DINAMO (Digital National Movement)

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Dinamo (Digital National Movement)

Penulis: Usman Hamid

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: Bentang

Tebal: viii + 316

ISBN: 978-602-291-019-0

dinamo

Masalah sesungguhnya bukan ada pada orang-orang yang berbuat sewenang-wenang itu, melainkan lebih pada orang-orang di sekitarnya yang diam (hal.131)

Saya sudah hampir meletakkan buku ini dan tidak melanjutkan membacanya. Setelah pembukaan yang cukup menarik, yaitu acara perkenalan Change.org yang dinamai DINAMO (Digital National Movement) saat Jakarta dilanda banjir besar pada tanggal 19 Januari tahun 2013, uraian masa kecil penulisnya terasa lamban dan membosankan. Saat itu saya sedang menunggu di Lounge Garuda di Cengkareng. Saat berada di atas Garuda GA 226 yang menerbangkan saya dari Jakarta ke Solo, saya memutuskan untuk melanjutkan membacanya, karena dua buku yang lain terlanjur saya masukkan ke koper besar. Apa yang ada di bab-bab berikutnya ternyata sangat menarik.

Masa kecil Koordinator KontraS dua periode setelah Munir ini biasa saja. Sama seperti anak-anak Jakarta pada umumnya, Usman Hamid bersekolah pagi hari dan belajar di madrasah sore hari. Saat SMP dan SMA diwarnai dengan tawuran pelajar, meski dia tak pernah terlibat tawuran besar. Seperti remaja umumnya, ia juga tertarik dengan musik dan pernah mendirikan kelompok band sekolah.

Kuliahnya di Fakultas Hukum Trisakti adalah sebuah kecelakaan. Sebab minat utamanya adalah masuk ke Fakultas Teknik Elektro atau Teknik Mesin. Namun karena dia tidak lolos, maka dia mendaftar di Akademi Pariwisata. Pilihan ngawurnya ini ditentang oleh keluarganya. Akhirnya dia masuk ke Trisakti ke jurusan yang masih buka, yaitu Fakultas Hukum. Itupun, atas bantuan ibunya, dia cukup hanya menjalani selama satu semester dan semester berikutnya bisa pindah ke Fakultas Arsitektur. Namun setelah menjalani perkuliahan di Fakultas Hukum, Usman Hamid tak mau pindah. Alasannya adalah di Fakultas Hukum tak perlu banyak belajar sehingga punya banyak waktu senggang.

Takdir membawanya ke arah hidupnya yang sekarang. Turbulensi politik di akhir kekuasaan Suharto membuat dia menjadi aktivis. Empat mahasiswa Trisakti menjadi korban. Saat turbulensi itu terjadi Usman Hamid menjabat sebagai Ketua Senat Fakultas Hukum Trisakti. Dari situlah dia berkenalan dengan para aktivis kemanusiaan. Dia bertemu Munir, Bambang Wijoyanto dan lain-lainnya.

Saat Munir dibunuh di atas pesawat, Usman Hamid turut serta dalam Tim Delegasi Kepolisian RI yang datang mencari fakta ke Belanda. Ia juga aktif sebagai anggota Tim Pencari Fakta dari masyarakat sipil yang dibentuk oleh Presiden SBY. Namun sayang hasil temuan dan rekomendasi tim ini tidak dipublikasikan oleh negara. Karena seringnya dia bersama dengan para pegiatat kemanusiaan di LBH dan di KontraS maka saat lulus dia memutuskan untuk bergabung dengan KontraS.

Ujung karier seorang aktivis memang penuh ketegangan. Saat mereka sudah mempunyai tanggungjawab keluarga, dan sudah berada di jenjang teratas karier, maka di situlah kegalauan itu muncul. Usman Hamid tidak bersedia dipilih untuk ketiga kalinya menjadi Koordinator KontraS. Namun itu berarti dia akan menjadi pengangguran. Padahal dia sudah menikah dan akan memiliki anak pertamanya. Kemana dia akan pergi? Kembali bermain band? Atau merintis usaha? Atau sekolah lagi? Berbagai pilihan tersebut berkecamuk di benaknya.

Di saat galau, tiba-tiba ada tawaran dari Anas Urbaningrum untuk bergabung dengan Partai Demokrat. Anas yang terpilih menjadi Ketua Partai Demokrat sangat berhasrat membawa Usman Hamid ke partainya. Sebagai seorang pegiat HAM dan sudah dikenal masyarakat, Usman Hamid menjadi rebutan berbagai partai, setelah tahu bahwa dia ditawari untuk bergabung dengan Demokrat. Setidaknya PDIP dan PAN juga mengajukan ‘lamaran’.

Ada tawaran lain yang lebih ‘menjamin finansial’. Yaitu menjadi calo perusahaan-perusahaan untuk bisa mengurus ijin ke pejabat. Atau menjadi pengacara koruptor. Usman Hamid juga digoda oleh dua profesi yang sangat menggiurkan tersebut. Seorang pengusaha emas dari Aceh mengiriminya sekantong tanah yang mengandung emas supaya dia mau membantu perijinan penambangan. Ada juga pengusaha yang menawarkan kantor di JW Mariot, atau imbalan saham kalau perijinan bisa didapat.

Idealismenya yang didukung penuh oleh istrinya membuat Usman Hamid menolak tawaran partai politik dan memutuskan untuk tidak menjalani dua profesi yang bergelimang uang tersebut. Dia mencoba berbisnis. Namun upayanya tidak berhasil. Dia akhirnya kembali menekuni bidang pembelaan masyarakat kecil dan membawanya ke Change.org.

Buku ini mengungkap bagaimana Usman Hamid harus berlajar banyak dalam dunia barunya. Dunia penggalangan opini melalui dunia maya. Bahu membahu dengan Arief Aziz dia membangun Change.org Indonesia. Di bab-bab tengah, Usmad Hamid berkhotbah cukup panjang tentang teknologi, khususnya teknologi dunia maya dan pentingnya bagi masyarakat kecil untuk membuat perubahan.

Sebagai seorang pegiat HAM level nasional, Usman Hamid bersinggungan dengan banyak tokoh, termasuk dengan Ibas dan SBY. Saya memutuskan untuk mengoleksi buku ini karena menyimpan banyak fakta tentang perilaku para tokoh tersebut yang tidak saya temukan di pemberitaan-pemberitaan umum. Fakta-fakta tersebut setidaknya bisa melengkapi pengetahuan saya terhadap tokoh-tokoh tersebut. Saya mendapatkan informasi baru tentang Munir, Bambang Wijoyanto, Anas Urbaningrum, Saan Mustofa, Munarman, Ibas dan SBY yang tidak pernah akan ada di sumber resmi.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "DINAMO (Digital National Movement)"

  1. Handoko Widagdo  7 March, 2016 at 09:36

    Djas, James, EA Inakawa, Kangmas Djoko dan Kang JC, Terima kasih sudah mampir. Buku ini memang menarik. Tapi katanya tidak terjual. Selalu saja buku bagus tidak ada yang mau membelinya. (Saya juga tidak beli, saya dapat gratis dari acara DKI Provinsi Literasi.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.