Terlalu Seriusss

djas Merahputih

 

img 1. "GUE SERIUUUS..!!"

img 1. “GUE SERIUUUS..!!”

Kata terlalu bisa diartikan sebagai sesuatu yang berlebih, baik segi positif maupun sisi negatif berbagai hal. Terlalu jelek artinya lebih jelek dari yang jelek. Terlalu baik maknanya lebih baik dari yang sudah baik. Ia dianggap melampaui sesuatu yang standar atau rata-rata. Terlalu adalah sesuatu di luar batas biasa-biasa saja.

Tuhan sendiri menganjurkan manusia untuk bersikap biasa saja. Kita tak dianjurkan melampaui batas. Masalahnya batas-batas suatu hal sangat relatif dan bergantung pada nilai serta norma yang berlaku dalam masyarakat. Sebuah kampung menganggap cewek bercelana pendek itu biasa-biasa saja. Di kampung berbeda hal tersebut dikategorikan pornoaksi. Demikian pula, hal tabu di sebuah tempat belum tentu tabu di tempat lain.

Hidup sering disikapi terlalu serius. Selain terlalu serius untuk berbagai hal terkadang ditambah pula keseriusan itu diterapkan secara terbalik, sangat serius merespon hal buruk dan seadanya saja merespon hal baik. Kita memilih sangat serius memelototi kasus kopi beracun daripada kopi dangdut, mengulik kekurangan orang daripada prestasinya, mengabarkan borok negeri daripada karya unggul anak bangsa hingga lebih serius memuja asing daripada membanggakan diri sendiri. Sudah seriusnya kebangetan, menempatkannyapun sering terbalik. Sungguh THERLALUH..!!

Bagi para aktivis perempuan poligami adalah momok. Mereka sangat serius menunjukkan ketidaksukaan “kaumnya” terhadap perilaku tersebut. Sayang, perihal untuk menganjurkan kesetiaan pada masing-masing pasangan menikah tak terlalu dianggap serius. Kesetiaan adalah hal wajar dan tak perlu digembar-gemborkan, bukan sebuah hal serius. Bagi ahli tafsir karbitan, keterlaluseriusan melarang poligami tanpa disertai “paksaan” untuk setia pada pasangan bisa dianggap sedang mengkampanyekan slogan: Poligami No, selingkuh Yes.. (waduhh..!!).

Dalam hal larangan merokok, para aktivis anti rokok berhasil merealisasikan pemasangan gambar vulgar mengerikan di setiap kemasan rokok untuk menakut-nakuti dan meneror para perokok. Sesuatu yang menunjukkan kesangatseriusan/keradikalan mereka melarang aktifitas merokok itu. Padahal sejarah rokok sangatlah panjang. Rokok bukan produk kemarin. Pun merokok dan tidak merokok sejatinya adalah sebuah pilihan, seperti halnya seseorang memilih untuk jomblo, menikah atau poligami.

Tak ada jaminan seorang non perokok pasti lebih sehat dan panjang umur dibanding para perokok. Tak ada pula jaminan bahwa para single lebih bahagia daripada pilihan monogami. Bukan pula sebuah keniscayaan monogami lebih awet dibanding poligami. Apalagi sebenarnya urusan jodoh itu bukanlah wewenang manusia. Jodoh adalah urusan Tuhan, ia berdimensi ilahiyah. Walaupun bagi sebagian orang, pernyataan ini dianggap tak masuk akal. Ada yang berniat menginterfensi? Silakan saja, itu hak Anda. Silakan mengadu kekuasaan Anda dan Tuhan. Salut buatmu…!!

Kita sering terlalu serius dalam hal membenci tapi kurang serius dalam perkara mencinta. Ditambah lagi tayangan ungkapan cinta sering disensor sementara tayangan ungkapan benci tak mendapatkan perlakuan sama. Presiden #Jancuker Sudjiwo Tedjo malah keberatan, mengapa adegan cipokan disensor sedangkan perang dan kekerasan (visual/verbal) tak disunting? Lihat pula keterlaluseriusan penggiat anti rokok memasang gambar vulgar organ dalam manusia pada setiap kemasan rokok tanpa sensor dari pemerintah, sementara iklan kretek yang menunjukkan kemesraan malah dikritik? Apakah ini berarti kebencian lebih layak diakomodasi daripada rasa kasih dan sayang? Bukankah tak seharusnya demikian? Jangan lupa, Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bro n sista..!!

img 2. Sersan Prambors

img 2. Sersan Prambors

Lagipula dunia ini hanyalah senda gurau belaka, tak perlu serius-serius gimana menghadapinya. Belajarlah pada awak Prambors cs untuk bersikap SerSan, serius tapi santai. Jika saja para relawan teroris pemburu sorga memahami hal ini tentu mereka tak perlu membawa bom dan senjata sungguhan ke Sarinah, cukup petasan cabe dan pistol air. Kan sorga dan bidadari yang dirindukan itu belum tentu sungguhan, toh? Senior-senior mereka saja sudah pada insyaf! Kini mereka tau bahwa sorga itu baik dan hanya layak bagi orang baik-baik. Ia tak layak bagi para pembunuh.

Mundur jauh ke belakang, di jaman kebencian pada PKI menjadi sebuah kebanggaan. Begitu seriusnya tentara dan pemuda muslim terhadap kebencian itu maka ratusan ribu rakyat Indonesia dihalalkan darahnya sebagai tumbal komunisme. Mereka lupa kisah pembangkangan Iblis pada Tuhan.

