Kisah Perjalanan Tiga Negeri (1)

Nyai EQ

 

Part 1

Journey To The Lord (Medan – Brastagi – Parapat – Danau Toba – Pulau Samosir – Tebing Tinggi – Dumai – Tebing Tinggi)

 

Suasana kantor minggu terakhir kuliah sebelum memasuki minggu tenang menjelang Ujian Semester Akhir, terasa menyenangkan dan dingin, dengan AC di setel pada suhu 16 derajat celcius, ruang kantor terasa seperti musim gugur yang berangin. Beberapa rekan dosen sibuk dengan laptop masing-masing, meskipun demikian kami masih juga saling bercanda dan ngobrol kian kemari. Coklat panasku sudah kehilangan uapnya, berubah menjadi secangkir coklat dingin.

Aku sedang sibuk searching tiket pesawat terbang kesana-kemari, di samping itu juga sibuk menghubungi beberapa teman melalui Whatsapp (WA). Tujuan pertama adalah Bangkok. Dari Jogja atau dari Jakarta. Tapi bolak-balik-bolak tetap saja tidak berhasil menemukan tiket yang pas di hati (dan pas di kantong, tentu saja). Ini peak season, tentu saja tidak ada tiket murah. Mencari tiket promo pun juga cukup langka saat itu. Desember, bulan yang begitu padat dengan jadwal liburan di seluruh dunia.

Kontak dengan teman-teman yang ada di Bangkok pun gagal. Teman terbaikku saat kuliah dulu di Korea, yang juga teman sekamar, seorang gadis Thailand, ternyata sedang berada di Los Angeles untuk melanjutkan studinya. Yang lain, teman sekamar yang lain, juga gadis Thailand, bahkan sudah berangkat lagi ke Korea bulan sebelumnya. Keduanya tidak punya jadwal pulang ke Thailand hingga tahun depan.

Kembali membongkar kontak teman-teman lain. Surabaya, alternatif berikutnya. Namun teman terbaikku di Surabaya sedang berada di rumah keluarga suaminya di Jakarta. Bali, hmmmmm…..sedang agak bosan dengan pulau Dewata itu. Lagi pula sahabatku yang tinggal di Bali juga sedang pulang kampung ke Banyuwangi.

Ah….susahnya mau mencari tempat liburan yang irit. Setelah pikir-pikir kian kemari, aku membuka kembali cita-cita lama. Danau Toba dan Pulau Samosirnya. Segera aku menghubungi teman yang ada di Medan. Puji Tuhan, teman tersebut, Silvia Siahaan, ternyata sedang berada di rumahnya, di Sumatra Utara. Segera percakapan seru terjadi. Langkah berikutnya tentu saja booking tiket (tentu saja mencari tiket promo), sekaligus tiket pp, supaya tidak merisaukan perjalanan pulangnya.

Setelah tiket tersedia, ijin dari bapak kaprodi yang ramah dan baik hati pun diperoleh, aku segera menyiapkan segala hal yang diperlukan, termasuk packing tentu saja. Sehari sebelum berangkat aku masih sibuk dengan urusan kantor. Masih ngantor sampai jam 1 siang, masih harus beli bakpia untuk oleh-oleh.

Perjalanan pun dimulai dengan tidak mudah. Ketika semua sudah siap, turunlah sang hujan membasahi bumi kering kerontang yang beberapa hari tak tersentuh air, lantaran hujan tak mengikuti jadwal tahunannya dengan benar. Sore itu hujan turun, bahkan bisa dibilang cukup deras. Pesan taksi sangat sulit. Lima jenis merek taksi yang dipesan semuanya kosong. Padahal area pemesan ada di area turis yang notabene banyak hotel dan turis. Jam terus berjalan tanpa mau menunggu sedetik pun. Akhirnya, dengan dibantu oleh seorang teman baik, satu kost denganku, aku diantar ke bandara naik sepeda motor, dengan mengusung satu koper kecil, tas ransel ukuran sedang dan satu tas bahu, yang semuanya terisi penuh. Tentu saja semuanya ditutup dengan jas hujan, karena hujan masih juga turun.

