Kekerasan Terhadap Wanita dan Anak-anak

Kornelya

 

Note Redaksi:

Catatan khusus Penulis, untuk yang ingin berkomentar, diharapkan dengan Bahasa Inggris, karena beberapa independent/external authority dari organisasi dan instansi terkait dalam tulisan ini berharap mendapatkan feedback atau saran yang sekiranya dapat berguna untuk kegiatan-kegiatan berikutnya di kemudian hari. Terima kasih.

 

Hari ini lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan kegiatan tahunan, kampanye anti kekerasan pada wanita dan anak-anak (Violence against women and children). Merupakan kesempatan dan kehormatan bagi saya untuk hadir mewakili The center for the Study of the Women and Society, CUNY Graduation center.

Kekerasan pada wanita dan anak-anak terjadi hampir di seluruh dunia, dengan alasan yang berbeda. Perdagangan manusia/human trafficking, child bride, kekerasan dalam rumah tangga merupakan beberapa contoh dari kekerasan terhadap wanita. Segala jenis kekerasan harus dihentikan, tak perlu toleransi terhadap penyebabnya, apakah alasan agama, budaya, dominasi atau kemarahan.

violence

Saat ini kekerasan terhadap wanita dan anak bukan hanya dilakukan oleh pria, tetapi juga dilakukan oleh wanita terhadap sesama kaumnya dan pada anak-anak. Wanita menjual wanita, wanita melakukan kekerasan fisik pada rivalnya atau wanita yang suka memukul anak yang tak berdaya adalah bagian dari bentuk kekerasan.

Kekerasan terhadap wanita dan anak-anak hanya dapat dihentikan, jika lingkungan sosial dari yang terkecil, penegak hukum dan hukum negara menghargai dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, dalam hal ini hak wanita dan anak-anak untuk hidup tentram dan damai, bebas dari kekerasan fisik dan psikis. Mrs. Ban Soon Taek, istri dari UN Secretary dalam sambutannya mengatakan “women right is human right” (hak wanita adalah hak asasi manusia).

kornelya02

Akan halnya di Indonesia, pencegahan atau usaha menghentikan kekerasan pada wanita dan anak-anak sering gagal, karena dihalangi norma masyarakat dan atas nama privacy, seperti Masyarakat/tetangga “tak boleh campur urusan suami isteri orang”, “Anakku, menjadi urusan dan tanggung jawabku”, “Istri tak melapor, karena takut reputasi suami rusak”, atau bila melibatkan prostitusi, wanitanya diadili sementara sang lelaki bebas berkeliaran dengan wajah dan penis bejatnya.

Sangat disayangkan standard ganda dan hipokrit yang tidak menunjukkan kesamaan derajat di mata hukum ini, diamini oleh badan eksekutif dan legislative di Indonesia. Sampai saat ini belum satupun lelaki pemakai jasa prostitusi diadili. Seolah-olah hukum hanya berlaku untuk wanita. Mengarak orang dewasa pacaran yang kedapatan berhubungan intim di rumah pribadi salah satu dari pasangan, lebih dilihat sebagai penegakan moral dan hukum, sementara lelaki yang memukul isteri sampai berdarah-darah diselesaikan dengan cara “kekeluargaan”, merupakan logika hukum yang absurd, dan pelecehan terhadap hak asasi dan privacy.

kornelya04 kornelya01

Untuk mencegah, mengatasi atau mengurangi kekerasan pada wanita dan anak-anak, sepatutnya kita mengevaluasi pemicu kekerasan itu sendiri. Tidak dipungkiri kemiskinan, kekuasaan, ketakutan dan keserakahan dianggap sebagai pemicu kekerasan. Namun hal ini tidak akan terjadi bila yang bersangkutan berjiwa besar, memiliki kerendahan hati dan saling menghormati.

kornelya03 kornelya07 kornelya06 kornelya05

Istri yang bekerja di luar rumah tidak mengurangi rasa hormat dan abdinya pada suami dan anak, suami yang berpenghasilan tinggi tidak semena-mena menggunakan uang dan kekuasaannya untuk melakukan sesuatu yang akan melukai hati istri. Menerima kekurangan sambil berusaha memperbaiki ekonomi keluarga, juga merupakan usaha pencegahan kekerasan.

Anak yang sering melihat kekerasan antara ayah dan ibunya, akan menganggap hal itu biasa dan wajar, maka ia akan mengulanginya dalam kehidupan pribadi. Dr. Remi Alapo dalam bukunya “Generation X” mengatakan “The cultural values of women in many societies are grounded in the shared experiences of symbols and norms, which are manifested in beliefs and practices” Nilai budaya wanita/ anak-anak sangat dipengaruhi oleh penerapan adat, budaya serta agama. Perlu saya tambahkan pergeseran metode komunikasi verbal menjadi digital, juga merupakan sumber konflik yang harus diwaspadai. Dengan HP di tangan, pasangan boleh seranjang namun bisa berada di dunia yang berbeda.

Kepada saudara dan sahabat sekalian, saya mengajak marilah bersama-sama melawan kekerasan pada wanita dan anak-anak, dimulai dari lingkungan kita sendiri. Wanita melahirkan, mencintai dan memelihara generasi penerus bangsa, ia harus dimuliakan, dihormati dan dilindungi bukan disakiti.

