KHILAFAH

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

MENULIS tagar ‪#‎MelawanLupa di media sosial (twitter) ternyata isinya berkaitan dengan runtuhnya Kesultanan Ottoman Turki tanggal 3 Maret 1924 (baru tahu dari tagar). Bulan ini 91 tahun silam, kesultanan yang berusia 700 tahun diganti menjadi Republik Turki, dengan wilayah makin kecil, pengaruhnya merosot, deislamisasi, dearabisasi dan modernisasi menurut pendiri Turki modern Kemal Attaturk.

Semua kicauan twitter #MelawanLupa berisi ratapan untuk bangkit mendirikan kekhalifahan Islam lagi. Entah dimana, oleh siapa dan bagaimana. Maksudnya mau mencari kicauan tentang kekejaman dan pelanggaran HAM masa lalu, ehhh…….. dapatnya lain. Malah gang-nya Hizbuth Thahir dan kolaborator ISIS. Tak ada yang melarang siapapun mendirikan model negara impian. Tapi jangan paksa orang lain untuk terima ide seperti itu.

Kesultanan Ottoman (Usmani) (sekarang Turki) memang hancur hari ini 91 tahun silam. Banyak sumbangan Ottoman dalam perjalanan bangsa kampret ini. Pangeran Diponegoro mencontek struktur kemiliteran Ottoman ketika perang Jawa 1825-1830. Sultan terakhir Abdulmecid II akhirnya dibuang ke Prancis. Cicitnya, Pangeran Azmat Jah (55 tahun), terkenal di kalangan perfilman Hollywood. Azmat sahabat Steven Spielberg dan Richard Attenborough. Azmat, juga seorang fotografer, menjadi kameraman film The Last Crusade, Indiana Jones, Basic Instinct.

khilafah

Sepertinya, Pangeran Azmat Jah yang tinggal di London sejak bayi, males ngurusin khilafah yang sejujurnya dia lebih berhak secara hereditas dan historis, karena eyang kakungnya, Abdelmecid II adalah Sultan Ottoman terakhir dan juga Khalifah Islam terakhir.

Yang brisik di Indonesia. Di Ngruki, Indramayu, kantong-kantong fundamentalis…

 

 

9 Comments to "KHILAFAH"

  1. Indra Ganie – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia.  7 April, 2016 at 14:44

    PERADABAN MUSLIM KLASIK (± 700 – 1400)

    Oleh : Indra Ganie – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia.

    PENDAHULUAN

    Dalam riwayat manusia dikenal berbagai peradaban: ada peradaban dulu, kini dan nanti. Ini tak terlepas dari rezeki berupa akal, yang membuat manusia menjadi makhluk yang dinamis: cenderung berubah dalam arti berkembang, maju atau menuju perbaikan. Sekedar contoh, dulu manusia pernah berteduh di gua atau pohon tetapi kini berteduh di rumah atau apartemen. Bandingkan dengan binatang, sejak bermula ada mereka membuat sarang yang berbentuk sama hingga akhir zaman.

    Perubahan yang dicapai oleh manusia dari prosesnya kadang dikenal dengan istilah semisal “evolusi”, “revolusi” atau “reformasi”. Evolusi adalah perubahan yang berlangsung pelan, revolusi adalah perubahan yang berlangsung cepat dan reformasi adalah perubahan dalam arti mengganti yang lama dengan yang baru.

    Sejauh ini – terhitung hingga tahun 2000 – manusia telah mengenal 3 tahap atau macam revolusi yaitu:

    1. Revolusi agraria, perubahan kebiasaan manusia dari hanya memetik atau berburu dari alam kepada menanam atau memelihara daria alam. Manusia telah mengenal mengolah tanah dan bercocok tanam. Perioda ini diperkirakan berawal dari sekitar 10000-5000 BC.
    2. Revolusi industri, perubahan kerja manusia menghasilkan barang dari lebih banyak menggunakan tenaga manusia kepada lebih banyak menggunakan tenaga mesin. Perioda ini diperkirakan berawal dari abad-18.
    3. Revolusi informatika, perubahan dalam hal mengirim atau menyebar informasi lebih banyak dengan manusia dan hewan – semisal burung pos – kepada media elektronik semisal televisi dan/atau komputer. Perioda ini diperkirakan berawal dari abad 19-20.

    Pada awalnya peradaban tampil terpencar dan tak berhubungan satu sama lain. Dengan teknik transportasi semisal kapal layar atau hewan tunggang manusia mampu berhubungan satu sama lain sehingga timbul suasana saling mempengaruhi. Dari saling mempengaruhi kadang muncul peradaban baru yang cenderung lebih maju dari sebelumnya.

    Tetapi sejarah manusia begitu banyak menyajikan riwayat saling pengaruh tersebut tidak selalu berlangsung ramah, rela atau nyaman. Begitu banyak kasus terjadi pemaksaan pengaruh antara satu dengan yang lain. Ini tidak terlepas dari fitrah manusia yang cenderung ingin menguasai karena dengan demikian terbuka peluang mempengaruhi fihak yang dikuasainya, atau bukan jarang yang menguasai terpengaruhi atau sengaja dipengaruhi oleh yang dikuasainya sejauh pengaruh tersebut mempertinggi mutu kemanusiaannya tetapi yang menguasai sengaja tidak memberi pengaruh kepada yang dikuasai dengan maksud menghambat kemajuan kemanusiaannya atau mungkin karena tidak ada yang dapat ditawarkan atau ditukarkan. Hal tersebut dapat terjadi mengingat peradaban antara yang satu dengan yang lain berbeda tingkat kemajuannya.

    Suasana tersebut di atas menyajikan panggung sejarah yaitu yang canggih menguasai/mempengaruhi yang primitif dan juga yang primitif menguasai/mempengaruhi yang canggih.

    Walaupun seiring berjalan waktu manusia berpencar ke segala penjuru mata angin, pembagian manusia, peradaban bahkan dunia cenderung hanya 2 pembagian besar yang sering disebut yaitu barat dan timur. Maka muncul istilah orang Barat orang Timur, dunia Barat dan dunia Timur atau peradaban Barat dan peradaban Timur.