Sampai di bandara Adisucipto, aku diturunkan di Terminal A, seperti biasanya penerbangan domestik dimulai dari situ. Tapi ternyata nasibku memang sedang ajaib. Penerbangan yang kupilih tidak berada di Terminal A, melainkan berada di Terminal B yang letaknya 200 m dari Terminal A. Sementara itu teman baikku sudah melesat pulang ke kost. Jadi aku pun berjalan kaki menyeret koperku setengah berlari, menuju Terminal B.

Last call sudah diumumkan ketika aku check in di Terminal B. Dengan terpontang-panting, berlari-lari dan tergopoh-gopoh plus sedikit panik. Akhirnya setelah ikut numpang mobil pengangkut barang, aku bisa duduk manis di dalam pesawat. Menghela nafas dan berdoa syukur. Perjalanan dimulai.

Limapuluh menit kemudian pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta untuk transit. Menurut jadwal, transitnya hanya 1 jam, tetapi ternyata, seperti biasanya, keberangkatan ditunda atau delay selama 3 jam dari jam yang seharusnya. Sehingga yang mestinya jam 10 malam sudah sampai di Medan, kami baru berangkat pada pukul 10.20 malam. Terbayanglah sampai di Medan sudah lewat tengah malam. Saya segera menelpon Silvia. Untunglah dia menyuruhku tenang sebab dia tetap akan menjemputku, jam berapapun aku sampai. Agak lega mendengarnya.

Suasana ruang tunggu sangat tidak menyenangkan. Panas, penuh sekali orang (karena malam itu ada setumpukan besar penumpang dari 3 penerbangan domestik yang delay sekian jam). Ruangan terlihat kumuh dan menyedihkan. Sekelompok orang-orang ribut entah memprotes apa kepada petugas penerbangan. Aku sibuk menenangkan diri dengan membaca buku The House On Mango Street.

Beberapa saat kemudian ada pengumuman bahwa penumpang dari pesawat yang delay bisa mengambil makanan kotakan sebagai kompensasi dari keterlambatan. Aku pun ikut mengambil dan memakannya, karena sudah sangat lapar. Nasi, sayur, daging ayam (yang tidak kumakan) dan kerupuk udang. Lumayan buat ganjal perut lapar, sambil menunggu. Di lorong tampak pemandangan seperti lorong Rumah Sakit Umum Daerah. Penuh orang-orang yang tiduran, sebagian merokok, duduk lesu dengan koper dan bungkusan mereka. Anak-anak kecil yang lusuh dan rewel. Beberapa di antara mereka tampak sibuk dengan device masing-masing dan tak perduli dengan sekitarnya. Aku berjalan-jalan meluruskan kaki yang penat, tapi segera kembali ke ruang tunggu.

Akhirnya, setelah merasa seperti satu dekade lamanya menunggu pengumuman kedatangan dan keberangkatan pesawat, datanglah saatnya kami berangkat menuju Medan.

Perjalanan memakan waktu 2,5 jam, tenang dan mulus tanpa kejutan apa pun. Dan sampailah aku di bandara Kuala Namu Medan dengan kejutan yang tidak menyenangkan. Handle koperku patah! Sebal sekali rasanya. Mau komplen pun tidak bisa karena di kantor komplen itu tak ada petugasnya. Aku komplen pada petugas bandara, tapi malah dicurigai mengambil koper yang salah. Aduuuh…pengin rasanya melempar orang itu dengan koperku sekalian. Untung koperku kupasang tag name, sehingga petugas itu percaya. Lagi pula, kenapa aku harus repot-repot ngamuk kalau itu bukan koperku. Duuh! Saat itu jam menunjukkan pukul 1.15 malam, waktu Medan.

Kekesalanku agak terbayar ketika melihat Silvia menemuiku dengan senyum lebar, kami berpelukan dan tertawa senang. Silvia membawa sepupunya dan dua orang kawannya. Yang seorang cewek dengan dandanan yang menurutku “aneh” dan tidak cocok untuk dikenakan pada jam sekian di bandara. Yang seorang lagi adalah cowok dari wilayah Indonesia bagian timur, yang menyetir mobil. Ah, ternyata aku dijemput dengan mobil.

Silvia tinggal di Tebing Tinggi, yang jaraknya kurang lebih 2 jam dari Medan atau sekitar 4 jam dari Kuala Namu dalam kondisi jalan sepi. Namun dari bandara Kuala Namu kami tidak langsung menuju Tebing Tinggi (atau “Tebing” saja menurut istilah mereka). Kami berhenti sebentar di Deli Serdang untuk makan malam yang terlambat, aku sangat-sangat lapar. Makanan yang kami dapatkan adalah makanan dari warung pinggir jalan yang menjual mie instan dan nasi goreng, serta beberapa macam jenis masakan mie lain seperti kuetiau dan sebangsanya. Entah apa yang kumakan, tak begitu terasa di lidah, sekedar mengenyangkan saja, ditambah “alunan” musik ajeb-ajeb yang menghentak ujung malam. Duh!

Kami tak berlama-lama berada di tempat ajaib itu. Perjalanan berikutnya adalah Brastagi. Dengan tujuan utama pemandian air panas Gunung Sibayak. Jalan berkelok-kelok, naik turun dan gelap. Serasa menyusuri jalanan di Wonosari, Gunung Kidul. Setelah entah beberapa jam lamanya kami berkendara, akhirnya kami parkir di depan tempat pemandian air panas Gunung Sibayak. Pemandian tersebut masih tutup, karena hari masih sangat gelap. Matahari belum muncul sedikit pun, dan kami sangat kelelahan, terutama aku. Pada akhirnya kami tertidur di dalam mobil.

Sinar matahari pertama membangunkan kami dengan sentuhan yang lembut. Angin sepoi, sejuk dan menyegarkan. Satu persatu kami terbangun. Aku merasa sedikit segar, meskipun masih sangat mengantuk dan lelah. Ternyata niat mandi air panas di pemandian itu pun gagal terlaksana. Selain karena aku sedang banjir darah, kami juga memilih untuk pulang ke Tebing, kami berencana untuk berangkat ke Parapat siang itu juga. Horeeee…..we were heading to Toba Lake!

Tapi tentu saja kami menyempatkan waktu sedikit untuk berfoto-foto di Sibayak.

Bangun tidur langsung berpose

Bangun tidur langsung berpose

Gunung Sibayak dilihat dari kejauhan saat fajar menyingsing dan mendung

Gunung Sibayak dilihat dari kejauhan saat fajar menyingsing dan mendung

Aku dan Silvia, pose bangun tidur

Aku dan Silvia, pose bangun tidur

Kami tidak langsung ke Tebing, namun lebih dahulu menuju Medan untuk mengantar Dwi (sepupu Silvia) ke rumah sakit melihat keadaan ayahnya yang sedang sakit. Sementara Dwi ke rumah sakit, kami sisanya mencari sarapan di warung tenda sekitar rumah sakit. Sarapan kami adalah tahu campur dan teh panas. Lumayan untuk mengganjal perut. Cuaca sangat panas. Matahari bersinar sangat terik, dan pagi di Medan saat itu terasa seperti tengah hari. Setelah dari rumah sakit, kami menuju Tebing, tapi lebih dahulu mengantar Anya (teman Silvia yang berpakaian “aneh”) pulang ke kostnya dan sekaligus mengantar Simon (teman laki-laki kami) mengambil motornya (atau “kereta” dalam istilah mereka), karena Simon harus segera pulang, ada urusan penting yang harus dia lakukan.

Sementara itu Dwi ganti yang menyetir kendaraan, mengantar aku dan Silvia pulang ke rumah Silvia.

Sesampainya di rumah Silvia yang luas, hijau dan sepi, aku segera dipersilakan masuk dan langsung menuju kamarnya. Kamar ini juga yang akan kuhuni bersama Silvia selama aku tinggal di Tebing. Aku bergegas mandi dan mengganti semua yang kupakai dengan pakaian yang bersih dan segar.

Rumah Silvia sangat sepi hari itu. Ibu dan kakaknya sedang pergi, sedangkan abangnya sedang berada dalam masa dinasnya di Jawa Barat sebagai seorang perwira baru. Setelah mandi dan berganti pakaian yang bersih, aku tidur-tiduran dengan Silvia, ngobrol kesana-kemari. Sembari menunggu jam 4 sore, sebab Dwi berjanji akan menjeput kami sekitar jam 4 sore untuk berangkat ke Parapat. Kami packing kecil-kecilan, karena kami berencana akan menginap semalam di Parapat malam itu dan menyeberangi danau Toba keesokan harinya.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dwi datang. Dan persoalan berikutnya adalah siapa yang akan menyetir mobil itu sampai ke Parapat, mengingat jauh dan jalannya yang berliku-liku. Dwi tidak memiliki SIM dan belum berani. Silvia dan Dwi mencoba menghubungi beberapa teman-temannya untuk meminta bantuan. Pada akhirnya ada teman Dwi yang bersedia membantu dengan membawa teman lain yang akan menyetir, tetapi minta bayaran. Kesepakatan pun diambil. Kami akan membayar si kawan untuk menyetir mobil pergi pulang Tebing-Parapat-Tebing, tetapi kami tidak menanggung makan dan penginapannya.

Begitulah akhirnya, kami menunggu sang kawan di sebuah warung babi panggang. Makanan yang sudah kuidam-idamkan sejak sebelum aku berangkat ke Sumatra. Sore yang lelah tapi penuh semangat, dengan sepiring babi panggang Medan dan udara yang menguap panas. Ketika akhirnya sang kawan datang bersama temannya yang hendak menjadi sopir kami, segera kami beranjak melanjutkan perjalanan ke Parapat. Sore pun perlahan tergelincir ke belahan malam.

Sepanjang perjalanan kami ramai saling menggoda, bercerita dan bergembira dengan penuh semangat. Aku satu-satunya orang Jawa yang ada di dalam mobil itu. Cukup tercengang dengan “gaya” teman-teman Medan dalam menyikapi tingkah orang-orang yang berkendara di jalan dengan tidak benar. Benar-benar menyambar dengan suara yang keras dan kata-kata yang menurut telingaku kasar. Tak apa, cukup menghibur dan menyenangkan.

Malam sudah menutupi seluruh permukaan bumi Sumatra Utara ketika kami menyentuh tanah Parapat. Suasana jalanan cukup ramai, tapi belum cukup macet, mengingat waktu itu sudah dekat sekali dengan perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kami bermaksud mencari penginapan sebelum mencari makan. Silvia mengetahui ada penginapan murah meriah yang didirikan di pinggir danau Toba. Semacam rumah-rumahan atau kamar. Kami menemukan apa yang dimaksudkannya. Sekelompok rumah-rumahan kecil, satu kamar, tanpa pintu, tanpa daun jendela dan tanpa alas, lantainya pun berupa lantai beton tanpa keramik. Dicat warna-warni seperti rumah-rumahan boneka. Asumsiku langsung berpacu dengan tempat pergumulan bebas, gincu murahan, kondom kotor dan bir buruk. Tapi rumah-rumahan itu tampak berwarna-warni dengan catnya, dan lucu untuk berfoto, tapi tidak untuk diinapi. Apalagi dalam udara malam yang sangat lembab. Sewanya pun cukup mahal, 100 ribu IDR/malam tiap kamar.

Rumah/kamar “gairah” di tepi danau Toba

Rumah/kamar “gairah” di tepi danau Toba

The Ladies (Silvia, Sekar, Dwi, Anya) pose di depan rumah/kamar gairah

The Ladies (Silvia, Sekar, Dwi, Anya) pose di depan rumah/kamar gairah

Setelah bertanya-tanya ke sana kemari, akhirnya kami mendapatkan penginapan, tak jauh dari kelompok rumah-rumahan tersebut. Sebuah penginapan yang cukup layak, dengan kamar yang hangat, sebab udara mulai menjadi dingin. Harganya pun amat sangat murah. Hanya 200 ribu/malam/kamar. Dan setiap kamar bisa dihuni oleh 4 orang tamu. Tentu saja kami segera buking 2 kamar di tempat itu. 1 kamar untuk 4 cewek dan 1 kamar lagi untuk ke 2 cowok teman kami. Kamar yang hangat, dengan tempat tidur yang luas, kamar mandi yang sempit tapi airnya hangat, dan ruang yang cukup aman untuk menyimpan barang bawaan kami, sementara kami pergi keluar untuk mencari makan dan jalan-jalan.

Kami tidak begadang malam itu. Badan sudah sangat lelah dan mengantuk. Udara dingin menyengat kulit. Sejuk tapi tidak cukup nyaman untuk badan yang capek. Kami segera tertidur dengan nyenyak dan lelap.

Pukul 5.30 pagi kami bangun satu persatu. Aku dan Silvia bangun paling awal. Kami berempat bergantian mandi. Tanpa water heater, tapi airnya cukup hangat. Usai mandi tentu saja kami berdandan dan berfoto-foto. Pagi ini kami akan menyeberangi Danau Toba menuju Pulau Samosir. Dwi menjadi pemandu kami, dia lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Parapat, ia mengenal setiap jengkal tanahnya dengan baik.

Sarapan di penginapan. Menunya mie instant yang dibuat dadakan. Hidangan yang cukup menghibur di pagi yang sejuk dan cerah. Bagian belakang penginapan ini berbatasan langsung dengan danau Toba. Ada anjungan kecil yang menyeruak dan menyentuh pinggir danau. Dengan penuh semangat pagi kami pun asyik berfoto-foto di anjungan kecil tersebut. Sambil menikmati kemilau sinar matahari di atas air danau.

Danau Toba di pagi hari

Danau Toba di pagi hari

Free...I am free....

Free…I am free….

Usai berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan ke pulau Samosir, sekaligus check out dari penginapan. Udara mulai menghangat, matahari mulai menjadi terik. Kami naik mobil menuju galangan kapal, dan parkir di tempat yang sudah disediakan. Kami berjalan kaki menuju tempat kapal fery ditambatkan. Sepanjang jalan tercium bau ikan, baik ikan kering maupun ikan basah. Berbagai macam jenis ikan dijual berbarengan dengan kue dan roti-roti kering. Jalanan dari tempat parkir menuju penambatan kapal sangat sempit dan becek oleh air buangan bekas cucian ikan. Sama sekali tidak nyaman, untunglah tidak jauh.

Kami naik ke kapal dengan hati senang dan gembira. Cuaca sangat bagus. Air danau bergerak pelan. Musik di kapal sama seperti musik-musik di kapal yang menuju Bangkalan dari pelabuhan Perak, dengan bahasa yang berbeda. Masih tetap musik cek dung cek dung jedug, jedug. Pemandangan yang indah dan cuaca yang cerah menghalau semua hal-hal “ajaib” yang kutemukan di kapal. Harga tiket sekali menyeberang cukup murah, yaitu 10.000 IDR, lama penyeberangan sekitar hampir 2 jam.

Kapal fery di Danau Toba, dari dan ke Parapat - pulau Samosir

Kapal fery di Danau Toba, dari dan ke Parapat – pulau Samosir

Kapal fery di Danau Toba, dari dan ke Parapat - pulau Samosir

Kapal fery di Danau Toba, dari dan ke Parapat – pulau Samosir

Cantik Indonesiaku...

Cantik Indonesiaku…

me and the fery

me and the fery

Kami merapat di dermaga Tomok di pulau Samosir. Ada beberapa dermaga di sepanjang pulau Samosir, tapi untuk kunjungan wisata, dermaga Tomok adalah yang paling tepat. Kami bisa membeli berbagai macam suvenir, tenun khas Samosir dan ulos. Tentu saja dengan harga turis, yang jika kita pandai menawar akan mendapatkan harga yang jauh dibawah harga pertama. Di Tomok kita juga bisa melihat pertunjukan Si Gale-Gale, yaitu boneka yang bisa bergerak sendiri, dikelilingi oleh orang-orang yang notor (menari tarian adat Batak).

