[Di Ujung Samudra] Kau Begitu Memabukkan

Liana Safitri

 

AKHIR pekan ini seharusnya menjadi liburan yang menyenangkan bagi Tian Ya seandainya ia tidak bertengkar dengan Lydia. Satu minggu telah berlalu, tapi belum ada tanda-tanda “gencatan senjata”. Louis baru saja bisa berjalan. Anak itu sedang senang-senangnya mondar-mandir ke sana kemari, mengamati dan memegang segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Tidak bisa diam sedikit pun. Lydia berdiri di halaman mengawasi Louis. Ada kupu-kupu hinggap di sebuah tanaman dalam pot, Louis mengejarnya dan berusaha menangkapnya.

“Jangan lari, nanti jatuh!” Setelah Lydia menutup mulut, Louis benar-benar jatuh di rerumputan. Anak itu tidak menangis namun malah berbaring tengkurap dan tidak bangun-bangun. “Sudah Mama bilang, jangan lari-lari… Sakit, tidak?” Lydia menghampiri Louis ingin menolongnya.

Tiba-tiba Tian Ya muncul di hadapan mereka dan lebih dulu mengangkat Louis. “Sedang mengejar kupu-kupu, ya? Sampai jatuh begini… Louis pintar tidak menangis!”

Lydia dan Tian Ya saling bertukar pandang beberapa saat. Kemudian Lydia membuang muka dan meninggalkan Louis bersama Tian Ya.

Louis kebingungan karena sang mama pergi seperti itu. Ia melihat Tian Ya lalu melihat Lydia. “Mama…”

“Aduh, Mama pergi! Coba Louis tanya, ‘Ma, kenapa Mama pergi?’ Ayo tanyakan!” Tian Ya berusaha menarik perhatian Lydia, tapi Lydia tetap berjalan dan tidak mau menoleh.

Dalam gendongan papanya, Louis berseru, “Mama! Mama! Mama…”

“Mama ingin istirahat! Louis bermain dengan Papa saja, ya!” bujuk Tian Ya.

Karena salah satu Peraturan Bertengkar mereka adalah “Tidak boleh saling mendiamkan”, Lydia tidak mendiamkan Tian Ya sama sekali. Tapi ia hanya bicara yang penting-penting saja. Dan jika Tian Ya berusaha mengajak Lydia berbicara lebih banyak, ia selalu menghindar. Sore harinya Tian Ya pergi, jadi Lydia kembali menjaga Louis. Kamar mereka sangat berantakan karena Louis mengeluarkan semua mainannya. Mobil-mobilan, robot, miniatur binatang, puzzle, dan benda-benda apa saja yang bukan mainan sering kali dijadikan mainan oleh anak itu. Lydia ikut bermain bersama Louis.

Louis bosan. Anak itu mendekati Lydia dan berseru, “Papa!”

“Apa? Papa?” Dahi Lydia berkerut. “Papa sedang pergi!”

“Papa! Papa… Papa…”

“Louis Sayang, Papa tidak di rumah! Kalau kita keluar sekarang juga tidak akan melihat Papa. Di sini saja tunggu Papa pulang!”

Louis belum bisa memahami sepenuhnya apa yang dikatakan Lydia. Ia menarik-narik Lydia sambil berteriak-teriak merengek, “Papa! Papa! Papa!” Kemudian anak itu mulai menangis. Lydia kesal sekali.

Bagaimana sih, anak ini? Ketika bersama Papa memanggil-manggil Mama, ketika bersama Mama memanggil-manggil Papa! Sungguh membingungkan!

Lydia menggendong Louis lalu berjalan menuju pintu yang membuka ke balkon. “Jangan menangis! Jangan menangis! Kita tunggu Papa, ya! Dari sini kita bisa tahu kalau nanti Papa pulang! Coba lihat, itu jalan yang sering dilewati mobil Papa!”

Seketika Louis berhenti menangis. Anak itu menatap ke arah yang ditunjuk Lydia lalu mulai bersuara. “Eh… eh…” seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Iya, iya… kalau Papa pulang kita pasti melihatnya…”

Louis! Mau ke mana dia kalau kita berpisah?

Lydia teringat perkataan Tian Ya ketika mereka bertengkar. Ia memandangi wajah Louis. Anak yang lucu dan menggemaskan ini mau ke mana kalau mereka berpisah? Usia satu tahun terlalu kecil untuk bisa memahami konflik yang terjadi di antara kedua orangtuanya. Seperti hari ini, Louis tidak tahu kalau Lydia dan Tian Ya sedang bertengkar. Ketika melihat Lydia dia akan berteriak mama, ketika melihat Tian Ya dia juga akan memanggil papa, tidak peduli pada saat itu ia digendong siapa. Mata Lydia terasa panas. Ia memeluk Louis erat-erat. “Maafkan Mama, Sayang… kadang Mama tidak berdaya menghadapi masalah-masalah yang terjadi… Tapi Mama tetap ingin bersamamu, mendampingimu tumbuh dewasa…” Di luar dugaan Louis tiba-tiba menoleh melihat Lydia, dan seakan tahu apa yang sedang dirasakan mamanya, ia mencium pipi Lydia. Selama berhari-hari bertengkar dengan Tian Ya, untuk pertama kalinya Lydia tersenyum.

Kenapa Tian Ya belum pulang? Ini sudah malam, memangnya dia pergi ke mana? Masa di hari libur masih mengurusi masalah pekerjaan?

