Muka Badak

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

HARIMAU India sering dijadikan icon bila berkaitan dengan hewan langka atau World Wildlife Day yang diperingat global hari 3 Maret ini. Indonesia gemar memusahkan harta karunnya berupa hewan langka. Nasib orangutan di Aceh dan gajah di Sumatra yang terdesak sedih karena kelapa sawit dan gergaji. Harimau Sumatra pun semakin berkurang walau masih hidup leluasa di lereng Gunung Singgalang. Bila kita ke sana, masih terlihat jejak baru kaki ‘Datuk’ di tepi telaga kecil. ‘Datuk’ adalah panggilan harimau dalam bentk hormat oleh orang lokal Sumatra.

mukabadak

Beruntung Badak Jawa, hewan paling kritis dan langka di dunia tidak mengalami hal serupa. Bila ke Ujung Kulon, secara teknis sangat sulit untuk menemukan apalagi memburu bahkan membunuh Badak Jawa. Alasan budaya dan takhyul serta kesulitan teknis untuk mencuri cula mereka Badak Jawa, membuat populasi tak mengkhawatirkan.

Sejak Charles Lindbergh, pahlawan AS ke Ujung Kulon sampai detik ini, populasi Badak Jawa selalu berkisar 40an ekor. Tidak akan lebih dan tidak akan berkurang sampai hari kiamat. Angka keramat menurut kepercayaan orang lokal. Secara teknis mustahil membunuh dan juga mencuri organ Badak Jawa untuk diperdagangan ke Taiwan, China atau Vietnam, negera-negara yang sering dikecam dunia untuk lelestarian hewan langka.

Gimana mau ke Ujung Kulon? Sewa perahu mahal dan tak setiap waktu mau, juga kondisi laut mempengaruhi. Mau lewat darat? Ya…sejak kapan di Banten jalan mulus? Jalan di Banten rusaknya oleh Lamborghini, bukan oleh truk over capacity.

Tanya saja ke Wawan, adiknya Ratu Atut, gubernur Banten di rutan Pondok Bambu.

 

 

9 Comments to "Muka Badak"

  1. djasMerahputih  7 March, 2016 at 18:00

    Prihatin dengan kelangkaan badak.
    Yang semakin banyak adalah budak. Budak nafsu, budak jabatan, budak harta, budak kapitalisme. Cula-cula mereka mahal nggak yah..??

  2. Handoko Widagdo  7 March, 2016 at 09:39

    Tradisi berburu cula badak harus dilanjutkan. Tradisi ini perlu diperbarui, yakni dengan memburu hidung para keruptor si muka badak

  3. J C  7 March, 2016 at 05:37

    Barisan muka badak sedang berduyun-duyun merangsek untuk masuk ke Balaikota Jakarta…

  4. Dj. 813  7 March, 2016 at 01:59

    Kalau di Jawa dibilang ” RAI GEDEG ”
    Lebih halus dan tidak bawa-bawa badak, kasihan kan . . . ? ? ?
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  5 March, 2016 at 17:44

    Mereka keluarga jahat!

  6. EA.Inakawa  5 March, 2016 at 17:12

    kesimpulannya yang Muka Badak itu adalah Ratu Atut & Wawan , Pemimpin yang tidak memperdulikan pembangunan Banten

  7. Lani  5 March, 2016 at 00:52

    James: mahalo sdh diingat………aku yakin para kenthirs tdk terlibat dlm bisnis memperjual belikan cula badak…………

  8. Lani  5 March, 2016 at 00:51

    Gimana mau ke Ujung Kulon? Sewa perahu mahal dan tak setiap waktu mau, juga kondisi laut mempengaruhi. Mau lewat darat? Ya…sejak kapan di Banten jalan mulus? Jalan di Banten rusaknya oleh Lamborghini, bukan oleh truk over capacity.
    Tanya saja ke Wawan, adiknya Ratu Atut, gubernur Banten di rutan Pondok Bambu.
    +++++++++++

    ISK: bikin ngakak alinea terakhir diartikelmu kali ini.

    Begitulah nasib para binatang ditangan manusia, dizolimi tp mrk tdk bs membela diri

  9. james  4 March, 2016 at 14:28

    1…..Muka Badak, Kulit Gajah, Kaki Kuda, Cakar Macan. Racun Pagutan Ular, Lompatan Monyet, Sabetan Komodo, Sambaran Buaya, Sepakan Zebra, Serudukan Banteng, Patukan Elang Rajawali

    mengabsenkan para Kenthirs yg msh absen

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *