CHINA

Anwari Doel Arnowo

 

Tjina, Tjinak, Caina, Cainis begitulah yang saya dengar hampir setiap hari di telinga saya. Tidak suka intonasi cara mengucapkannya? Kalau seperti itu sayapun sebagai orang Indonsia “asli” juga tidak suka sama sekali. Orang Cina, yang asli (lahir di Tanah Leluhurnya) ataupun yang sudah lebih dari 60 tahun lahir dan tetap tinggal di sini itu orang Indonesia. Titik habis.

Lupakanlah istilah Pri dan Non Pribumi. Sudah tidak relevant lagi. Apalagi suka makan rujak,  gudeg dan karedok. Sayapun suka masakan mereka juga, semuanya suka. Tanpa memikirkan ini makanan China atau Cina atau malahan Tjina sekalipun. Apalagi saya membiasakan diri untuk memangsa makanan apa-apapun, makanan lokal di mana dan ke mana saya berada. Ketika di daerah orang Dayak, orang Papua dan orang Bali atau di daerah lain, bahkan di Negara lain yang sekalipun asing.Makanan Jepang yang model apa saja saya bisa memangsanya.  Saya selalu menempatkan diri sebagai salah satu dari mereka. Terasa pahit, asem, gurih, pedas juga pada awal-awal permulaannya. Toh pada akhirnya saya bisa terbiasa.

Tergantung cengkok apa bergayanya, menghina, mengejek, memandang rendah atau memang membenci atau memusuhi.

Termasuk yang lain-lain yang menyebabkan kesan berbau kurang nyaman, siapapun yang mendengarkan bisa salah mengartikannya.

Kalau begini ya memang akan sama bila mengucapkan segala julukan yang mengacu penyebutan nama bangsa seperti Yahudi, Amerika, Korea atau Afrika atau apapun. Ke dalam telinga saya terasa juga tidak nyaman rasanya  bilamana orang Malaysia menyebut Indon untuk mereka yang dianggap babu. Juga yang dinobatkan menjadi pesuruh atau budak sesuai suasana dan tata cara buruk  kemauannya. Yang paling nyaman bilamana saya berada di Toronto, Kanada para orang Pilipina itu sering sekali  mengelirukan saya yang menganggap bahwa saya ini sebagai salah seorang dari bangsanya.

Mereka menyapa saya dengan ramah dan sederet kata-kata ramah keluar berhamburan dari mulutnya. Saya diam saja tetap tersenyum sampai dia mulai curiga melihat muka saya yang terlihat tidak menangkap apa maksud kalimatnya. Ha ha. Yang begini amat sering terjadi. Terhibur juga saat  mendiamkannya sampai dia selesai dengan kalimatnya, entah apa artinya, tetapi ketika kemudian kita sama-sama sadar dan segera  kita melanjutkannya ke dalam bahasa Inggris, yaaa . . . . enaklaaah !!

Itu namanya kemungkinan salah terima berkomunikasi secara verbal.  Orang Pilipina yang mumpuni berbahasa Indonesia juga banyak. Pernah itu nyata terjadi di kurun  waktu jaman orde baru, di saat mudahnya mendapat ijin  area HPH (Hak Pengusahaan Hutan).

Muncullah orang-orang asal Pilipina di hutan-hutan kita entah sebagai pemodal atau pekerja biasa. Yang terasa mengejutkan saya ketika sekretaris saya di kantor, bercerita bahwa di pertemuan kumpulan (perserikatan) sekretaris perusahaan, termasuk di situ di dalamnya ada  perusahaan yang multi nasional, amat banyak sekretaris yang berkebangsaan Pilipina. Jumlah mereka ini katanya bisa mencapai 3000 orang. Lho apa pasal bisa begitu? Rupanya sebanyak apapun bangsa kita yang mempunyai pendidikan dan pengalaman kerja di perusahaan besar sebagai karyawan di sekretariat, kemampuan di dalam berkomunikasi bahasa Inggris masih belum biasanya bisa mengungguli mereka. Biarpun segudang lelucon saya punya untuk mengejek orang Pilipina, mereka memiliki kemampuan mendengar verbalnya dan menuliskannya, masih lebih pintar. Itu fakta yang pernah terjadi di Jakarta beberapa puluh tahun yang lalu.