Tidak mungkin kan, Tian Ya tidak pulang seperti waktu itu? Peraturan Bertengkar mereka yang lain adalah, “Tidak boleh meninggalkan rumah.” Entah berapa jam lamanya Lydia menunggu. Akhirnya ia mendengar suara menderu. Sebuah mobil dengan lampu menyorot terang memasuki halaman. Lydia buru-buru naik ke tempat tidur lalu memejamkan mata. Beberapa saat kemudian Tian Ya masuk kamar. Tidak ada suara, istri dan anaknya sama-sama sudah terlelap. Tapi… Tian Ya merasa aneh melihat pintu balkon kamar yang terbuka. Setelah menutup pintu balkon pria itu membaringkan diri di samping Lydia.

“Maaf aku pulang terlalu malam. Tadi aku menjenguk mama, dia sakit karena terlalu memikirkan kita. Papa masih marah, tapi tidak separah saat kita ke sana dulu. Dia juga menonton konferensi pers Tuan Frederick. Aku mengatakan pada mereka kalau Tuan Frederick sebenarnya adalah Franklin. Mereka memperingatkan agar kita jangan merepotkan Franklin lagi. Lydia, mengapa kau sama sekali tidak menelepon atau mengirim pesan? Peraturan Bertengkar kita yang ketiga adalah ‘Tidak boleh mengabaikan telepon dan SMS’, kau ingat? Jadi aku pasti akan membalasnya!” Tian Ya mengusap wajah Lydia kemudian berbisik, “Aku tahu kau belum tidur…”

Mendengar kata-kata ini barulah Lydia membuka mata.

“Peraturan Bertengkar yang keempat, ‘Tidak boleh memonopoli kamar tidur’ itu ternyata berguna juga!” gumam Tian Ya.

Dengan wajah cemberut Lydia memukul Tian Ya menggunakan bantal. “Kau ini!”

“Kenapa? Bertengkarnya sudah selesai, kan? Memangnya kau tidak capek marah-marah terus? Apa kau benar-benar ingin…” Tian Ya melirihkan suaranya, “kita berpisah?”

Lydia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Tian Ya. “Aku tidak… serius… mengatakannya…”

Tian Ya balas memeluk Lydia erat-erat. “Kakakmu menyamar menjadi Tuan Frederick untuk membantu kita. Sayang sekali kalau niat baiknya justru membuat hubungan kita jadi retak. Karena kau menyalahkanku terus, aku jadi kesal dan membuang sepatumu. Hari ini aku mengajak Louis jalan-jalan sambil mencari sepatu. Sudah dicari ke mana-mana tapi tetap tidak ketemu. Kau mau aku memesankan sepatu seperti itu? Atau kau ingin aku meminta pada Franklin agar dia yang membelikan sepatu baru untukmu?”

“Tidak usah!” sergah Lydia. “Kau mau mengatakan apa pada kakak? Memberitahu dia kalau kau membuang sepatuku ketika kita bertengkar? Membuat malu saja! Kukira kau sudah melempar sepatu itu sampai ke ujung langit atau ke ujung dunia!”

Tian Ya tertawa kecil kemudian berkata, “Kau benar… aku selalu mengatasi masalah dengan menambah masalah baru! Aku harus mengubah kebiasaan buruk ini!”

“Kau baru sadar?”

“Ya! Tapi kau keterlaluan kalau mengatai aku kejam! Meski kadang-kadang bertindak sembarangan aku bukan orang yang kejam…”

“Kenapa menengok mama sendirian dan tidak mengajakku?” tanya Lydia kemudian.

“Aku tidak mungkin mengajakmu menengok Mama kalau wajahmu masih cemberut setiap kali melihatku! Memangnya kau mau mengatakan apa pada mama dan papa? Memberitahu mereka kalau kita sedang bertengkar?” balas Tian Ya. “Lydia, kita tambahkan satu lagi Peraturan Bertengkar!”

“Apa?”

“Peraturan kelima: Kelak, tidak peduli semarah apa pun, tidak boleh mengucapkan kata berpisah!”

Lydia dan Tian Ya saling bertukar pandang.

Tidak boleh mengucapkan kata berpisah!

Lima Peraturan Bertengkar yang mereka buat itu kemudian distempel menggunakan cap bibir.

 

Lydia pergi menengok Nyonya Li dengan mengajak Louis. Sebenarnya Lydia khawatir kalau orangtua Tian Ya masih marah padanya, namun akan sangat tidak sopan kalau seorang menantu hanya diam saja ketika tahu mertua sedang sakit. Saat melihat Lydia datang Tuan Li hanya menatap tajam tanpa mengatakan apa-apa.

Lydia memberanikan diri berkata, “Kudengar mama sakit… jadi aku datang untuk menengoknya…”

“Dia ada di kamar, masuk saja,” kata Tuan Li singkat.

Lydia berjalan melewati ruang tamu. Tuan Li kembali mengeluarkan suara beratnya, “Aku berharap tidak ada gosip macam-macam lagi tentang kau dan Tian Ya! Kalau tidak, setelah mamamu mungkin giliranku yang kena penyakit!”

Lydia kembali menoleh menatap Tuan Li. “Aku janji hal seperti itu tidak akan terulang kembali, Papa!” Diam-diam Lydia mengembuskan napas lega. Reaksi Tuan Li jauh lebih baik daripada yang ia perkirakan.

Pintu kamar Tuan dan Nyonya Li sedikit terbuka. Lydia mengetuk pelan, “Mama, aku Lydia, datang bersama Louis…”

Nyonya Li berusaha bangun. “Kau rupanya…”

“Berbaring saja, Mama!” Lydia buru-buru menghampiri tempat tidur, melarang Nyonya Li terlalu banyak bergerak.

“Ah… Louis, cucuku! Kau bertambah gemuk saja!”

