Yeni, Oh Yeni (3)

Jemy Haryanto

 

Artikel sebelumnya:

Yeni, Oh Yeni (1)

Yeni, Oh Yeni (2)

 

Ku ambil surat itu dari tangan Jo. Ku cium dan ku buka, penuh kehati-hatian. Dag dig dug, gemetar, saat secarik kertas ditarik keluar dari dalam amplop putih bercorak bunga mawar. Aku tak mau berandai-andai, juga menebak-menebak, apa kiranya misteri yang tersembunyi di balik tanya yang muncul di alam pikiran. Hanya hati ini sempat berkata, biarlah mereka semua terungkap, setelah isi surat ini selesai dibaca.

Aku mulai membaca isi surat itu, penuh khidmat. Sambil menyandarkan tubuh kurus ini pada kursi butut yang teronggok di sudut bengkel. Ada rasa tegang, bercampur debar, tatkala kedua mata merayap perlahan di atas kalimat-kalimat yang tersusun rapi, ditulis rangkai. Cukup rapi. Dia menggambarkan karakteristik dari sang penulisnya.

Aku terus membaca, tanpa berkedip, di tengah suasana hati yang makin gundah gulana. Juga suara mesin mobil yang tiada henti meraung-meraung menggoncang telinga. Tapi sesaat, bibirku membentuk simpul, mataku berbinar-binar. Di dalam surat, ditemukan beberapa kata mengandung humor, yang terselip di antara bait puisi, dan kutipan lirik lagu.

Sampai pada alenia paling bawah, aku langsung terkesima. Dadaku membusung, perutku mengempis, oleh tarikan nafas yang cukup panjang, yang dalam hitungan per sekian detik, mereka keluar bersama-sama dari pendalaman, melalui rongga-rongga kehidupan. Sebuah kalimat, sebagai penentu atas sebuah misteri yang tersembunyi di balik pertanyaan.

‘Aku juga cinta kamu, Her’.

Bunyi kalimat terakhir yang ditulis oleh tangan lembut Yeni dengan tinta berwarna hitam. Sulit dipercaya. Aku buru-buru membuang pandang ke arah dinding bengkel yang dipenuhi bercak karbon. Sambil berharap, apa yang telah dibaca barusan bukan tipu muslihat halusinasi yang mengaburkan retina. Atau fatamorgana yang merubah tumpukan kerikil menjadi oase di tengah gurun pasir yang gersang.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi. Kali ini punggungku bersandar pada sisi jendela, di antara kasur dekil dan kursi butut yang terkelupas. Untuk memastikan, kalau mataku dalam kondisi baik, tidak salah. Ternyata, benar. Tidak salah. Kalimat itu sama sekali tak berubah. Bahkan, setiap membacanya berulang-ulang, semakin ditemukan ketegasan intonasi dari kepingan kata di kalimat tersebut. Seolah-olah Yeni hadir, berdiri nyata di hadapanku. Menatap diriku. Kemudian berkata : ‘Heriiiii. Aku juga cinta kamu. Ngerti tidak sih’!

Akaiiii. Aku berteriak. Membuat gema seantero bengkel. Bang Agus yang sedari tadi sibuk otak-atik mesin mobil, spontan berpaling muka ke arahku. Dia menatapku. Keningnya berkerut. Kepalanya manggut-manggut, sebagai sirat kemungkinan hatinya sedang merespon tingkah lakuku.

Ah, syetan apa gerangan merasuki jiwa anak ingusan ini. Hingga Dia berteriak-teriak. Menciumi kertas kosong berkali-kali. Berjoget sundal seperti penari malam. Atau memang,,, atau memang, dia sudah gila ya. Haduuuh, gawat ini. Anak gila kok diberi ijin magang di sini. Bisa rusak nanti reputasi bengkel.

Seperti tahu jalan pikiran laki-laki bertato di lengan itu, aku segera membalas cemoohannya, dalam hati. Ah, apa pedulimu bang Agus. Kau fokus saja pada kerjaanmu itu. Toh kalau bukan karena pak Amrin, abang iparmu, kau pasti masih jadi pengangguran kelas berat sampai sekarang. Sudahlah, mau aku gila, stress, depresi atau apapun, kau urus saja dirimu. Dasar laki-laki doyan selingkuh. Mau aku laporkan pada mbak Lastri, biar kau diusir dari bengkel ini, lalu pergi dengan baju sehelai-sepinggang. Mau?! Mau?! “Hahahah,” aku berteriak lagi, tertawa terbahak-bahak.

“Ada apa, brroo? Ada apa?” Tanya Narto dan Jatmiko yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Nafas mereka terdengar ngos-ngosan bagai kuda pacu, bau lagi.