    SEKILAS PERADABAN AWAL

    Sekitar 10000 BC, atau lebih pasti 5000 BC peradaban mulai muncul terpencar pada beberapa tempat di dunia Timur. Manusia tidak hanya memetik atau berburu dari alam tetapi juga menanam dan beternak. Pertanian tidak hanya terkait dengan tanah tetapi juga terkait dengan cuaca. Dari penelitian tanah muncul ide membangun sistem pengairan untuk menyuburkan tanah yang tandus – lazim disebut “irigasi”, adapun dari penelitian cuaca muncul ide membagi perilaku cuaca untuk memilih jadwal tanam yang tepat – yang lazim disebut “musim”. Dari ide awal tersebut kelak muncul perkembangan ilmu semisal matematika untuk mengukur luas tanah dan astronomi untuk menghitung jadwal tanam yang kelak menampilkan sistem penanggalan – lazim disebut “kalender”.

    Sejauh yang diketahui, minimal ada 5 peradaban awal yaitu Mesir, Mesopotamia (kini mencakup Iraq, Kuwait, sedikit Suriah dan sedikit Turki), Cina, India dan – yang cenderung diabaikan – Arabia. Mereka telah mampu membangun irigasi, dengan demikian termasuk awal mengenal revolusi agraria. Hal tersebut berlangsung antara 5000-3000 BC. Adapun teknologi bangunan nyaris bersamaan muncul sekitar 3000 BC. Peradaban tersebut di atas merupakan asal muasal peradaban modern, setelah melalui proses perkembangan yang lama.

    Di Mesir tercatat nama yang dianggap sebagai raja pertama yaitu Menes sekaligus untuk pertama kalinya dibangun piramid untuk makam raja dan hartanya. Gelar penguasa di Mesir lazim disebut “fir’aun, gelar yang bertahan hingga sekitar 2500 tahun.
    Peradaban Mesir sejak itu berkembang pesat. Selain piramid, juga dibangun istana dan kuil besar yang hingga kini masih ada. Ilmu kedokteran misalnya, juga berasal dari Mesir.

    Di Mesopotamia dibangun makam raja mirip piramid yang lazim disebut “ziggurat”. Di antara sekian banyak sumbangsihnya terhadap kemanusiaan adalah “Hukum Hammurabi” – sekitar 2000 BC – yang mungkin merupakan asal muasal ilmu hukum.

    Di India terdapat peradaban yang dikenal dengan “Mohenjo-Daro” dan “Harappa” (kini sebagian masuk Pakistan). Peradaban tersebut antara lain menyajikan tata kota pertama yang menjadi dasar tata kota modern. Dari penggalian purbakala, kota-kota tersebut telah memiliki jaringan jalan dan air yang rapi, begitu pula dalam hal pemanfaatan lahan semisal untuk tempat mukim dan tempat usaha.

    Di Cina, dari sekian banyak sumbangannya terhadap manusia adalah penemuan kertas, yang sangat luas pemakaiannya. Selain itu, boleh dibilang Cina adalah super power yang awet walau pernah berulang menjadi lemah atau kacau. Cina menjadi saksi berbagai super power atau negara besar dalam sejarah muncul dan lenyap sementara Cina tetap besar. Berbagai super power yang pernah muncul semisal Yunani, Romawi, Persia dan Arab telah lama lenyap, berubah nama atau menjadi negara kecil. Mungkin karena sejak zaman kuno Cina dikenal dengan paling banyak penduduknya.

    Penelitian purbakala di Arabia masih relatif baru, terhambat oleh gurun yang luas. Dari hasil penelitian yang didapat, sekitar 3000 BC di Arabia terdapat peradaban di selatan, utara dan timur. Sekitar 1000-750 BC dibangun waduk yang mungkin pertama di dunia di wilayah yang kini masuk Republik Arab Yaman. Selain waduk, mungkin Arabia adalah asal muasal teknik membuat gedung bertingkat-tingkat.

    Di Barat, peradaban awal muncul sekitar 1000 BC. Tepatnya di wilayah yang kini masuk Yunani. Yunani dianggap sebagai asal muasal peradaban Barat, tetapi perlu diketahui bahwa peradaban Yunani adalah pengaruh dari peradaban Timur yaitu Mesir, Mesopotamia, Funisia dan Asiria. Mungkin bangsa Yunani yang menjadi perintis pengembangan dan penyebaran peradaban sebelumnya, tentunya setelah diyunanikan. Huruf Latin misalnya, adalah pengembangan huruf Funisia yang kini disebut Libanon.

    Bangsa Yunani menyebarkan peradaban antara lain melalui penaklukan. Penaklukan yang dipimpin oleh Alexander Agung adalah penaklukan yang pertama sekaligus yang terakhir dilaksanakan Yunani. Alexander bukan hanya panglima tetapi juga seorang intelek: yang pernah berguru kepada Aristoteles, seorang filsuf yang mungkin paling terkemuka.

    Alexander memiliki ambisi besar: menyatukan Barat dan Timur – tentu di bawah kekuasaannya. Dia berpendapat bahwa kedua dunia tersebut dapat saling melengkapi, hasil usahanya menampilkan peradaban campuran yang disebut “Hellenisme”. Pada zaman itu, pemikiran tersebut sangat langka.

    Romawi mewarisi prestasi Yunani, pengaruh Timur yang diterima adalah agama Nashrani. Kaisar Constantin Yang Agung adalah kaisar Romawi pertama yang menganutnya. Dia berperan dalam pembangunan kota Constantinople (kini Istambul) yang sekian lama dinilai termasuk kota yang sangat indah.

    Dari uraian di atas, jelaslah bahwa peradaban berasal dari Timur. Adapun Barat berperan mengembangkannya menjadi secanggih yang kita saksikan kini. Sebagai contoh adalah jam bermesin, walaupun benda itu ditemukan oleh orang Barat tetapi perhitungan waktunya yaitu jam, menit dan detik berasal dari Timur – tepatnya Mesir dan Mesopotamia. Perhitungan waktu dari kedua negeri kuno tersebut semisal tahun, bulan, minggu dan hari juga menghasilkan kalendar yang kita gunakan kini.

    Sumbangan Timur yang tak terbantahkan adalah agama. Semua agama yang kita kenal kini lahir di Timur: Hindu, Yahudi, Budha, Konghucu, Nashrani dan Islam. Sesungguhnya masih ada beberapa agama yang pernah lahir tetapi perjalanan waktu telah melenyapkannya atau mungkin masih dijumpai pada tempat yang begitu terpencil. Walaupun agama berasal dari tuhan dan jelas bukan hasil pemikiran manusia, agaknya menjadi tanda tanya kenapa tuhan “memilih” dunia Timur untuk menampilkan manusia pilihannya.

    Setelah penulis ajak pembaca sedikit menjelajah sejarah awal peradaban manusia, penulis juga mencoba mengajak pembaca kepada suatu peradaban yang tak kalah pentingnya tetapi ada kecenderungan kuat untuk meremehkannya, bahkan menutupi atau menyangkalnya. Yang penulis maksud adalah peradaban Muslim klasik dan peradaban inilah yang menjadi pokok bahasan tulisan ini.

    PENGERTIAN KLASIK

    Istilah “klasik” menurut terjemahan di kamus adalah “kuno”. Tetapi penulis menilai makna istilah tersebut kurang tepat karena pengertian kuno yang sering dipakai adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa lampu yang tidak cocok dipakai lagi atau tidak cocok dijadikan acuan di masa kini. Maka penulis menilai istilah klasik dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan masa lampau sekaligus masih untuk masa kini dapat dijadikan acuan walau ada yang melalui penyesuaian dengan ukuran masa kini.

    Sejauh pengetahuan penulis, setiap kelompok manusia memiliki apa yang disebut dengan “perioda klasik”, yaitu suatu perioda masa lampau yang dinilai sebagai perioda ideal suasana tata hidup kelompok masyarakat tertentu sehingga suasana perioda tersebut dijadikan acuan untuk diteladani pada tata hidup masa kini – bahkan nanti – walaupun peneladanan tersebut belum tentu menghasilkan suasana yang persis sama dengan suasana masa lampau yang ingin diteladani.

    Sejauh yang berkaitan dengan kaum Muslim, masa klasiknya cenderung mengacu pada perioda 622-61 yaitu perioda sejak Nabi Muhammad pindah dari Makkah ke Madinah – yang menandai awal kekuasaan Muslim – hingga akhir perioda “Khalifah Besar Empat” – lazim disebut “Khulafa al-Rasyidin” – yang ditandai dengan kematian Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib.

    Mungkin ada pertanyaan, kenapa perioda tersebut sering – minimal secara teori – dinilai sebagai contoh ideal tata hidup kaum Muslim. Pertanyaan ini mungkin perlu jawaban yang panjang mengingat penjelasannya sulit disederhanakan. Apapun jawabannya, mungkin intinya memiliki kesamaan yaitu bahwa pada perioda tersebut di atas agama Islam sangat meresap dalam segala segi hidup umat baik dalam pemahaman maupun dalam pengamalan, melebihi perioda manapun dalam sejarah Islam. Tetapi harus diingat bahwa tidak ada kehidupan ideal sempurna di dunia ini, hal tersebut juga berlaku bagi kaum Muslim. Perioda klasik Muslim – sebagaimana kelompok manusia lain – juga tak lepas dari ketidaknyamanan semisal peperangan atau musibah lain. Nilai lebih dari perioda tersebut mungkin adalah menghadapi segala ketidaknyamanan tersebut dengan sikap lebih Islami dibanding perioda manapun dalam sejarah Islam, dengan sumber utama yaitu kitab dan sunnah.

    Mungkin muncul lagi pertanyaan, jika perioda 622-61 dinilai sebagai masa klasik kenapa perioda 700-1400 juga disebut perioda klasik? Apakah kaum Muslim pernah mengalami 2 kali perioda klasik ataukah hanya sekali?

    Jawabannya bisa beragam. Bagi yang berpendapat hanya sekali masa klasik terdapat 2 pendapat pula, pendapat yang berdasar pada fakta bahwa perioda 622-61 adalah pada perioda tersebut kaum Muslim dipimpin oleh tokoh paling bermutu dibanding perioda manapun yaitu Nabi Muhammad beserta para sahabat utama yaitu Abu Bakar, ‘Umar bin Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abu Thalib. Keempat sahabat tersebut masuk kelompok “Sepuluh Sahabat Utama” (‘Asyratul Kiraam) karena keutamaan mereka dalam pemahaman dan pengamalan agama. Nabi telah memberitahu mereka sejak mereka masih hidup bahwa mereka akan masuk surga. Perioda setelah itu dinilai terdapat penyimpangan atau pelunturan dalam pemahaman dan pengamalan agama. Walaupun Islam berkembang lebih luas dibanding masa 5 tokoh tersebut, pengaruh atau rasa keislaman kaum Muslim tidak sebagus perioda tersebut.

    Bagi yang menjawab perioda 700-1400 adalah masa klasik, mereka berdasar fakta bahwa pada perioda tersebut adalah kelahiran dan perkembangan apa yang dinamakan peradaban Muslim. Pada perioda tersebut kaum Muslim – umumnya Arab – secara intensif berhubungan dengan umat lain – tidak hanya sebatas Arabia – sehingga otomatis berhubungan dengan peradaban lain pula semisal Yunani, Romawi, Persia, India, Cina, Mesir, Mesopotamia, Asiria dan Funisia. Selama perioda tersebut kaum Muslim sukses menerima peradaban sebelumnya dan sezamannya, mengembangkannya dan menyebarkannya. Pada tahap tersebut kaum Muslim nyata memberi sumbangan bagi kemanusiaan dibanding sebelumnya dan sesudahnya. Dengan kata lain berguna bagi orang lain. Hal tersebut sungguh memenuhi konsep “rahmatan lil ‘alamin”.

