Kanjoot Asap Itu

Luigi Pralangga

 

Dua bulan sudah kaki ini menginjak tanah Saudi Arabia. Ya, kali ini saya ‘nyasar’ ke sini. Nampaknya romansa menjadi seorang turis itu hampir pudar, dari mana tandanya?

Satu, dari saat saya udah mulai hafal jalan dan berkendara dari rumah ke kantor, dari kantor ke rumah tanpa nyasar atau salah belok atau keliru ambil rute.

Dua, mulai faham jam berapa harus masuk toko atau restoran, kok begitu? – iya, sebab di sini (Baca: di Saudi Arabia), semisal kamu ada di dalam restoran atau di dalam supermarket berkelana dengan trolley belanjaanmu itu lalu masuk jam waktu sholat maka pilihannya cuma dua, satu: Kamu dikerem (dikunci dari dalam) atau, dua – kamu ditendang suruh keluar restoran atau supermarket menunggu di luar untuk 15-20 menit hingga waktu sholat selesai.

Sampe nomor berapa tadi ya?, oh – Tiga, yaitu saat kamu udah nggak lagi ngomel-ngomel (Maksudnya: Bisa sabar tanpa ngajak berantem orang) saat… Satu – Ditelikung atau disalip saat berkendara di jalan meski pada jalur yang benar. Dua, diklakson bertubi-tubi saat lampu lalu-lintas itu beranjak hijau baru barang 1-2 detik saja (Edun pisan, lah!).. trus apalagi ya? – ohya, Tiga – Maklum saat pelayanan yang diberikan di restoran, kantor bagian layanan pelanggan ponsel GSM/langganan internet atau apapun itu – dilayani sangat lamban, dilempar kesana kemari, disuruh datang lagi besok dan sejuta alasan untuk tidak melakukannya saat itu juga. Oh ya, satu lagi yang bikin saya waktu itu hampir naik pitam – menunggu antrian passport control di bandara sampai 4 jam berdiri mengantri sementara sang petugas imigrasi yang jelas nganggur duduk di meja counternya sibuk main-main HP tanpa ada rasa tanggungjawab melihat antrian ‘landed passengers’ yang panjang antriannya hampir menyamai panjang-antrian-di-Tokyo-Disneyland-di-waktu-summer. (Mau ngamuk banget gak sih??).

Oke, jadi saat dirimu sudah mengalami, memaklumi dan mau bersabar atas rentetan kejadian peristiwa di atas itu maka sudah sah dirimu menjadi penduduk resmi, bukan lagi mentalitasnya bak pengunjung atau jemaah haji/umroh yang maksimal tinggal sebatas 2-4 minggu saja. Oke, lanjut kita?…

Perjuangan saya menetap di negeri pu’un kurma dan pedang bengkok ini sejauh ini sudah 98% deh. Apa saja itu?. Hunian atau tempat tinggal alhamdulillah sudah… nyaman dan tidak harus mahal dan hampir semua kelayakan rumah tinggal sudah lengkap tersedia.. nah yang 2% itu apa dong?. Si 2% ini adalah kemampuan daya tampung psikis untuk bisa bertahan tetap dalam kewarasan terhadap gegar budaya dan penyesuaian diri terhadap iklim padang pasir yang saat musim panas, suhu di luar dan terik matahari cukup ampuh dan singkat untuk membuat cucian basah itu kering renyah bak kerupuk hanya dalam tempo kurang dari 1 jam itu.

Penyesuaian diri itu pun juga menguji diri saat memahami bahwa faktanya ada tetangga (entah tetangga sisi kanan atau kiri ya?) yang doyan masang menyan-arab yang aromanya itu sangat memabukkan. Mungkin dia pikir gedung tempat saya tinggal ini banyak dedemitnya sehingga aroma menyan itu di pagi hari saat saya mau berangkat kerja dan sore saat saya tiba dari kantor wangi dan asap halus menyan-arab itu sudah santer menyergap dari saat saya keluar elevator, berjalan di lorong hingga membuka kunci pintu masuk harus tahan nafas agar tidak batuk-batuk dan semaput (Ah, semaputnya itu cuman saya yang sok drama aja kok!).

kanjoot asap

Menyan-arab? – seperti apa sih itu bentuk rupanya?, mengapa mereka kok pake acara bakar-bakar menyan segala?. Sudah..sudah jangan banyak tanya sama sayah, atuh – da’ saya pan bukan orang sini. Nanti saya tanyain sama si tetangga itu yang kemaren nampaknya ketahuan siapa orangnya, tiada lain adalah bapa-bapa tua orang arab yang masih gemar berdandan rapi. Sempat melihatnya duduk di balkon saat saya kembali dari kantor usai parkir kendaraan, melihat dia sedang mempersiapkan bakar si menyan-arab itu.

