Gafatar – Ketika Agama-agama Menampilkan Wajah Kekerasan

Handoko Widagdo – Solo

 

Masyarakat dikejutkan dengan hilangnya Dokter Rica Tri Handayani dari kota Jogjakarta. Setelah dilakukan pencarian, ternyata Dokter Rica ditemukan di Kalimantan. Dia tidak sedang diculik, tetapi bergabung dengan sebuah organisasi bernama GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara). Ternyata di Mempawah sudah ada 2816 orang yang bergabung dalam sebuah kampung yang dibangun oleh kelompok ini. Selama ini banyak orang secara diam-diam meninggalkan keluarga dan kampungnya pergi ke Kalimantan untuk bergabung dengan Gafatar. Namun tidak ada keributan, sampai seorang dokter yang menjenguk suaminya ke Jogja tiba-tiba menghilang.

gafatar

Mereka yang menjadi anggota dan telah pindah ke Mempawah bukan hanya berasal dari komunitas beragama Islam, tetapi juga dari agama lain. Mengapa banyak orang tertarik dengan Gafatar? Banyak di antara 2816 orang itu adalah orang-orang berpendidikan tinggi, seperti Dokter Rica. Bahkan seorang tokoh sekelas Bibit Samat Riyanto pernah menjadi penasihat organisasi ini. Apa yang membuat mereka tertarik?

Dari mereka-mereka yang dipulangkan dari kampung Gafatar, beberapa mengungkapkan bahwa mereka sekedar ingin bertani, mendapat lahan yang lebih luas. Mereka ingin menghindari korupsi dan ingin mengabdi dengan lebih ikhlas.

Tak bisa dipungkiri, selain dari misi sosialnya, Gafatar juga memiliki misi agama. Seorang mantan pengurus Gafatar menyampaikan bahwa mereka keluar dari “Islam mainstream”. Mereka mau menjalankan ajaran Nabi Ibrahim.

Apakah agama yang mereka tinggalkan tidak lagi mampu memberi tuntunan sehingga mereka bisa lebih sejahtera dari sisi ekonomi? Apakah agama yang mereka tinggalkan tidak lagi bisa mencegah mereka dari laku korupsi? Apakah agama yang mereka tinggalkan sudah tidak lagi bisa memberikan rasa ikhlas saat berbuat baik? Mungkinkah mereka meninggalkan agama-agama tersebut karena saat ini agama-agama menampilkan wajah kekerasan? Agama yang sangat sensitif kepada hal-hal kecil yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran?

Saat agama-agama sibuk dengan mengurusi hal-hal kecil dan menuduh jemaatnya yang melakukan hal-hal tersebut sebagai sebuah kesalahan dan memvonis mereka tak akan masuk sorga, maka jemaat menjadi takut dan merasa terancam. Apalagi jika upaya untuk mengembalikan jemaat yang dianggap sesat tersebut dilakukan dengan kekerasan (fisik dan non fisik). Saat simbol-simbol agama justru dipakai oleh mereka yang berlaku korup, tetapi para tokoh agama tidak bereaksi. Saat para pendakwah memasang tarif tinggi dan tak ubahnya seperti selebriti.

Apakah mungkin berita yang diusung oleh media tentang agama adalah melulu tentang kekerasan, membuat masyarakat muak dengan agama? Berita tentang demo dengan penuh kekerasan, pembakaran rumah ibadah, pemberian cap sesat kepada pihak yang tidak sealiran membanjiri berita-berita bertema agama di media kita.

Di saat situasi seperti itu muncul sebuah tawaran yang penuh dengan kedamaian. Gafatar menawarkan kesejahteraan, kekeluargaan yang penuh kasih dan kesempatan untuk saling melayani. Mungkinkah hal tersebut yang membuat lebih dari 2800 orang tertarik untuk bergabung?

Dan mengapa isu Gafatar ini baru meledak saat seorang dokter perempuan menghilang? Bukankah sudah banyak orang yang menghilang dan bergabung dengan Gafatar sebelumnya?

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Gafatar – Ketika Agama-agama Menampilkan Wajah Kekerasan"

  1. Lani  28 March, 2016 at 08:11

    Hand: perkumpulan apalagi ini? Jangan2 kaga bener?

  2. Lani  28 March, 2016 at 08:08

    Al: pindahan udah selesai, ditempat baru boyok semakin brodollllllll krn melihat tempat kayak kapal pecah puyeng aku kkkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.