Iblis menolak perintah Tuhan untuk sujud pada Adam, namun mengapa Tuhan tak memusnahkan Iblis saat itu juga dan malah memberinya kesempatan untuk mengajak sebanyak mungkin manusia membangkang Sang Pencipta? Aaahhh…, Tuhan memang Maha Guyon. Apakah sulit bagi Tuhan untuk sekedar melenyapkan Iblis?

Lantas, apakah pembantaian ratusan ribu manusia hanya dengan alasan sederhana mereka adalah pengikut sebuah paham itu tak bisa disebut mendahului atau bahkan melampaui wewenang Tuhan? Hanya Tuhan yang tau, syukur-syukur Sang Pencipta tak tersinggung dengan sikap heroik pahlawan-pahlawan Pancasilais tersebut. Pancasilais..??

Setau hamba yang awam ini, Pancasila justru sanggup mengakomodasi berbagai perbedaan sebagai kesejatian manusia, Bhinneka Tunggal Ika. Si kembar identik saja masih dikaruniai banyak perbedaan apalagi jika keduanya dibesarkan dalam lingkungan berbeda. Keterlaluseriusan negara menyikapi perbedaan kedua faham kala itu akhirnya berbuah kebiadaban. Usaha Bung Karno dengan konsep Nasakomnya ternyata gagal dipahami sebagai sebuah upaya menjaga persatuan bangsa dari rongrongan pihak asing. Keterlaluseriusan menghujat komunis membuat kita rela membantai saudara sendiri.

Sekali lagi, dunia hanyalah senda gurau belaka. Terlalu serius menyikapi persoalan dunia berpotensi menggiring kita bertindak melampaui batas. “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu tak mampu berlaku adil“, pesan ini seharusnya menjadi pegangan bagi siapapun dalam menyikapi perbedaan dan permusuhan. Pengusiran sekelompok orang dari kampung halaman sendiri hanya karena perbedaan faham serta keyakinan seharusnya tak perlu lagi terjadi di negeri ini. Perbedaan tak harus disikapi berlebihan, persatuan itulah yang mesti diseriusi dengan sangat. Kita boleh saja terlalu serius mengusahakan persatuan, sebab ia merupakan satu-satunya pintu menuju kejayaan negeri.

Tapi kok, sepertinya tulisan ini sudah terlalu serius membahas keterlaluseriusan kita bermasyarakat. Duh, jadi lapar perut ini. Nyari jajanan dulu aahh…

“Baksoo.. bakso…!!”

“Sateee…!!

(Lho, kok jadi ingat Obama..??)

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Terlalu Seriusss"

  1. djasMerahputih  26 February, 2016 at 07:58

    Thanks kang JC.
    Patut disyukuri paham toleransi dan intoleransi masih jalan bersamaan. Asal jangan sampai didominasi oleh kaum pokoke. Kaum toleran harus bisa bersuara lebih keras. Diam bukan lagi berarti emas, tapi bisa jadi adalah lemas…

  2. J C  26 February, 2016 at 06:22

    Inilah dia Kang djas, di saat yang sama perkembangan toleransi dan intoleransi akan keberagaman di Indonesia berkembang bersamaan…dan hebatnya kelompok “POKOK’E” semakin menjadi-jadi. (pokok’e yang tidak sama, tidak sepaham, dan semua yang berbeda dengan mereka, semuanya salah, haram, masuk neraka)…

  3. djasMerahputih  25 February, 2016 at 07:03

    Sekarang ngga pake captcha lagi yaahh..? Ntar para robot nimbrung lagi tuh…

  4. djasMerahputih  21 February, 2016 at 15:11

    Makasih mba Henny,
    Iya betul, seharusnya persatuan itu yang perlu diseriusi dengan sangat. Kita adalah bangsa heterogen, mudah terceraiberai bahkan tanpa harus ada yang mengadudomba sekalipun. Eh eh… sekelompok orang malah meruncingkan perbedaan untuk tujuan sempit berjangkapendek.

  5. djasMerahputih  21 February, 2016 at 15:06

    ha ha ha… sepakat bang Inakawa. Santai dikit napa…
    Serius bolehlah, asal jangan terlalu. Ntar bang Haji bisa sewot lalu berujar, “THERLALUH..!!”

  6. HennieTriana Oberst  21 February, 2016 at 14:19

    Suka dengan kalimat ini;
    Perbedaan tak harus disikapi berlebihan, persatuan itulah yang mesti diseriusi dengan sangat

    Terima kasih tulisannya Djas.
    Salam hangat dari jauh.

  7. EA.Inakawa  20 February, 2016 at 15:37

    Serius = Menyeriusi = Keseriusan = diseriusi = ya dijalani sajalah, terlalu serius ogah ach !

  8. EA.Inakawa  20 February, 2016 at 15:32

    saya pingin selalu santai saja, toh hidup ini juga nggak berat amat ehehehe , emang gue pikirin

  9. djasMerahputih  19 February, 2016 at 09:05

    Mba Avy:
    Waah… thanks komentar panjangnya di lapak kecil ini…
    Sebenarnya benci dan suka itu manusiawi aja sih. Masalah baru muncul jika kata terlalu ikutan nimbrung dalam sikap kita. Seperti kata om DJ, semua yang berlebihan akan fatal.

    Bencilah seadanya, suka dan cintapun secukupnya. Ngga perlu lebaylah… Hidup terlalu singkat jika hanya ingin dipenuhi kebencian. Setiap individu itu unik. Kebenaran dan kejahatan tak pernah bisa dimonopoli oleh kaum dan bangsa manapun.

    Bencilah alakadarnya, cintailah secukupnya. Bukankah kenikmatan itu selalu berada di tengah-tengah…?? Tul nggak mas Anoew..?? #eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.