“Dia sudah bisa berjalan.”

“Benarkah?”

“Baru beberapa hari, tapi sudah sangat merepotkan!” Lydia menurunkan Louis dari gendongannya. Seperti menyadari kalau dirinya sedang tidak berada di rumah, Louis hanya berdiri diam menatap sang nenek sambil mengulum satu jari tangan. Lydia duduk di tepi tempat tidur, menyentuh tangan Nyonya Li. “Sakit apa, Mama?”

“Pusing dan demam… tidak perlu dibesar-besarkan! Aku biasa begini kalau kurang tidur. Orang yang sudah tua memang kadang-kadang sakit. Nanti juga sembuh sendiri…”

“Pasti karena Mama memikirkan berita-berita tentang aku dan Tian Ya, ya? Maafkan aku…” Lydia berkata penuh penyesalan.

“Bukan! Aku tidak terlalu peduli dengan berbagai berita itu,” Nyonya Li mengelak. “Kemarin Tian Ya datang. Dia bilang masalahnya sudah selesai karena dibantu Franklin.”

“Kakak juga cemas, makanya dia sampai turun tangan membantu.”

“Semuanya telah berlalu, jadi kita lupakan saja.”

“Iya!” Lydia menundukkan kepala.

“Kau naik taksi, kan? Tunggu saja sampai Tian Ya pulang kerja dan menjemput kalian. Biar Louis lebih lama di sini.” Nyonya Li mencubit pipi Louis dengan gemas. “Louis pasti juga merindukan kakek dan nenek!”

Kondisi Nyonya Li membaik dengan cepat setelah melihat Louis. Sekarang ia duduk di atas permadani ruang keluarga sambil memangku Louis. Lydia mengeluarkan beberapa mainan Louis yang sengaja dibawa dari rumah. “Dulu Tian Ya juga sama. Setelah bisa berjalan, maunya pergi keluar. Kalau siang tidak mau tidur, inginnya bermain terus. Benda apa saja dipegang, diambil. Banyak barang-barang di rumah rusak dan pecah karena dilempar-lempar. Yah… begitulah jika punya bayi. Rumah selalu berantakan, tidak pernah bisa rapi.” Nyonya Li menatap Lydia dan bertanya, “Kau… tidak ingin pulang ke Indonesia? Orangtuamu tahu tentang Louis?”

Lydia mengangguk. “Aku sudah memberitahu mereka. Mengirimkan foto-foto Louis, tapi tidak pernah ditanggapi. Kalau aku telepon tidak pernah diangkat. Hanya kakak yang masih bisa berkomunikasi dngan ayah dan ibu. Katanya mereka belum bisa menerima pernikahanku dengan Tian Ya dan tidak akan pernah! Tidak peduli jika kami sudah punya satu anak atau bahkan sepuluh anak! Ayah juga mengatakan kalau dia menganggap aku sudah mati!”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk mereka,” kata Lydia tidak berdaya. “Sepertinya harus menunggu keajaiban…”

Nyonya Li menggeleng-gelengkan kepala. “Biar bagaimanapun kau dan Tian Ya harus mengunjungi orangtuamu. Aku dan papamu juga ingin ke sana, berkunjung secara resmi. Kalau hubunganmu dengan orangtua tidak baik, kamilah yang merasa tidak nyaman.”

“Aku tahu! Aku dan Tian Ya sedang mencari waktu yang tepat. Mungkin kami akan pulang ke Indonesia bersama kakak. Hanya dia yang bisa membujuk ibu dan ayah,” ujar Lydia pasrah.

Setelah pulang kerja Tian Ya menjemput Lydia dan Louis dari rumah Tuan dan Nyonya Li. “Kita akan jalan-jalan!”

“Jalan-jalan ke mana?”

“Toko perlengkapan bayi dan mainan anak! Kau ingin agar aku juga memilihkan baju untuk Louis, kan? Karena selama ini kau selalu berbelanja sendiri.”

Lydia lalu berkata pada Louis dengan nada pura-pura kesal, “Kau akan dibelikan baju, senang sekali, ya? Tapi masa mama tidak dibelikan apa-apa?”

Tian Ya tertawa. “Sebelum Louis lahir aku juga sudah sering membelikanmu baju!”

Lydia, Tian Ya, dan Louis masuk ke toko yang menjual perlengkapan bayi dan mainan anak. Mereka bergantian menggendong Louis sambil memilih barang. Mainan, pakaian, dan sepeda kecil untuk Louis. Satu jam kemudian ketiganya meninggalkan toko dengan membawa banyak barang belanjaan.

“Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Lydia, melihat Tian Ya belum juga menyalakan mesin mobil.

“Tidak.” Tian Ya mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan hati-hati. Setelah dibuka ternyata isinya adalah sepasang cincin. “Waktu hamil kau pernah meminta cincin. Tapi karena kau ingin aku yang memilihkannya, aku baru sempat membelinya sekarang.”

Mata Lydia terbelalak. “Kukira kau sudah lupa…”

Tian Ya mengangkat tangan kiri Lydia yang di jari manisnya terpasang cincin pernikahan hadiah dari Franklin. “Kau tidak suka dengan cincin ini?”

“Bukan tidak suka, hanya saja…” Lydia berkata dengan wajah memerah karena malu, “Kalau cincin pernikahan seharusnya mempelai pria yang membelikan… bukan orang lain…”

Tian Ya tidak pernah menyuruh Lydia melepas cincin hadiah Franklin, dirinya sendiri pun masih memakai cincin pasangan yang sama. Tapi jika Lydia meminta cincin dari Tian Ya, mungkin ini adalah saatnya mereka melupakan masa lalu dan mulai menatap ke masa depan. “Menurutmu begitu?”