Konon ceritanya, si Gale-Gale adalah anak kesayangan seorang ayah, anak tersebut meninggal dunia karena sakit. Oleh sang ayah anak tersebut kemudian didoakan sehingga bisa bergerak kembali, namun gerakannya sangat lemah. Gale-Gale berarti lemas dalam bahasa Batak Toba. Begitulah kisah yang kudengar.

Kami harus membayar 15 ribu IDR untuk melihat pertunjukan tersebut. Kata Dwi, dulu semasa kecil boneka si Gale-Gale benar-benar bisa bergerak sendiri, digerakkan oleh tenaga magis seorang pawang. Namun jaman sekarang boneka tersebut dgerakkan dengan tali, setengah mesin setengah manual. Bonekanya pun terlihat lusuh.

Tentu saja aku ikut notor. Dengan dilengkapi ulos pinjaman (sudah disediakan), aku notor bersama para pengunjung lainnya. Di akhir tarian, kami harus menyisipkan uang seikhlasnya ke saku boneka, sembari berjalan memutar. Setelah itu kami pun berfoto-foto (lagi).

Notor bersama para mengunjung lainnya

Notor bersama para mengunjung lainnya

Berfoto bersama boneka si Gale-Gale di tengah hiruk pikuk pengunjung lainnya

Berfoto bersama boneka si Gale-Gale di tengah hiruk pikuk pengunjung lainnya

Setelah puas dengan pertunjukan si Gale-Gale, agenda kami adalah berbelanja sedikit oleh-oleh. Aku membeli beberapa potong ikat kepala tenunan khas Toba, untuk kubagikan dengan teman-teman di Jogja. Selain itu juga membeli 3 pak ikan kering, yang masing-masing beratnya ½ kg. Harganya cukup murah, 20 ribu IDR untuk ke 3 pak tersebut.

Dari Tomok kami menyeberang kembali ke Parapat. Perjalanan selanjutnya adalah kembali ke Medan. Proses perjalanan ke Medan cukup berbelit-belit. Mula-mula kami harus mengantarkan ke dua kawan laki-laki kembali ke Tebing dulu. Setelah itu baru ke Medan untuk mengantar Anya dan mengembalikan mobil sewaan (ternyata mobil tersebut adalah mobil yang disewa Anya dari kawannya). Dalam perjalanan terjadi selisih pendapat antara Anya dan Dwi, entah apa aku juga tidak terlalu paham. Pendek kata, akhirnya kemudi mobil diserahkan kepada Anya untuk dibawa ke Medan. Kami bertiga, aku, Silvia dan Dwi turun di depan pom bensin (atau “galon” dalam istilah mereka), somewhere nowhere. Aku benar-benar tidak tahu kami ada di mana. Tapi Slivia dan Dwi tahu. Aku mengusulkan taksi, dan baru tahu bahwa taksi tidak bisa dipesan dari tempat kami berhenti, kami harus ke Medan untuk bisa mendapatkan taksi, sedang perjalanan menuju medan lebih kurang masih 2 jam lagi. Sementara perjalanan ke Tebing masih harus ditempuh dalam waktu kurang lebih 3-4 jam lagi. Wah!

Hari mulai gelap. Setelah beberapa kali kami dilewati mobil-mobil angkot yang selalu padat penumpang, akhirnya kami terpaksa masuk ke angkot yang juga cukup padat penumpangnya. Berhimpit-himpitan antara manusia dan barang. Inilah perjalanan yang sesungguhnya!

Setelah beberapa saat berjalan, angkot kami ngetem di terminal khusus angkot. Kami bisa ke toilet, istirahat sejenak. Kami juga bisa ngopi maupun makan jika mau. Angkot berhenti kurang lebih 20 menit, setelah itu melanjutkan perjalanan lagi. Terminal akhir dari angkot yang kami tumpangi adalah terminal di Pematang Siantar. Kami berhenti di Tebing Tinggi, naik becak menuju rumah Silvia. Hari sudah benar-benar malam. Dan malam itu adalah malam Natal, tanggal 24 Desember 2015. Ah!

Sampai di rumah Silvia kami disambut oleh ibu dan kakaknya. Niatku untuk mengikuti misa Natal di Gereja Katholik hari itu gagal total. Pertama, badan sudah terlalu lelah. Kedua, di Tebing tidak ada gereja Katholik yang mengadakan misa Natal tengah malam. Misa malam Natal terakhir ada pada jam 7 malam. Saat kami tiba di rumah jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lebih sedikit.

Yang kulakukan kemudian adalah mandi dan istirahat. Aku sepakat untuk mengikuti misa Natal bersama keluarga Silvia di HKBP keesokan harinya, tanggal 25 Desember 2015.

Tanggal 25 Desember 2015, hari Natal telah tiba. Pukul 8 pagi kami sudah bersiap-siap berangkat ke gereja HKBP. Aku berangkat dengan membonceng ibundanya Silvia. Kakak Silvia berangkat sendirian, sedangkan Silvia berangkat lebih dahulu karena dia bertugas mengiringi paduan suara dengan piano.

Baru pertama kali ini aku mengikuti misa Natal di gereja Protestan dengan bahasa Batak! Benar-benar Tuhan Maha Kreatif. DibawaNya aku ke dalam pemahaman beribadah yang penuh rasa syukur dan hikmat. NikmatNya membuatku bersuka cita dengan tulus. Dengan berbekal panduan misa aku pun bisa ikut menyanyikan lagu-lagu Natal yang dilantunkan, meskipun dengan bahasa Batak. Sungguh menyenangkan. Prosesi berjalan dengan sempurna dan sungguh menyegarkan nurani. Hatiku terasa penuh dengan rasa syukur. Usai ibadah kami pun pulang. Kami hendak berkunjung ke rumah Dwi, merayakan Natal di sana sekaligus menengok ayah Dwi yang baru pulang dari rumah sakit.

Suasana di rumah Dwi sangat ramai karena seluruh keluarga berkumpul. Udara panas menyengat, membuatku memilih untuk duduk di teras dengan halaman yang luas dan ditumbuhi berbagai tanaman hijau.

Pukul 3 sore aku dan Silvia pamit pulang. Kami hendak packing, persiapan pergi ke Dumai, Riau malam itu. Kami sudah memesan travel bus untuk pergi ke Dumai, berangkat jam 6 sore dengan harga 165 ribu IDR/orang kelas ekonomi AC. Perjalanan dari Tebing Tinggi ke Dumai memakan waktu kurang lebih 10 jam. Kami akan tiba di Dumai keesokan paginya dini hari. Sebelum ini Silvia bekerja di Dumai sebagai guru piano di sebuah yayasan musik. Hari itu kami ke sana karena ada undangan Natal Oikumene, Silvia diminta untuk ikut paduan suara. Disamping itu dia juga akan berpamitan dengan sekolah musik tempat dia bekerja, karena dia mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus di Jakarta.

Silvia punya langganan kendaraan semacam angkutan yang memang disediakan oleh pihak travel bus untuk mengantarkan para penumpang dari terminal ke tempat tujuan. Hari masih sangat gelap ketika kami tiba di Dumai. Kami segera menumpang mobil angkutan tersebut menuju rumah saudara Silvia, tempat tinggal selama dia mengajar di Dumai. Pamannya itu adalah anggota DPRD Dumai.

Begitu sampai di rumahnya, kami langsung menuju kamar dan melanjutkan tidur hingga siang hari. Seluruh badan terasa capek dan tercabik-cabik. Pada sore hari, Silvia pergi latihan paduan suara, sedangkan aku menghabiskan waktu sendirian, menelpon kawan-kawan dan bermain game di kamar, hingga malam hari. Keluar sebentar untuk mandi dan makan, serta ngobrol sedikit dengan tantenya Silvia.

Besok siangnya kami menghadiri misa Natal Oikumene di Gelora Olah Raga Dumai. Misa tersebut berlangsung dari pukul 1 siang hingga 9 malam. Dari waktu matahari terik hingga malam menutup Dumai. Misa Natal diakhiri dengan rangkaian acara hiburan, nyanyi-nyanyi, acapela dan bergembira ria a la Batak. Kami pulang pukul 10 malam, mampir mencari makan dulu, karena sangat lapar. Sampai rumah sudah hampir tengah malam. Aku langsung mandi. Kami tak segera tertidur. Masih ngobrol hingga menjelang subuh baru tidur.

Keesokan harinya, kami bangun tidak terlalu siang. Hari itu kami bermaksud putar-putar kota sebentar. Kami harus pulang malam itu, karena perjalanan selanjutnya sudah menanti dengan segera. Tak banyak yang bisa diceritakan dari kota Dumai. Kota ini panas dan gersang. Pipa-pipa saluran minyak terlihat di sepanjang jalanan. Di kota ini ada kilang-kilang minyak besar seperti Chevron. Tanahnya kering dan berdebu. Kotanya tidak terlalu padat. Satu-satunya toko besar yang ada adalah Ramayana Dept. Store. Selebihnya adalah toko-toko biasa dan swalayan kecil-kecil.

Menjelang sore kami diantar menuju ke terminal. Kami memakai bus yang sama dengan saat kami berangkat. Perjalanan cukup menyenangkan. Tapi kami lebih banyak tertidur untuk menghemat tenaga.

Kami sampai di Tebing Tinggi saat menjelang subuh. Perjalanan ke rumah dilanjutkan dengan menggunakan becak motor khas Medan. Sesampainya di rumah Silvia, yang kulakukan adalah mencuci baju kotor, mandi kemudian tidur nyenyak hingga siang.

Hari itu, sepanjang hari kami nyaris tidak pergi kemana-mana. Kami hanya pergi ke kantor pos untuk mengirim pulang koper dan sebagian besar bawaanku, karena aku tidak mau direpotkan dengan banyak barang ketika melanjutkan perjalanan ke Thailand.

Seharian kami istirahat di rumah. Panen kelapa hijau dan menikmati air kelapa yang menyegarkan tubuh. Nikmat sekali karunia Tuhan.

Pohon kelapa hijau di halaman rumah Silvia

Pohon kelapa hijau di halaman rumah Silvia

Ini bukan eksyen...sungguhan dan tidak begitu sukses

Ini bukan eksyen…sungguhan dan tidak begitu sukses

Menikmati kelapa hijau muda yang segar dan menyehatkan

Menikmati kelapa hijau muda yang segar dan menyehatkan

Sore harinya, setelah mengirimkan barang-barangku lewat pos, kami beristirahat. Makan malam kami adalah nasi dengan lauk babi panggang yang lezat. Kami tidak boleh begadang, karena besoknya kami harus berangkat jam 4 pagi menuju bandara Kuala Namu. Tujuan kami adalah Thailand lewat Penang, Malaysia.

 

(To be continued)

 

 

5 Comments to "Kisah Perjalanan Tiga Negeri (1)"

  1. J C  17 March, 2016 at 15:32

    Wuiiiihhhh…ujuj-ujug sudah sampai Toba…awas aja keri di Samosir…nanti jadi penunggu di sana, duduk di atas menhir di tepi Danau Toba jadi penunggu Danau Toba…

  2. HennieTriana Oberst  11 March, 2016 at 21:35

    Terima kasih tulisannya EQ, jadi kangen dulu sering ke kampung halaman alm.Ayahku di Tebing. Baca cerita ini jadi pingin ke Parapat lagi.

  3. Nyai EQ  11 March, 2016 at 10:25

    haiiiii…mbak Laniii….iyaaa…lagi ngumpul2in tulisan lagi….hahhahaha…
    James…belum telat kok…

  4. james  10 March, 2016 at 15:18

    2…..hadir nih dibelakang ci Lani, ketingalan euy hari ini

  5. Lani  10 March, 2016 at 13:48

    Salam buat para kenthirs……….

    EQ lamaaaaaaaaa ndak mencungul sekalinya mencungul kluyuran……..seneng tentu saja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.