Nalar Islam Nusantara

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Nalar Islam Nusantara

Penyusun: M. Mukhsin Jamil, dkk.

Tahun Terbit: 2007

Penerbit: Departemen Agama Republik Indonesia

Tebal: xviii + 504

ISBN: 978-979-8442-04-9

nalar islam nusantara

 

Sejarah perkembangan Islam di Nusantara adalah sejarah pertemuan dua budaya. Saat Islam masuk ke Nusantara, di Nusantara telah ada budaya dan agama-agama yang dianut oleh penduduknya. Ajaran Islam yang membawa kesetaraan umat manusia (Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya) membuat agama ini menarik bagi masyarakat Nusantara. Pada perkembangannya Islam di Nusantara mendapat pengaruh dari budaya lokal yang terbingkai dalam akulturasi budaya yang padu.

Perseteruan Eropa dan Timur Tengah yang terbawa ke Nusantara membuat pergolakan ideologi (Islam) di Timur Tengah terbawa ke Nusantara (hal. 117). Ideologi pembaharuan Islam ini menjadi sarana yang mengobarkan pemberontakan di kalangan rakyat kepada Belanda. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Belanda selalu menyudutkan Islam di Nusantara. Gerakan pembaharuan Islam ini bersama dengan penderitaan rakyat mengakibatkan kesadaran nasionalisme terhadap penjajahan oleh Belanda. Namun gerakan pembaharuan ini juga menimbulkan ketegangan dengan Islam yang sudah ada di Nusantara.

Buku ini membahas pergumulan Islam di Nusantara sejak adanya gerakan pembaharuan yang masuk ke Nusantara. Pergumulan akan pembaharuan aqidah, kesadaran nasionalisme terhadap penjajahan Belanda dan perjumpaan dengan Islam yang sudah bersatu padu dengan budaya lokal membangun corak baru dalam pemikiran/nalar Islam di Nusantara. Gambaran nalar Islam Nusantara dituangkan dari studi empat organisasi Islam, yaitu Muhammadiyah, Al Isyad, Persatuan Islam (PERSIS) dan Nahdatul Ulama (NU).

 

Muhammadiyah

Muhammadiyah yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan dikenal sebagai organisasi Islam modernis. Pemikiran Ahmad Dahlan sangat dipengaruhi oleh ulama asal Indonesia yang ditemuinya saat berhaji yang pertama kali dan para ulama gerakan Islam modernis yang berkembang di Timur Tengah pada pertengahan abad 19. Pada perjalanan hajinya yang pertama pada tahun 1890, Ahmad Dahlan berdiskusi dengan Syaik Akhmad Khatib Minagkabawi, Syaik Jamil Jambak (Minangkabau), Kiai Nahrowi (Banyumas). Pada perjalanan hajinya yang kedua Ahmad Dahlan belajar tentang gerakan pembaharuan Islam yang dibawa oleh Al Afghani dan Muhammad Abduh, yaitu rasionalisasi dan liberalisme Islam. Abduh menganjurkan umat Islam untuk kembali ke ortodoksi dan peningkatan pendidikan umat Islam (hal. 20). Pemikiran para ulama yang ditemui saat dua kali naik haji ini mmempengaruhi pemikiran keagamaan Ahmad Dahlan.

Pemikiran keagamaan Ahmad Dahlan bisa diringkaskan sebagai berikut:

(1) sumber pokok hukum Islam adalah Quran dan Sunnah. Jika tidak ditemukan di keduanya, maka ditentukan dengan penalaran dengan berpikir logis serta ijma’ dan qiyas;

(2) tindakan nyata adalah wujud kongkrit dari hasil penterjemahan Quran, sedangkan organisasi adalah wadah dari tindakan nyata tersebut;

(3) menyangkut kegiatan misionaris Kristen, kalau umat Islam membiarkannya tanpa melakukan apa pun, maka situasinya (umat Islam) akan semakin memburuk dan tidak bisa diperbaiki. Ketiga pemikiran tersebut membuat Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912.

Ahmad Dahlan sangat getol untuk memperjuangkan pendidikan umat Islam. Pendidikan yang dikembangkannya adalah pendidikan Islam dan sekaligus pendidikan ilmu-ilmu umum. Ahmad Dahlan sangat yakin bahwa umat Islam hanya akan maju apabila mereka juga menguasai ilmu-ilmu umum, bukan hanya ilmu agama. Meski awalnya gagasan pendidikannya ini banyak ditentang oleh para ulama tua, namun simpati masyarakat semakin besar. Terbukti dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengirim anak-anaknya bersekolah di sekolah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan.