    Penulis cenderung menilai bahwa kedua pendapat tersebut sama-sama memiliki kebenaran, karena itu penulis menggabungkan masa klasik yang terbagi 2 tersebut menjadi 1 masa yaitu 622-1924: berawal dari hijrah nabi yang menandai titik balik perjuangan nabi dari fihak yang tertindas menjadi fihak yang berkuasa, yaitu memiliki negara. Tahun 1924 adalah akhir perioda khilafah – istilah yang dipakai sejak 632 – yaitu konsep tata negara berdasar Islam. Walaupun praktek khilafah sempat terdapat penyimpangan, kaum Muslim menilai bahwa khilafah adalah lambang persatuan kaum Muslim (Pax Islamica). Memang, selama berabad-abad pemegang gelar khalifah menjadi acuan bagi negeri-negeri Muslim lain. Para penguasa Muslim – apapun gelarnya – meminta restu kepada khalifah. Kurang afdhal rasanya jika berkuasa tanpa restunya. Diantara yang pernah meminta restunya adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram dan raja-raja di bagian lain Nusantara. Boleh dibilang, dengan lembaga khilafah saat itu kaum Muslim lebih bersatu – dengan demikian lebih kuat – dibanding setelahnya walaupun persatuan tersebut sejak abad-19 tidak lagi menempatkannya sebagai super power.

    Sejak tahun 1517 pemegang gelar khalifah adalah para sultan Turki dari Dinasti ‘Utsmaniyyah, mereka mewarisinya dari keturunan sultan/khalifah terakhir Dinasti ‘Abbasiyyah. Keturunan tersebut dibawa dari Kairo (al-Qahirah) ke Istambul, ibu kota kerajaan tersebut. Adalah seorang antek imperialis Barat bernama Mushthafa Kamal alias Attaturk menghapus lembaga khilafah yang berakibat kaum Muslim lebih terpecah belah dibanding sebelumnya. Attaturk juga melaksanakan program deislamisasi lainnya: menutup zawiyah, madrasah, melarang jilbab dan mengganti huruf Arab dengan huruf Latin serta tentu saja menghapus pengaruh Islam dalam kehidupan publik semisal kenegaraan. Hapus kekhalifahan sesungguhnya termasuk musibah besar kaum Muslim. Layak disayangkan, semakin jauh perjalanan waktu peristiwa itu praktis dilupakan.

    Adapun perihal capaian kemanusiaan, penulis setuju bahwa perioda 700-1400 adalah perioda peradaban Muslim klasik dalam arti pada perioda tersebut memang nyata sumbangsih kaum Muslim terhadap kemanusiaan sebagaimana tersebut di atas. Sebelum maupun sesudah perioda tersebut praktis tidak ada atau sedikit. Sebelum perioda tersebut kaum Muslim masih sibuk menata diri, membebaskan wilayah dari penjajahan Bizantium dan pendudukan Persia serta memperkokoh kemenangan. Belum sempat memberi peradaban kepada kemanusiaan. Adapun sesudah perioda tersebut kaum Muslim mengalami pula nasib yang sama dengan kaum sebelumnya yaitu “kelelahan melahirkan” prestasi. Kelelahan tersebut bertambah dengan serbuan dari Eropa dan Mongolia yang jelas menguras potensi.

    SEKILAS AWAL PENAMPILAN KAUM MUSLIM

    Islam bukanlah agama yang begitu saja jatuh dari langit, tetapi merupakan lanjutan dari karya para nabi sebelum Muhammad. Sejak Nabi Adam hadir di dunia agamapun demikian. Para nabi sesudahnya melanjutkan tuntunan kepada manusia dengan agama yang makin disempurnakan seiring perjalanan waktu. Bahkan dari penelitian telah ditemukan info dari sumber agama sebelum Islam tentang kehadiran nabi terakhir dan agama terakhir walaupun bantahan terhadap hasil penelitian tersebut juga ada.

    Beberapa sumber menyebut bahwa Muhammad lahir tahun 570 di Makkah, kota dagang terkemuka di Arabia. Suku mayoritas di kota tersebut yaitu Quraisy dikenal sebagai perantau dan pedagang. Dengan demikian Makkah adalah kota dagang terpenting di Arabia, banyak pula pendatang dari dalam maupun luar Arabia.

    Arabia saat dia lahir telah mengalami masa suram mungkin sejak abad pertama Masehi. Capaian kemanusiaan yang sempat diraih telah hilang, Arabia seakan mengalami kelelahan melahirkan peradaban. Beberapa kerajaan terkemuka semisal Ma’in dan Saba’ telah lenyap, yang ada hanya beberapa kerajaan kecil bercorak setengah pengelana, dengan demikian peradabannya relatif primitif. Bahkan ada pula yang hanya merupakan bawahan kerajaan asing.

    Makkah mungkin lebih tepat disebut sebagai negara kota karena wibawa politiknya praktis tidak menjangkau seluruh Arabia, tetapi Makkah memiliki wibawa agama yang tak tertandingi di negeri tersebut selain dikenal sebagai kota dagang. Di kota tersebut terdapat Ka’bah, rumah ibadat yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il. Keturunan Isma’il kelak menjadi cikal bakal bangsa Arab baru yang dikenal dengan sebutan “’Arab al-Musta’ribah”, seakan “melengkapi” keberadaan bangsa Arab dari kelompok sebelumnya yaitu ‘Arab al-Ba’idah dan ‘Arab al-‘Aribah. Adapun suku Quraisy termasuk keturunan Isma’il.

    Suku Quraisy diakui oleh bangsa Arab sebagai penguasa yang sah di Makkah, memiliki hak dibidang agama dengan kewajiban melayani para peziarah dari seantero Arabia. Semua penganut dari berbagai agama di Arabia menganggap Makkah sebagai pusat keagamaan.

    Kehadiran agama Islam membuat para elit Makkah merasa “gerah”, dan hal itu “menular” pula keluar Makkah. Mereka menilai Islam sebagai ancaman wibawa mereka. Islam sekian lama sempat dianggap bagai kerikil dalam sepatu.

    Sejarah para nabi sebelumnya seakan berulang pada Muhammad, yang menerima dia – minimal awalnya – adalah kaum jelata semisal gembel atau budak. Para elit sigap menolaknya.

    Sekitar 12 tahun berda’wah di Makkah hasilnya menyedihkan, tetapi pada saat yang sama muncul harapan. Madinah, kota yang terletak sekitar 400-500 km utara Makkah menyambut simpatik misi Muhammad. Singkat cerita, dia dan kaum Muslim pindah ke Madinah.

