Memang sutradara Lola Amaria ingin menggugah kepekaan kita yang normal terhadap kaum disabilitas penyandang tuna netra. Tak boleh mereka dikasihani. Mereka harus diberika eksesibiltas dan itu kita belum sepenuhnya mampu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *