[Di Ujung Samudra] Bibirmu Mengalirkan Hujan dari Mataku

Liana Safitri

 

FRANKLIN menanggung hukuman untuk diri sendiri dan Fei Yang. Otomatis ia paling banyak minum anggur jika dibandingkan dengan Kevin dan Kai Xiang. Fei Yang sebagai penonton langsung menghentikan permainan putar botol yang tidak seimbang ini setelah Franklin mabuk berat. Kepalanya menelungkup di meja dengan mata terpejam.

Kevin geli melihat Franklin seperti ini. “Aduh, kasihan sekali, minum sampai tidak sadar…”

“Jangan mengejeknya lagi!” bentak Fei Yang. “Kita pulang saja sekarang! Ayo, kalian bantu dia!”

Kai Xiang dan Kevin memapah Franklin. Fei Yang membawakan jaket dan barang-barang Franklin. Mereka berempat meninggalkan kelab malam lebih dulu. Di dalam mobil Fei Yang berusaha menyadarkan Franklin. “Franklin! Franklin! Kau dengar aku? Hei!” Franklin hanya bergumam tak jelas.

“Salahnya sendiri bersikap sok pahlawan, mau menanggung hukumanmu!” kata Kevin.

“Kau juga salah! Kenapa mengusulkan permainan aneh dengan hukuman minum anggur? Kenapa tidak cari perrmainan lain yang lebih aman?” gerutu Fei Yang.

“Tapi tadi kau setuju!”

“Iya, tapi tidak sampai membuat orang mabuk!”

“Temanmulah yang terlalu kolot! Ini tidak boleh, itu tidak boleh! Kalau terlalu banyak aturan kita tidak akan bisa menikmati hidup!” Kevin berkilah.

Fei Yang mengambil kunci pintu rumah Franklin lalu membukanya. Franklin menyeret langkah kaki mengikuti Kai Xiang dan Kevin yang menopang di kanan dan kiri.

“Baringkan di sini saja!” Fei Yang menunjuk kursi panjang di ruang tamu.

Kai Xiang dan Kevin membaringkan tubuh Franklin di kursi dengan susah-payah. Kedua orang itu masih berdiri menatap Fei Yang. “Lalu apa lagi? Kalau butuh bantuan cepat katakan, selagi kami masih di sini!”

“Tidak ada! Kalian bisa pergi, biar aku yang mengurus Franklin! Rumahku kan, ada di sebelah!”

“Benar? Tidak apa-apa kalau kami pergi?” tanya Kevin ragu.

“Iya, tidak apa-apa!”

Akhirnya Kevin dan Kai Xiang meninggalkan Fei Yang bersama Franklin.

Meski bingung, Fei Yang sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan Franklin hari ini. Ia berkata penuh penyesalan, “Kenapa kau harus ikut permainan itu? Kenapa kau mengajukan diri menanggung hukumanku? Minum banyak sekali, kalau sakit bagaimana? Kalau tahu akan seperti ini aku pasti menurutimu untuk meninggalkan kelab malam.” Franklin sama sekali tidak merespon. Fei Yang mendesah. “Kukira di rumah ini tidak ada apa-apa. Aku merebus air dulu.”

Fei Yang akan pergi ke dapur, tapi tiba-tiba Franklin menarik tangannya. “Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!”

Fei Yang terkejut sekali. Ia menoleh dan melihat Franklin sudah duduk di kursi meski tampak belum benar-benar sadar. Fei Yang duduk di samping Franklin, tangannya masih dalam genggaman tangan pemuda itu. “Jangan pergi… tetaplah di sisiku…” kata Franklin lagi.

Jantung Fei Yang berdebar keras.

Perlahan-lahan Franklin mendekatkan wajahnya ke wajah Fei Yang, lalu bibir Franklin menyentuh bibir Fei Yang. Tidak tahu berapa lama mereka berciuman. Fei Yang hanya tahu jika selama itu ia menahan napas. Kalau Franklin tak segera melepaskannya, Fei Yang yakin sekali ia bisa mati kehabisan oksigen.

Franklin dan Fei Yang bertukar pandang.

“Aku merindukanmu…” bisik Franklin. Fei Yang diam terpaku tak berani bergerak sedikit pun, mengira dirinya sedang bermimpi. Mimpi yang terlalu indah. Segalanya menjadi tak termaafkan ketika Franklin melanjutkan dengan menyebut satu nama, “…Lydia!”

Fei Yang merasa seperti orang yang diempaskan ke bumi setelah melayang-layang di langit. Matanya membelalak menatap Franklin tak percaya. Kemudian ia mendorong Franklin sekuat tenaga. Kepala Franklin membentur sandaran kursi keras sekali sampai mengeluarkan bunyi. Fei Yang tidak peduli lagi. Ia ke luar dari rumah Franklin dan membanting pintu. Franklin terbangun dengan susah payah. Ia tidak melihat siapa-siapa lagi. Rasa sakit yang sangat hebat menyerang kepalanya hingga Franklin kembali tak sadarkan diri.

Bodoh! Seharusnya aku tidak menanggapi kelakuan orang yang sedang mabuk!

Fei Yang kembali ke rumahnya sendiri dengan hati hancur berantakan. Memaki-maki diri sendiri karena masih mengharapkan Franklin. Kepedihannya semakin bertambah saat melihat piano pemberian Franklin.

Betapa pun sayangnya aku pada piano ini, piano tetaplah benda mati. Seperti Franklin yang tidak akan memberikan hatinya padaku, karena hatinya telah menjadi milik orang lain!

Fei Yang duduk di kursi piano kemudian mulai memainkan lagu Kiss the Rain sambil menangis tanpa suara.

Fei Xiang baru pulang setengah jam kemudian. Ia masuk rumah sambil berkata, “Kak, main pianonya dilanjutkan besok lagi, ya! Aku lelah sekali, ingin tidur nyenyak…” kalimat Fei Xiang terhenti di tengah jalan begitu melihat Fei Yang menangis. Fei Xiang bertanya hati-hati, “Kakak… kau kenapa? Mengapa menangis?”

Fei Yang tidak menjawab. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat, jari-jarinya terus bergerak menekan tuts piano.

“Kak! Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau menangis?”

Fei Yang seolah sedang berada di dunia lain, tidak melihat Fei Xiang atau mendengar suara Fei Xiang.

“Ah, aku tahu! Ini pasti gara-gara tetangga sebelah!”

Fei Xiang melesat menuju rumah Franklin. Kebetulan pintu depan tidak dikunci, jadi Fei Xiang bisa langsung masuk. Ia menarik Franklin yang masih terkapar di kursi. “Hei, bangun! Kau tidak bisa enak-enakkan tidur setelah membuat kakakku menangis!”

Franklin terkejut. Ia membuka mata dan bertanya seperti orang mengantuk, “Ada apa?”

“Ada apa, ada apa! Ikut aku!” Fei Xiang marah sekali. Ia menyeret Franklin ke rumah Fei Yang sampai Franklin tersandung-sandung. “Kau harus tanggung jawab! Kau harus menyelesaikan masalah di antara kalian!” Fei Xiang mendorong Franklin ke hadapan Fei Yang yang sedang bermain piano, lalu mengawasi mereka dari dalam kamar.

Mendengar lagu Kiss the Rain, Franklin langsung berdiri tegak. Lagu itu berangsur-angsur mengembalikan ingatan Franklin secara ajaib. Ia menyusun potongan kejadian yang berserakan. Sejak tadi sore hingga malam ini. Sejak ia dan Fei Yang menaiki mobil Kai Xiang ke kelab malam, sampai pulang ke rumah, berciuman… lalu mengira Fei Yang sebagai Lydia! Franklin memejamkan mata.

Oh Tuhan… aku telah melakukan kesalahan besar!

“Fei Yang…” Franklin memanggil dengan suara parau. Tapi Fei Yang tidak mendengarnya. Atau sengaja tidak mau mendengarnya.

“Fei Yang, maafkan aku! Aku sangat lancang…”

Sepertinya sekarang giliran Fei Yang yang kehilangan kesadaran. Ia bermain piano tanpa memedulikan keadaan sekitar, bermain piano bagai orang gila. Franklin maju mendekat, dipegangnya tangan Fei Yang hingga gadis itu menghentikan permainan pianonya. “Fei Yang…”

Fei Yang mengangkat kepala, matanya yang bengkak dan merah menyiratkan luka begitu mendalam. “Jangan sentuh aku!” Ia meraung. “Kenapa kau datang kemari? Mau merendahkanku? Pergi! Aku tidak ingin melihatmu! Seumur hidup, aku tidak mau melihatmu lagi!” Fei Yang melanjutkan bermain piano. Nada demi nada mengalir. Air mata Fei Yang pun mengalir tetes demi tetes. Fei Yang membiarkan saja, tidak ingin menghapusnya. Di luar rumah sama sekali tidak hujan, namun di dalam rumah hujan turun deras.

Melihat reaksi Fei Yang demikian emosional, Franklin kembali mundur. “Baiklah… baiklah… Kalau kau tidak mau melihatku sekarang tidak apa-apa. Kita akan bertemu dan berbicara besok. Kau boleh memarahiku atau memukulku… bagaimana? Kau bisa menghubungiku kapan saja, aku pasti datang!”

Lagu Kiss the Rain masih terdengar jelas meski Franklin sudah menutup telinga atau menutup kepala menggunakan bantal. Lagu yang ia sukai berubah menjadi cambuk, melecut-lecut hati hingga rasa pedih menjalar ke seluruh jiwa dan raga. Franklin tidak bisa tidur semalaman karena Fei Yang menyiksanya dengan bermain piano sampai pagi. Franklin ke luar dari kamar dengan wajah lesu. Fei Yang pasti masih marah, bertemu dan berbicara dalam keadaan seperti ini juga percuma.

Franklin menunggu hingga dua hari, barulah ia mencoba menghubungi Fei Yang. Namun ponsel gadis itu tidak aktif, atau ia sengaja tidak mau menjawab panggilan Franklin. Apalagi hanya mengirim pesan, bisa-bisa pesan Franklin langsung dihapus tanpa dibaca.

Berdiri di depan rumah Fei Yang, Franklin menekan bel, mengetuk pintu, sampai memanggil berulang kali. Tetap tidak ada yang menyahut atau membukakan pintu. Ia mulai gelisah, khawatir terjadi sesuatu dengan Fei Yang.

“Hei! Kau sedang apa?”

Mendengar panggilan tersebut Franklin menoleh. Bibi Ke, orang yang menyewakan rumah pada Franklin dan Fei Yang berjalan mendekat. “Selamat pagi, Bibi! Aku tidak sedang apa-apa. Aku hanya ingin bertemu Fei Yang.”