    Perpindahan tersebut merupakan titik balik nasib kaum Muslim: dari tertindas menjadi berkuasa. Mereka mendapat peluang yang tak mereka dapat di Makkah yaitu pembenahan ke dalam dan perkenalan ke luar. Unsur-unsur masyarakat di luar Madinah berangsur-angsur menjadi Muslim.

    Walaupun kaum Muslim telah tersingkir dari Makkah, para elitnya tidak puas – dan itu beralasan. Mereka simak dengan serius perkembangan musuhnya sehingga perlu suatu penyelesaian akhir permusuhan ini. Menyingkirkan ternyata tidak cukup, kaum Muslim harus dihabisi.

    Di Madinah sendiri kaum Muslim “mendapat” musuh baru yang tak kalah berbahaya: kaum Yahudi. Mereka lebih memahami wahyu dibanding elit Makkah atau elit Arab manapun yang masih pagan.

    Pada awalnya tidak ada masalah dengan kaum Yahudi, kaum Muslim mencoba merangkul non Muslim di Madinah dan sekitarnya untuk hidup berdampingan secara damai dengan berdasar suatu konstitusi yang lazim disebut “Piagam Madinah”. Tetapi suasana nyaman itu berlangsung singkat, kaum Yahudi – yang nota bene tahu tentang kehadiran nabi terakhir – menggunakan berbagai dalil wahyu untuk menolak nubuwat Muhammad karena dia adalah keturunan Isma’il. Sejak lama kaum Yahudi menilai hina keturunan Isma’il karena ibunya adalah budak, padahal kaum Yahudi sendiri selama ratusan tahun menjadi budak kaum lain dan mereka berlindung di Arabia. Selain itu, beberapa anak Nabi Ya’qub – moyang Israel – berasal dari 2 perempuan budak.

    Penolakan kaum Yahudi mungkin sejak awal memang lemah dalilnya karena dalam budaya rumpun Semit (Samiyyah) – termasuk Arab dan Israel – memiliki budaya patriarkat: anak ikut silsilah bapaknya. Dengan demikian tidak ada perbedaan derajat antara anak dari perempuan merdeka dengan anak dari perempuan budak.

    Gerakan anti Islam di dalam maupun di luar Madinah sempat bergabung dalam perang melawan Muslim yang dikenal dalam sejarah Islam dengan nama “Perang Parit”. Syukurlah, kaum Muslim menang.

    Perdamaian dengan Makkah – walaupun hanya bertahan sekitar 2 tahun – memberi peluang kaum Muslim berda’wah. Untuk pertama kalinya kaum Muslim berhubungan dengan luar negeri sekaligus super power zaman itu: Bizantium dan Persia, tetapi keduanya sigap pula menolak. Surat nabi dirobek oleh raja Persia dan utusan nabi dibunuh oleh bawahan Bizantium. Perang dengan mereka tak terhindarkan, masih berlanjut hingga jauh setelah nabi wafat.

    Sebagai hukuman terhadap pelanggaran Makkah terkait perjanjian gencatan senjata, kaum Muslim menaklukan Makkah praktis tanpa perlawanan. Amnesti yang diberikan nabi sukses merangkul warga Makkah kepada Islam. Setelah itu, sisa 2 tahun hidupnya, fokus nabi tercurah untuk memantapkan pengaruhnya se antero Arabia. Ketika wafat tahun 632, sebagian besar Arabia berada di bawah supremasi Muslim.

    PEMBEBASAN DAN PERKENALAN

    Berdasar hasil musyawarah, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah. Menurut arti aslinya, istilah “khalifah” bermakna “pengganti”. Istilah tersebut ada dalam al-Qur-an mengacu pada penciptaan manusia pertama yaitu Adam dan fungsinya di alam, tepatnya di dunia. Tuhan berfirman hendak menciptakan manusia sebagai khalifah bertempat di dunia, pengertian tersebut dapat berarti pengganti pelaksana kehendak tuhan di dunia. Konon sebelum Adam, tuhan telah memberi tugas kepada makhluk lain sebagai pelaksana kehendaknya tetapi makhluk tersebut justru membuat kerusakan. Setelah mereka dibinasakan, tuhan ciptakan manusia untuk menggantikannya. Makna khalifah juga dapat berarti “wakil” yaitu tuhan berbagi atau memberi wewenang – tentunya terbatas – kepada manusia menguasai, memanfaatkan dan memelihara alam.

    Adapun dalam kasus pasca Muhammad, pengertian pengganti bukanlah bermakna Abu Bakar dipilih sebagai nabi menggantikan Muhammad tetapi menggantikan perannya sebagai kepala negara mengingat tugas Muhammad sebagai nabi dalam perkembangannya memerlukan “peran tambahan” semisal kepala negara dan panglima. Jabatan nabi berasal dari tuhan dan terlebih lagi Muhammad adalah nabi terakhir, tetapi peran lain yang pernah dimilikinya dapat diganti oleh orang lain. Sejak itulah dalam sejarah Muslim dikenal pemerintahan yang disebut “khilafah” dan orangnya disebut “khalifah”.

    Lembaga khilafah berlangsung dari pelantikan Abu Bakar tahun 632 hingga penghapusan lembaga tersebut bersamaan dengan penghapusan Kerajaan ‘Utsmaniyyah di Turki tahun 1924 oleh Attaturk. Selama perioda tersebut berbagai raja, dinasti dan bangsa memegang gelar tersebut.

    Dalam sejarah Muslim, telah tersebut bahwa dalam perioda khilafah dikenal perioda Khalifah Besar Empat atau Khulafa al-Rasyidin. Perioda tersebut adalah awal pembentukan imperium Muslim, berawal dari gerak maju kaum Muslim membebaskan wilayah dari penjajahan Bizantium dan pendudukan Persia yang begitu menindas rakyat. Selain itu, konflik dengan kedua super power tersebut sebagai tindak hukuman terhadap usaha merongrong kaum Muslim.
    Wilayah yang pertama dibebaskan adalah Asia Barat dan Afrika Utara, Bizantium kehilangan sebagian besar jajahannya dan Persia masuk imperium Muslim seutuhnya. Pada perioda Dinasti ‘Ummayah (661-750) gerak maju dilanjutkan hingga pada tahun 732 – seabad wafat Muhammad – menjangkau sejauh Iberia di barat dan Turkistan di timur, termasuk imperium terluas dalam sejarah. Tentunya usaha tersebut menghadapi tantangan antara lain dari Visigoth, Franka, Turki, India dan Cina.