Pada era kepemimpinan Ibrahim (1922-1933) Muhammadiyah semakin berkembang. Program “Anak Panah” yaitu mengirimkan lulusan pendidikan Muhammadiyah ke seluruh pelosok tanah air telah membuat Muhammadiyah menyebar dan berkembang pesat. Era kepemimpinan Hisyam (1933-1936) modernisasi pendidikan Muhammadiyah dilakukan. Yaitu dengan bersikap kooperatif dengan pemerintah kolonial sehingga sekolah-sekolah Muhammadiyah mendapatkan dukungan untuk meningkatkan mutu. Sedangkan pada jaman kepemimpinan Mas Mansyur (1937-1942) pemahaman keagamaan dan organisasi Muhammadiyah menjadi semakin kuat. Termasuk peningkatan administrasi organisasi seperti pencatatan perkawinan dan lain-lain.

Bagus Kusumo memimpin Muhammadiyah saat situasi politik bergejolak (1942-1953). Beliau berhasil mengawal organisasi Muhammadiyah tetap jalan dalam gejolak politik tersebut. Sedangkan A. R. Sutan Mansur (1953-1959) membuat pemisahan urusan keagamaan dengan politik. Urusan politik diserahkan kepada Partai Masyumi. Junus Anies (1959-1962) dan Ahmad Badawi (1962-1968) memimpin Muhammadiyah saat posisi politiknya sulit karena harus berhadapan dengan PKI.

R. Fachruddin (1968-1990) melakukan gebrakan “memuhammadiyahkan kembali Muhammadiyah”. A. R. Fachruddin menggalakkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah harus dapat membuktikan secara teoritis konseptual, secara operasional, dan secara konkret, bahwa ajaran Islam mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik Indonesia yang ber-Pancasila dan UUD 1945 (hal. 45). Ahmad Azhar Basyir (1990-1994) merumuskan program jangka panjang Muhammadiyah. Sedangkan Amin Rais membawa Muhammadiyah kepada organisasi modern. Organisasi modern dibutuhkan oleh Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman. Ahmad Syafi’i Ma’arif mengembalikan Islam sebagai azas Muhammadiyah dan membangun tradisi intelektual baru yang visioner, terbuka dan kritis (hal. 53).

Nalar Muhammadiyah yang telah diamalkan sejak berdiri pada tahun 1912 tersebut bukannya tanpa kritik. Buku ini mendiskusikan kritik terhadap nalar Muhammadiyah. Misalnya klaim tentang kesempurnaan ajaran Islam, yang ditandai dengan asumsi bahwa ajaran Islam mengatur segala hal, akan bertabrakan dengan intelektual muda Muhammadiyah (hal. 101). Gerakan pemurnian (purifikasi) harus dilakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak bertabrakan dengan pluralitas budaya lokal, sebab Muhammadiyah tidak lahir dari nir-budaya (hal. 107).

 

Al Irsyad

Al Irsyad tak bisa dipisahkan dari tokoh pendirinya, yaitu Ahmad Sukarti. Ahmad Sukarti adalah ulama yang didatangkan oleh organisasi Jami’at al Khair sebagai guru. Berdirinya Al Irsyad dipicu oleh perbedaan pandangan terhadap pernikahan kafa’ah. Isu kafa’ah ini muncul saat Ahmad Sukarti berkunjung ke Solo dan menemukan seorang syarifah (perempuan yang dalam urutan nasab/silsilah masih keturunan Nabi) yang hidup kumpul kebo dengan seorang China. Kejadian ini disebabkan karena perempuan tersebut miskin dan sulit untuk mencari jodoh yang sepadan (kafa’ah). Ahmad Sukarti mengeluarkan fatwa bahwa “hendaknya dicarikan seorang muslim yang ikhlas (rela) menikahi secara sah si syarifah tersebut, agar bisa terlepas dari gelimang dosa (hal. 119). Fatwa Ahmad Sukarti ini ditentang oleh orang Arab golongan Alawi. Fatwa ini menimbulkan perdebatan di kalangan orang Arab di Indonesia. Perdebatan bukan hanya dalam isu pernikahan kafa’ah, tetapi juga melebar kepada ijtihad. Dari sinilah kemudian Ahmad Sukarti mendirikan Al Irsyad.

Al Irsyad berusaha untuk menjalankan adat-istiadat bangsa Arab berdasarkan Islam. Al Irsyad bersifat independen tanpa azas yang bisa berkonotasi politis. Al Irsyad memberantas adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam, yang seluruhnya merupakah bi’dah dan khurafat. Al Irsyad menghantam aristokrasi Islam (hal. 121). Al Irsyad yang pada awalnya didirikan untuk kalangan orang Arab, pada perkembangannya menjadi organisasi yang inklusif dan menjangkau pribumi. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Al Irsyad tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak Arab, tetapi juga untuk anak-anak pribumi.

Gagasan dasar dan pandangan Al Irsyad terhadap Islam cenderung mengarah kepada paham ortodoks, dengan pijakan utama Quran dan Hadis. Pijakan berfikir seperti itu membuat pengikut Al Irsyad menjalankan praktik keislaman yang Arabic-sentris (memegang teguh budaya Arab), misalnya dalam berbusana. Hal ini bisa terjadi karena pengikut Al Irsyad kebanyakan adalah orang Arab.

Harus diakui bahwa Ahmad Sukarti adalah salah satu pelopor pendidikan di Indonesia. Ahmad Sukarti sangat peduli untuk menjaga kualitas pendidikan yang didirikan oleh Al Irsyad. Beliau membuat panduan pelaksanaan pendidikan yang harus dipatuhi oleh semua sekolah di bawah Al Irsyad. Ahmad Sukarti juga menjadi mitra diskusi para pemimpin bangsa seperti Sukarno, Cokroaminoto dan Ahmad Dahlan.

 

Persatuan Islam (PERSIS)

PERSIS lahir dari kelompok diskusi. Mula-mula diskusi diantara para pedagang asal Palembang di Bandung dalam kegiatan yang disebut kenduri. Dalam kenduri ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan Islam yang dianggap sudah jauh dari praktik yang sesuai dengan Quran dan Hadis. Kelompok diskusi ini kemudian berkembang dan bertambah anggotanya dari luar kelompok pedagang asal Palembang. Haji Zamzam dan Haji Muhamad Yunus adalah kedua tokoh yang kemudian mendirikan PERSIS, pada tanggal 11 September 1923.

PERSIS bertujuan menciptakan masyarakat yang berlandaskan ajaran serta hukum Tuhan (hal. 186). PERSIS memiliki dua arah gerakan, yaitu gerakan internal untuk membersihkan Islam dari berbagai faham yang tidak sesuai dengan nilai dan norma keislaman, sebagaimana termuat dalam Al Quran dan Hadis, serta gerakan eksternal dengan menentang setiap aliran dan gerakan anti Islam yang hendak menghancurkan Islam (hal. 187). PERSIS menolak segala bentuk kegiatan sosial keagamaan atau tradisi budaya yang tidak ada tuntunannya dalam Al Quran dan Hadis (243).

PERSIS mengalami pembaharuan oleh tokoh muda bernama Ahmad Hassan dan Muhamad Isa Anshary. Ahmad Hassan secara tegas menyampaikan bahwa praktik keagamaan yang didasarkan pada “akar budaya”, seperti ushalli, tahlil, dziba’an al barzanji dan talqin, adalah bid’ah dan tidak sesuai dengan ajaran Islam (hal. 249). Pembaharuan kelompok muda ini menimbulkan ketegangan dengan tokoh-tokoh tua.

Tokoh-tokoh lain yang bergabung dengan PERSIS adalah Muhamad Natsir, HAMKA, Muhamad Hasbi Assidiqy. Tokoh-tokoh Islam yang dekat dengan Masyumi ini membuat PERSIS secara organisasi bergabung dengan Partai Masyumi. PERSIS juga berkeinginan untuk membentuk negara Islam (hal 248), meski pada era kepemimpinan Abdul Latief Muchtar, PERSIS menerima azas Pancasila.

 

Nahdatul Ulama (NU)

Berbeda dengan organisasi Islam lainnya yang didirikan dengan semangat pembaharuan, NU didirikan sebagai wadah bagi ulama tradisional sehingga pengabdiannya tidak lagi terbatas pada soal kepesantrenan dan kegiatan ritual keagamaan semata, tetapi lebih ditingkatkan lagi pada kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi, politik dan urusan kemasyarakatan pada umumnya (hal. 281). Ulama tradisional dalam hal ini adalah ulama yang mengikuti empat mahzab, yaitu Syafi’I, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Para ulama bermahzab ini membentuk organisasi supaya bisa menghadap Ibnu Sa’ud yang beraliran wahabi dan anti tradisi. Rezim Sa’ud ini dipandang membahayakan faham Sunni yang pro-tradisi dan sudah lama eksis di Timur Tengah dan Arab. NU mengirim utusan kepada Ibnu Sa’ud dengan lima tuntutan untuk melindungi praktik Ahlulsunah wal jama’ah di tanah Hijaz. Jadi berdirinya NU tidak semata-mata merespon pembaharuan Islam di Nusantara (Jawa) saja, tetapi lebih ditujukan untuk melindungi kaum Sunni dari gerakan wahabi.

Sebagai organisasi ulama yang bermahzab, NU mendasarkan pembacaan teks Al Quran dan Hadis berdasarkan kitab kuning karya para ulama terkemuka. Alasannya, untuk memahami Al Quran dan Hadis diperlukan ulama yang otoritatif, yang diakui integritas spiritual dan kedalaman intelektualnya (hal. 388). Cara ini sangat berbeda dengan para modernis Islam yang mencari langsung kepada teks yang ada di Al Quran dan Hadis.

