Dana LGBT

Elisabeth Oktofani

 

Sekarang gini deh…. Kita pada ribut tentang organisasi LGBT dapat dana dari Barat. So what?! Dana tersebut toh digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang hak sipil masyarakat, kesehatan reproduksi, HIV dan juga kesetaraan gender di masyarakat kita. Biar kita melek akan diri kita sebagai bagian dari masyarakat.

Tapi pernahkah kita mempertanyakan dari mana kelompok garis keras tersebut mendapatkan dana?! Adakah yang mempertanyakan mereka dapet dana dari Timur-Tengah termasuk Saudi?! Adakah juga yang mempertanyakan dan membahas secara blak-blakan kenapa tiba-tiba ada konflik antara Sunni, Syiah dan Ahmadiyah di Indonesia padahal sebelumnya adem ayem?! Kalau pun ada sektarian konflik, biasanya beda agama seperti Islam dan Kristen. Lalu kenapa sekarang berbeda?!

Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia adalah satu negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia, hal ini menjadikan Indonesia sebagai tempat yang empuk untuk perebutan pengaruh kekuasaan dua Mazhab Islam Sunni dan Syiah. Apalagi hubungan Saudi dan Iran sedang memanas akhir-akhir ini (Google ye kalau nggak tahu).

Dulu waktu saya sering liputan tentang kekerasan terhadap kelompok minoritas, saya bertanya pada salah seorang cendekiawan Muslim kenapa hal ini bisa terjadi?! Sesama Islam tapi saling membunuh sedangkan dulu tidak?!

Bapak tersebut mengungkapkan bahwa kelompok garis keras tersebut mendapatkan aliran dana dari Saudi untuk berbagai kegiatan, termasuk melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Hal itu bukan semata dilakukan karena mereka psikopat tetapi berusaha berebut pengaruh di Indonesia antara kubu Sunni (Saudi) dan Syiah (Iran). Sangat masuk akal menurut saya.

Apalagi dengan tingginya masyarakat yang tidak berpendidikan, miskin dan lapar, masyarakat pun gampang diiming-imingi janji surga dan nasi bungkus. Saya pun jadi ingat pada salah satu percakapan saya dengan seorang anak berusia 17 tahun di Pengadilan Cibinong, saya tanya kenapa ikut merusak masjid Ahmadiyah. Katanya ikut-ikut saja, enggak tahu kenapa mereka merusak masjid Ahmadiyah. Lagipula toh bisa masuk surga, capek hidup susah terus. (Well, Iya kalau surga ada. Kalau enggak ada? Udah hidup susah di bumi, surga nggak ada lagi. Rugi bandar Bung!) Saya miris mendengarnya.

Oleh karena itu, ada kemungkinan kalau trend konflik Sunni-Syiah kini dialihkan ke kelompok yang lebih minoritas lagi LGBT karena mereka tidak hanya dari satu kelompok agama tertentu tapi berbagai macam. Toh orang-orang religius tersebut nanti akan menginterpretasikan ayat dari kitab suci masing-masing. Kan lebih enak tuh?! Kroyokan. Lumayankan kelompok garis keras beserta politisi kampret yang pada cari proyek bisa dapet aliran dana dari Saudi, perut kenyang dan masuk surga lagi. (Iya kalau surga ada broh….)

Ingat ya, konon kabarnya ibu anggota DPD satu “main-main” sama anggota polisi yang katanya suami orang. Kemudian doi yang dulu nggak suka sama kelompoknya habib, eh sekarang jadi BFF bahkan doi merubah penampilannya. Kemana-mana bawa isu moralitas buat bisnis eh melindungi masyarakat eh bisnis. Tentu salah satu duitnya dari onta-onta itu. Coba dia enggak ke Petamburan kalau itu, ceritanya beda.

Tapi ya… Sekarang kan harga minyak dunia turun, kantong unta-unta itu pun pada akhirnya akan kering juga suatu hari nanti. Mungkin kalau itu terjadi, entah itu kapan, negara baru bisa melindungi hak sipil masyarakat Indonesia kali ya siapapun mereka.

Ini pun saya mengira-ira karena saya sedih melihat lagi-lagi ada kekerasan di masyarakat Indonesia.

Dulu banyak negara lain yang kagum melihat Indonesia memiliki pesantren untuk waria milik ibu Maryani di Yogya. Saya sempat bertemu dengan Ibu Maryani beberapa kali. Saya kagum dengan beliau karena di pesantren tersebut waria Kristiani pun bisa melakukan ibadah. Tapi sepertinya para cecunguk tidak suka ketika Indonesia memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan yaitu kerukunan. Lagipula Pak Menteri kan udah bilang, LGBT isu yang seksi. Ya toh?!

 

 

About Elisabeh Oktofani

Lahir di Yogyakarta, 1987, Elisabeth Oktofani adalah seorang jurnalis dan penulis yang kini berdomisili di Jakarta. Lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2010. Kecintaan Oktofani pada dunia tulis menulis dan ketertarikannya pada isu sosial membuat Oktofani senang berkenalan dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Bule Hunter adalah buku Oktofani pertama yang ditulis dengan metode jurnalistik, yakni melalui riset, wawancara dan observasi lapangan dengan sudut pandang perempuan Indonesia.

My Facebook Arsip Artikel Website

10 Comments to "Dana LGBT"

  1. Lani  27 February, 2016 at 03:53

    Ya begitulah jadinya klu wilayah private sdh dirambah, dirusak, dicampuri, jd campur aduk ora nggenah.

    Utk diajak hidup tentram, damai kok susah amat sih?

    Ngakak lagi, terutama baca komentar kang Chandra ,mas DJ dan ki Lurah………apakah semuanya HARUS diubah harus sama pleg dgn Arab? Dari kepala sampai mata kaki? Padahal Indonesia sdh punya kebudayaan luhur dr sononya, la iki malah kakehan polah import budaya, tp budaya keblingeeeeeeeeer………….

    Nanti klu ada salah satu budaya, atau kesenian milik negeri ini dicaplok Negara jiran mencak2, ngamuk, kenapa budaya Arab dicaplok mentah2, mmgnya merasa rendah diri menjadi orang Indonesia?????? Jiaaaan……..gedeg plus deleg2 aku……..speechless

  2. Itsmi  26 February, 2016 at 14:59

    Dana LBGT, di protes, saya kira itu wajar dan logis karena Indonesia negara yang beragama. jadi ini konsekwensinya…

  3. Linda Cheang  26 February, 2016 at 14:50

    bungkus a la Arab ini yang bikin kepala pening….

  4. Chandra Sasadara  26 February, 2016 at 12:02

    secara norma hukum, Indonesia tidak boleh melarang atau menganjurkan kepada warga negara untuk melakukan atau tidak melakukan keyakinan, agama dan orienatasi seksual. sebab ketiganya merupakan domain personal. yang bisa dilarang, apabila seseorang mamaksa orang lain atau melakukan mempublikasi pronografi, tidak lebih dari itu. sisanya negara harus memberikan jaminan hak-hak seseorang untuk memilih orientasi sesksualnya, termasuk melindungin hak-hak perdata lainya seperti pekerjaan yg layak dan lingkungan yang layak.

  5. Chandra Sasadara  26 February, 2016 at 11:55

    Kang JC, apa yang disebut oleh Bu Elisabet betul ttg sumber dana berpengaruh pada kemasan. sangat bagus klo ada artikel Kang JC yang bisa menelusuri sumber dana kelompok TAKFIRI seperti FPI, HTI, Assunah, PKS dll. gaya tulisan Kang JC lebih cocok untuk jeliss studi dokumen model penelusuran sumber2 di internet..iki critane anggota segleng, anggota kok njaluk maring lurah..bahahhaa

  6. J C  26 February, 2016 at 08:16

    Oktofani, lha ini dia, bener banget wis…di Indonesia sekarang lebih buanyak yang ngurusi urusan KEMASAN tanpa peduli ISI, dan kemasannya adalah KEMASAN ALA ARAB…

  7. djasMerahputih  25 February, 2016 at 18:18

    Nampaknya ada upaya mendegradasi keindahan pelangi. Suatu saat gambar pelangi akan dilarang karena identik dengan LaGiBeTe. Lagu anak pelangi2 jg bakal hilang dan novel Laskar Pelangi akan ditarik dari peredaran.. Duuhh..!!!

    Hadir mba Avy…

  8. james  25 February, 2016 at 14:42

    hadir Al, makasih ansenannya

    tumben gak ada coptcha nih

  9. Dj. 813  25 February, 2016 at 14:30

    Mbak Elisabeh . . .
    Tulisan yang bagus dan memang kenyataan nya demikiian .
    Orang Indonesia, banyak yang buta dan ingin kelihatan wah .
    Jadi banyak yang hanya ikut-ikutan saja .
    Dulu banyak teman dan saudara muslim yang tidak berkudung . .
    Sekarang hanya untuk agar kelihatan alim.
    Ada saudara Dj yang sudah entah berapa kali naik haji, tapi tetap tanpa kudung .
    Dj. tanya, mengapa dia tidak berkudung seperti yang lain nya .
    Dia jawab, yang penting hati kita bagaimana .
    Mau berkudung ya silahkan asal hati kita bersih .
    Tapi kenyataan nya, banyak yang berkudung, tapi hatinya tetap kotor .
    Tidak menunjukan sifat yang baik .
    Kepala dikudungi, tapi yang lain diumbar kemana-mana . . .

    Salam Damai dari Mainz .

  10. Alvina VB  25 February, 2016 at 12:18

    Rindu dengan Indonesia yg duluuuuuu, pluralisasi jelas ada dan gak ngeributin mau waria/lesbi/homo kek, mau kudungan/gak pokoknya semua hak individu masing2, sekarang ini ya spt tulisan ini lah…

    Absenin para kenthirs yg asik2 aja kan dengan pluralisasi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.