“Cincin hadiah dari kakak disimpan saja…”

“Baiklah!”

Tian Ya mengganti cincin Franklin di jari Lydia dengan cincin baru. Kemudian ia juga mengganti cincin pasangan di jarinya sendiri dengan cincin pasangan yang baru. Pada saat itu, entah bagaimana mereka merasa lebih dekat.

Tidak ada lagi bayang-bayang Franklin di antara kita!

“Kau sudah bisa menjalankan mobilnya?”

“Tunggu! Masih ada sesuatu…”

“Apa lagi?”

Sekarang Tian Ya mengeluarkan tiga lembar kertas dari tas kerja lalu melambai-lambaikannya ke depan wajah Lydia. “Tiket pesawat ke Indonesia!”

 

Belakangan ini Fei Yang sering bepergian bersama teman-temannya. Setiap sore ada dua buah mobil yang berhenti di depan rumah gadis itu. Sekitar enam atau delapan orang berbicara dan tertawa-tawa dengan keras. Mereka menjemput Fei Yang dan baru pulang setelah jauh malam. Walau pura-pura tidak peduli Franklin selalu mengamati Fei Yang dan teman-temannya dari jendela. Sekali waktu ia juga bertanya pada Fei Xiang ke mana kakaknya pergi. Namun Fei Xiang malah memelototi Franklin dan membentak galak sekali, “Untuk apa kau tanya-tanya?”

Sebagian besar teman-teman Fei Yang bekerja di dunia hiburan sebagai foto model, bintang iklan, pemain film, atau penyanyi. Setelah kembali bermain piano otomatis hubungan Fei Yang dengan mereka kembali tersambung. Hari itu Fei Yang dan teman-temannya berkumpul di rumah Chang En En. Ada pesta kecil di sana. Mereka makan, minum dan menyanyi karaoke bergantian. Berbagai jenis lagu dinyanyanyikan. Fei Yang duduk di sudut ruangan sebagai penonton, tidak melakukan apa-apa selain menenggak bergelas-gelas anggur.

Ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan, En En menghampiri Fei Yang “Kau sedang ada masalah?”

Fei Yang mengangguk tak bersemangat. Ia kembali menuang anggur ke dalam gelas.

“Masalah apa? Keuangan? Karier? Keluarga? Atau… cinta?”

“Yang terakhir…”

“Kau baru putus dengan kekasihmu?”

Fei Yang tertawa getir. “Kami bahkan belum pacaran!”

“Jadi?”

Wŏ ài de rén bù ài wŏ…” (我爱的人不爱我… —Orang yang kucintai tidak mencintaiku…)

“Lalu kau mau merusak diri sendiri? Mau bunuh diri?”

“Aku tidak ingin merusak diri, juga tidak mau bunuh diri. Tapi biarkan aku lupa diri sebentar saja! Minum banyak-banyak sampai mabuk agar bisa melupakan orang itu!”

En En menggeleng-gelengkan kepala. “Siapa yang membuatmu demikian tergila-gila? Orangnya seperti apa? Aktor atau penyanyi?”

Bagaimana caranya menggambarkan orang yang disukai menggunakan beberapa kalimat?

“Dia bukan siapa-siapa. Bukan aktor, bukan penyanyi… dia hanya orang biasa. Wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, kulitnya kecokelatan. Dia sangat pendiam tapi baik hati…”

“Mungkin dia khawatir. Ada orang yang enggan memiliki kekasih dari dunia hiburan karena mereka tidak mau diekspos. Yakinkan dia bahwa hubungan kalian akan aman. Orang itu berasal dari mana? Apakah dari luar kota?”

“Luar negeri!”

“Ha?”

“Dia… orang Indonesia…”

“Indonesia?” En En mendorong bahu Fei Yang. “Aduh… kenapa kau bisa sampai menyukai laki-laki dari Indonesia? Suka dengan orang dari luar negeri itu repot! Kenapa tidak cari yang gampang saja, sih? Tetangga sebelah, misalnya…”

“Orang Indonesia itu juga tetangga sebelah…”

En En semakin bingung. Ia mengira Fei Yang sudah mabuk berat sehingga berbicara melantur.

Fei Yang turun dari taksi dan berjalan dengan tubuh sempoyongan karena pengaruh alkohol. Kepalanya terasa pening dan berat. Gadis itu tak dapat menjaga keseimbangan dan hampir jatuh. Tiba-tiba ada sepasang tangan menopang tubuhnya. Fei Yang menengadah lalu melihat seorang laki-laki berdiri begitu dekat dengannya, sosok yang sangat dikenal.

“Franklin! Sedang apa, kau?”

“Kau sendiri dari mana sampai mabuk seperti ini? Habis minum, ya?”

Fei Yang mendorong Franklin. “Bukan urusanmu!”

“Seorang perempuan pulang malam sendirian itu berbahaya.”

“Kau peduli?” Fei Yang tertawa mengejek. Apa sih, maksudnya laki-laki ini? Kemarin dengan terang-terangan ia berkata bahwa hanya menganggap Fei Yang sebagai teman dan guru yang baik. Kenapa sekarang menjadi sangat perhatian? “Tidak usah mengurusiku! Urus saja dirimu sendiri!”

“Kau mabuk… Aku antar kau sampai ke dalam rumah.” Franklin mencoba membantu Fei Yang, tapi gadis itu menepis tangan Franklin.

“Pergi! Aku baik-baik saja, tidak perlu bantuanmu!”