“Yennii, bro. Cintaku diterima. Ya Tuhannn,” aku histeris, sambil bergerak, berusaha memeluk Narto. “Tanginang, nginang, nginung. Tanginang, nginang, nginunggg.”

“Eh, eh, eh, eh, hihihi, hihihi. Apa-apaan nih, geli hei geli,” Narto terus menghindar. Tapi aku terus saja mengejar lelaki berwajah kotak itu, tiada henti.

“Yenni mana, bro?” Jatmiko bertanya. Aku berhenti.

“Yeni tetangga bengkel itu. Yang setiap hari kalian ributkan. Nih, baca,” jawabku. Tanganku menyodorkan sepucuk surat tadi pada Jatmiko. Belum sempat Jatmiko menjemput, secepat kilat Narto menyambar surat itu, lalu membacanya.

“Kampreettt. Jadi selama ini, kau menikungku, Her?!” Narto kesal. Wajahnya berubah kecut. Aku diam saja.

“Sudahlah, bro. Sudah. Mungkin perempuan itu rejekinya si Heri. Kau kan masih punya si Sri. Kau jaga dia baik-baik,” ucap Jatmiko, coba menenangkan. Kedua tangannya menepuk-nepuk pundak Narto.

Tapi, Narto diam saja. Matanya tak bergeming, menatap dalam ke arahku. Mulutnya bergerak-gerak seperti mengunyah sesuatu. Nafasnya memburu seperti banteng dalam pertunjukan Matador. Kalau sudah begitu, Narto biasanya langsung kalap. Dia akan menyerang siapa saja yang berdiri di depannya secara frontal. Sadar nyawaku dalam bahaya, kuda-kuda pun ku siapkan untuk melawan dengan batas kemampuan. Dari pada bonyok sia-sia. Lebih baik melawan. Tak lama …..

“Huaahahaha. Huahahaha,” tiba-tiba Narto tertawa terbahak-bahak. Spontan aku dan Jatmiko yang sedari tadi berdiri bersebelahan, kaget. Mata kami saling beradu. Jidad kami berkerut, bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan si Narto.

“Brrroo, apa kau pikir aku akan menyerangmu, lalu kita berkelahi di sini? Tentu tidaklah, bro. Kita kan bersahabat sudah lama, ibarat kata, kau itu kupu-kupu, aku kepompongnya.”

“Maksudmu?” Aku tak mengerti.

“Ah kau ini, pura-pura bego, atau memang bego. Selama ini tuh, aku tak pernah serius mengejar,,, siapa tadi,,, Yeni ya,,, biar kau termotivasi, dapat cewek. Bayangkan, sudah hampir tiga tahun kita berkawan, tak sekalipun aku lihat kau menggandeng lawan jenis. Sebagai kepompong, ya aku peduli. Di samping itu, aku juga takut tentunya. Takut kau jadi homo. Takut kau mencintaiku, lalu kau habisi keperjakaanku. Hahaha. Hiii, jangan sampai, bro. Jangan sampai. Jijiik. Jijik. Cuih. Hii,,,” terang Narto, gelagapan. Sementara suasana dalam ruang istirahat, yang tadinya sempat tegang, perlahan-lahan berubah cair.

“Oh, begituuu,” celetuk Jatmiko, polos. Kemudian Narto melangkah mendekati laki-laki berdarah Jawa itu, lalu merangkul pundaknya.

“Iya, bro Jat. Makanya ku pancing-pancing dia.”

“Tapi,, seandainya aku jadi homo pun, kau bukan tipeku, bro. Pastinya aku akan cari pria yang tampan, putih, bersih,” ucapku, sedikit bercanda, tapi mimik mukaku serius.

“Eh, siapa yang tahu, jika emergensi?! Bahkan kata orang-orang, ini kata orang, suasana ruangan sekitar, juga dapat merubah orentasi seks seseorang. Aku takut saja suasana bengkel ini, mendorong hasratmu bercinta denganku. Menggauliku dengan ekstrim. Segala las, obeng, atau besi-besi, kau gunakan. Hiiii.”

“Ah, bisa saja kau, bro,” celetuk Jatmiko. Dia lalu melangkah santai dan duduk di atas kursi butut itu. Kedua tangannya berada pada lutut yang ditekuk. “Tapi ngomong-ngomong, ngeri juga ya, kalau si Heri jadi homo,” lanjut Jatmiko. Sepertinya dia belum puas membahas masalah tadi.