Alasan didirikannya NU di Indonesia adalah (1) untuk mempertahankan agama Islam dari serbuan “politik kristenisasi” (hal. 282), (2) membangun semangat nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan (hal. 283), dan (3) untuk mempertahankan faham Ahlulssunnah wal jama’ah dari serangan kaum modernis (hal 284).

Untuk memajukan umat, NU mendirikan banyak madrasah dan koperasi. Kedua cara ini dipilih untuk memperkuat basis masyarakat tradisional yang menjadi tulang punggung utama NU.

NU secara jelas mempunyai tujuan untuk kemerdekaan Indonesia. NU-lah yang melalui rapat rahasia 11 ulama yang dipimpin oleh KH. Mahfudh Siddiq memilih Sukarno sebagai presiden dan Drs Muhamad Hatta sebagai wakil presiden pada tahun 1940 (hal. 287). Pada era Jepang, beberapa tokoh NU dipenjara. Namun kemudian Jepang melibatkan NU dalam pembentukan Masyumi. NU juga sangat berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dari serbuan Belanda yang membonceng NICA.

Peran NU di bidang politik setelah kemerdekaan sangatlah dinamis. NU pernah keluar dari Masyumi, partai yang didirikannya dan membentuk partai sendiri (Partai NU (1952-1983), kembali ke khittah dan lepas dari kegiatan politik praktis (1984-1998), dan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (1999).

NU adalah organisasi Islam di Indonesia yang lebih toleran terhadap praktik-praktik budaya yang sudah ada dalam ritual Islam sebelumnya. Praktik-praktik budaya yang dianggap sesat oleh kelompok modernis, oleh NU tetap dipertahankan. Meski NU dianggap sebagai orgnaisasi tradisional, tetapi tradisi pemikiran yang ada di NU sangatlah luas rentangnya.

 

Kesimpulan dan Diskusi

Islam di Nusantara mengalami perjumpaan dengan budaya dan kondisi sosial politik. Gerakan pembaharuan yang marak menjelang kemerdekaan setidaknya telah berperan besar (1) pemurnian ajaran, (2) pelayanan pendidikan, dan (3) membangkitkan rasa nasionalisme, yaitu keluar dari penjajahan.

Dalam hal pemurnian ajaran, keempat organisasi yang dipaparkan di atas menunjukkan kadar yang berbeda-beda dalam menyikapi praktik budaya yang sudah mengakar dalam Islam di Nusantara. Meski keempat organisasi ini mengaku kembali kepada pelaksanaan ajaran Al Quran dan Hadis yang murni, namun sikap terhadap budaya ternyata berbeda-beda.

Keempat organisasi di atas melihat pentingnya pendidikan umat. Itulah sebabnya keempat organisasi tersebut mendirikan sekolah/madrasah sebagai upaya untuk mendidik umatnya. Keempat organisasi juga melihat pendidikan umum sebagai sebuah hal yang sangat penting, selain dari pendidikan agama yang harus diberikan kepada umat.

Di bidang politik, keempat organisasi memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang menginginkan berdirinya negara Islam, ada yang secara utuh mendukung pemerintahan Republik. Namun demikian dalam perjalanan sejarahnya dinamika sikap politik dari keempat organisasi ini juga sangat tinggi. PERSIS yang nyata-nyata berkeinginan mendirikan negara Islam pernah menerima Pancasila sebagai azas organisasinya.

Dalam hal ritual Islam yang terbingkai dalam akulturasi budaya, keempat organisasi memiliki sikap yang berbeda. PERSIS sangat jelas menolak segala praktik sosial budaya dan ritual yang tidak sesuai dengan Al Quran dan Hadis, sementara NU kelihatan lebih akomodatif.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Nalar Islam Nusantara"

  1. Handoko Widagdo  1 March, 2016 at 10:57

    Terima kasih EA. Inakawa. Saya jadi tahu sekarang bahwa nalar berasal dari Bahasa Jawa.

  2. EA.Inakawa  1 March, 2016 at 09:27

    Ass, Pangapunten Pak Handoko, secara tak sengaja saya membaca artikel Nalar oleh Hendri Kurniawan di http://cahkene-wahyulyananta.blogspot.co.id/ ….. mudah mudah saya salah, Salam Hormat

  3. Handoko Widagdo  25 February, 2016 at 16:12

    Kok saged asalipun saking Bhasa Jawa nalaripun pripun Mas EA Inakawa? (Kok bisa asalnya dari Bahasa Jawa nalarnya bagaimana?)

  4. EA.Inakawa  25 February, 2016 at 15:55

    Ternyata kata NALAR itu ber-asal dari Bahasa Jawa…..gitu lho

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.