Franklin tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah mengawasi Fei Yang masuk rumah, pemuda itu berjalan ke rumahnya sendiri. Franklin diliputi segudang perasaan bersalah, merasa jika dirinyalah yang menyebabkan Fei Yang berubah menjadi sangat kacau. Hubungan pertemanan mereka mulai renggang sejak pernyataan cinta Fei Yang dan penolakan Franklin. Franklin tidak mau keadaan tersebut berlangsung terus-menerus.

Aku harus melakukan sesuatu!

Sore di hari berikutnya saat Fei Yang akan pergi bersama teman-temannya, Franklin sengaja mendekati gadis itu.

“Kau mau ke mana?”

Fei Yang memelototi Franklin. “Kau lagi! Pergi sana!”

“Kenapa kau tidak mengajak Fei Xiang? Jauh lebih baik kalau ada yang menemani.”

“Jangan ganggu aku! Apa tidak ada hal lain yang bisa kaukerjakan selain ikut campur urusan orang?”

Teman-teman Fei Yang sudah menunggu di mobil sejak tadi. Mereka mulai tidak sabar. Seorang laki-laki yang duduk di kursi kemudi turun lalu berdiri di antara Franklin dan Fei Yang. “Ada apa?”

Franklin memperkenalkan diri dengan sopan, “Halo, aku Franklin! Aku tinggal di sebelah rumah Fei Yang!”

Laki-laki itu mengamati Franklin. “Jadi kau dan Fei Yang bertetangga?”

“Ya!”

“Kenapa tidak katakan sejak awal? Apa kau ada acara? Jika tidak, bagaimana kalau sekarang kau pergi bersama kami?”

“Dong Kai Xiang!” Fei Yang melemparkan pandangan tidak setuju.

Orang yang dipanggil Dong Kai Xiang tersebut tidak memedulikan reaksi Fei Yang. “Kenapa? Lebih banyak orang pasti lebih seru! Lagi pula hari ini En En tidak bisa ikut, masih ada tempat yang tersisa di mobil!”

Franklin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. “Apa benar aku boleh ikut bersama kalian?”

“Tentu saja boleh! Teman Fei Yang adalah teman kami juga!” ujar Kai Xiang bersemangat. Ia meminta persetujuan pada teman-teman lain di dalam mobil, “Kita ajak tetangga Fei Yang juga, ya?”

Orang-orang di dalam mobil saling melihat satu sama lain lalu mengangguk. “Ya!”

“Baiklah!”

“Tidak masalah!”

“Ikut saja!”

Fei Yang kalah suara, terpaksa membiarkan Franklin ikut bersama mereka. Namun ia sengaja memilih duduk di depan bersama Kai Xiang sedangkan Franklin duduk di belakang, berdesakan-desakan bersama teman lain. Rombongan dalam dua buah mobil itu pun mulai berjalan beriringan. Franklin sebagai orang asing menjadi pusat perhatian teman-teman Fei Yang.

“Franklin, kau bukan orang Taiwan, ya?”

“Bukan, aku orang Indonesia!”

“Datang ke Taiwan untuk apa?”

“Bekerja!”

“Kau sudah lama mengenal Fei Yang?”

“Baru semenjak aku datang ke Taiwan, sekitar satu setengah tahun yang lalu.”

Keberadaan Franklin entah kenapa langsung membuat suasana hati Fei Yang memburuk. Ia ingin berteriak menyuruh semua orang diam, tapi hal itu tidak dapat dilakukan. Jadi ia hanya membisu sepanjang perjalanan sambil memasang wajah masam.

“Kalian memang sering pergi bersama-sama seperti ini?” giliran Franklin yang bertanya.

“Tidak setiap hari. Kebetulan aku, Xun Qi, Da Ying, dan Yi Xin baru saja menyelesaikan syuting sebuah film. Manajer memberikan cuti sampai akhir bulan. Kesempatan ini sangat langka, tidak boleh disia-siakan. Jadi kami mengajak siapa saja yang mau ikut bersenang-senang.”

Franklin belum mengenal semua teman-teman Fei Yang—Siapa suruh nama-nama mereka susah diingat? demikian ucapnya dalam hati—tapi jawaban yang dilontarkan laki-laki di sebelahnya ini cukup membuat ia mengambil kesimpulan. “Kalian pemain film?”

“Ya. Pemain film, penyanyi, model…”

“Jadi sekarang kita mau ke mana?”

“Kau lihat saja nanti, kami tahu tempat yang bagus!”

Tempat yang bagus? Ah, Franklin tidak peduli mereka mau ke tempat seperti apa, ia hanya mau menjaga Fei Yang agar jangan sampai mabuk seperti kemarin. Jalanan sedikit macet, mobil yang ditumpangi Franklin berjalan merayap. Saat itu Franklin melihat sebuah kios berkaca didekorasi dengan sangat menarik. Dindingnya dicat warna-warni, lengkap dengan lampu kerlap-kerlip. Di dalamnya ada seorang perempuan muda berwajah cantik. Tiba-tiba salah seorang perempuan yang diperhatikan Franklin ke luar dari kios. Franklin terkejut setengah mati karena perempuan itu mengenakan pakaian yang membuatnya sakit mata! Bikini! Perempuan itu mondar-mandir di pinggir jalan hanya dengan memakai bikini! Perempuan itu bahkan menghampiri mobil yang berada tepat di samping mobil teman Fei Yang sehingga Franklin dapat melihat lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.

Sedang apa dia?

Tanpa diduga perempuan itu berbalik menghadap Franklin, melongokkan kepala ke jendela mobil sambil tersenyum manis. Ia mengacungkan sesuatu dalam kemasan kecil sambil mengatakan beberapa patah kata. Karena terlalu terkejut, Franklin buru-buru memalingkan wajahnya yang merah padam. Tidak sempat memperhatikan apa yang dibawa perempuan itu, juga tidak sempat mendengar kalimatnya sampai selesai. Franklin bahkan sampai lupa bahasa Mandarin atau Inggris, hanya berseru dalam bahasa Indonesia, “Tidak! Tidak! Pergi sana! Pergi!”

Di dalam mobil orang yang mengerti bahasa Indonesia hanya Fei Yang. Otomatis ia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Franklin. Sesaat teman-teman Fei Yang kebingungan, namun setelah itu mereka ikut tertawa. Untunglah mobil segera melaju kembali dengan kecepatan normal. Franklin tidak tahu mengapa orang-orang tertawa. Seseorang yang bernama Kevin Qiu menepuk punggung Franklin keras-keras. “Di Indonesia pasti tidak ada! Perempuan yang tadi itu adalah penjual pinang! Bīnláng Xīshī 檳榔西施)!”

“Penjual pinang?”

“Ya! Perempuan penjual pinang itu sengaja berpakaian seksi untuk menarik perhatian orang—terutama laki-laki—agar mau membeli pinang yang dijualnya! Tapi biasanya mereka menjadi penjual pinang dengan terpaksa karena desakan ekonomi.”

Franklin tercengang. Perempuan penjual pinang yang berpakaian seksi dan memajang diri di pinggir jalan untuk menarik pembeli benar-benar merupakan sesuatu yang sulit diterima akal sehatnya.

Betel_Nut_Beauty_Stand betelnut-taiwan

Masih sambil menahan tawa, Kevin bertanya, “Kaubilang sudah satu setengah tahun di Taiwan, masa tidak tahu tentang penjual pinang? Apa saja yang kaulakukan? Mengurung diri di dalam rumah?”

Apa yang kulakukan? Aku terlalu sibuk memperhatikan Lydia sampai tidak punya waktu untuk memperhatikan keadaan di sekitarku!

“Dengan cara seperti itu… apakah banyak orang yang membeli pinang mereka?”

“Tentu saja!”

“Laki-laki muda?”

“Tidak peduli tua atau muda, banyak yang mengunyah sirih pinang di sini. Sama seperti mengulum permen karet atau merokok.”

Lagi-lagi Franklin dibuat terperanjat. Selama ini yang ia tahu, di Indonesia, mengunyah sirih pinang biasanya hanya dilakukan oleh para orang tua. Kecuali di beberapa daerah yang menjadikan pinang sebagai jamuan ritual bagi para tamu. Dulu Lydia selalu marah setiap kali melihat Franklin merokok. Tapi ia yakin sekali, jika disuruh memilih, Lydia lebih suka kalau Franklin merokok daripada mengunyah sirih pinang!

Obrolan tentang penjual sirih pinang membuat Franklin lupa jika dirinya sedang dalam misi mengawasi Fei Yang. Langit sudah berubah gelap sejak tadi. Mobil berhenti dan semua orang turun. Franklin menengadahkan kepala melihat bangunan di hadapannya lalu menghirup udara dingin. Kelab malam. Wajah Franklin mengeras seketika. Ia menarik Fei Yang yang sudah berjalan di depan.

“Ada apa?” Fei Yang melepaskan diri dari Franklin.

“Ini kelab malam!”

“Benar, ini kelab malam! Lalu?”

“Kau tidak seharusnya berada di sini! Ayo pulang saja!”

“Apa? Jangan bercanda!” Fei Yang mengerutkan alis, ia melanjutkan berjalan mengikuti teman-temannya.

“Fei Yang, aku akan menemanimu pergi ke mana saja asal bukan kelab malam!” Franklin menghalangi di depan Fei Yang, berusaha membujuknya.

“Tidak!” Fei Yang keras kepala. “Kalau kau tidak suka seharusnya kau yang meninggalkan tempat ini, bukan aku! Lagi pula aku tidak pernah memintamu menemaniku!”

Franklin tidak akan sedemikian alergi dengan kelab malam jika Lydia tidak memiliki pengalaman buruk dengan tempat ini. Ia tidak bisa membiarkan Fei Yang masuk sendirian—tidak bersama teman-teman artisnya yang memiliki gaya hidup terlalu bebas.

Sampai di dalam, rombongan yang terdiri dari sembilan orang itu pun berpencar. Ada yang pesan minuman, ada yang menghampiri kenalan mereka yang sudah lebih dulu berada di sana, ada juga yang hanya duduk-duduk. Franklin sengaja mengambil tempat di sebelah Fei Yang. Bersama keduanya juga ada Kevin dan Kai Xiang. Fei Yang semakin kesal karena Franklin mengikutinya terus. Fei Yang berusaha mengabaikan pemuda itu dan menganggap Franklin tidak ada.

“Fei Yang, kapan kau akan mengadakan konser piano lagi?” tanya Kai Xiang.

“Aku tidak tahu!”

“Kuharap tidak lama lagi, ya? Menyesal sekali tidak bisa datang waktu itu…”

“Tidak apa-apa. Di konser berikutnya aku akan memberikan dua tiket gratis. Satu untukmu, satu lagi untuk… kekasihmu!” goda Fei Yang.

“Aku baru saja putus!”

“Benarkah?”

“Ya!” Kai Xiang mengedipkan mata pada Fei Yang. Ia berkata setengah bercanda, setengah serius, “Sekarang aku menunggumu, bagaimana?”

Fei Yang tertawa. “Oh… tapi aku tidak yakin kau bisa sabar menunggu!”

