Refleksi Imlek

Handoko Widagdo – Solo

 

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya mendapat banyak sekali ucapan dalam perayaan Imlek. Ucapan “Selamat Imlek”,” Gong Xi Fa Cai”, atau ucapan dalam huruf China yang saya tak bisa membacanya berhamburan di email, WA, FB dan BBM-ku. Pengirimnya sangat beragam. Ada saudara-saudara, para rekan kerja dan dari teman-teman yang hanya bertemu di dunia maya. Saya menjadi bertanya-tanya, apa artinya Imlek bagi saya?

siapa aku

Memang sejak beberapa tahun terakhir, banyak dari teman-teman sekantor mengubah panggilan kepadaku dari “Mas”, atau “Pak” menjadi “Koh”. Padahal sebelumnya banyak dari teman kantorku yang tidak tahu bahwa ada darah Tionghoa mengalir dalam tubuhku. Panggilan ini awalnya terasa aneh bagiku. Sebab selama ini hanya keluarga dekat saja yang memanggilku “Koh”. Apakah perubahan cara menyapa ini merupakan penghargaan atau penghinaan? Dulu, saat saya diidentifikasikan sebagai China oleh teman-teman atau orang-orang yang bukan China, ada rasa saya sedang dihina. Perasaan semacam itu masih terus melekat kepadaku sampai saat ini. Namun saya mulai terbiasa ketika teman-teman dekat, rekan kerja sekantor menyapaku dengan panggilan “Koh”.

Sebagai seorang anak keturunan Tionghoa yang lahir di pedesaan, sejak dari kecil sebenarnya saya tak pernah mengenal budaya China. Saya lahir di sebuah desa di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Apalagi saya lahir hanya 6 bulan sebelum peristiwa G-30-S terjadi. Sudah pasti apa-apa yang berbau China disembunyikan dengan rapi di keluarga saya. Tiga tahun setelah lahir, nama saya harus diganti melalui proses ganti nama di pengadilan. Meja abu yang dulu terletak di ruang depan rumah kami, dipindahkan ke ruang dalam. Perayaan Imlek yang diselenggarakan oleh kakek saya di halaman samping rumah, diubah penyelenggaraannya di dalam rumah. Hanya panggilan nama-nama kami masih tetap dengan nama China. Demikian pula pada upacara pemakaman kakek dan kemudian nenek kami, keluarga kami masih menggunakan prosesi ala Tionghoa. Selebihnya, kami tanpa sadar menghilangkan identitas kami sebagai China.

Di keluarga saya tak ada yang bisa berbahasa Mandarin atau Hokian. Memang mama saya pernah kursus Bahasa Mandarin, saat menjelang pemulangan orang China ke Tiongkok. Namun karena bahasa tersebut tak digunakan, akhirnya kemampuan berbahasa Mandarin mama saya hilang lenyap. Sedangkan ayah saya sama sekali tak tahu Bahasa Mandarin ataupun Hokian. Itulah sebabnya saya dan adik-adik saya dibesarkan dalam budaya Jawa. Kami memakai Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di rumah. Sedangkan di sekolah, saya memakai Bahasa Jawa sampai dengan kelas 4 SD dan baru memakai Bahasa Indonesia saat di kelas 5 dan 6. Itupun kalau berbicara kepada guru dan kepala sekolah, saya tetap memakai Bahasa Jawa halus.

Saya memilih Agama Kristen sebagai pilihan pribadi. Orang tua saya tidak terlalu peduli dengan agama. Mereka tidak melaksanakan satupun ritual agama. Kadang-kadang, mereka bersembahyang dengan hio jika ada persembahyangan keluarga yang jumlahnya tak lebih dari 3 kali setahun. Setahu saya KTP ayah saya berubah-ubah di kolom agama. Pernah tertulis Konghucu, Islam, Kristen dan Katholik. Saya memilih Kristen karena tertarik dengan ajaran kasih. Meski harus saya akui bahwa faktor sebagai anak Tionghoa, kecenderungan untuk menjadi Kristen, Katholik atau Budha jauh lebih tinggi daripada agama lainnya yang diakui di Indonesia.

Ajaran kasih yang dibawa oleh agama Kristen itu begitu sederhana dan membuat saya memilihnya dengan segenap hati. Sederhana karena saya tak perlu mengejar sorga lagi. Sorga sudah dijamin karena percaya kepada Yesus. Sedangkan hidup diarahkan untuk berbuat kasih. Mula-mula mengasihi keluarga, saudara, teman dan seluruh alam. Hidup menjadi penuh sukacita karena tujuan hidup sudah menjadi sangat jelas.

Namun pilihan menjadi Kristen ini sedikit banyak juga membuat saya meninggalkan budaya-budaya yang dipegang oleh para keturunan Tionghoa. Meski saya tidak anti terhadap budaya-budaya yang ‘non-kristiani’, namun pergaulan dan hidup sebagai orang Kristen membuat saya ‘menjauh’ dari praktik-praktik budaya Tionghoa. Meja abu yang dulu berdiri di ruang tengah rumah papa, sekarang entah kemana. Saya lupa memperdulikan. Kami menguburkan papa dan mama dengan cara Kristen. Kubur mereka tidak dibongpai, seperti layaknya kuburan keturunan Tionghoa. Kami membangun kubur papa dan mama kami dengan bentuk kuburan ala Barat, dengan simbol salib megah di atasnya.

Anak-anak kami sudah tidak lagi memiliki nama Tionghoa. Meski oleh kakeknya pernah diberikan nama Tionghoa, namun saya tak pernah mengingatnya. Bahkan saya mencantumkan nama Widagdo di akta kelahiran anak-anak saya, di belakang nama mereka. Widagdo adalah nama yang dipakai oleh ayah saya saat berganti nama. Nama tersebut diambilnya dari ayah angkatnya, yang adalah seorang Jaksa di Grobogan. Nama tersebut diteruskan kepada saya dan adik saya. Kami membuat group WA dengan mana Widagdo Family, bukan Khoe Family! Kami menggunakan Bahasa Indonesia dengan diselingi beberapa kata Jawa di rumah. Tak satu kata Mandarin pun yang terselip dalam percakapan kami di rumah.

Ketika ucapan-ucapan perayaan Imlek itu memberondongku, aku menjadi bertanya-tanya. Siapakah diriku? Masihkah aku layak disebut keturunan Tionghoa? Masih layakkah aku di-china-kan kembali? Masih adakah waktu bagiku untuk kembali men-china-kan diri?

Ketika aku merasa sudah mengindonesia dan menjadi Kristen, tiba-tiba aku diingatkan bahwa aku adalah Tionghoa. Padahal format identitas Tionghoa yang Indonesia dan sekaligus Kristen belum terlalu jelas bagiku. Dan membangun identitas baru tidaklah mudah. Perjalanan selama 50 tahun menunjukkan betapa pembentukan identitas itu penuh liku dan kadang pilu.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "Refleksi Imlek"

  1. Lani  19 February, 2016 at 01:33

    SLB: Jade restaurant? Apakah msh ingat lokasinya? Krn ada bbrp restoran cina akan ttp menurut cicipan lidahku semuanya ora enak…………pokok-e kapok mampir lagi kesana……….lebih suka Thai restaurant……………

  2. Swan Liong Be  18 February, 2016 at 23:40

    @Lani: aku waktu diKona pernah makan Crab with black pepper di Chinese Restraurant , namanya “Jade” enak lho! Gak tau apa rest.ini masih ada.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.