SURGA

Anwari Doel Arnowo

 

Sebab apapun manusia kini ini berkeinginan menghuni tempat yang disebut surga, saya yakin oleh karena akan membuat orang berpikir, menganalisa, tidak lupa dan melakukannya dengan tekun sesuai yang dengan tata  cara serta kemampuan masing-masing. Melakukannya selama hidupnyapun tidak mungkin konsisten selama dia melalui sepanjang umurnya yang berproses sekitar 70 tahunan atau lebih.

Kita semua menyaksikan kehidupan sendiri saja, jelas berubah-ubah. Akhir-akhir ini ada kejadian keributan masalah terrorist (teroris) ditelusuri sebab diungkapnya oleh media, orang yang dikisahkan sebagai orang yang pendiam dan tampak sebagai orang yang baik-baik saja, telah menjadi salah satu pelaku dan yang pada akhirnya tertembak mati.

Dalam siaran media lain juga telah diungkapkan bahwa pemuka agamapun ada yang sedang dipenjara karena melakukan perbuatan tidak baik: meledakkan bom.

Para korbannya, semuanya siapapun dia, secara luar biasa telah dan sedang menderita saat ini. Tokoh agama yang teroris seperti itu sendiri masih bisa merasa tetap tidak bersalah.

Bilamana sempat, dia masih mungkin ingin mengulangi perbuatannya. Dengan demikian maka sudah jelas jelas seseorang itu hanya menjadi alat pikirannya sendiri atau pemahamannya sendiri saja.

Rupanya membayangkan surga yang aman nyaman dan tidak memerlukan kebutuhan apapun seperti halnya orang hidup di dunia fana, adalah seperti mimpi indah. Mimpi indah yang tiada standardnya, tiada yang sama persis. Yang laki-laki menganggap bisa akan mendapat bonus berupa 40 bidadari yang belum haid. Ini bukan karangan saya akan tetapi saya kutip dari wawancara mereka yang akan menghadapi hukuman mati, setelah diputuskan hakim seperti itu.

Timbul pertanyaan bila yang meninggal itu wanita, dia mendapat bonus apa, ya? Dia yang sedang di dalam sel itu saja malah merasa sudah masuk ke alam Jannah (surga). Selain terbayang 40 bidadari masih ada bonus lain berupa air susu dan madu yang mengalir tiada henti. Ketika saya masih kanak-kanak, sayapun diberi bayangan seperti itu. Saya lupa waktu itu apa saya percaya ada atau tidak, ingatan  yang seperti itu? Waktu saya masih kecil yang pasti saya tidak tau apa sih enaknya didampingi 40 orang bidadari? Bukankah saya masih keciiil? Madu mengalir saya tidak bisa membayangkan. Yang sesendok madu saja rasanya masa kecil saya, tidak mengenal apa madu itu. Mari kita hentikan saja berbicara soal hak mutlak yang dimiliki oleh orang lain. Hak di dalam hal yang memimpikan dan memuja jalan pikirannya sendiri, tanpa batas.

Tubuh yang berada di dalam penjara saja, mimipi ini dan pikiran itu, tidak bisa terikut dipenjara. Siapakah yang mampu mengendalikan pikiran? Tentu saja hanya si pemilik pikiran itu sendiri. Dengan pedoman inilah maka semakin seseorang menjadi dewasa, maka pengelolaan jalan pikiran itu semakin diharapkan akan bisa seimbang dengan mimpi, serta idaman-idaman atau gagasan-gagasan yang lainnya.

Orang dewasa diharapkan lebih mengerti dan lebih bijak dan arif dalam menggunakan pikirannya sehingga akan membawa tubuhnya menjadi lebih baik, berupa setiap pemahaman yang sesuai dan sebanding dengan umurnya. Tanggung jawab wawasan  hanya bisa dinilai paling benar oleh dirinya sendiri. Para pelaku kejahatan sayangnya terlalu sering mengabaikan buah pikiran baiknya sendiri. Begitu tiba saatnya hal seperti ini membesar, pikiran negativenyalah segera  bekerja kuat dan mengambil alih kendali.

Hal-hal seperti itulah yang akan mendominasi segala bentuk  perbuatan-perbuatan yang tidak baik, yang amat sering kali telah terjadi. Banyak manusia akan amat menyesali seketika setelah dia sudah mencederai manusia atau makhluk lain atau merusak tatanan hidup. Rasa sesal yang seperti itu memang biasa, karena pada dasarnya dia itu bukan manusia jahat. Ini hanya soal selera dan tata cara dalam menindak dan membuat keadaan menjadi baik yang tertanam versi dia. Lihatlah bagaimana seseorang yang patuh kepada ajaran yang dipercayainya, ketika calon lawannya tidak satu iman dengan dia.

Dia marah dan bertindak tergesa-gesa. Menyesal tetapi terlambat. Itu yang terjadi – cepat sekali.

Pada suatu saat beberapa tahun yang lalu  saya menulis dan menganjurkan agar kita tidak terlalu fanatik dalam memahami ajaran tertentu, apalagi yang ada potensi atau kemungkinan yang akan memicu perselisihan dan pertengkaran. Bagi yang amat percaya kepada sesuatu ajaran, isi dan maknanya, simpanlah hanya untuk diri sendiri.

Jangan terlalu bersemangat mengajak-ajak lain kelompok di sekelilingnya agar berlaku dan berbuat sama seperti yang dia anut itu. Melihat hasil ciptaan makhluk di alam semesta ini, terlihat pesan dan kesan yang timbul oleh adanya perbedaan yang hakiki antara satu makhluk manusia dengan satu makhluk manusia lain yang amat kasat mata. Semua  sidik jari, semua sinar mata dan bentuk telinga serta bibir manusia ini tidak ada satupun yang  sama. Yang memang terlahir kembar identik,  pun juga ternyata tidak identik. Itu kita harus bisa menerimanya sebagai kenyataan. Jadi janganlah anda terlalu kecewa, apalagi melawan, bilamana orang lain tidak sama dengan anda secara fisik bahkan juga secara non fisik lainnya.

Untuk apa anda berkumpul dengan orang yang sefaham saja?? Cobalah sekali-sekali anda masuk meneliti pihak lain itu seperti apa. Buatlah evaluasi. Dari pengamatan saya pribadi, sesuatu yang menggelembung menjadi seperti balon besar, tunggu saja pasti akan meletus. Berantakan.

Ingat betapa besarnya Genghis Khan, Hittler  Mussolini, , USSRussia, Saddam Husein, Suharto, Khadafi hampir semuanya, oleh kepongahannya sendiri, hancur seperti letusan implosion (meledak ke arah dalam). Bersama dalam satu idea, satu iman, satu kepercayaan yang amat berlebihan, apalagi menjadi salah satu dari anggota yang banyak, akan menimbulkan rasa benar yang nyatanya  cuma sesaat saja. Rasa berlebihan karena jumlah yang banyak  samanya itu sungguh berbahaya. Sudah terbukti seperti hal rasa nasionalisme, rasa sepaham dan rasa esprit de corps (rasa setia kawan) rasa seia sekata, kalau sudah menjadi massa maka rasa percaya diri menjadi besar dan terus membesar. Menyusul adalah rasa menguat dan bisa menghalalkan segala cara. Oleh karena tujuan akhirnya adalah surga maka dalam cara menggambarkan surga adalah cuma perwujudan ambisi sebagai impian rasa nikmat di dalam hidup. Rasa ingin membawa dari alam fana berpindah ke alam baka yang diwakili oleh surga tadi, bisa menyesatkan pikiran. Surga itu ada di alam baka, dan sekarang ini adalah alam fana. Tubuh mati kita berupa jasad / mayat setelah mati, maka rasa nikmat seperti susu, madu dan bidadari tidak masuk di akal bila dapat dinikmati oleh tubuh jasad mayat kita yang tertinggal di Makam Tanah Kusir, Jakarta Selatan  atau di Makam San Diego di Karawang sekalipun. Bumi tentunya tidak akan sama dengan alam Baka, sebab adanya keperluan berpindahnya manusia dari Bumi menjadi “manusia” ke alam baka. Saya teramat percaya bahwa apapun yang hidup pasti mati nanti.

Hanya kapannya yang tidak pasti. Mari kita tunggu saja mati itu. Apa saya akan seperti Yasutaro Koide yang mati pada usia 112 tahun, padahal jelas sekali saya nanti pasti tidak akan tau, pada umur berapa saya mati.

Saya pribadi juga sudah sedikit membuat persiapan pribadi untuk meringankan beban mereka yang akan  saya tinggalkan. Pada tanggal 17 Mei, 2015 yang lalu saya membubuhkan tanda tangan di Akta Notaris yang isinya menyatakan bahwa: bila mana saya menjelang meninggal dunia nanti, saya menolak segala prosedur pengobatan, utamanya yang menggunakan jasa dokter dan alat-alat yang paling canggih sekalipun, dengan tujuan dan maksud menunda saat kematian. Apabila tujuannya saya menjadi sembuh dan bisa menjalani kehidupan lagi, saya tidak menolak atau berkeberatan. INTINYA: SAYA INGIN MATI SECARA ALAMI SAJA. Isi Aktanya sudah saya copy dan paste kepada semua anak-anak saya dan mengirimnya via email. Bila karena sesuatu hal yang tidak saya ketaui sekarang, saat ini, yang akan terjadi berlawanan dengan kemauan saya, saya akan menerima saja terutama sekali bilamana saya memang tidak berdaya apapun. Yang saya kerjakan dengan membuat Akta itu adalah agar tujuan tidak akan ada kasus hukum yang akan melibatkan keluarga. Utamanya dengan para pelaku medis dokter / paramedik, Rumah Sakit lengkap dengan perangkat manajemennya. Pertengkaran semacam ini sama sekali tiada gunanya. Toh sang pasien, saya, telah meninggal dunia.

Bilamana masih mungkin dilakukan maka sebelum saya meninggalkan dunia ini, saya minta dilakukan perawatan hospice dan juga palliative care yang di Indonesia mungkin belum umum dilakukan orang. Tujuan utama perawatan ini adalah membuat si pasien tidak merasakan ketakutan terhadap kematian. Juga pasien akan bisa menerimanya dengan hati tenang dan tenteram. Sehubungan dengan hal ini saya setuju dengan pendapat serta adat di beberapa bangsa di negara lain, bahwa bagi siapapun yang meninggal dunia itu, dia sudah lepas dari segala bentuk rumit kesukaran kehidupan sebelumnya. Maka layaklah disebut sebagai sesuatu yang seharusnya, sebagai menggembirakan hati. Lihat prosesi penguburan beberapa bangsa lain, dan sebagian juga suku bangsa di Indonesia, yang di dalam upacara pemakamannya dan di dalam perjalanan ke Tempat Pemakaman menggunakan malah music band  di dalam barisannya. Amat saya inginkan semua yang saya tinggal akan tersenyum lega, persis seperti ketika saat saya lahir pada tahun 1938. Waktu itu yang menangis hanya saya sendiri sebagai bayi yang baru saja mulai bernapas, masuknya udara yang pertama kali ke dalam paru saya. Yang mendengar saya menangis akan lega karena saya mampu benapas dengan baik. Lahir dan mati itu  sama-sama hanya satu kali saja. Oleh karenanya jangan menangisi matinya saya seorang. Menangis meraung atau tertawa terbahakpun tidak membangunkan si mati, yaitu saya!

 

Anwari Doel Arnowo – 25 Januari, 2016

 

 

9 Comments to "SURGA"

  1. J C  17 February, 2016 at 21:04

    Pak Anwari, artikel Panjenengan selalu penuh falsafah luar biasa ditambah dengan komentar-komentar di sini yang semakin menggenapinya…muantep!

  2. Lani  16 February, 2016 at 02:21

    Cak Doel Anwari: Spt biasanya artikel Cak sll memberikan pencerahan (pendpt saya pribadi).

    Dan ini bukan satu kebetulan krn bbrp hr yl saya dan dua teman dekat membicarakan hal yg sama. Kami ingin membuat durable powers of attorney, advance health care directives, serta surat semacam will.

    Kenapa perlu dibuat? Alasannya sama spt yg Cak tuliskan disini. Mumpung msh hidup, bernafas, dan bicara, semua hrs beres krn saya tdk mau dibelakang hari family gontok2-an krn rebutan bondo ndonya

    Semua pesan hrs ditulis, disahkan di notary public hingga klu saya secara tiba2 coma sdh jelas siapa yg bs menjadi penyambung lidah saya, bhw saya tdk ingin disambung hidup dgn sgl macam mesin, cabut saja relakan saya pergi dgn tenang, krn saya yakin akan berada disisi Allah, bahagia, jangan tangisi saya.

    Artikel ini membawa kenangan tersendiri mengingatkan suami tercinta yg sdh berpulang hampir 8 tahun yl, dan saya percaya almarhum berbahagia dialam sana.

  3. Lani  16 February, 2016 at 02:10

    James: mahalo, kenthir yg di Kona mencungul……….sdh siapkah utk berada di surga???

  4. Dj. 813  16 February, 2016 at 00:55

    Cak Doel . . .
    Surga ada dihati orang yang penuh damai.
    Dan tidak pusing dengan apa yang orang lain katakan atau miliki .

    Dan neraka adalah kalau orang yang hidupnya tidak tenang, karena pusing dengan urusan orang lain .

    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam Damai dari Mainz .

  5. Dewi Aichi  15 February, 2016 at 19:55

    Sepakat dengan komentar pak wsan Liong Be.

    Tulisan pak Anwari memang bagus sekali, sangat layak untuk direnungkan bagi pembaca. Ada seorang nenek2 di Brasil yang usianya sudah 100 lebih. Bagi nenek ini, hidup itu harus berjuang sampai mati….maksudnya adalah tidak bermalas-malas….si nenek ini sangat aktif hidupnya…dan seperti pada tulisan pak Anwari, nenek ini mempersiapkan segalanya sebelum mati, kuburannya. Karena pekerja seni, dia ingin makamnya di kasih kaca..agar yang menengok makamnya nanti lebih mudah. Dia juga sempat foto-foto sambil riang gembira di atas liang kuburnya, sampai-sampai mencoba berbaring di liang kuburnya. Bagi nenek ini, kematiannya sangat menyenangkan katanya, tidak semua orang beruntung seperti dia..yang dengan senang hati bisa menunggu ajal.

  6. Swan Liong Be  15 February, 2016 at 18:37

    Memang, orang yang tekun sama agamanya seharusnya harus tersenyum atau tertawa senang jika ada anggota keluarganya meninggal dunia , kan sudah terang harapannya arwah yang meninggal masuk surga, kan selalu ada ucapan : Semoga diterima disisiNya. Kalo di-pikir² yang saat ini berada disisiNya harus pindah tempat dong, kan sisiNya cuma dua, kiri dan kanan. Ini hanya sebagai pikiran samping aja! Kalo kita sedih ada orang dekat yang meninggal, sebetulnya kita sedih karena secara tidak sadar bukan karena dia meninggal, bagi yang meninggal sih basta, finished,melainkan kita sedih karena kita yang kehilangan sesuatu. Sebetulnya gak ada seorangpun yang masuk neraka , karena semua yang kenal sama yang meninggal tasu pasti kalo dia kesurga, bagaimanapun kejahatannya.Btw; don’t take my comment too seriously!

  7. EA.Inakawa  15 February, 2016 at 18:27

    saya PINGIN berkunjung ke SURGA bersama Lion Air…..

  8. james  15 February, 2016 at 16:18

    hadir sembari mengabsenkan para Kenthirs yang belom muncul

  9. J C  15 February, 2016 at 15:06

    Pak Anwari, as always: MANTAP TENAN!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.