Kevin berseru, “Hei, hei! Kita datang ke sini kan untuk bersenang-senang, tidak asyik kalau hanya duduk dan mengobrol! Fei Yang, apa kau mau berdansa denganku?”

“Berdansa, ya? Boleh juga!”

Franklin melemparkan tatapan tajam ke arah Fei Yang dan Kai Xiang. Ia ingin menghalangi, tapi Fei Yang sudah berdiri dan pergi ke lantai dansa bersama Kevin. Sekarang Franklin hanya duduk bersama Kai Xiang.

“Menurutmu mereka serasi tidak?”

“Siapa?”

“Fei Yang dan Kevin!”

Franklin hanya mengangkat bahu, “Entahlah! Aku tidak tahu!”

“Fei Yang memang memiliki daya tarik yang luar biasa,” Kai Xiang berkata sambil terus memperhatikan Fei Yang. “Saat SMA aku mati-matian mengejar Fei Yang. Walau akhirnya dia mau menerimaku, hubungan kami tidak lama karena satu bulan kemudian Fei Yang minta putus.”

Cinta pertama? Hah! Kalau dipikir-pikir itu karena Dong Kai Xiang terus-menerus mengejarku, jadi aku terpaksa jalan dengannya! Dong Kai Xiang masih bertingkah menyebalkan, sama seperti dulu!

Fei Yang mengatakan kalimat tersebut saat ia bersama Franklin, Lydia, dan Tian Ya membicarakan tentang cinta pertama sambil minum teh. Waktu itu Franklin dan Fei Yang berkunjung ke rumah Lydia dan Tian Ya untuk menjenguk bayi Louis. Rupanya sejak tadi Franklin sedang berbicara dengan cinta pertama Fei Yang, hanya saja ia tidak tahu! Apakah Kai Xiang ingin mengejar Fei Yang lagi? Pemikiran ini membuat alis Franklin bertaut, diam-diam ia mendengus.

“Semakin sulit didapatkan semakin menarik! Laki-laki yang mengelilingi Fei Yang tidak sedikit, juga tidak sembarangan. Seperti Kevin…”

“Memang apa hebatnya dia?” Franklin bertanya sinis.

“Apa hebatnya? Astaga! Kau…” Kai Xiang hampir menertawakan kebodohan Franklin lagi. “Kevin Qiu adalah penyanyi idola Taiwan yang sangat terkenal! Albumnya terjual ratusan ribu copy, lagunya bertengger di puncak tangga lagu selama berminggu-minggu, tiket konsernya selalu ludes terjual hanya dalam waktu beberapa jam! Tahun depan Kevin akan mengadakan konser tur keliling Asia. Banyak yang menduga jika Fei Yang akan bermain piano di konser Kevin sebagai bintang tamu atau pengiring.”

Mata Franklin terbelalak, dan ia pun sibuk menggerutu dalam hati. Penyanyi idola? Terkenal? Bagaimana bisa? Padahal suara Kevin biasa-biasa saja! Fei Yang bermain piano mengiringi Kevin? Sulit dibayangkan! Kevin, namanya paling mudah diingat, tapi orangnya paling menyebalkan! Kenapa Fei Yang berteman dengan orang seperti itu? Dan kenapa teman Fei Yang laki-laki semua? Memangnya Fei Yang tidak punya teman perempuan? Lydia mengidolakan artis-artis Taiwan, tapi Franklin berharap adik perempuannya tidak termasuk salah satu fans Kevin Qiu!

Lampu berganti-ganti warna menyorot menyilaukan. Mengikuti musik berirama cepat, orang-orang bergerak tanpa aturan. Pakaian yang dikenakan para perempuan di tempat ini lebih membuat Franklin “sakit mata” daripada pakaian penjual pinang yang ditemuinya di jalan. Laki-laki juga sangat berani, memeluk dan mencium pasangan mereka tanpa peduli dilihat orang atau tidak. Sedangkan Fei Yang masih berdansa dengan Kevin, berbaur dengan kerumunan orang, bertingkah gila-gilaaan. Bahkan kini mereka menari sambil berpelukan dan tertawa-tawa!

Melihat adegan tersebut, tidak tahu kenapa Franklin merasa darahnya mendidih. Lama-lama ia tidak tahan dan bergegas menghampiri dua orang itu. Franklin menarik Fei Yang lalu berkata dingin, “Aku pinjam dia dulu!” Kevin terbengong-bengong melihat pasangan dansanya dibawa pergi.

Agak menjauh dari kerumunan orang, Franklin memegang tangan Fei Yang dan memeluk pinggangnya. Ia membuat gerakan seperti sedang berdansa, tapi sebenarnya sedang marah-marah Tidak tahu apa yang mendorongnya melakukan semua ini. “Kalau kau patah hati, bukan begini cara pelampiasannya!” Franklin berbisik di telinga Fei Yang.

“Siapa yang patah hati? Patah hati karena siapa? Dirimu?” Fei Yang tersenyum sinis. “Aku tidak sedang patah hati! Aku justru heran kenapa kau terus mengikuti sampai kemari dan mengganggu kesenanganku dengan Kevin!”

“Aku mengkhawatirkanmu! Tempat ini sungguh tidak pantas bagi perempuan!”

Fei Yang melihat sekeliling. “Ada banyak perempuan, kenapa kau hanya mengkhawatirkan aku?”

“Aku tidak mengenal mereka! Aku hanya mengkhawatirkan orang-orang yang kukenal! Kalau Lydia di sini aku pasti sudah menyeretnya keluar sejak tadi!”

“Aku Fei Yang, bukan Lydia!” Selanjutnya kata demi kata diucapkan Fei Yang dengan tegas namun getir, “Aku Fei Yang, yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, pergi ke mana-mana sendiri, karena aku hidup sendiri! Kau tidak bisa menyamakan aku dengan Lydia, yang setiap saat dibantu, meminta pendapat orang lain jika punya masalah, diantar jemput saat bepergian, karena dia punya kakak sepertimu!”

Franklin tersentak. Benar! Fei Yang bukan Lydia! Gadis di hadapannya ini sangat mandiri dan terus terang. Bahkan dalam mengungkapkan perasaan. Kalau menyukai seseorang ia akan langsung mengatakannya di hadapan orang itu. Tidak perlu kode rahasia, tidak perlu repot-repot menulis puisi!

“Kau tidak berhak mengaturku dan tidak bisa melarangku melakukan apa pun yang aku suka… karena kau bukan siapa-siapa!” Fei Yang menandaskan. Ia meninggalkan Franklin lalu duduk bersama Kevin dan teman-teman lain yang sudah kembali berkumpul. Franklin pun mengikutinya. Duduk lebih baik daripada dansa, kata pemuda itu dalam hati.

Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Franklin, Fei Yang, Kevin, dan Kai Xiang duduk satu meja, sedang lima orang sisanya di meja sebelah. Botol anggur dan gelas-gelas kosong sudah menunggu.

“Agar tidak bosan, ayo kita mainkan sesuatu!”

Semua orang sibuk berpikir, kecuali Franklin. Ia berharap agar mereka tidak memainkan permainan yang macam-macam.

“Truth or Dare?” Kai Xiang mengusulkan.

Salah seorang di meja sebelah berseru, “Tidak bisa! Tidak bisa! Truth or Dare sudah menjadi pilihan kami! Kalian main yang lain saja!”

“Kita berbeda meja, berarti berbeda tim! Permainan sama kan tidak apa-apa!” Fei Yang memprotes.

Tapi teman-teman Fei Yang dari meja sebelah sengaja ingin mempersulit. Mereka mengejek sambil tertawa, “Tidak boleh sama! Harus cari permainan lain!”

“Kalau begitu kita main putar botol saja!” kata Kevin.

“Putar botol?” Kai Xiang tidak mengerti.

“Ya!” Kevin Qiu mengambil sebuah botol kosong lalu meletakkannya di tengah meja dalam posisi tertidur. “Kita putar botol ini. Setelah putaran berhenti, orang yang ditunjuk bagian ujung botol akan mendapat hukuman…”

“Setuju!” Fei Yang mengepalkan tangan ke atas dengan bersemangat. “Kita tentukan hukumannya!”

“Bagaimana kalau… berciuman?” lagi-lagi Kevin mengusulkan.

Franklin langsung terlonjak. “Tidak boleh! Tidak boleh berciuman!” Semua mata tertuju pada Franklin.

“Kenapa? Kenapa tidak boleh berciuman?”

“Iya, kenapa tidak boleh berciuman?”

“Karena… itu…” Franklin bingung mencari jawaban. “Itu terlalu… berlebihan…” Kai Xiang, Kevin Qiu, dan Fei Yang tertawa bersama-sama. Franklin terpekur.

Yang benar saja! Fei Yang satu-satunya perempuan! Mereka sengaja mencari kesempatan atau apa, sih? Lebih menjijikkan lagi kalau aku sampai harus berciuman dengan sesama laki-laki!

Kai Xiang berusaha memahami kondisi Franklin. Ia berhenti tertawa lalu menengahi, “Sudahlah, sudahlah! Kukira Franklin tidak terbiasa berciuman dengan sembarang orang. Kita ganti saja hukumannya!”

“Minum anggur!” sambar Kevin cepat. Ia mengambil gelas dan menuangkan anggur penuh-penuh ke dalamnya. “Siapa saja yang ditunjuk ujung botol, hukumannya adalah minum satu gelas anggur!”

“Ya! Hukumannya minum anggur satu gelas! Pasti seru!”

Lagi-lagi Franklin dibuat kesal. Ia mengepalkan tangan.

Apa Kevin Qiu ini tidak bisa berpikir lebih normal sedikit?

Namun permainan putar botol sudah dimulai. Kai Xiang yang pertama mendapat giliran memutar botol. Sialnya ujung botol mengarah pada Franklin! Pemuda malang itu kembali menjadi bahan tertawaan. Franklin meraih segelas anggur tanpa ekspresi dan menghabiskannya. Kai Xiang dan Kevin bertepuk tangan, Fei Yang sengaja memalingkan wajah ke arah lain. Setelah mengisi gelas lagi, Franklin memutar botol. Botol berputar lalu berhenti. Ujungnya mengarah pada Fei Yang.

Ketika Fei Yang akan mengangkat gelas, ada yang menahan tangannya. Franklin menatap Fei Yang dalam-dalam. “Aku memang tidak berhak mengaturmu dan tidak bisa melarangmu melakukan apa pun yang kausuka, karena aku bukan siapa-siapa… Tapi anggap saja kali ini aku yang meminta tolong padamu. Kau tidak boleh mabuk! Jadi aku akan menggantikanmu minum setiap kali kau mendapat hukuman dalam permainan ini!”

Franklin meminum anggur keduanya sampai tandas.

 

 

11 Comments to "[Di Ujung Samudra] Kau Begitu Memabukkan"

  1. Liana  20 February, 2016 at 06:39

    Alvina: Ya belumlah cuma kebanyakan nonton drama Taiwan, baca novel Qiong Yao dan mendengarkan RTISI. Hahaha!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.