“Bakhoor” adalah nama si menyan itu, dia tidak lain adalah juga semacam kayu cendana berbentuk kepingan untuk jenis yang paling mahalnya, sedangkan jenis dengan harga lebih murahnya adalah berupa bubuk gergajian yang sudah dicampur dengan parfum sintetik lalu dipadatkan layaknya briket press itu sebesar bola bekel deh.. yang jelas, kata banyak orang di sini, bakhoor jenis termurah itu saat dibakar maka baunya akan menyengat tidak karuan dan bisa membuatmu (yang tidak terbiasa) bisa pingsan.

Kembali kepada si bapa tua tua itu, begitu saya tahu dia adalah orangnya (si Jurig menyan itu) maka saya tidak langsung masuk ke gedung apartment, melainkan pura-pura membersihkan kendaraan sambil mengamati apa yang dilakukan si jurig menyan itu. Saat si ‘nekara bakar’ itu mulai berasap… yang dilakukan si bapa tua itu adalah mengepul-ngepulkan asap bakhur itu ke wajahnya hingga si asap menyan tadi jadi merasuk sampai ke rambut di kepalanya. (Maka saat itulah saya kembali teringat cemooh lawas kawan saya di tanah air yang sering sekali berkata saat dia kesal dan menyanggah sebuah perkataan: “Hey, pale-lo bau menyan!… bla..bla..bla..<— mungkin dari kebiasaan orang sini kali ya dia mengutip cemooh itu).

(Apa?… Fotonya si bapa’ tua itu? – ya nggak ada lah! – mau di sambit sama si nekara menyan yang sedang berasap itu?.)

Belum berhenti di situ, lalu dipindahkanlah si nekara ngebul itu di lantai dan berdirilah si bapa tua itu mengangkanginya sehingga asap nekara itu bersis berada di antara kedua kakinya yang berdiri tegak dan diturunkannya itu busana khas arab putih yang kata saya mah itu bak daster putih… maka si asap menyan-arab itu masuk terkurung, persis seperti orang mengisi balon gas udara itu.. terkembanglah itu baju daster putih khas arab itu menggembung penuh terisi asap menyan. Sayapun melihat dia matanya kok jadi merem-melek begitu ya? – apa nikmat sekali rasanya saya tergumam dalam hati.. dan dalam hitungan detik pun akhirnya saya kok jadi tertawa sendiri meski harus ditahan sebab bisa ketahuan sama si bapak tua itu saya memperhatikan dari pinggir jalan parkiran itu.. mengapa saya tertawa? – karena mengetahui faktanya bahwa selain seluruh bajunya akan bau menyan-arab, juga isi kolornya pun akan sama persis aromanya.

Itulah awal saya bertemu dengan istilah baru kosa kata perjalanan hidup saya di Jeddah ini, yaitu “Kanjoot asap” – hehehehe… apa sih itu? – mohon teman-teman yang faham, silahkan menjelaskan di bawah melalui komentarnya ya.

 

Salam hangat dari Jeddah, Saudi Arabia…

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Kanjoot Asap Itu"

  1. J C  26 February, 2016 at 06:25

    Huahahahaha…komentar Hennie n Nyai Kona…ampuuunnn…pisang sale? Bukannya plus juga telor asap?

  2. Lani  21 February, 2016 at 23:07

    Hennie: Membayangkan saja tidak………….pisang asap????? Wakakakak ngakak lagi aku ora nahan……………

    Al: Klu begitu apakah bs disamakan dgn orang India bau badan mereka????? Full of rempah2 dr jarak 1 miles………….bisa bikin sukses terkapar??????? Wahahaha…………pagi2 sdh ngakak2 ndak tahan…………..krn komentar kalian

  3. Linda Cheang  21 February, 2016 at 15:53

    baca paragraf kedua terakhir, koq, prosesnya mirip ratus vagina di spa-spa sini, ya? hehehehehehe

    *asli aku ngakak, deh

  4. HennieTriana Oberst  21 February, 2016 at 13:37

    Lani, ya iyalah jangan dibayangkan seenak pisang sale beneran yang dari Aceh itu.

  5. Alvina VB  21 February, 2016 at 08:05

    Mbakyu Lani, gak usah deket-deket lah dalam jarang satu tangan lurus aja dah kecium baunya kok, he..he….Kl yg wanitanya blm masuk ruangan kita dah hafal baunya krn minyak wanginya minta ampyunnnn…..mandi pake minyak wangi kali yak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.