“La iyalah,” sahut Narto, bibirnya mencibir. Pandangannya dilemparkan ke arahku yang sedang duduk di atas lantai. Aku tahu, dia sengaja meledekku. Tapi yah sudahlah. Siapa tak kenal si Narto. Kalau belum orang itu tersudut dibuatnya, dia belum puas.

“Oh iya bro Narto. Ngomong-ngomong masalah ini, tiba-tiba saja aku ingat sebuah anekdot di salah satu koran lokal, ada seorang gay yang jatuh cinta pada seorang dokter. Karena malu ungkapkan isi hati, dia menempuh cara unik, sedikit konyol aku pikir. Gilanya lagi, nama si tokoh itu, seperti nama kawan kita ini, Heri juga.”

“Eh, sejak kapan kau membaca koran. Biasanya koran hanya kau gunakan untuk ngelap mukamu saja. Setelah itu kau buang kertas itu di sembarang tempat. Sampai-sampai bu Susi, pemilik warung yang montok itu ngomel-ngomel padaku, hingga bibirnya yang tipis itu keriting, melenting,” sindir Narto.

“Iya. Maksudku juga begitu awalnya. Tapi saat kulihat judulnya, aku jadi tertarik membaca. Judulnya seperti ini ‘Ungkapan Cinta Seorang Homo. Panas. Menyengat’.”

“Wow. Aku jadi tak sabar mendengar itu. Ayo cerita, bro. Ayo cerita. Apalagi dengan wajahmu yang culun itu. Pasti seruu,” Narto menggoyang tubuh Jatmiko. Dia seperti tak sabar mendengar anekdot yang bersumber dari salah satu koran kriminal.

Jatmiko mulai bercerita atas apa yang pernah dibaca. Matanya mejab-mejab layaknya anak kecil menderita cacingan. Sementara Narto, dia terlihat sungguh-sungguh menyimak. Kedua sikunya menempel pada perut. Telapak tangannya bertopang di bawah dagu. Aku sebenarnya kurang tertarik pada cerita itu. Tapi, karena terbawa penasaran, perlahan-lahan aku bergerak, merapat, lalu duduk di antara mereka. Dan begini cerita dalam kolom tersebut.

Ada seorang pria bernama Heri. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di lingkungan komplek perumahan. Profesinya sebagai seorang satpam pabrik, membuat dia jarang berada di rumah. Pergi pagi, pulang malam. Atau sebaliknya, pergi malam, pulang pagi. Tak heran, jika ada hal-hal terkait perkembangan, gosip-gosip, dan permasalahan yang terjadi pada warga sekitar, dia jarang sekali mengikuti.

Suatu hari, Heri mendapat kabar, jika rumah kosong yang letaknya tak jauh dari rumahnya, telah ditempati oleh seseorang. Tetangga baru itu, adalah seorang pria, wajahnya cukup tampan. Heri pun penasaran. Kemudian kasak-kusuk mencari informasi, tentang siapa gerangan lelaki yang katanya berasal dari Sumatera.

“Oh itu. Namanya Caniago. Dia seorang Dokter, masih bujang,” kata salah satu tetangga.

“Oooh. Benarkah?!” Histeris lelaki bertubuh tinggi kekar dan berkumis itu. Telapak tangannya menutupi bibirnya yang tebal.

“Kenapa, kau naksir?” Tanya tetangga lain, ketus. Heri tak menjawab. Dengan bertingkah sedikit sundal, dia memilin-milin lidahnya keluar, lalu menyapu bibir atasnya sesekali. Setelah itu, dia bergegas pamit pulang, meninggalkan majelis rumpi yang dipimpin oleh bu RT, siang itu.

Heri belum pernah sekalipun bertemu Caniago. Dia mengetahui ciri-ciri lelaki itu, hanya dari cerita-cerita para ibu komplek yang berseliweran seperti angin. Karena itulah, setiap berangkat kerja, pagi-pagi sekali, Heri selelau menyempatkan diri melintas di depan rumah Caniago. Menunggang sepeda motor, lengkap dengan kacamata hitam menutup kedua matanya, untuk menonjolkan kesan macho pada dirinya.

Empat kali melakukan pengintaian, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Heri akhirnya berpapasan dengan laki-laki tersebut. Nah, setelah pertemuan itu, Heri mulai gelisah, tak dapat tidur. Wajah Caniago, kumis tipisnya, terus hadir, menari-nari dalam pikiran, setiap malam.

Satu hari, dua hari, tiga hari, Heri tak bisa lagi meredam bara asmara yang terus bergejolak di balik dadanya yang bidang. Cinta, benar-benar telah membuat hati pria ini mendaki, hingga mencapai puncak gunung Himalaya. Karena sulit terbendung, esok harinya, Heri segera menyusun siasat pertemuan.

Tok. Tok. Tok. Suara pintu diketuk, ragu-ragu, dua hari kemudian. Caniago muncul, dengan kaos oblong berwarna putih, dari balik pintu. Heri langsung terpana melihat sosok tampan yang berdiri di hadapannya. Matanya tak berkedip. Pandangannya turun naik, dari kepala hingga jatuh di atas jempol kaki si Dokter, lalu naik lagi. Giginya yang memiliki struktur tak beraturan, mulai bergerak, menggigit-gigit bibir atas yang hampir tersembunyi di balik kumisnya yang tebal.

“Ada apa?” Tanya Caniago, dingin. Heri langsung tersadar. Dia buru-buru kembali pada jiwa kelelakiannya.

“Mm. Begini, Dok. Saya mau konsultasi,” jawab Heri singkat. Suaranya terdengar datar dan parau.

“Oh. Silahkan masuk. Langsung ke ruang praktek saja,” Caniago mempersilahkan. Heri mengikuti laki-laki berkulit putih itu dari belakang. Wajahnya terlihat mesam-mesem. Sedikit berjingkrak, tanpa sepengetahuan Caniago.

“Ada yang dikeluhkan?” Tanya Caniago saat tiba di ruang praktek. Posisi mereka dihalangi sebuah meja putih persegi panjang. Tapi Heri tidak menjawab pertanyaan itu. Otaknya sedang berputar –putar mencari alasan yang tepat agar Caniago beranjak dari tempat duduk, lalu menyentuh salah satu anggota tubuhnya. Dan dia pun dapat akal.

“Mmm. Begini, Dok. Beberapa hari ini saya kok sulit tidur ya. Kadang ada pusing di sekitar kepala. Saya tidak tahu kenapa.”

“Sekarang masih terasa sakit?” Caniago mempertegas. Heri menjawab sangat antusias. Dia berharap alasan kali ini benar-benar akan membawa Caniago kepadanya. “Masih Dok. Masih. Bahkan saya merasa panas. Nih, di sini,” jarinya menekan-nekan jidadnya yang sedikit menonjol keluar.

Caniago beranjak mendekati Heri. Tangannya yang lembut meraba-meraba bagian kepala yang dirasakan sakit. Heri begitu menikmati sentuhan itu. Seketika nafasnya naik turun, tak mampu menahan gejolak. “Tidak panas,” gumam Caniago. Heri terdiam mencari alasan lagi. “Mmm. Entahlah Dok. Tadi saya merasa masih panas kok. Mungkin akibat disentuh oleh Dokter ya, penyakit itu langsung lenyap,” Heri beralasan. Kini dia mulai memperlihatkan sisi kewanitaannya.

“Coba buka baju Anda!” Pinta Caniago. “Apa????” Heri terperanjat. Tapi senang. Karena itu yang diharapkan. “Maksud saya, dada Anda,” si Dokter meralat.

Heri pun segera membuka kancing kemeja yang sedang dikenakan, secepat kilat. Selanjutnya dia pasrah saat stetoskop didaratkan Caniago di atas dadanya yang berbulu lebat. Menggesernya perlahan-lahan. Mengetuknya dengan jari, lembut. Menciptakan gemuruh yang semakin tak terkontrol. Setelah itu, Caniago kembali duduk di hadapan Heri.

“Anda kurang istirahat. Saya sarankan, tidur yang cukup. Anda juga harus sering berolah raga. Ini saya beri vitamin. Diminum dua kali sehari, pagi dan malam. Kalau masih ada gangguan sulit tidur, silahkan konsultasi lagi ke sini,” ucap Caniago, tanpa melihat wajah Heri.

“Itulah yang saya harapkan, Dok,” ucap Heri girang, lalu pergi meninggalkan Caniago.

Tiba di rumah, Heri meluapkan kegembiraan. Dia berjingkrak-jingkrak bagai kuda poni, lalu bersiul. Tak lupa berdendang lagu-lagu romantis 90 an, seperti lagunya Rosa ‘Nada-Nada Cinta’, Kahitna ‘Cantik’ yang diubah liriknya menjadi ‘Tampan’, dan lain-lain.

Sejurus kemudian, wajah Heri bermuram durja. Itu lantaran sikap Caniago yang dingin laksana salju sekonyong-konyong melintas dalam pikiran. Yang sudah barang tentu, sikap itu akan membuat dirinya sulit menyatakan isi hati. Harus berkata apa, harus dimulai darimana.