“Bertemu Fei Yang? Memangnya Fei Yang tidak pamit padamu?”

“Pamit bagaimana maksud Bibi?” tanya Franklin bingung.

“Fei Yang kan sudah pindah!”

Franklin terperanjat. “Pindah?”

“Iya! Kemarin pagi-pagi sekali Fei Yang datang menemuiku. Dia mengatakan ingin pindah dan melunasi uang sewa bulan ini. Siangnya langsung pergi, bersama adik laki-lakinya itu.”

Kemarin! Kemarin aku sengaja tidak keluar rumah. Memberi waktu pada Fei Yang agar bisa menenangkan diri, siapa sangka dia malah pergi! Dan bagaimana aku bisa tidak tahu, padahal kami tinggal bersebelahan? Aku benar-benar tolol!

Kemarin suasana memang agak berisik. Namun Franklin mengira Fei Yang sedang bertengkar dengan Fei Xiang seperti bisa, ia membiarkan saja. Ternyata…

Bibi Ke lalu teringat sesuatu. “Ah, kebetulan! Karena kepindahan Fei Yang sangat mendadak, ada barang-barang yang tidak sempat dibawa. Waktu kutanya, dia malah berkata kalau kau yang akan mengurusnya.”

Franklin semakin terkejut mengetahui Fei Yang menyuruhnya mengurus barang-barang yang tertinggal. “Barang-barang apa?”

Bibi Ke mengambil kunci dan membuka pintu rumah sambil terus berbicara, “Aduh… kukira Fei Yang sudah membicarakannya padamu! Ternyata belum, ya! Kau bisa menghubungi Fei Yang dan mengantarkan barang-barang ini ke tempat kontrakannya yang baru atau ke rumah saudaranya.” Di dalam rumah sebenarnya tidak ada tumpukan kardus atau tumpukan barang seperti layaknya orang yang akan pindah.

Hanya ada sebuah piano.

Dia meninggalkan piano pemberianku…

Bibi Ke meminta kepastian, “Jadi bagaimana? Kau mau mengurus barang Fei Yang yang ketinggalan, kan? Piano ini! Aku sendiri sudah punya terlalu banyak urusan!”

Franklin menelan ludah. “Ya! Bibi tenang saja, aku pasti akan mengurusnya. Untuk sementara biarkan piano Fei Yang di sini dulu. Kalau beberapa hari lagi masih belum menemukan alamat rumah Fei Yang yang baru, akan kubawa piano ini ke tempatku.”

Bibi Ke mengangguk. Ia menyerahkan kunci rumah yang tadinya ditempati Fei Yang pada Franklin. “Baiklah. Kalau begitu kunci ini kaubawa saja. Setelah pianonya dipindahkan, baru kembalikan lagi padaku.”

Franklin menghampiri piano di sudut ruangan. Ia masih bisa membayangkan Fei Yang duduk menghadap piano ini dan memainkan lagu Kiss the Rain sambil menangis seperti semalam. Kesedihan dan penyesalan yang dirasakan bagai sebuah batu besar yang ditimpakan ke dadanya, membuat Franklin sulit bernapas. Mengapa Fei Yang tidak mau memberinya kesempatan untuk memperbaiki keadaan? Memperbaiki kesalahan? Lalu Franklin melihat sesuatu di atas piano.

Sebuah CD.

Kau tahu, CD yang baru saja kaulihat… lagu-lagu di dalamnya aku copy sendiri. Semua adalah lagu yang populer sekitar lima sampai sepuluh tahun lalu, jadi agak sulit didapatkan. Aku paling suka lagu Chìbăng (翅膀 Sayap) milik Cyndi Wang. Kau mau dengar?

Dulu saat Fei Yang memutarkan tersebut Franklin tidak peduli dan malah tertidur. Lagi pula waktu itu Franklin datang ke rumah Fei Yang di tengah malam hanya untuk melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan—bahwa Lydia telah hamil, bahwa kemungkinan Franklin bisa mendapatkan Lydia kembali benar-benar telah tertutup.

Sekarang Franklin akan mendengarkan lagu kesukaan Fei Yang dari awal sampai akhir, mengartikan kata demi kata sampai ia memahami. Sebagaimana Fei Yang berlatih memainkan lagu Kiss the Rain kesukaan Franklin hari demi hari, hingga sanggup menampilkan permainan piano yang menyentuh hati.

wings

Xìngfú de nà yī shuāng chìbǎng

Fēi bù dào nǐ shuōguò de yuǎnfāng

Yún ruò jǔsàng kěyǐ biànchéng hǎiyáng

Wǒ de shāngxīn néng zěnme shìfàng

 

Xìngfú xūyào yī shuāng chìbǎng

Dài wǒ fēi wǎng yǒnggǎn de fāngxiàng

Liànxízhe jiānqiáng xuéxí huì yíwàng

Děngdài cǎihóng zàicì chūxiàn

zhǎnchì fēixiáng

 

幸福的那一双翅膀
飞不到你说过的远方
云若沮丧可以变成海洋
我的伤心能怎么释放

 

幸福需要一双翅膀

带我飞往勇敢的方向

练习着坚强学习会遗忘

等待彩虹再次出现

展翅飞翔

 

Kebahagiaan itu sepasang sayap

Tidak sampai terbang jauh seperti yang kaukatakan

Jika awan tertekan bisa berubah menjadi samudra

Lalu bagaimana aku dapat melepaskan kesedihan

 

Kebahagiaan membutuhkan sepasang sayap

Yang membuatku berani terbang ke arah tujuan

Berlatih menjadi kuat, belajar untuk melupakan

Menunggu pelangi muncul sekali lagi

membentangkan sayap, melayang-layang

 

Fei Yang, kau terbang ke mana?

 

Franklin menemui Kai Xiang dan Kevin di kelab malam yang pernah mereka datangi, menanyakan keberadaan Fei Yang. Tapi mereka pun sudah tidak melihat Fei Yang selama dua hari. Jadi Franklin pergi ke kafe Xing Wang. Tempat ini paling sering dikunjungi Fei Yang. Siapa sangka di sana Franklin bertemu dengan Lydia dan Tian Ya. Louis juga ikut, anak itu sedang dipangku papanya sambil memegang botol susu.

Lydia berseru gembira, “Kakak, aku tidak tahu kau juga akan datang ke sini!”

Franklin mengambil tempat duduk di dekat mereka. Sungguh aneh, ia tidak merasa gembira sedikit pun.

“Kau datang sendirian?” tanya Tian Ya.

“Ya.”

“Franklin, kebetulan sekali bertemu denganmu! Aku ingin memberitahumu, beberapa hari lagi kami akan pulang ke Indonesia!”

“Pulang ke Indonesia? Itu bagus! Agar Louis tahu kampung halamannya yang lain. Kapan kalian akan berangkat?”

“Kalau tidak ada perubahan awal bulan depan.” Wajah Lydia tampak cemas. “Kakak… bagaimana kalau ayah dan ibu tetap tidak mau menerimaku… dan Tian Ya?”

“Semalam aku dan Lydia membicarakan masalah ini. Mama dan papa juga sudah berulang kali menyuruhku mengunjungi orangtua Lydia, tidak peduli bagaimana sambutan mereka nanti. Dan jujur, aku bingung bagaimana harus menghadapinya…” Tian Ya tak dapat menyembunyikan rasa malu.

Franklin melihat kurang senang pada Tian Ya.

Itu kan salahmu sendiri! Mau menikahi anak gadis orang, bukannya meminta baik-baik pada orangtuanya malah membawa kabur!

“Jadi kalian ingin bagaimana?”

“Kakak… menelepon ayah dan ibu dulu, katakan aku dan Tian Ya mau datang…”

Franklin memotong kalimat Lydia, “Aku pernah melakukannya beberapa kali! Sejak kalian akan menikah, setelah kalian menikah! Sampai yang terakhir, ketika aku bermaksud memberitahu ayah tentang kelahiran Louis, belum apa-apa ayah sudah memperingatkan, ‘Kalau kau meneleponku hanya untuk bercerita tentang Lydia, jangan menelepon lagi untuk selamanya!’ Begitu!” Dengan nada agak jengkel Franklin menambahkan, “Menurutku jika kalian mau pulang ke Indonesia, ya pulang saja! Hadapi apa pun yang akan terjadi! Lagi pula kalian juga sudah punya anak, kalau masih takut dimarahi, bagaimana mau jadi orangtua?”

Loius seperti paham dirinya sedang dibicarakan. Anak itu menggeliat-liat tidak tenang dan mulai merengek. “Ada apa? Susunya habis? Atau ingin makan? Mengompol?” tanya Lydia.

“Tidak, susunya masih penuh! Mengompol juga tidak! Mungkin dia bosan.” Tian Ya berdiri, menggendong Louis menjauh dari meja. Ia ingin memberi kesempatan pada Lydia dan Franklin untuk berbicara lebih banyak.

“Kukira Kakak bisa ikut pulang ke Indonesia bersama kami. Kalau bersama Kakak pasti lebih mudah. Maksudku, ayah dan ibu lebih mendengarkan kata-kata Kakak daripada aku…” ujar Lydia penuh harap.

“Lydia… aku masih ingat betapa marahnya kau ketika aku menyamar sebagai Tuan Frederick untuk memulihkan nama baikmu dan Tian Ya. Kau bertanya apakah aku sengaja membuat dirimu tidak bisa apa-apa tanpa diriku? Bagaimana jika suatu saat nanti aku benar-benar meninggalkanmu? Sekarang aku mengakui jika semua yang kaukatakan itu benar. Aku tidak bisa terus-menerus berada di dekatmu untuk melindungimu atau membantumu setiap kali ada masalah. Kau bukan lagi adik perempuan yang manja seperti dulu, kau sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu. Harus mulai belajar untuk melindungi dan menyelesaikan masalah dalam keluargamu sendiri. Tugasku sebagai kakak sudah selesai…” kata Franklin. “Sekarang ada Tian Ya bersamamu. Demi dapat bersama, kau dan Tian Ya sudah berjuang sedemikian keras. Hanya tinggal sedikit, kalian pasti bisa melaluinya.”

Lydia pun berkata dengan berat hati, “Baiklah, aku akan pulang ke Indonesia bersama Tian Ya.”

“Lagi pula aku masih harus menyelesaikan satu urusan.”

Aku Fei Yang, yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, pergi ke mana-mana sendiri, karena aku hidup sendiri!

Seluruh pikiran Franklin tersita pada seseorang yang sedang hidup sendiri ini!

Louis yang dibawa Tian Ya ke depan kafe mulai bosan. Ia kembali merengek-rengek ingin masuk ke dalam ruangan, setelah itu minta diturunkan. Louis berjalan mendekati Lydia, menarik-narik bajunya dan memanggil, “Ma!”