    Pembebasan yang seiring dengan perkenalan Islam tersebut juga menghadapi masalah: kaum Muslim menghadapi masyarakat yang lebih canggih saat itu. Bagaimana menyikapi kenyataan tersebut? Apakah menghapus ataukah mencari titik temu atau persamaan antara Islam dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat?

    Untuk mencari jawabnya, kaum Muslim sedapat mungkin “menggali” al-Qur-an dan menyimak perilaku nabi semasa hidup. Dari situ didapat jawaban bahwa Islam hadir bukan menghapus yang ada begitu saja tetapi menyimak segala sesuatu berdasarkan azaz manfaat-mudharat dan maslahat-mafsadat. Segala yang sesuai dengan Islam boleh diambil, adapun yang bertentangan ditolak atau dilarang – minimal larangan tersebut berlaku untuk kaum Muslim. Dengan demikian masyarakat non Muslim praktis mendapat toleransi melaksanakan nilai-nilai yang dianutnya. Perbedaan yang tak dapat dihindari dibiarkan, dinilai sebagai sunnatullah atau hukum alam.

    Jawaban yang memang telah “tersedia” dalam kitab dan sunnah relatif mudah dicari, yang relatif sulit adalah mencari jawaban karena menghadapi masalah yang belum pernah ada semasa hidup nabi. Kaum Muslim mencoba mencari jawaban terhadap masalah yang ada saat pasca nabi tersebut berdasar kasus semasa nabi yang mirip-mirip dengan itu untuk mendapat persamaan sebabnya, dari situ dapat menemukan persamaan hukumnya . Hasilnya adalah – sering dianggap sebagai – sumber tambahan dalam Islam yang dikenal dengan istilah “kias” (Arab: qiyas, Inggris: analogy). Usaha mencari jawaban atau hasil analisa tersebut dikenal dengan istilah “ijtihad”. Ijtihad yang mendapat kesesuaian atau disepakati oleh para ahli disebut “ijma’” tetapi dengan ketentuan bahwa ijtihad tidak bersifat mutlak, dengan kata lain relatif. Ijtihad dapat ditinjau kembali walau selama beberapa abad sempat ada tabu untuk diutak-atik.

    Dengan demikian segala sesuatu pengaruh yang telah diterima Islam menjadi bagian yang lazim disebut “syari’at”. Dari uraian ini jelas bahwa Islam tidak menolak pengaruh asing sejauh tidak bertentangan dan kaum Muslim pada perioda peradaban klasik mempraktekkan ajaran tersebut dengan sangat baik. Hal tersebut layak menjadi contoh bagi generasi berikutnya.

    Seiring waktu berjalan kaum Muslim secara sadar tidak sadar terbagi menjadi beberapa golongan berdasar ijtihad beberapa ulama yang lazim disebut “madzhab”, walaupun tokoh-tokoh yang dianggap sebagai “pendiri” madzhab tidaklah bermaksud demikian. Kini – suka atau tidak suka – kaum Muslim terbagi menjadi 2 kelompok besar yaitu Suni (Ahl al-Sunnah wal Jam’ah) dan Syi’ah. Madzhab yang termasuk Suni yaitu:

    1. Hanafiy, berasal dari nama Abu Hanifah. Umumnya terpusat di Asia Selatan, Asia Tengah, Levant, Iraq dan Turki.
    2. Malikiy, berasal dari nama Malik bin Anas al-Ashbahiy. Umumnya terpusat di Afrika Utara.
    3. Syafi’iy, berasal dari nama Muhammad bin Idris al-Syafi’iy. Umumnya terpusat di Asia Tenggara.
    4. Hanbali, berasal dari nama Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Umumnya terpusat di Arabia.

    Dalam Syi’ah juga terdapat beberapa madzhab semisal Itsna ‘Asy’ariyyah yang merupakan mayoritas diantara berbagai madzhab Syi’ah. Madzhab tersebut terpusat di Iran dan Iraq.

    Pertemuan antara kaum Muslim dengan kaum dan peradaban lain tersebut kelak menampilkan peradaban Muslim klasik, yang termasuk cikal bakal peradaban modern melalui apa yang disebut zaman “renaissance” dan “aufklarung” di Barat.

    PERKEMBANGAN PERADABAN MUSLIM KLASIK

    Ketika kaum Muslim meraih wilayah baru, sulit disangkal bahwa mereka takjub menemukan warisan peradaban dalam berbagai bentuk semisal istana, pustaka, benteng dan kaum intelek. Kaum Muslim menilai betapa canggih kaum yang dirangkul dalam imperiumnya mengingat kaum Muslim mayoritas berlatar belakang budaya di Arabia Tengah, wilayah yang primitif. Penduduknya praktis hanya mengenal berdagang dan berperang. Praktis tidak ada peradaban canggih setara rekan-rekannya di utara dan selatan.

    Pada awalnya tak mengherankan jika terjadi kesulitan berbicara mengingat perbedaan bahasa, tetapi interaksi sosial merupakan keharusan mengingat Islam adalah agama universal. Islam tidak mengajarkan pengasingan dari pergaulan masyarakat walaupun dengan non Muslim. Dengan demikian muncul usaha penterjemahan. Warga Arab di perbatasan utara Arabia – umumnya beragama Nashrani – telah lama mendapat pengaruh Yunani, Romawi dan Persia. Adapun ketiga bangsa tersebut mewarisi peradaban yang lebih senior semisal Mesir, Mesopotamia, Asiria, Akkadia dan Funisia. Kemungkinan besar warga Arab tersebut adalah penghubung awal antara kaum Muslim dengan orang asing.

    Dengan rasa ingin tahu kaum Muslim berusaha mengenal warga negara barunya nyaris dalam segala hal tetapi yang menjadi pokok tertariknya adalah pengetahuan yang tersimpan dalam buku dan otak.