Beberapa hari berselang, setelah berpikir keras, Heri akhirnya mendapat akal, cara bagaimana agar pesan cinta itu bisa sampai pada Caniago, tanpa harus bertutur. Dengan persiapan yang matang, juga akal-akalan konsultasi, Heri kembali bertandang ke rumah laki-laki pujaan hati.

Kreekk. Suara pintu dibuka. Seperti biasa datangnya Heri langsung disambut Caniago di balik pintu. “Ada apa. Mau konsultasi lagi?!” Celetuk Caniago, sedikit kesal. Mengingat malam ini adalah konsultasi Heri yang kelima kalinya.

“Mmm. Iya Dok,” jawab Heri singkat, lembut. Lalu melangkah mengikuti Caniago menuju ke ruang praktek, di samping rumah.

“Ok. Apa keluhannya?!” Tanya Caniago.

“Ini Dok. Sudah dua hari, saya merasa pantat ini begitu perih. Terutama kalau dibawa duduk, sakitnya minta ampunn deh. Ihh,” jawab Heri, merintih, mimik mukanya memelas. Duduknya juga tidak tenang, seperti ada sesuatu yang memang mengganjal di bawah pantat.

“Tepatnya di mana?” Caniago ingin kepastian. “Di sekitar bla bla, Dok. Eh, anus maksud saya. Lupa. Hihihi.”

“Wah. Itu wasir. Tapi saya ingin pastikan dulu. Coba kamu berbaring di sana,” pinta Caniago. Telunjuknya mengarah pada tempat tidur pesakitan yang menempel pada dinding. Heri beranjak, senang. Lalu melemparkan tubuh hitamnya di atas tempat tidur, dengan wajah mesam-mesem.

“Sekarang buka celana Anda, dan nungging. Saya mau periksa.”

“Apaaa, nungging?” Heri berteriak dalam hati, kegirangan. Mengingat posisi ini selalu menjadi favoritnya, dibandingkan posisi-posisi yang lain.

Dengan parasaan was-was bercampur debar, Caniago mulai mengamati. Kedua matanya bergerak-gerak diikuti jari-jemarinya meraba-raba di sekitar kawah kehidupan Heri. “Mmm. Tidak ada tanda-tanda yang dapat diidentifikasikan sebagai penyakit,” celetuk Caniago.

“Tidak mungkin, Dok. Coba diperiksa lagi, deh,” pinta Heri, manja.

“Nah, nah, nah, itu dia, Dok. Terasa perih, di situ, ih,” rintih Heri, saat telunjuk Caniago menekan lembut permukaan lubang. “Di sini sakitnya?!” Caniago ingin memastikan. “Iya, Dok,” jawab Heri.

“Baiklah.” Tanpa pikir panjang, Caniago menekan sisi-sisi lubang menggunakan kedua jempol yang tertutup sarung tangan. Tak lama ….. “Ya ampuun,” Caniago kaget. Jidadnya berkerut. Sesuatu menyerupai ranting pohon perlahan-lahan terlihat. Dia tersembul setengah centimeter keluar dari lubang.

“Ada apa, Dok?” Tanya Heri. “Ada sesuatu di dalam sini,” pungkas Caniago, penuh tanda tanya.

“Apakah itu?”

“Hmm. Saya belum bisa memastikan. Karena baru kali ini ditemukan kasus seperti ini,” suara Caniago sedikit keras. Jari-jarinya terus bergerak, menyentuh sesuatu yang tersembul tadi hingga tubuh Heri gelagapan. “Aw. Sakit, Dok. Sakit.”

“Iya. Saya tahu. Saya cuma ingin coba memeriksanya,” suara Caniago, kali ini mengandung penekanan. Kamudian melanjutkan. “Anda siap jika benda aneh ini saya keluarkan?” Caniago meminta ijin. Sementara Heri senyam-senyum di balik bantal, mengangguk pelan tanda dia setuju.

“Ok. Sekarang, kamu tahan ya. Pastinya ini akan mambuat kamu sakit,” ucap Caniago antusias. “Baiklah, Dok.”

Caniago pun segera menarik benda misterius itu dari dalam lubang, sekuat tenaga. Spontan saja, Heri meringis. Matanya mejap-mejap. Tubuhnya kejang-kejang. Dia tak mampu menahan rasa sakit yang teramat sangat. Klimaksnya Heri berteriak histeris, hingga suara paraunya itu memecah kesunyian malam.

“Dokteeeerrrrr,,,, saaakiiiiitttt, Dookteerrrrr. Saaaakiiiittttt,” teriak Heri.

Tak lama, tadaaaa…. benda menyerupai ranting pohon itu ternyata sekuntum bunga mawar. Kini bunga mawar tersebut sudah berada dalam genggaman Caniago. Sambil senyum-senyum puas, Heri buru-buru beranjak dari tempat tidurnya.

“Itu mawaaarr untuuukk Dookteerrr,” teriak Heri lagi. Sambil berlari sekencang-kencangnya. Kedua tangannya sibuk menarik celana yang tergantung pada lutut. Selanjutnya. Gedubraakkkk. Dia jatuh, menabrak tempat sampah.

“Hahahahaha. Nah. Begitulah cerita konyol itu, bro,” ucap Jatmiko, membuat kami tertawa terbahak-bahak.

“Bro, Jat. Tiba-tiba aku membayangkan, andai kata kawan kita ini yang melakukan itu. Pastilah bukan mawar yang diselipkan, tapi obeng atau peralatan bengkel lainnya. Hahahaha,” Narto tertawa lagi. Kedua tangannya merangkul, dan menggoyang tubuhku. Aku hanya senyam-senyum saja, tak kuasa meladeni laki-laki berdarah Jawa-Melayu itu. Karena kalau aku menimpal sedikit saja, urusannya akan panjang.

“Sudahlah. Sudah. Kasihan si Heri kita sudutkan terus. Bukankah hari ini, adalah hari bahagianya dia. Sudah seharusnya sebagai teman, kita memberi selamat,” Jatmiko mencoba menghentikan ocehan Narto. Dia kemudian melangkah mendekat, memegang pundakku, mengulurkan tangannya. Disusul Narto yang terlihat tak sabar ingin menggapai tanganku.

“Selamat, bro. Semoga kau dan Yeni sampai pelaminan. Itu pun kalau sampai, hahaha.”

“Thanks, mas bro, mas bro.”

“Oh iya. Karena kau lagi senang. Tentunya harus ada perayaan. Bagaimana kalau kita mabok sore ini?! Kan PKL kita hanya setengah hari,” pancing Narto. “Boleh,” aku mengiyakan. “Asiiikk,” Narto merespon, sambil berjoget kegirangan.

Siang itu, usai aktivitas di bengkel, kami menarik sumbangan. Uang yang sudah terkumpul, yang jumlahnya lumayan banyak, kami gunakan untuk membeli rokok, dan beberapa jenis minuman keras. Ada sekitar satu botol bir, satu botol lonang, juga satu kantong arak kampung yang berhasil kami borong dari warungnya pak Tongah, ke kos-kosannya si Narto. Di dalam kamar yang pengap itulah, benda-benda tersebut kami hampar. Kami tuang perlahan-lahan ke dalam gelas, secara bergantian, kami meneguknya.

Entah sudah berapa banyak cairan alkohol itu diteguk. Sampai-sampai, kepalaku terasa agak berat. Pandangan mataku sedikit berkunang-kunang. Jalanku agak sempoyongan. Sementara perutku, terasa sedikit perih seperti dikocok-kocok sesuatu, terasa ingin muntah saja.

“Hayo, bro. Kok berhenti! Ini arak terakhir ya, kita habiskan sama-sama,” ucap Narto, dengan mata merah. Salah satu tangannya mengangkat gelas, tinggi sekali. Lalu disodorkannya ke arahku.

Aku yang sudah tersandar lebih dulu pada dinding kamar, seperti tak kuasa menolak, begitu pula Jatmiko. Dalam hitungan beberapa detik saja, arak tersebut langsung kami sikat habis, tak bersisa. Blek. Blek. Blek. Habis.

Usai menuntaskan satu gelas arak tadi, kami bubar dari majelis, tepat jam lima sore hari. Narto dan Jatmiko pergi ke kos-kosannya si Sri, melanjutkan lagi pesta miras. Aku sendiri, lebih memilih pulang ke rumah, dengan sepeda motorku.

“Hei, Her. Kemana saja kamu?!” Teriak Jo tiba-tiba, di atas sepeda motor, saat dia berusaha menyalipku. “Dari siang aku cari di bengkel, tak satupun batang hidung kalian yang tampak. Yeni minta kamu datang ke rumahnya sebelum Maghrib,” suara Jo, keras. Aku tersentak.

“Alamak, mati aku. Mana mungkin bertamu ke rumah Yeni dalam kondisi seperti ini. Tapi jika tidak datang, apa alasanku. Jika datang? Mampuslah aku,” hatiku berceloteh, bimbang.

“Woii. Awas ya. Jangan sampai tidak datang!” Jo menegaskan kembali. Aku menganggukkan kepala, pelan, sebagai tanda permintaan itu sanggup dipenuhi.

Lima belas menit aku sudah tiba di rumah. Hal pertama yang hadir dalam pikiran saat tubuhku rebah di atas tempat tidur adalah, bagaimana cara membuat kamuflase kondisiku. Mengingat, ini masalah serius. Aku tak ingin Yeni tahu jika pacarnya ini seorang pemabuk.

‘Yeni seorang religius’. Tiba-tiba ucapan Jo melintas dalam pikiran. Bentuknya serupa wanita seksi dalam pertunjukkan tari perut. Dia melambai-lambai, lalu bibir merahnya tersenyum kepadaku, penuh gairah. Aku segera beranjak dari tempat tidur, menuju lemari pakaian yang tersandar di sudut kamar. Di sana, semua isi kubongkar, kukeluarkan satu persatu. Lalu apa yang ku cari?

“Nah ini dia, hehe,” gumamku, saat menemukan sehelai baju gamis panjang berwarna putih kusam, pemberian pamanku sewaktu dia bekerja di Brunei dulu, yang sudah tiga tahun belakangan ini tak pernah digunakan, terlesip di antara onggokkan pakaian-pakaian lain.

Baju gamis itu lantas ku setrika perlahan-lahan, hingga licin. Selanjutnya, ku minum parfum mamak untuk membuat samar bau alkohol yang melekat dalam mulut. Untuk kondisi mata yang merah menyala, aku menutupinya dengan kaca mata hitam milik bapak yang ku ambil diam-diam dari dalam kamarnya. Nah, terpikir penampilanku sudah okey, sudah meyakinkan, secepat kilat aku pergi ke rumah Yeni.

Yeni menyambut kedatanganku dengan senyum mengembang. Dia terlihat antusias sekali melihat penampilanku sore itu, berpenampilan layaknya seorang syeikh dari tanah Arab. Peci putih, gamis panjang, juga sarung yang panjangnya sejengkal di bawah lutut.

“Ya ampunn, aku sampe pangling. Tapi jujur, aku suka penampilan kamu, Her,” Yeni memuji, aku hanya bisa senyam-senyum merespon.

“Mmm. Tapi,,, kaca matamu itu loh. Terlihat aneh saja, malam-malam kok pake kaca mata hitam.” Yeni memberi komentar. Tanganku menggaruk-garuk kepala. Aku harus berpikir keras menemukan alasan yang logis.

“Oh ini,, a, aku terkena iritasi las listrik saat praktek siang kemarin, sayang. Tadi malam tak bisa tidur, perih rasanya,” ucapku, berbohong, sambil terus menjaga keseimbangan agar tubuhku tak jatuh di atas lantai.

“Ya sudah, yuk masuk,” Yeni mengajakku.

Aku melangkah mengikuti Yeni dari belakang. Lalu merebahkan tubuh di atas sofa empuk berwarna merah maron. Tujuan Yeni memintaku datang, tak lain adalah, dia ingin mendengar langsung penuturan dari mulutku, terkait isi hatiku padanya. Dia menuturkan juga, lewat selembar surat, dia sama sekali tidak dapatkan kepuasan.

“Mmm. Baiklah. Karena kamu minta. Aku akan katakan. Hari ini, detik ini, aku cinta kamu. Sungguh aku cinta kamu, sayang,” ucapku, lepas saja tanpa beban, tanpa ada perasaan grogi sedikitpun.

“Aku senang sekali mendengar itu langsung dari kamu, Her. Aku juga cinta kamu” balas Yeni, seperti tak hirau dengan cara bicaraku tadi yang terdengar seperti playboy kelas kampung, karena pengaruh alkohol. Selanjutnya, dia mengajak berbincang-bincang sambil menikmati secangkir teh manis, di ruang tamu itu.

“Sudah adzan! Ayo sholat!” ucap lelaki tua, dengan baju koko dan sarung, yang sekonyong-konyong muncul dari ruang tengah. Yang ternyata dia adalah bapaknya Yeni. Aku langsung tersentak, mendengar ajakan orang tua itu. “Haaa. Sholat???”

“Iya, Her. Kita bisa sholat berjamaah,” ucap Yeni, seolah-olah tahu teriakan dalam hatiku.

“Aduh, sayang,” aku mencoba mengelak.

“Bukannya aku menolak. Aku biasanya sholat sendiri di rumah. Aku perlu suasana hening untuk bisa khusuk. Tidak terbiasa dengan suara-suara riuh, apalagi membaca ayat keras-keras. Itu akan menganggu konsentrasiku. Bahkan usai sholat, aku punya kebiasaan berdzikir hingga waktu Isya datang. Itulah alasannya aku tidak ingin dipandang aneh oleh keluargamu. Jadi, aku harap kamu gerti. Maaf ya sayang, maaf,“ aku berasalan, spontan, dengan mimik muka sungguh-sungguh.

“Gak apa-apa. Hayuk,” ajak Yeni lagi, seperti tak mempan dengan alasanku tadi.

“Tapi, sayang,” ucapku, takut.

“Tapi kenapa? Udah hayuk,” Yeni menarik lenganku yang saat itu berkokot pada sisi meja. Kedua matanya menatap dalam ke arahku. Aku yang awalnya enggan untuk bergerak, ya mau tidak mau beranjak, lalu mengikuti wanita pujaan hati menuju bak air yang terletak di sudut dapur.

Sambil menunggu giliran berwudhu, hatiku terus saja mengoceh, mengumpat, tiada henti. Dikarenakan, masih kesal atas ajakan sholat ini. Aku tak pernah sholat saudara-saudara, meskipun dalam kondisi normal. Ketika banyak orang berbondong-bondong ke mesjid menunaikan sholat maghrib misalnya, aku malah sibuk dengan kegilaanku sendiri. Bernyanyi, berteriak-teriak, sambil genjrang-genjreng gitar di depan gang bersama kawan-kawan. Nah, tiba-tiba di sini, di rumah ini, dengan kondisi seperti ini, aku dipaksa ikut sholat. Apa tidak salah?

Selain itu, aku juga takut, jika sampai meneruti keinginan Yeni dan keluarganya ini. Aku takut Tuhan akan mengetok kepalaku, lalu membuka semua kedokku tanpa ampun, tentang siapa aku sebenarnya di hadapan mereka. Nah, jika ini sampai terjadi, maka sudah dipastikan, riwayat hubunganku dengan Yeni akan tamat.

Hatiku terus saja berceloteh, sementara kedua tanganku sibuk membasuh tangan, kaki dan muka. Meskipun salah, usai wudhu, aku segera kembali ke ruang tengah dengan langkah tertatih-tatih. Sambil berjalan itulah, aku mencoba berpikir lagi, menimbang-nimbang lagi, mungkin tidak ada salahnya jika sekali ini aku mendirikan sholat. Toh semuanya demi kebaikan hubunganku dengan Yeni, juga demi dinilai alim oleh keluarga besarnya. Mengingat keluarga ini, di mata para tetangga, memang terkenal sangat religius.

“Kamu sudah siap?” Tanya pak Samsu (bapak Yeni) saat aku tiba di ruangan tersebut. “Sudah, pak. Hehe,” jawabku, singkat, sedikit nyengir, tapi mantap. Lelaki bertubuh gempal itupun segera melangkah. Dia berdiri di depanku untuk memulai sholat. Namun …

“Sebentar, sebentar,” tiba-tiba pak Samsu berucap. Dia kemudian berbalik badan, melangkah mendekatiku. Hidungnya yang mancung itu mulai terlihat kembang-kempis, bergerak bersama kepalanya yang sedikit plontos, di sekitar tubuhku.

“Kamu bau alkohol ini! Kamu minum?!” Bentak pak Samsu, dengan suara keras. Aku tersentak. Jantungku seakan berhenti berdetak. Lututku juga gemetar saat lelaki berkulit sawo matang itu menatap mataku sangat tajam. Sementara mulutku keluh, tak mampu berkata-kata. Hanya dalam hati aku sanggup berucap. “Matilah aku. Tamatlah riwayatku,” ucapku, sambil tertunduk lesu, juga malu saat semua mata yang ada di ruangan tersebut tertuju ke arahku.

 

(Bersambung)

 

 

6 Comments to "Yeni, Oh Yeni (3)"

  1. J C  15 February, 2016 at 15:01

    Aku bener-bener suka baca cerita seperti ini…asik bacanya…

  2. Lani  14 February, 2016 at 22:58

    James: ah kamu ada2 aja………but mahalo sdh diingat

  3. James  14 February, 2016 at 08:34

    nanti rupanya akan ada judul artikel Kona…oh Kona….wkwkwk mumpung ci Lani belom nongol

  4. James  13 February, 2016 at 15:21

    yang nyata pasti adalah Para Kenthirs men Cintai Baltyra

  5. James  13 February, 2016 at 05:32

    hadir mas DJ, up[load kemaleman jadi keburu bobo

    menerima amplop berisi surat cinta bagaikan mendapat kemenangan lotere

  6. Dj. 813  13 February, 2016 at 01:41

    1 .
    Kemana semua . . .
    Keluarga kenthirpun tidak ada yang mencul, padahal satu artikel yang indah . . .
    Terimakasih dan salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.