The cultural values of women in many societies are grounded in the shared experiences of symbols and norms, which are manifested in beliefs and practices…

 

 

9 Comments to "Kekerasan Terhadap Wanita dan Anak-anak"

  1. J C  17 March, 2016 at 15:27

    Kornelya, it is very great article. Masih banyak golongan masyarakat yang menganggap wanita dan anak hanyalah “pelengkap” yang boleh seenaknya diperlakukan apapun mau para lelaki. Paham dan pemahaman serta ajaran ini masih buanyak bertebaran di sono padang pasir sana…

  2. Kornelya  16 March, 2016 at 21:06

    As Dr. Remi said ms. Alvina , culture and religious value has many thing to do as grounded on violence against women and children . As well how the women facing, reacting to handle it. Kalau dikampungku, berani pukul istri, mertua dan ipar lelaki serta akan datang mengadili tak jarang dengan kekerasan juga. Tetapi ketika anak yg mengalami, tidak ada pihak yg membela, helpless.

  3. Kornelya  16 March, 2016 at 21:00

    Ini Baltyra susah sekali aksesnya ya. Pa Itsmi tidak adanya perlindungan hukum dan penolakan dari lingkungan sosial, membuat banyak wanita, memilih memendam penderitaan, ketimbang melawan atau mengekspose.

  4. Kornelya  12 March, 2016 at 02:28

    Pa DJ,terima kasih sudah menyumbangkan komentar. Patriarchal right yg masih diamini oleh banyak kelompok sosial terutama yg wanitanya dalam posisi ” dependepent’, namun sekarang wanita sudah berani melawan, masyarakat/keluarga sudah sama-sama aware akan kekerasan terhadap wanita. Walau belum mendapat jaminan legal formal. Akan halnya perilaku terhadap anak, sikap itulah yg membuat banyak anak minder, atau setelah dewasa tidak kreatif dalam mengungkapkan inovasi , karena alam bawah sadarnya memendam dulu selalu diredam dgn kata ” Kamu tahu apa, atau plaaak”. Salam dari New York, yang mulai bersemi.

  5. Itsmi  9 March, 2016 at 22:27

    Dj.813, penilaian saya sama, ada tambahan mengenai apa sebabnya dengan hal ini wanita tunduk… pertama dari sisi ekonomi sangat lemah… juga dalam sosial bilamana isteri nurut maunya suami, di berikan feedback yang sangat positif oleh lingkungannya seperti, aduh dia isteri yang baik…dan tentu kalau cerai, wanita di cap segala macam karena lingkungan ketakutan kehilangan suaminya…….. dan faktor penting agama… sudah tertulis posisi wanita bagaimana…

    JUGA YANG SANGAT PENTING WAMITA TIDAK MAU BERUBAH DAN KALAU MAU SUDAH KETAKUTAN DULUAN KARENA APA YANG AKAN TERJADI DIA BELUM TAHU… JADI DENGAN SITUASI YANG TIDAK AMAN DIA MERASA AMAN….

  6. Alvina VB  9 March, 2016 at 14:02

    Kornelya: Thanks for the article. Sometimes, we have to educate our girl friends, sisters and daughters that we have to respect ourselves and stand up for our own rights. As women, we have to empower other women we know and say NO to violence against women and children. I have a very silly story to tell you: my dear Greek friend once told me that for such a long, long time in her community, many women felt that their husbands did not love them if they didn’t get the slaps. I said: What??? Now, many of them educate their sisters and girlfriends not to feel that way anymore. It started with just a slap, then went on with more physical abuse/violence and it’s hard to handle it. It has been 25 years now that the Greek community has been opening the women shelter- Shield of Athena, a place where abused women and their children can find refuge and the abusive husbands/partners cannot touch them. Right now, the shelter also opens up for other women from different nations who also experience violence against them at home esp.; many are from the middle east. I have been supporting the organization as my other dear friend also experienced violence at home. She divorced her husband finally after a long battle at the high court. Her husband is a prominent criminal lawyer – just figure it out, how difficult to face him (and his ‘buddies’ during the hearings at the high court.
    James: gak pernah lah, galakan siapa coba? ha..ha….

  7. Dj. 813  8 March, 2016 at 23:12

    Mbak Kornelya . . .
    Hal ini banyak juga terjadi di Indonesia .
    Mau agama apapun, banyak suami yang terlalu merenndahkan derajat istrinya .
    Tapi yang anehnya, banyak para istri yang tunduk, seperti kekrbau dicocok hidungnya .

    Juga pendapat anak-anak sama sekali jarang dihargai .
    Kalau anak memberi solusi, maka tidak didengar dan bahkan dijawab . . . Kamu itu tahu apa .
    Masih lumayan kalau di jawab demikian, tapi ada yang langsung tangan nya melayang . . . PLAAAAK . . . !

    Nah, disini, akhirnya suami seperti raja yang harus didengar dan dituruti kemauan nya .
    Istri dan anak-anak tidak punya hak sama sekali .

    Ini tidak semua demikian, tapi banyak sekali yang demikian .
    Otoritas tertinggi ditangan suami atau ayah .

    Semoga satu saat para wanita bisa melawan demi kebenaran dan hak mereka.

    Salam manis dari Mainz.

  8. Kornelya  8 March, 2016 at 20:01

    Terima kasih, suhu sudah menayangkan tulisan ini. The comments could be in Indonesia or English, the languages that easy to asking google helps if some one doesn’t understand the meaning of the word.
    Pa James, disini konsekwensi hukum domestic violence berat bagi laki-laki, walau kadang wanita sebagai pemicu. Aku tidak pernah mengalami domestic violence, suamiku type ” yes mam”, walau yg diiyakan tidak selalu dilaksanakan.

  9. james  8 March, 2016 at 14:34

    1…..domestic violence adalah Prioritas Paling Atas untuk Polisi di Australia karena paling banyak jatuh korbannya, pasukan Polisi akan datang ditempat seperti menggempur Teroris saja

    halo para Kenthirs, apa ada yang mengalami domestic violence kah ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.