    Maka pada perioda 700-1000 perkembangan peradaban Muslim klasik berciri pokok pada penterjemahan besar-besaran buku-buku asing. Kaum Muslim tidak segan-segan mengajak non Muslim membangun peradabannya. Bahkan jika buku atau ahli tidak didapat di wilayah imperium Muslim, maka utusan dikirim ke luar negeri untuk memboyong keduanya. Agaknya layak diakui bahwa pada perioda ini peradaban Muslim – walaupun terbilang spektakuler – tetapi kurang memiliki nilai keaslian mengingat apa yang disebut pakar kaum Muslim adalah mereka yang umumnya ahli setelah mempelajari pengetahuan dari bangsa asing, baik karena mereka terjemahkan sendiri maupun mereka pelajari dari terjemahan orang lain. Masih terbilang jarang ada penemuan atau penciptaan ilmiyah asli dari pakar tersebut.

    Karya monumental dari perioda tersebut di atas antara lain Masjid ‘Umar atau dikenal dengan Masjid Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha di Yerussalem (al-Quddus al-Syarif) yang dibangun pada perioda kuasa Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan serta Masjid Jami’ ‘Ummayah di Damaskus (Damsyiq) yang dibangun pada perioda kuasa Khalifah Walid bin ‘Abdul Malik.

    Pada perioda kuasa Khalifah Ma’mun bin Harun al-Rasyid (813-33) dibentuk lembaga penterjemahan yang disebut “Bayt al-Hikmah” (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad. Berbagai buku dihimpun, diterjemahkan, dipelajari dan disebarkan.

    Masih dalam perioda di atas pada tahun 969 dibangun kota al-Qahirah oleh Jawhar, seorang panglima Dinasti Fathimiyyah. Pembangunan tersebut mencakup pula pembangunan Masjid-Universitas al-Az-har yang juga masih ada. Kota ini seakan melengkapi prestasi kaum Muslim setelah Baghdad di Iraq dan Cordova (Qurthubah) di Spanyol. Konon pustaka di Qurthubah menyimpan sekitar 400.000 buku dari berbagai cabang pengetahuan. Dari Iberia – dan juga Sisilia – peradaban Muslim menembus kebekuan dan kegelapan Eropa. Ketika itu Eropa mengalami zaman yang disebut “abad pertengahan” atau “abad kegelapan” (476-1492), perioda ketika Eropa kehilangan capaian kemanusiaan yang pernah teraih pada zaman Yunani-Romawi. Sebagian besar warisan tersebut sukses diselamatkan oleh kaum Muslim.

    Beberapa pakar pada perioda tersebut di atas antara lain:

    1. Abu Yusuf Ya’qub ibnu Is-haq Al-Kindiy (wafat 873), karya tulisnya mencakup matematika, astrologi, fisika, kedokteran, farmasi, geografi dan musik. Tetapi ia lebih dikenal sebagai filsuf.
    2. Al-Farghaniy (wafat 870), seorang pakar astronomi. Karya monumentalnya adalah “Unsur-unsur Astronomi)” yang banyak membahas gerakan benda-benda langit.
    3. Al-Khawarizmiy (wafat 850), lebih dikenal sebagai seorang pakar matematika walaupun dia juga pakar astronomi dan geografi.
    4. Al-Raziy (865-925), lebih dikenal sebagai pakar kedokteran walaupun ia juga pakar psikologi dan fisika.
    5. Al-Farabiy (wafat 950), lebih dikenal sebagai pakar teologi dan filsafat.

    Kaum Muslim menampilkan sumbangsih aslinya pada perioda 1000-1400. Penterjemahan pada perioda ini relatif kurang dibanding sebelumnya. Banyak ciptaan dan temuan asli penelitian kaum Muslim tampil dalam perioda ini. Tetapi prestasi tersebut sempat mendapat gangguan berat oleh perpecahan di dalam dan serbuan dari luar. Imperialis Barat mencoba meraih wilayah bekas jajahannya melalui perang salib (1095-1291) yang berakhir gagal dan penaklukan besar-besaran oleh bangsa Mongolia dipimpin oleh Jenghis Khan serta keturunannya. Banyak aset umat yang rusak atau hilang: pustaka diratakan dengan tanah dan pakar dibunuh atau ditangkap.

    Pada perioda ini terdapat karya monumental yaitu pembangunan Universitas Nizhamiyyah di Baghdad atas kuasa Wazir Nizham al-Muluk. Universitas inilah yang menampilkan alumni sekaligus dosen terbaiknya yaitu al-Ghazaliy (1058-1111) walaupun ada juga pemikirannya terkesan janggal. Dia lebih dikenal sebagai pakar tashawuf.

    Beberapa pakar pada perioda ini antara lain:

    1. Al-Biruniy (wafat 104, lebih dikenal sebagai pakar matematika, astronomi dan geografi.
    2. Ibnu al-Haytsam (wafat 1039), lebih dikenal sebagai pakar fisika. Karya monumentalnya adalah “Kitab al-Manazhir” yang merupakan pembahasan tentang mata.
    3. Ibnu Sina (980-1037) dikenal dengan nama yang dibaratkan “Avicenna” sangat terkemuka dalam bidang kedokteran walaupun dia juga pakar astronomi, geologi, matematika dan filsafat.
    4. ‘Umar Khayyam (wafat 1123), lebih dikenal sebagai pakar sastra walaupun dia juga pakar matematika dan astronomi.
    5. Ibnu Rusyud (wafat 1194), lebih dikenal sebagai filsuf walaupun dia juga terkemuka sebagai dokter. Di Barat dikenal dengan nama “Averroes”.

    Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa para pakar Muslim pada zaman klasik peradaban tidak hanya pakar dalam 1 bidang. Bukan jarang seorang pakar memiliki prestasi dalam 5-10 cabang ilmu. Selain itu tidak ada dikotomi pengetahuan agama-non agama. Seorang pakar yang genius dapat sekaligus seorang ulama yang shalih. Hal tersebut dapat terjadi karena kaum Muslim zaman tersebut menilai bahwa tidak ada pertentangan antara iman dan ilmu. Iman adalah anugerah tuhan dan ilmu juga anugerah tuhan. Keduanya diperlukan untuk amal. Amal mungkin rusak atau timpang jika kurang 1 diantaranya. Pengertian ulama zaman itu tidak hanya ahli agama tetapi juga ahli dibidang umum. Sungguh berbeda dengan keadaan sekarang.

    Musibah semacam perang agaknya masih tak menghalangi kaum Muslim untuk berprestasi. Sumbangan yang mungkin terbaik (sekaligus yang terakhir) dari perioda peradaban Muslim klasik adalah dibidang sosial, arsitektur dan astronomi. Dinasti Timuriyyah di Turkistan mewariskan arsitektur monumental berupa masjid dan madrasah serta kecermatan perhitungan dalam astronomi di Observatorium Ulugh Beg di Samarkand (Samarqand) – ibu kotanya. Sayang, peninggalan yang masih tersisa di seantero bekas wilayahnya terkesan tidak terawat. Bahkan ada juga yang sulit dikenali.

    Adapun intelektual terkemuka yang terakhir pada perioda ini adalah Ibnu Khaldun (1332-1406), pakar dalam ilmu sosial. Karya monumentalnya adalah “Kitab al-Ibar” dengan bagian terpenting adalah bab “Muqaddimah” (Pembukaan). Dalam karya tulisnya dia menjelaskan tentang politik, ekonomi, sejarah, geografi dan hukum dari beberapa kaum.

    Walaupun masih ada prestasi pada perioda pasca peradaban klasik antara lain dengan “diwakili” oleh Kerajaan ‘Utsmaniyyah (1299-1924) di Turki, Kerajaan Shafawiyyah (1502-1722) di Iran dan Kerajaan Mughal (1526-185 di India, kaum Muslim telah kehilangan daya kreatif dan inovatifnya. Dalam hal pemahaman agama misalnya, tidak banyak ijtihad bermutu yang dihasilkan para ulama. Mereka cenderung hanya mengikut para pendahulunya – lazim disebut “taqlid”. Maka jangan tanya prestasi di bidang teknologi, praktis penelitian dan pengembangan untuk itu tidak ada. Justru Barat yang mengambil alih pencerahan yang pernah membawa kaum Muslim pada puncak martabatnya sebagai manusia. Sambil sedapat mungkin meremehkan – bahkan berusaha menutupi – prestasi kaum Muslim. Pemalsuan sejarah atau fakta menjadi hal tak terhindarkan.

    PENUTUP

    Penulis memaparkan ini supaya kaum Muslim kini dan nanti sadar akan fungsinya di tengah umat manusia yaitu menebar manfaat sebanyak mungkin sebagaimana telah dilaksanakan sangat baik oleh generasi terdahulu. Penulis mengingatkan bahwa betapa jauh mutu kaum Muslim dulu dengan sekarang dalam arti generasi dulu yang sebagai yang telah diuraikan di atas jauh lebih baik walaupun jumlahnya tidak sebanyak kini. Bahkan pada perioda klasik ada wilayah dalam imperium Muslim yang mayoritas non Muslim. Kini jumlah kaum Muslim sedunia sekitar 1.000.000.000 tetapi sumbangsihnya terhadap kemanusiaan disegala bidang secara total konon tak lebih dari 1%. Sebagian besar kaum Muslim terperangkap dalam kemiskinan dan kebodohan, faktor utamanya adalah penjajahan oleh non Muslim – terutama Barat – yang telah berlangsung sejak abad-16. Walaupun penjajahan dalam bentuk kehadiran fisik kini praktis jarang dijumpai tetapi dalam hal perusakan mental masih banyak dijumpai – bahkan cenderung menjadi-jadi. Hal tersebut sebagian juga tak terlepas dari kekeliruan kaum Muslim antara lain dalam bentuk perpecahan, kebekuan dan kelalaian. Tak layak sepenuhnya menyalahkan penjajah, mereka melakukannya selain karena nafsu serakahnya juga karena ada peluang. Dan peluang tersebut muncul dari kesalahan kaum Muslim. Wallahu a’lam.

  2. J C  17 March, 2016 at 15:32

    Kalau Indonesia jadi Indonestan, siap-siap koper cari suaka ke Hawaii…

  3. Dj. 813  13 March, 2016 at 03:23

    Kami sudah beberapa kali ke Turki .
    Dan melihat sendiri kehidupan masyarakatnya, baik di kota besar seperti Istambul,
    maupun yang di kampoeng .
    Turki termasuk negara yang liberal, memiliki kebebasan, dibanding negara arap yang lain nya .
    Turki juga memeluk agama islam, karena perintah sultan Usman.
    Kalau dari Sejarah, Turki lebih dahulu memeluk abama Kristen .
    Karena banyaknya tempat bersejarah yang tertera di Alkitab .

    Terimakasih mas Iwan dan salam manis untuk keluatga dirumah .

  4. Lani  11 March, 2016 at 23:48

    James kemungkinan bs begitu disembunyikan sama pak Lurah nya kkk

  5. donald  11 March, 2016 at 20:37

    Azmat menikmati kehidupannya sekarang, dan kelihatannya beliau terlihat sehat saja.

    Dan, bahagia tuh…

  6. james  11 March, 2016 at 09:11

    ci Lani mungkin komennya meluncur kebawah meja Ki Lurah nya tuh

  7. Lani  11 March, 2016 at 03:11

    James aneh aku udah ngirim komentar kok ndak masuk ya………mungkin nyasar ketempatmu?

  8. james  10 March, 2016 at 15:22

    mana ini mbak Lani ? kok gak ada disini sih ?

    absenin aja deh

  9. Chandra Sasadara  10 March, 2016 at 11:44

    hingga saat ini aku masih blum bisa menalar mengapa negara diam saja dg HTI. mereka jelas anti pancasila, anti republik. kantornya ada di mana2, mentereng, pinggir jalan seperti kantor NU dan Muhammadiyah. SIALAN!! jadi kangen gaya Ali Murtopo. LB Moerdani dan Yoga Sugama dalam “menghajar sisa PKI dan DT/TII”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *