Pepes Maut

Ida Cholisa

 

Mas Budi menyindirku lagi.

“Pepes buatanmu kalah lezat dibanding pepes buatan Dewi.”

Aku tersulut. Dewi istri muda suamiku, belakangan menggeser kedudukanku. Nyonya Budi yang selama ini menjadi sebutan manisku, kini bertambah satu kata di belakang namaku. Nyonya Budi Satu. Gemas rasanya hatiku. Nyonya Budi Dua, disematkan indah pada maduku, Dewi Ayu.

pepes

“Dewi… bawa sini pepesnya..”

Hatiku meradang mendengar panggilan mesra suamiku. Dari balik kamar kusaksikan maduku bergegas menyajikan pepes ikan. Aromanya menyebar, membuat perut terkapar.

“Kau memang istri yang handal, Dewi. Aku semakin betah di rumah sejak kau ada di sini. Masakanmu membuatku selalu ingin pulang cepat.”

Aku menyaksikan wajah maduku tersipu malu. Di dekatnya, suamiku menyantao lahap nasi berlauk pepes buatannya itu.

“Terima kasih, Dewi.”

Kusaksikan suamiku mengecup kening maduku, usai tuntaskan makan malamnya itu. Hatiku terbakar menahan cemburu.

***

Mas Budi menempatkan Dewi di rumah besarku. Satu atap tiga cinta. Benar-benar keterlaluan lelaki itu. Tanpa sepengetahuanku ia berselingkuh hingga akhirnya menikahi perempuan desa itu. Tanpa meminta ijin ia memboyong perempuan muda dan bayi merah hasil hubungan gelap itu. Benar-benar tertikam lahir batin diriku.

Kamar tidur Dewi persis berhadapan dengan kamar tidurku. Sesukanya saja Mas Budi menggilir kami. Lelaki itu sungguh tak tahu diri. Tanpa berilmu ia melakukan poligami.

Hatiku kerap meradang oleh sanjungan suamiku terhadap Dewi.Cemburuku kerap menyerang saat tak sengaja aku menyaksikan kemesraan yang dipertontonkan mereka. Rumahku terasa panas, batinku kering dan mengeras.

Kebencian merasuki jiwaku. Mas Budi semakin mengangkangiku. Lelaki itu tak lagi mencintaiku, kusadari itu. Perhatiannya tertuju pada maduku, tanpa sedikit pun tersisa untukku. Ia kerap berlaku kasar dan membentakku.

Satu yang membuatku selalu tersudut, ia hampir selalu melecehkan masakanku. Ia menyukai pepes ikan, jauh sebelum ia jatuh dalam pelukan perempuan muda itu. Dahulu ia penggila pepes ikan buatanku, tapi semenjak Dewi hadir dan menyajikan pepes racikan tangannya, lidah suamiku tak lagi mau mengecap pepes buatanku.

Batinku menduga, pepes maduku ditaburi pelet atau guna-guna, hingga suamiku takluk dan bertekuk lutut padanya…

***

Aku mencari cara agar pepes buatanku menghentikan kemesraan mereka. Aku ingin pepes racikanku menyudahi kecemburuanku.

Kusajikan pepes ikan nan menggoda saat malam tiba, saat suamiku baru saja tiba dari tempat bekerja. Diam-diam kutukar pepes buatan maduku dengan pepes buatanku. Kulakukan itu saat maduku beranjak ke ruang tamu, membuka pintu untuk kedatangan suamiku.

Sepintas tak ada beda, tampilan pepesku menyerupai pepes buatan maduku. Aku menyelinap di balik kamar, mengintip kemesraan yang kembali terulang.

“Pepesmu selalu membuatku ingin cepat pulang, Dewi. Kutinggalkan pekerjaanku di kantor. Seharusnya aku lembur sampai malam, Dewi. Tapi demi kamu, demi pepes buatanmu, tak kupedulikan pekerjaanku.”

Maduku tersenyum, bergelayut manja di bahu suamiku. Ujung bukit dadanya menyentuh dada suamiku. Mereka berpagut mesra sebelum memulai makan malam.

Aku menahan nafas. Sudah lama aku tak merasakan kemesraan seperti yang dirasakan maduku, sejak perempuan itu menempati salah satu kamar di rumahku.

“Kamu makan juga, Dewi. Jangan diet melulu, nanti kurus badanmu. Lihat si Tari, kurus kering, bikin aku tak bernafsu.”

Mereka tertawa. Hatiku pedih mendengar suamiku menyebut namaku. Aku memang kurus kering, tapi itu karena pengkhianatan kejam suamiku.

“Pepesnya pasti enak, Dewi. Tak seperti pepes buatan Tari. Hambar.”

Maduku terkekeh, disusul tawa keras suamiku.

Beberapa detik mereka terdiam.

“Pepesnya aneh, Dewi… lain dari biasanya…”

“Iya… iya aneh Mas… aneh rasanya…”

Aku mengintip dari balik pintu. Terlihat suamiku kelojotan dan muntah-muntah. Terlihat pula Dewi melotot sembari memegang lehernya. Mereka sempoyongan dan jatuh terkulai setelah sebelumnya kejang-kejang dan meregang nyawa. Busa putih meleleh dari mulut mereka.

Aku tersenyum. Puas rasanya. Pepes buatanku menghapus cemburu besar dan sakit hatiku. Pepes bertabur racun sianida benar menghentikan kemesraan mereka, mematikan mereka.

Tak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya padaku, kuambil sisa pepes di meja makan. Kubungkus rapi, kulempar senyum sinis pada dua tubuh yang teronggok kaku di depanku.

Kulongok kamar tidur maduku. Di atas tempat tidur, bayi mungilnya lelap tertidur. Bayi tak berdosa yang telah memalingkan suamiku dariku, terlebih karena kemandulanku. Dewi telah memberinya keturunan, sesuatu yang selama dua belas tahun tak mampu aku berikan. Hm, sebentar lagi bayi itu akan hidup terlantar…

Aku melangkah keluar. Kutenteng tas besar dan bungkusan plastik hitam di tanganku. Kukunci pintu rumah dan pintu pagar.

“Bu Tari mau ke mana malam-malam?” Seseorang menyapaku. Pak Sandy, tetangga samping rumah berjarak sepuluh meter dari rumah besarku.

“Pulang kampung, Pak. Ibu saya sakit.”

“Oh… hati-hati ya Bu… “

Aku mengangguk dan bergegas melangkah.

“Nyonya Budi mau ke mana?” Seorang ibu muda menyapaku,tetangga baru yang tinggal di ujung gang rumahku.

Aku tak menjawab, hanya melempar senyum.

***

Aku telah berada di dalam taksi. Tiba di pinggir sungai besar yang membelah kampung tempat tinggalku, aku meminta sopir taksi merapat.

“Sebentar ya, Pak.”

Aku keluar dan membuang bungkusan plastik hitam ke dalam sungai. Sesudahnya, aku kembali masuk taksi dan meminta sopir menuju terminal bus.

Aku telah berada di dalam bus antar kota. Aku menuju entah ke mana, bukan ke rumah ibu di kampung halamanku. Aku hendak pergi jauh, tanpa kutahu arah tujuanku.

Bus antar kota membawaku pada terminal selanjutnya. Aku berganti bus antar pulau. Enam jam bus dari kota Cirebon membawaku menuju terminal Pulogadung, untuk selanjutnya aku berpindah bus menuju pulau Sumatera.

Entah ke mana tujuanku, aku tak pernah tahu. Kutinggalkan prahara di rumahku, kutinggalkan rumah besar milikku. Aku pergi dengan membawa perhiasan berharga milikku dan setumpuk uang milik suamiku. Bekal selama perjalanan yang tak pernah kutahu di mana ujung perhentianku.

Aku lelah dan hampir tertidur saat tiba-tiba berita yang terpampang di layar televisi yang terpasang di bus bagian depan membangunkan kantuk besarku. Jelas terlihat di layar televisi, kerumunan orang berkumpul di sekitar rumahku dan seorang polisi keluar menggendong bayi mungil yang menangis kencang. Di belakangnya, menyusul beberapa polisi menggotong dua kantong mayat. Tampak beberapa polisi lainnya menggeledah seluruh ruangan rumahku.

Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Tiba-tiba aku merasa sangat takut. Polisi pasti tengah memburuku…

Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. Aku gugup dan rasa takut begitu mencekam. Seorang penumpang di sampingku beberapa kali menoleh dan menanyaiku.

“Ibu sakit?”

Aku menggeleng. Bus berhenti di sebuah rumah makan. Seluruh penumpang keluar. Aku duduk meringkuk menghindar dari banyak pandangan.

Perutku melilit. Aku tak berani keluar. Hilir mudik penumpang dan lalu-lalang orang yang keluar masuk rumah makan membuatku dicekam kegelisahan panjang. Aku merasa di antara mereka terdapat polisi yang tengah menyamar dan melakukan pengintaian untuk kemudian menangkap dan menjebloskanku ke ruang tahanan…

Bus meliuk memasuki kota Solok. Oh aku telah berada di salah satu kota di Sumatera Barat…

Aku menahan lapar. Aku menggelepar. Magh akutku kambuh. Aku berteriak kencang. Penumpang gaduh. Aku tak ingat apa-apa lagi. Aku jatuh pingsan.

***

Aku tersadar, aku telah berada di bangsal rumah sakit. Dua orang polisi berdiri di dekatku, tajam mengawasiku.

Aku berteriak ketakutan. Aku histeris dan kembali pingsan. Wajah pucat suami dan maduku Dewi, tertawa menyeringai…

Aku entah berada di mana… semua gelap dan sesak terasa…

 

 

6 Comments to "Pepes Maut"

  1. J C  17 February, 2016 at 21:12

    Wuiiiihhh…sangar, sangar…

  2. james  17 February, 2016 at 08:06

    Kenthirs tanpa Sianida…..

    Apa ada Sianida Manis ??

    Polisi saja takut sama Sianida,KaPolRI berpesan kepada seluruh Anggota Bawahannya agar berhati-hati bila makan di warung, waspadai Racun Teroris

  3. Lani  16 February, 2016 at 23:50

    Say NO to Poligami…………!

  4. Dj. 813  16 February, 2016 at 18:58

    Semoga banyak wanita yang membaca artikel ini .
    Sangat bagus dan bisa untuk pegangan mereka yang menyetujui poligami .
    Banyak wanita yang bahkan mengijinkan suaminya punya istri lagi .

    Seperti Dj. baca di salah satu status di FB saat valentin day baru saja lelwat .
    Seorang wanita menuliskan . . .

    Tidak ada Valentin Day, karena saya moslim .
    Lebih baik Poligami, karena saya moslim .

    Hahahahahahahaha . . . begitu konyol nya .

    Dan untuk aman sih . . .
    lebih baik ,bikin pepes ( atau makanan sendiri ), sudah pasti tahu apa yang dimakan .
    Terimakasih dan salam .

  5. ariffani  16 February, 2016 at 18:24

    pepes sianida

  6. donald  16 February, 2016 at 14:57

    Wah.. Mencekam.
    Btw, aku suka pepes…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.