Franklin menatap anak Lydia yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sejak pertama kali Franklin melihat Louis sebagai bayi merah, anak itu kini sudah bisa berjalan. Tiba-tiba Franklin sadar bahwa Louis adalah keponakannya. Tidak perlu memikirkan apakah keponakan kandung atau angkat! Ia mengulurkan tangan menggendong Louis. “Nah, Louis, kau akan ke Indonesia! Bagaimana? Senang, tidak? Senang, tidak?” Franklin adalah orang yang sangat asing bagi Louis. Mata anak itu berkedip penuh tanda tanya. “Aduh… kau tidak ingat ini siapa? Ini Om Franklin! Om Franklin! Ayo panggil… Om Franklin!”

Tapi Louis malah memanggil, “Ma! Ma!” seperti yang biasa ia lakukan sambil melihat ke arah Lydia.

“Jangan lihat Mama terus! Lihat kemari! Ini Om Franklin! Om Franklin!” Franklin berdiri lalu mengangkat Louis tinggi-tinggi. Menurunkannya, lalu mengangkatnya lagi tinggi-tinggi. Barulah terdengar suara Louis yang tertawa-tawa kesenangan. Franklin berkata, “Anak ini punya kekuatan lebih besar daripada aku! Percayakah, kau?”

Lydia mengangguk dengan mata basah. Ada kebahagiaan membuncah di hatinya saat mendengar Franklin menyebut diri sendiri sebagai “Om Franklin”, juga ketika melihat bagaimana pemuda itu menggendong Louis tanpa rasa canggung.

Membayangkan peristiwa seperti ini satu atau dua tahun yang lalu ketika Kakak dan Tian Ya masih bermusuhan, sepertinya sangat mustahil…

“Lihat, Mama Louis mau menangis! Mama ternyata lebih cengeng daripada Louis, ya! Louis bisa menghibur Mama, tidak? Katakan, ‘Mama, jangan menangis!’ Ayo katakan, ‘Mama, jangan menangis! Aku saja tidak menangis’…” Franklin berbicara pada Louis tentang mamanya, seolah-olah anak itu sudah bisa memahami apa yang ia katakan.

Digoda demikian Lydia tertawa. Namun tawanya justru mengakibatkan setitik air mata bergulir di pipi. Tentu saja itu adalah air mata bahagia.

Tian Ya yang sejak tadi memperhatikan dari jauh lalu mendekati mereka. Pria itu berdiri di samping Lydia, memeluk bahunya, lalu berkata pada Franklin sambil tersenyum, “Sepertinya kau sudah pantas menjadi ayah! Kukira Lydia juga ingin punya keponakan…”

Franklin membalas kalimat Tian Ya dengan candaan, “Dan bagaimana kalau Louis juga menginginkan seorang adik?”

Mereka bertiga tertawa bersama-sama.

“Tapi Kakak, urusanmu yang belum selesai itu apa?”

Pertanyaan Lydia langsung menghentikan tawa Franklin. Suaranya berubah sangat serius, “Apa dua hari ini Fei Yang pernah menemui kalian? Atau menelepon kalian?”

Lydia dan Tian Ya menggeleng bersamaan.

“Tidak. Terakhir kali kami bertemu di kafe ini, bersama Xing Wang juga. Belakangan aku dan Lydia sibuk mempersiapkan keberangkatan kami ke Indonesia, jadi tidak memperhatikan dia.”

“Aku malah sudah satu bulan tidak bertemu Fei Yang,” sahut Lydia. “Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Seharusnya Kakak yang lebih tahu, kau kan tetangganya!”

Franklin tidak ingin menceritakan kejadian terkonyol sepanjang hidupnya, mencium Fei Yang di saat mabuk dan mengiranya sebagai Lydia. Jadi ia berkata singkat, “Fei Yang pindah rumah tanpa pamit bersama adiknya. Aku sudah tanya pada beberapa temnan Fei Yang, tapi mereka tidak ada yang tahu.”

“Apa? Fei Yang pindah rumah tanpa pamit? Bagaimana bisa?” Lydia terkejut sekali.

“Oleh karena itulah aku sangat khawatir!”

“Fei Yang tidak akan berbuat begitu tanpa alasan. Pasti dia sedang ada masalah. Kalau bersama adiknya, mungkin Fei Yang pulang ke rumah bibinya yang ada di Pingtung. Apalagi Fei Xiang kan, masih sekolah.”

“Kau tahu alamat rumah bibi Fei Yang?” tanya Franklin.

Tian Ya jadi curiga, jangan-jangan kepindahan Fei Yang yang tiba-tiba ada hubungannya dengan Franklin. Apalagi Franklin langsung ingin mencari Fei Yang di tempat keluarganya. “Kau menyukai Fei Yang?”

Franklin tidak menduga Tian Ya akan bertanya demikian. “Aku masih tidak tahu. Aku hanya bisa mengatakan, terjadi sedikit kesalahpahaman di antara kami. Aku ingin meluruskannya.”

Lydia tidak berkata apa-apa. Sesungguhnya sudah lama Lydia berharap kalau Franklin dan Fei Yang bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekadar sahabat.

Tian Ya pun tidak mau mendesak Franklin. Ia segera menuliskan alamat pada selembar kertas lalu memberikannya pada Franklin. “Ini alamat rumah bibi Fei Yang. Dia tinggal bersama suaminya, mereka tidak punya anak.”

Franklin mengantongi kertas itu. “Terima kasih, Tian Ya! Aku akan langsung ke Pingtung besok.”

“Semoga kau bisa segera bertemu Fei Yang!” Tian Ya menyemangati.

Lydia tersenyum. “Kau selesaikan urusanmu, kami akan selesaikan urusan kami!”

Sepenuh hati aku mendoakan kebahagiaanmu!

“Jangan lupa… sampaikan salamku pada ayah dan ibu. Katakan saja kepulanganku ditunda beberapa hari,” Franklin berpesan.

“Asal mereka tidak menimpakan kemarahan padaku saja.” Sedetik kemudian Lydia berkata lagi, “Ah, tidak! Tidak! Aku pasti akan menyampaikannya pada mereka! Kakak tenang saja!”

Xing Wang sejak tadi hanya duduk diam di belakang meja kasir. Meski ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Lydia, Tian Ya, dan Franklin, pemuda itu menduga pasti ada sesuatu yang serius. Setelah Franklin pergi, Xing Wang mendekati Lydia dan Tian Ya. “Boleh aku tahu, masalah apa yang sedang mengganggu kalian? Mungkin aku bisa membantu?”

“Aku dan Lydia berencana pulang ke Indonesia di awal bulan depan. Kami bertanya apakah Franklin mau ikut bersama kami, tapi dia ingin berkunjung ke rumah bibi Fei Yang,” Tian Ya menjelaskan.

“Oh…” Xing Wang mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Lalu bagaimana dengan orangtuamu, Lydia?”

Lydia menarik napas dalam-dalam. “Aku hanya berharap agar mereka jangan sampai mengusir kami, atau percuma saja kami pulang…”

“Itu tidak akan terjadi!” kata Xing Wang.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”

“Sekarang aku tanya padamu… Apakah kau merindukan orangtuamu?”

“Ya!”

“Apakah kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan mereka?”

“Ya!”

“Apakah kau ingin Tian Ya dan Louis juga diakui sebagai anggota keluargamu?”

“Tentu saja!”

“Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua berawal dari hati. Asal hati kalian tulus, orangtua Lydia pasti akan luluh dan menerima kalian. Apalagi kalian datang dengan membawa seorang malaikat kecil!” Xing Wang melirik ke arah Louis yang berada di pangkuan Lydia.

Pada saat itu ada pelanggan sepasang pria dan wanita masuk ke dalam kafe. Si pria melambaikan tangan pada Xing Wang. “Aku mau secangkir cappuccino dan espresso.”

Xing Wang bangkit berdiri. “Baik! Segera saya siapkan!” Ia sempat berkata lagi pada Lydia dan Tian Ya. “Sungguh aneh! Kalian lihat Fei Yang dan Franklin? Mereka sama-sama sudah yatim piatu, tidak dapat berbuat apa-apa meski sangat merindukan ayah dan ibu mereka. Sedangkan kau dan Tian Ya… kedua orangtua kalian masih lengkap tapi malah selalu berselisih! Kalau kalian tidak segera memperbaiki keadaan ini, suatu saat kalian akan menyesal!”

Lydia dan Tian Ya terdiam, mengakui kebenaran kata-kata Xing Wang.

“Kurasa aku tidak bisa mengantar kalian ke bandara. Aku akan sibuk mempersiapkan pelayanan spesial untuk memperingati ulang tahun kafe yang tinggal sebentar lagi. Jadi hari ini makan malamlah di tempatku, anggap sebagai pesta sekaligus acara perpisahan. Bagaimana?”

 

Lydia dan Tian Ya baru keluar dari kafe Xing Wang setelah makan malam. Mereka berdua berjalan beriringan sambil mencari taksi. Louis tidur nyenyak dalam gendongan Lydia. Saat melewati sebuah warung makan kecil, tiba-tiba ada dua orang perempuan yang berlari ke jalan dengan ketakutan. Seorang ibu setengah baya, satunya lagi seorang gadis yang baru menginjak remaja. “Jangan pukul lagi! Jangan pukul lagi! Hentikan!” Sang ibu berhenti tepat di dekat Lydia dan Tian Ya, memeluk anaknya sambil menangis. Penampilan keduanya sangat berantakan, wajah mereka dipenuhi air mata dan luka lebam.

Tak lama kemudian dari warung kecil tersebut muncul seorang laki-laki membawa sebatang kayu besar di tangannya. Ia mengejar ibu dan anak itu sambil memaki, “Dasar perempuan tidak berguna! Apa saja yang kalian lakukan di rumah? Bisanya hanya santai-santai tanpa menghasilkan uang!”

Sang ibu mendekati Lydia dan Tian Ya sambil memohon putus asa, “Tolong! Tolong kami dari orang itu… Dia mau mencelakai kami…”

“Ada apa, Nyonya? Apa yang terjadi?” tanya Tian Ya.

Lydia juga bertanya pada si anak, “Kalian berdua kenapa?”

Sang ibu menunjuk pada laki-laki yang membawa kayu sambil berseru panik, “Dia… mau menghajar kami… Tolonglah kami… Kumohon tolonglah kami…”

“Papaku sangat galak… Dia memukuli aku dan mama setiap hari… Dia menyuruh kami menjaga warung, tapi dia sendiri tak pernah bekerja. Hanya berjudi… Kalau kalah dia melampiaskan kemarahan pada kami, kalau warung sepi kami juga yang dipukuli…” Anak perempuan ibu tersebut bercerita sambil menangis.

Laki-laki itu kembali mengejar sambil mengacung-acungkan kayu. “Mau ke mana kalian?”

Ibu dan anak itu kembali menjerit ketakutan. Lydia menarik mereka menjauh. Tian Ya segera berdiri menghalangi laki-laki itu. “Hei, tenanglah! Ada apa? Semua masalah bisa dibicarakan baik-baik!”

Kemarahan laki-laki itu langsung berpindah pada Tian Ya. Ia memelototi Tian Ya. “Siapa kau? Kalian orang asing, jangan ikut campur urusan rumah tangga kami!”

“Aku tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tanggamu! Tapi kau tidak boleh memukul orang sembarangan! Mereka kan, istri dan anakmu sendiri!”

Wajah laki-laki itu merah padam, ia semakin marah. “Memangnya kenapa? Aku mau memukuli istriku, mau memukuli anakku, tidak ada yang bisa melarangku! Kalau tidak boleh… aku memukulmu saja!” Ia mengayunkan kayu ke arah Tian Ya.

Lydia langsung berteriak cemas, “Tian Ya, awas! Ya Tuhan…”

Keributan ini dengan cepat menarik perhatian orang-orang di jalanan. Ada yang menolong sang ibu dan anaknya, ada yang memisahkan Tian Ya dengan laki-laki pemarah itu, ada juga yang memanggil polisi.

Meskipun masih mencemaskan keadaan ibu dan anak itu, Lydia tidak ingin Tian Ya terkena masalah lagi. Ia mengajak Tian Ya cepat-cepat pulang. Perasaan Lydia sangat terganggu oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Wanita itu menghentikan langkah dengan wajah muram.

Tian Ya juga ikut berhenti. “Ada apa? Kau masih memikirkan kejadian tadi, ya?”

“Tian Ya… aku ingin menambahkan satu lagi Peraturan Bertengkar kita…”

Tian Ya diam menunggu.

“Tidak boleh memukul!”

“Apa?” Tian Ya tak dapat menahan diri untuk tertawa. “Kau takut aku akan seperti laki-laki itu, ya?”

Lydia menelan ludah.

“Selama ini kita sering bertengkar dan adu mulut, tapi apa pernah aku memukulmu?”

Memang tidak pernah, hanya saja…

“Setiap orang bisa berubah…” ujar Lydia lirih.

“Li Tian Ya pernah berkelahi dengan gangster, Li Tian Ya pernah membunuh orang, tapi Li Tian Ya tidak pernah memukul perempuan! Apalagi dengan istri atau anak sendiri! Dulu aku tidak memukulmu, sekarang tidak, di masa yang akan datang juga tidak. Mengertikah kau? Aku memang lebih kuat darimu, tapi aku tidak berdaya di hadapanmu!” Lama Tian Ya menatap sang istri lalu tersenyum lembut. Ia menyusupkan tangannya ke tangan Lydia, menggenggamnya erat-erat. “Tambahkan saja Peraturan Bertengkar sesukamu, asalkan itu bisa mempertahankan pernikahan kita sampai rambut memutih, hingga ajal menjemput!”

 

Franklin memulai perjalanannya ke Pingtung.

Dari naik kereta, naik bus, mencari tempat untuk sekadar istirahat makan dan minum, dilakukannya sendirian. Jika dulu Franklin menjelajahi tempat asing demi mencari Lydia, kini ia melakukannya demi Fei Yang. Pertanyaan Tian Ya tentang apakah dirinya menyukai Fei Yang, mulai mendapatkan sedikit titik terang. Walau sulit diungkapkan dengan kata-kata, Franklin dapat merasakan sesuatu yang hangat menyusup ke dalam hatinya. Memang tidak menggebu-gebu seperti yang ia lihat dari Lydia dan Tian Ya. Namun dengan begitu Franklin berharap, jika terjadi masalah antara dirinya dengan Fei Yang seperti sekarang, kemarahan yang timbul juga tidak akan meledak-ledak!

Kau tidak boleh meninggalkanku begitu saja. Membiarkanku berkubang dalam penyesalan seumur hidup yang entah berapa lama lagi tersisa, dilumuri perasaan bersalah yang sangat menyiksa setiap detiknya. Jika kita punya kesempatan bertemu kembali, kau akan tahu jika aku telah mendengar lagu kesukaanmu berulang kali. Mencari arti dalam setiap kata yang pada awalnya tak kumengerti, dan mencoba memahami ketulusan hati yang selama ini tanpa sengaja selalu kulukai…

Atas petunjuk orang-orang yang ditemuinya Franklin dapat menemukan rumah sesuai dengan alamat yang dituliskan Tian Ya. Franklin mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat. Ia berharap setelah pintu terbuka yang muncul adalah Fei Yang, tapi ternyata Franklin disambut oleh seorang wanita berusia lima puluhan berpenampilan sederhana. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat.

“Maaf… apakah benar ini rumah Nyonya Peng?”

“Ada perlu apa mencariku?”

Franklin pun mengerti jika wanita ini adalah bibi Fei Yang. “Aku ingin bertemu Fei Yang.”

Wanita itu bertanya, “Kau mau bertemu Fei Yang? Kau ini siapanya Fei Yang?”

Franklin langsung merasa kikuk. Tepat pada saat itu ada orang lain yang memasuki halaman. “Hei, Franklin! Ternyata kau datang kemari!”

Fei Xiang! Franklin langsung merasa terselamatkan karena tidak perlu repot-repot menjelaskan hubungannya dengan Fei Yang.

“Bibi, ini temanku, Franklin! Kami baru berkenalan saat aku liburan ke Taipei selama beberapa minggu!”

Franklin duduk di meja makan bersama Fei Xiang, bibi, serta pamannya. Ia sesungguhnya merasa tidak enak, baru datang langsung disuruh makan. “Nyonya Peng, tidak usah repot-repot…”

“Aku tidak repot, kau kan teman Fei Xiang. Oya, jangan panggil aku nyonya, panggil bibi saja!”

“Baiklah, Bibi Peng!”

“Kulihat wajahmu sangat asing, kau bukan orang Taiwan, ya?”

“Bukan. Aku orang Indonesia.”

Bibi Peng mengerutkan dahi. “Indonesia? Indonesia itu di mana?”

“Masa kau tidak tahu Indonesia? Indonesia itu Bali!” Suami Bibi Peng yang sejak tadi diam ikut menimpali.

“Memang benar, Bali ada di Indonesia. Tapi saya tinggal di pulau lain,” kata Franklin. Ia melihat ke sekeliling dengan penasaran.

Fei Xiang dapat membaca gerak-gerik Franklin. Sambil makan, ia berkata acuh tak acuh, “Kakak tidak ada!”

Franklin menatap Fei Xiang, mengharap penjelasan lebih lanjut.

“Setelah dua hari berada di rumah kakak pergi lagi. Katanya dia mau bertemu dengan teman lama. Sampai sekarang belum pulang.”

“Lalu di mana rumah teman kakakmu itu?”

“Tidak tahu!”

Fei Xiang lalu mengajak Franklin berbicara berdua saja di kamarnya. Di kamar Fei Xiang yang sempit itu hanya ada sebuah kasur tipis, meja kayu berkaki pendek, dan rak berisi buku-buku pelajaran. Fei Xiang duduk di lantai dan Franklin mengikutinya.

“Kalau kau memang serius menjalin hubungan dengan kakak, aku setuju-setuju saja. Tapi jangan membuatnya menangis seperti waktu itu. Asal kau tahu, sejak pulang kakak selalu murung. Dia tidak bisa tidur dan makan sedikit sekali.”

“Kami bertengkar karena kesalahanku. Aku sangat menyesal, tapi rasanya keterlaluan kalau dia sampai pindah tanpa pamit. Bahkan pianonya tidak dibawa…” Franklin berterus terang.

“Kau yang keterlaluan!” tukas Fei Xiang. “Kau bisa lihat aku dan kakak. Setiap hari kami selalu ribut, saling ejek, saling bentak, dan pukul-pukulan. Tapi pertengkaran kami hanya di luar, tidak pernah sampai ke hati. Sangat berbeda dengan yang kemarin, dia menangis semalaman. Padahal sebelumnya kakak sangat jarang menangis. Kau sudah sangat melukai hatinya.”

“Aku tahu. Oleh karena itulah aku mencari rumah paman dan bibimu. Begitu aku datang, Fei Yang malah pergi. Kakakmu tidak pulang beberapa hari, apakah kalian tidak khawatir? Tidak mau mencarinya?”

“Tidak! Kakak sudah biasa pergi jauh sampai berhari-hari. Biasanya kalau bukan karena ada konser, dia menginap di rumah teman. Dan selama ini baik-baik saja. Atau sebaiknya kau menginap di sini, menunggu kakak pulang? Kau akan punya waktu lebih banyak untuk berbicara dengannya nanti,” Fei Xiang menyarankan.

Franklin merenung sejenak kemudian mengangguk, “Baiklah! Jika kalian tidak keberatan direpotkan, aku akan tinggal di sini sampai kakakmu pulang.”

Adik Fei Yang ini, meskipun suka bersikap sembarangan dan menyebalkan, ternyata dia baik juga. Franklin menilai dalam hati. Untuk Fei Yang, Franklin hanya bisa berdoa agar teman lama yang ditemuinya adalah teman perempuan!

 

 

8 Comments to "[Di Ujung Samudra] Bibirmu Mengalirkan Hujan dari Mataku"

  1. Alvina VB  10 March, 2016 at 06:26

    Hadew…Franklin dasar gemblung….ditunggu lanjutannya
    Pengen tahu aja…siapa tahu sekarang si Fei Yang yg malah jual mahal, he..he…
    No tears for Kenthirs, James…

  2. Alvina VB  9 March, 2016 at 14:13

    Hadir James!
    Baca dan komennya besok dah…

  3. djasMerahputih  7 March, 2016 at 18:22

    Semakin meluas konfliknya…
    Semoga hujannya cepat reda. Salam kenthirs…!!

  4. J C  7 March, 2016 at 05:38

    Asik ini…sempalan dari Tian Ya n Lidia…

  5. Lani  5 March, 2016 at 05:01

    Hadoh kasihan bang James………….sampai tumpah ayer mata krn kenthirs lain belum mencungul………….yg satu lagi berlibur jd ditunggu saja klu sdh kembali

  6. james  5 March, 2016 at 04:17

    ci Lani, air matanya nyebrang karena sedih para Kenthirs belom muncul

  7. Lani  5 March, 2016 at 00:48

    James: mahalo sdh diingat………air mata menyeberang bagaimana?

  8. james  4 March, 2016 at 14:22

    1……Mataku melahirkan Hujan di bibirmu

    kok air mata bisa nyebrang ke Para Kenthirs sih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.