Saat sekarang kadang-kadang rancu juga mendengarkan pembawa berita bahasa Indonesia yang orang Indonesia diiringi dengan logat daerah dari Jawa / bahasa- bahasa daerah lainnya. Belum lagi disisipi dengan bahasa Inggris yang sering terucap keliru. Bila event diucapkan seperti even, itu kan pasti salah ucapan dan artinya, bukan? Padahal istilahnya di dalam bahasa kita sendiri ada kata terjemahan yang mewakilinya. Begitulah kalau ingin mengucapkan peristiwa maka berubah menjadi berarti meskipun. Itu disebabkan oleh karena malas belajar dan juga malas mengajari dirinya sendiri.

DI DALAM BERBAHASA INDONESIA juga banyak yang tidak patut tampil menjadi pembaca berita.

Apalagi menjadi pembicara, menjadi pembaca saja melakukan kesalahan di sana dan di sini.

Seumur saya yang sudah mengalami lebih dari sekali perubahan dalam berbahasa Indonesia, saya tidak jera-jeranya mau mendengarkan perubahan-perubahan dan penggunaan kata-kata baru yang diakui menjadi kata baru bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau saya masih juga salah dalam menuliskannya maka saya akan mengoreksinya kemudian, seketika saya menyadarinya.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang mampu menerima kata baru yang belum dipunyai atau meniru mentah-mentah dari bahasa lain. Tidak usah segan tinggi hati mengatakan tidak mau. Apakah  anda mau membantah bahwa kata administrasi dan konfrontasi serta gubernur itu semua berasal dari bahasa Barat? Bahasa Inggris, sama saja dengan bahasa Indonesia, mengadopsi kata-kata berasal dari bahasa asing. Ada Yunani, ada Prancis dan bahasa Eropa lainnya. Yang saya beritaukan kepada semua yang terlibat masalah bahasa, saya katakan: belajarlah bahasa Inggris karena setelah menguasainya maka anda akan sudah pandai berbicara bahasa-bahasa empat Negara, yakni: Australia, Inggris, Amerika dan Kanada atau lima bila ditambah New Zealad malah mungkin Singapura. Singapura? Iya di Singapura bahasa nasionalnya ada beberapa antara lain Inggris, Tamil, China.

Baru-baru ini Pemerintah kita mengatakan bahwa di seluruh wilayah Indonesia ada sekitar 700 bahasa dan itu dikhawatirkan. Khawatir akan mati banyak sekali. Di rumah saya anak-anak saya yang 5 orang sudah tidak ada satupun yang sepandai saya berbahasa Jawa.

Khusus diri sendiri, mengalami kemampuan menurun karena kurang menggunakannya. Meski  saya masih lancar berbahasa Jawa Ngoko Kromo Madyo dan Kromo Inggil, kemampuan saya menulis juga berangsur-angsur menurun agak drastis. Pada umur 10 tahunan  dulu seingat saya, saya bisa menulis huruf Jawa secepat saya menulis huruf Latin. Sekarang? Malah beberapa huruf saya sudah lupa.  Dahulu sekali saya pernah menuliskan bahwa jumlah bahasa di dunia itu ada 6000an lebih dan setiap tahun ada sekitar 10 bahasa yang lenyap. Pernah ada upaya orang mengarang sebuah bahasa internasional yang dimaksudkan untuk “menyaingi” bahasa Inggris di dunia, diberi nama: bahasa Esperanto. Tidak berhasil karena kekurangan minat dari khalayak yang cukup.

Khusus sekarang ada anjuran untuk seorang tua seperti saya, agar menggiatkan kerja otak, dipakai, sekali lagi dipakai, agar tidak pikun. Anjuran menjaga kesehatan ini selain menyanyi dan bergaul lebih luas adalah belajar satu bahasa baru lain lagi. Saya sendiri pernah agak bisa  lancar berbahasa Jerman. Setelah belajar sekian tahun di Jepang saya baru menyadari bahwa bahasa Jerman saya Grathul Grathul. Masih mengerti tetapi sering mengernyitkan alis.

Bahasa belandapun dulu saya amat mengerti kalau ayah ibu saya membicarakan diri saya, masalah apapun. Tetapi kalau dengan orang belanda asli saya tidak mengertti. Kadang-kadang BLANK sama sekali. Bahasa Arab, saya memang pernah les privat selama beberapa bulan.Tidak bisa berlatih dengan siapapun yang bisa dan berhubungan dengan saya. Tidak terpakai sama sekali.

Bahasa China saya hanya mampu menangkap tulisan-tulisannya karena saya bisa bahasa Jepang. KAN itu artinya seberang lautan dan Ji itu huruf. Huruf Jepang yang disebut Kanji itu artinya Huruf Yang Berasal dari Seberang Lautan yakni China. Orang China jaman dulu menguasai 20.000 huruf China karena hampir semua huruf China itu adalah gambar-gambar. Sebuah huruf dituliskan dengan cara beberapa kali coretan. Ada yang melukiskan pedang yang digunakan oleh para Samurai itu dengan 40 lebih coretan. Di dalamnya ada huruf yang mewakili bulan, besi dan sifat-sifat bijaksana manusia dan lain-lain. Dahulu saya hafal sekarang lupa. Saya mungkin masih bisa membaca dan mengenali sekitar 1000 huruf Jepang. Mungkin setelah ini saya akan mengambil les bahasa China saja, karena yang saya pernah belajar dulu:  Kuo Ie saat ini sudah diganti dengan yang baru, meski masih terikat dengan yang lama. Namanyapun berubah dengan istilah: Mandarin. Saya belum pernah pergi ke China kecuali Hong Kong dan Taiwan saya sudah pernah.

Saya bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa, Sunda dan sedikit Palembang serta sedikit Banjar. Lumayanlah untuk modal bergaul.Mengapa saya tertarik kembali dengan China? Teman-teman saya yang asal SMA Negeri di kota Malang, Jawa Timur ada yang bertanya, mengapa saya banyak mempunyai  teman yang China? Biarpun status keturunan, mereka masih merasa asli dalam hal kebudayaan China. Di dalam reuni kadang terkumpul sekitar 50 sampai 100 lebih, tetapi hampir semuanya masih berbahasa Jawa logat kota Malang dengan saya.

Banyak dari mereka ini yang sekarang tinggal di USA atau Kanada dan Eropa ikut berkumpul dan bertemu dengan teman-teman sekolah SMA Katholik St. Albertus. di jalan Dempo. Oleh karena saya tinggal di jalan Dempo 13, saya sekarang mempunyai kenangan indah terhadap Rumah  dan juga Sekolah SMA Kath. Ini, yang jaraknya hanya sekitar 100 meter saja dari rumah.

Saya sungguh tidak mengerti, apa sebabnya banyak orang Betawi “yang anti” China. Mereka tidak tau kata elu dan gua itu kan asalnya bahasa China. Demikian juga Loteng dan masih banyak bahasa Betawi lainnya yang asal kata-katanya dari bahasa China. Hang Tuah dan Hang Jebat menurut info yang saya dapat, adalah orang China yang cuma perompak biasa. Sekarang sudah hapus dihilangkan dari buku-buku sejarah di Malaysia. Pendirian masjid di Jayakarta, di sekitarkota Pati Jawa Tengah dan tempat-tempat lain pembangunannya oleh orang-orang asal China.

Nasib lain orang Betawi lah sekarang yang ternyata Gubernurnya orang keturunan China dan beragama Kristen lagi! Bukan rahasia lagi banyak orang bilang, bahwa Wali Songo itu sebagian besar (8?) orang adalah orang-orang asal China.

Seorang bekas pejabat tinggi tetapi pengamat masalah China, bilang bahwa tanda belang warna coklat di bagian atas pantat kanan saya adalah bukti nyata saya adalah keturunan China (atau India?). Wah. Sekarang teman-teman saya ada yang sering memanggil nama saya Ang Hua Lee. Nama saya dengan tulisan Kanji sudah dibuat terukir di atas dua pasang hashi (sumpit makan) yang dibuat di Jepang (lihat photo).

Bagi anda yang menganggap huruf China itu rumit dan ruwet, itu anda benar sekali. Tetapi begitu anda masuk ke dunia China, anda bisa melongo ksrena terkagum-kagum , terheran-heran bagaimana jalannya cara menciptakannya dengan pikiran yang ada di masa sekian ribu tahun sebelum Masehi? Tulisan China yang terdiri dari 20000 huruf itu memerlukan rasa kemanusiaan, rasa seni dan kepintaran otak manusia. Sekarang meskipun sudah disederhanakan menjadi 5000an huruf saja dan bisa dicomputerized  masih saja ruwet kan?

chinese-language

MUNGKIN TIDAK setelah anda membuka link berikut:

http://www.ba-bamail.com/content.aspx?emailid=18770&source=mobile_share

Lucu cara menyampaikannyanya. Dimulai dengan membuka mulut lebar-lebar maksimum sehingga terlihat sebuah segi empat. Segi empat seperti itu mewakili huruf yang artinya mulut. Satu huruf perempuan tetapi apabila dituliskan dua huruf dempet maka artinya argument. Bila tiga menjadi satu adalah adultery (perselingkuhan). Tiga huruf yang seperti ini di dalam bahasa Jepang adalah yakamashii artinya berisik.

Ayo saya ajak bersama saya mulai belajar. Yang muda akan mengalahkan dalam bahasa baru saya, sebab lupa sekarang sudah menjadi salah satu bagian dari profile kehidupan saya.

 

Anwari Doel Arnowo –  1  Januari, 2016

 

 

10 Comments to "CHINA"

  1. Swan Liong Be  29 February, 2016 at 22:51

    Konon kabarnya, nenek moyangku juga berasal dari propinsi Yunnan, juga laksamana Cheng He berasal dari Yunnan dan beragama islam. Sebetulnya hubungan antara orang cina/tionghoa dengan apa yang dinamakan pribumi itu jauh lebih erat dan “vielseitig” (maaf, gak tau bahasa indonesianya) daripada apa yang kita ketahui. BTW, sebetullnya kita semua adalah keturunan, juga yang menganggap diri sendiri sbg. “pribumi” adalah juga keturunan, cuma labih dulu datangnya. Apropos bhs. mandarin, aku samasekali gak bisa, baik lisan maupun tertulis, hanya bisa makan jeruk “mandarin” dan chinese food.
    Lha wong bhs. belandaku yang dulunya notabene bhs. ibu disamping bhs. indonesia juga sudah luntur koq, diganti bhs.jerman; juga bhs. inggrisku jadi bhs.linggis. Yang masih ada disamping bhs. indonesia dan jerman, juga bhs. jawa ngoko yakni bhs. cinta. Kelebihan bahasa cinta, tidak perlu susah² belajar grammar atau gramatik!

  2. Lani  27 February, 2016 at 09:50

    Cak Doel Anwari: Saya pernah belajar bahasa Mandarin dikelas 6, ambil les privat, krn tdk pernah digunakan lupaaaaaaaaaa………

    Kmd ktk di SMA pernah belajar bhs Perancis, ada dua pilihan bhs asing, Jerman dan Perancis. Setelah lulus SMA saya lanjutkan kursus di Alliance Francais selama 2 tahun sampai bisa komunikasi, akhirnya ilang krn ndak pernah digunakan.

    Klu begitu mmg betul org mengatakan ttg bahasa asing “if you don’t use, you loose it”

    Nah ttg orang Filipina, banyak komunitas org Filipin di Hawaii, setelah org Jepang. Bbrp kali mrk salah sangka dikira saya org Filipin, mrk langsung sraduk-sruduk ngomong pakai dialek mrk atau pakai bhs nasional mrk Tagalog, aku senyam-senyum mendengarkan, setelah mrk selesai ngocehnya sampai menggeh2, baru aku jawab santai aja : sorry, I don’t understand Tagalog, I’m not Filipina.

    Mrk langsung grobyak ngomong pakai bahasa Inggris hehehe………
    Walau spt Cak ketahui, bhs Tagalog ada persamaan dgn bbrp kata Indonesia spt payung, ketawa, sepatu, mahal, murah, juga berhitung, malah campuran ant bhs Indonesia dan bahasa jawa.

  3. Lani  27 February, 2016 at 09:34

    Al: bisa aja nenek moyang among kenthirs berasal dr Yunan……..who knosw?

  4. Linda Cheang  27 February, 2016 at 08:29

    Matur Nuwun Cak, Doel, aku sudah diberi kesempatan menuliskan KEHERANANKU.

    Heran itu bukan marah, yah.

  5. Linda Cheang  26 February, 2016 at 15:04

    Aku, walau warga negara Indonesia, tapi masih keturunan CINA, masih belajar bahasa CINA walau sudah mulai bisa bicara CINA dan tulis karakter CINA, dan akan selalu jadi keturunan CINA.

    So what? Nggak masalah buatku mau apapun sebutannya CINA, ya, tetaplah CINA, kan.

  6. J C  26 February, 2016 at 08:06

    Untunglah, saya lumayan bakat di bahasa… matur nuwun tulisannya…

  7. djasMerahputih  25 February, 2016 at 17:34

    Epik I La Galigo menceritakan pengembaraan Sawerigading mengejar cintanya ke tanah Cina. Lalu akhirnya lahirlah La Galigo.

    Mungkinkah We Cudai adalah orang Yunnan..? Who knows…?

    Hadir mba Avy…

  8. HennieTriana Oberst  25 February, 2016 at 15:13

    Terima kasih tulisannya pak Anwari. Saya sudah tiga kali ikut kursus bahasa Mandarin, nyerah, saya nggak bisa-bisa.

  9. james  25 February, 2016 at 14:59

    hadir Al, mungkin juga sih diantara Kenthirs yang berasal dari Yunnan sono, who knows ?

  10. Alvina VB  25 February, 2016 at 12:39

    Pak Anwari, Saya baru dpt undangan kemarin ini ada perayaan Chinese New Year dari Assosiasi Yunnan di sini. Saya penasaran aja, mau ngeliat kaya apa org asal Yunnan. Weleh..weleh…saya kaget2 ngeliat kok banyak org mukanya mirip dengan org Chinese Indonesia. Bukannya nenek moyang Indonesia itu dari Yunnan? MCnya kaya kawan saya, ya saya kirim donk fotonya ke dia, bilangin nich ada kembaran kamu di sini. Begitu keluar baju tradisional mereka, betulan kaya pakaian penari dari Betawi, gerakan tangannya pun hampir sama aja, demikian juga dengan tutup kepalanya spt tutup kepala suku di Indonesia – dayak, minang, jambi dan palembang. Warna-warnanya sama aja, cerah dan penuh manik2 spt pakaian tradisional Indonesia.
    Absenin trio-kenthirs yg jangan2 nenek moyangnya dari Yunnan sana, ha..ha…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.