Dunia Malam

Ida Cholisa

 

Namaku Yusantiani. Usiaku 33 tahun. Aku terbiasa pulang larut malam. Saat jarum jam mendekati angka 11, biasanya aku baru menginjak teras kost. Lima hari dalam seminggu, selalu aku begitu. Akhir pekan bahkan aku jarang pulang. Minggu malam aku baru datang.

Mengapa aku begitu? Ini rahasia hidupku. Tak perlu kalian mengusik ketenanganku. Jika aku tak mengganggumu, mengapa kamu bersusah payah menyelidi ke mana pergiku? Apa pedulimu? Siapa kamu?

Kenyataannya, bisik-bisik itu semakin kencang. Tetangga kamar kostku bahkan memandang sinis padaku. Ibu-ibu kompleks di mana aku numpang kost di salah satu rumah di RT 006 bahkan terang-terangan menyindirku.

“Wah berapa bayarannya ya semalam? Tiap hari pulang malam, pulang pagi, hm.. kerja apa ya? Penasaran…”

Ibu-ibu lain tertawa. Sebagian bisik-bisik saja. Suara mereka tak terdengar lagi saat tubuhku menghilang di belokan jalan.

***

Aku tak pernah menggubris mereka. Aku sudah lelah dengan diriku, dengan aktivitas malamku. Menanggapi mereka membuatku sakit saja. Sakit hati bahkan bisa jadi sakit fisik.

Siang ini bisik-bisik itu menghampiri telinga lagi. Aku masih bisa menahan diri. Tapi saat seorang ibu muda berteriak kencang bahwa aku menggoda suaminya, aku tak bisa menahan emosi. Kuhampiri ia, kulabrak ia. Ibu-ibu yang lain minggir ketakutan. Aku menatap tajam mereka, kemudian berlalu. Ibu muda yang kulabrak lari ketakutan dan masuk ke dalam rumah.

Sekarang tak ada bisik-bisik lagi. Entah mengapa. Apakah mereka takut kena bogem mentahku? Entahlah. Yang jelas lenyap sudah suara-suara sumbang tentang diriku.

***

Kompleks di mana aku numpang kost tiba-tiba geger. Bermula dari selentingan bahwa rumah besar di ujung jalan dibeli seseorang dan hendak dijadikan lembaga pendidikan. Rumah besar di ujung jalan kabarnya milik seorang pengusaha hiburan malam. Rumah itu belakangan menjadi rumah remang-remang di mana perempuan dan lelaki asing acap datang dan pergi, keluar masuk dan melakukan transaksi birahi.

Kini rumah besar itu diruntuhkan, rata dengan tanah. Kabarnya sang pemilik baru ingin membuang bayang-bayang mesum rumah besar tersebut. Pelan tapi pasti bangunan baru berdiri.

“”Santi Course”

Suara-suara bernada kagum bermunculan. Mereka tak habis pikir mengapa si pemilik bangunan baru menjadikan tempat tersebut sebagai tenpat bimbingan belajar, gratis untuk anak tak mampu.

***

Undangan untuk warga disebar. Peresmian ‘Santi Course” dihadiri warga kompleks dan undangan pejabat kelurahan, kecamatan dan kabupaten. Hadir pula puluhan relasi dan beberapa bule yang entah dari mana datangnya. Beberapa dari mereka memberi sambutan, apreasiasi dan dukungan.

Tiba momen pengguntingan pita. Pembawa acara meminta pemilik ‘Santi Course’ maju ke mimbar sebelum melakukan pengguntingan pita, tanda telah diresmikannya lembaga pendidikan.

dunia-malam

Seorang perempuan muda maju ke mimbar. Berbusana merah menyala, ia mengangguk hormat pada semua yang hadir. Sepatah dua patah kata meluncur dari bibirnya.

Warga kompleks terhenyak. Mata mereka terbelalak. Mereka saling berpandangan, seolah tak percaya pada pandangan mata mereka…

**

Warga kompleks membungkuk hormat setiap bertemu diriku. Sikap mereka berubah 180 derajat. Suara-suara sumbamg berganti sanjung dan pujian.

Aku tak tinggal di rumah kost lagi. Aku tak pernah pernah pulang malam lagi. Bahkan akhir pekan pun aku tak menghilang lagi. Sepanjang waktu aku menghidupkan ‘Santi Course’, sebuah lembaga yang kurintis dan kudedikasikan untuk para anak tak mampu. Aku adalah pemilik baru bangunan besar itu, dan aku adalah direktur muda yang memimpin lembaga pendidikan itu.

Aku berkibar dengan aktivitasku yang baru. Yusantiana, M.Pd, penggugah semangat belajar anak-anak tak mampu.

Tak ada yang bertanya-tanya lagi tentang aktivitas terdahuluku. Mengapa aku bekerja sampai malam, dan selalu pulang larut malam. Predikat tak baik tentang diriku luntur seiring berjalannya waktu.

Aku memegang teguh ajaran agama. Aku takut dosa. Aku tak pernah melakukan pekerjaan hina seperti yang dituduhkan mereka sebelumnya.

Aku selalu pulang malam karena mengajar privat murid-muridku yang merupakan karyawan sebuah perusahaan asing. Mereka belajar bahasa Inggris untuk mendukung pekerjaan mereka. Kulakukan dengan sungguh-sungguh dan profesional pekerjaanku, terlebih mereka membayar tinggi atas jerih payah mengajarku.

Kutabung uang hasil tetesan keringatku. Bahkan ketika aku menikah diam-diam dengan salah satu muridku, manajer personalia perusahaan asing itu, aku mendapat pundi-pundi uang yang sangat banyak jumlahnya. Uang tersebut sedianya untuk membeli hunian baru.

Warga kompleks tak ada yang tahu kalau aku sudah menikah. Kututup rapat untuk sementara waktu, hingga berdirinya lembaga pendidikan yang kupimpin itu.

Dunia malam telah mengantarkanku menuju tangga sukses. Dunia malam yang positif, menurutku. Aku berterima kasih pada muridku, Krishna Yudha, sang manajer yang telah menikahiku. Aku bahagia menjadi istrinya, meski hanya menyandang predikat istri kedua…

Santi Course kini maju pesat, secepat kilat.

 

 

4 Comments to "Dunia Malam"

  1. J C  7 March, 2016 at 05:29

    Setuju dengan komentar kang djas…ending’nya mak jleeeebbbb…

  2. james  2 March, 2016 at 08:29

    hadir bang Djas, terlambat deh dua hari Baltyra nya ngadat lagi

  3. djasMerahputih  2 March, 2016 at 08:22

    Ha ha ha…. endingnya “menyakitkan”
    Membolak-balik realita…!!

    Absenin trio Kenthirs…

  4. Dj. 813  1 March, 2016 at 23:51

    Dunia malam yang terang benderang .
    Terimakasih dan salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.