KIAMAT

Anwari Doel Arnowo

 

Ini adalah sebuah kata yang amat menakutkan sejak saya pernah mendengarnya untuk pertama kali pada beberapa puluh tahun yang telah lalu.Gambaran yang saya peroleh dari banyak percakapan dengan mereka yang amat percaya, teramat banyak jumlahnya. Pada umumnya gambaran kiamat adalah musnahnya segala sesuatu dan secara detail digambarkan layaknya berupa malapetaka yang tidak bisa dihindari, berakibat seluruh makhluk hidup akan mati dengan segala penderitaan pendahuluan, sebelum mati. Misalnya tertimpa batu besar dan luka-luka sampai mati. Terjadi kebakaran di seluruh alam semesta dan gambaran yang ekstrim adalah meledaknya dan juga hancurnya semua benda angkasa, apakah dia planet, meteor, bintang dan lain-lain benda yang terdapat di ruang angkasa.

kiamat

Sejajar dengan berjalannya waktu otak saya dan otak manusia lain juga makin pintar dalam melakukan upaya pemeriksaan diam-diam dan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang baru. Sebenarnya saya merasa biasa saja, karena saya yakin manusia lain itu sama saja dengan saya. Otaknya nyaris sama berat (+/- 1.44 Kilogram) dan demikianpun volumenya. Saya tidak mempunyai kelainan apapun sebagai manusia. Desain awalnya manusia ya memang seperti ini.

Kalaupun ada perubahan, itu  belum pernah terlintas di pikiran saya, akan berubah seperti apa? Apa desain asli jenis manusia Nusantara dengan manusia Benua-Benua? Saya yakin desain awal dan aslinya belum berubah. Nah bilamana Planet Bumi yang kita kenal ini sudah pernah ada sejak ratusan juta tahun yang lalu, maka perubahan bentuk primate (primata) menjadi bentuk manusia, saya mulai meragukannya. Apa sebab?

Berbicara seperti ini maka kita akan sampai kepada sesuatu yang kita tidak tau apa-apa. Tetapi semua otak kita, manusia, bisa mulai   menciptakan rabaan dan perkiraan dan teori teori yang akan membuat terang apapun yang belum terang. Nah berikut ini teori saya sendiri: Hal berikut menyangkut masalah percaya atau tidak percaya akan adanya Tuhan.

Saya tau bagi mereka yang atheist, pemikiran saya akan menerbitkan sinisme, senyum dan tawa dan ejekan sesuai dengan kepercayaan para atheist. Itu tidak akan mengusik saya. Silakan reaksi yang bagaimanapun, yang setuju atau menentangnya terhadap apa yang saya tulis berikut ini. Saya mempercayai bahwa kita semua harus bebas bependapat, bebas mengemukakan pikiran sendiri tapi tidak memprovokasi ke arah yang merugikan. Para Theist, di dalamnya ada saya sebagai salah seorang yang menggabungkan diri. Akan tetapi ada bedanya diri saya.

Saya percaya adanya Tuhan. Tetapi saya percaya karena menggunakan akal dam pemikiran sendiri yang mungkin banyak sekali yang meyamai saya, akan tetapi diam seribu bahasa.

Begini jelasnya: Saya menyebut Tuhan itu adalah segala sesuatu, yang sampai saat ini, saya tidak sanggup menerangkan sesuatupun, apa, bagaimana dan dari mana serta asal muasalnya. Saya angkat tangan, angkat bahu saya, sebuah pertanda jelas sekali bahwa saya itu sama sekali tidak tau. Itu setelah saya gunakan semua instinct, naluri, bisikan isi hati dan cita rasa pribadi serta imaji yang ada di dalam organ tubuh saya.

Itulah Tuhan sesuai pengertian saya. Sama sekali saya tidak berniat untuk mengajak orang lain agar seperti saya, oleh karena bila saya kemukakan, amat mungkin sekali saya akan berjumpa dengan seorang lain yang mengatakan bahwa  pikirannya sama dan sebangun dengan saya. Umumnya manusia sejak dahulu kala, bila sedang menghadapi apa yang menyangkut pengertian mengenai Tuhan, akan mengambil jeda dan mencari solusi terhadap apa yang dihadapinya. Saya sudah melampaui masa-masa serupa begitu bertahun-tahun lamanya. Keluarga saya dan orang di sekeliling saya kebanyakan tidak memandang Tuhan seperti apa yang saya lakukan. Mereka amat tekun melakukan segala ritual yang dilakukannya sesuai dengan ajaran kepercayaannya masing-masing. Saya sama sekali tidak bertentangan dengan yang mereka percayai dan lakukan. Itu hak mereka 100%. Saya hanya juga merasa perlu untuk dibiarkan agar saya bisa tenang menghayati diri saya sendiri.

Desain asli makhluk manusia dilengkapi dengan 12 organ tubuh, menjadi mesin kehidupan manusia.

Organ otak sebagai pusat apapun bagian dari tubuh. Otaklah yang memerintahkan jantung berdetak dan otaklah nantinya yang akan memerintahkan jantung berhenti berdetak. Segala tindakan kita berakibat apa adalah sepenuhnya dilakukan oleh kehendak otak. Kita ketakutan dan otaklah yang memerintahkan keringat ketakutan keluar dari pori-pori.

Demikianpun air mata kesedihan dan rasa senang gegap gempitanya saat ada kegembiraan. Otaklah yang mengatur itu semua. Otak adalah salah satu dari 12 organ tadi. Dengan organ-organ yang berfungsi saling berhubungan, luar biasa sekali tubuh kita dapat mengisi kehidupan manusia sejak lahir sampai seperti saya yang sekitar 3 bulan lagi akan menjadikan saya berumur 78 tahun. Patut saya syukuri bahwa sampai tulisan ini saya kerjakan jantung saya masih belum menerima perintah dari otak saya untuk berhenti berdetak. Kapan itu akan terjadi? Mengapa perduli?

Nah karena di otak belum ditemukan bagian mana dari otak yang akan membuat otak saya akan memerintahkan seperti itu, rasio sayapun segera memerintahkan diri saya utuk menerima ke-tidak-tauan saya. TIDAK TAU ITU BUKAN DOSA. Katakan tidak tau, jadi jangan memaksa diri untuk tau. Itu menimbulkan akal membuat diri seakan tau, dengan “bohong”. Mudah sekali orang berbohong hanya ingin menutupi hal bahwa sebenarnya dia tidak tau apapun jawabnya. Dia bisa saja mengarang bahwa sebuah gunung itu meletus karena Dewa Anu meradang dan memuntahkan amarahnya. Dewa marah?

Iya Dewa bisa marah karena perbuatan jelek seseorang lain, katanya. Berbohong karena tidak tau dan itu sebab utamanya dia tidak mau terlihat atau terkesan bodoh. Bagi mereka yang saat ini sedang melakukannya, saya menganjurkan untuk cepat menhentikannya.Penting sekali bagi diri saya sendiri untuk menyatakan bahwa saya tidak ingin mengganggu siapapun dengan apa juapun, bentuk kehidupan yang telah dan sedang dijalaninya.

Anjuran saya itu akan dapat diupayakan untuk diolah sendiri oleh mereka yang berbohong tadi. Singkatnya, bila ada yang bertanya mengapa saya mempercayai Tuhan seperti itu? Jawab saya adalah karena saya tidak bisa membuktikan bagaimana bentuk fisiknya terutama sekali saya memang belum pernah bertemu dengan Tuhan. Mungkin sekali saya harus mengatakan juga bahwa saya tidak dan juga belum berkeinginan untuk bertemu dengan Tuhan. Apa sebab? Seperti dipercayai oleh kebanyakan manusia di dunia ini, bertemu dengan Tuhan tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dunia fana. Saya mengatakan seperti itu bukan saya bersikap sok tau atau sombong. Saya menjadi seperti apa adanya saya ini. Tidak tau saya akui sebagai TIDAK TAU. Itu saja. Saya tidak merasa perlu untuk berbohong dalam apapun menyangkut hal ini. Kembali ke desain asli manusia maka kita akan sampai juga ke desain asli dari Planet Bumi dan Planet-Planet lainnya bersama semua benda angkasa yang jumlahnya mencapai ratusan triliun, nun jauh di sana.

Seberapa besarkah ruang angkasa di luar Tata Surya Bhima Sakti dan sebaliknya: kita kembali ke diri kita sendiri serta semua makhluk yang hidup di dunia ini yang paling mini dalam ukuran micron. Apakah semut, bakteri dan biota lain punya otak atau organ? Berapa besaranya atau kecilnya?? Bagaimana membuat otak binatang yang namanya tungau (Bhs Jawa: Tengu)? Mampukah kita dengan teknologi manusia yang sekarang kita sebut sudah canggih, ternyata masih ada pertanyaan itu?

Baiklah, pembicaraan di atas berhasil membawa kita melanglang bukan lagi buana tetapi angkasa luar yang luar luar jauh jauh tak terhingga. Ukurannya menjadi kecil sekali mencapai umur 78 tahun umur bagi saya. Dimensi yang kita bicarakan di atas membuat kita seperti bakteri di dalam ruang angkasa. Besaran yang tiada arti. Desain desain seperti itulah menyebabkan saya dengan gagah berani menyatakan saya ini bukan apa-apa dalam ukuran apapun di dalam dimensi apapun.  Selanjutnya saya ingin menyampaikan kesimpulan yang diolah di dalam otak saya, sesuai dengan kemampuan otak saya yang “bodoh” seperti sekarang ini.

PATUTKAH saya percaya bahwa desain asli dari semua benda angkasa dengan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, termasuk diri saya, dihancurkan luluh lantak, tanpa sebab yang jelas?? Jawab saya jelas dan pendek saja: TIDAK PATUT.

Saya tidak yakin bahwa dunia dan semua yang ada di ruang angkasa akan dimusnahkan.

Yang kita lihat sehari-hari saja baru Planet Matahari yang menghidupi semua makhluk di Planet Bumi melalui tanaman makanan. Planet yang satu ini memiliki daya “bakar” yang luar biasa. “Ledakan api” dari pemukaan Planet matahari bisa mencapai ketinggian sampai 250 Kilometer. Sinar matahari itu lama perjalanannya sampai di muka bumi memakan waktu mungkin sampai 7 hari perjalanan.

Itu saya gambarkan sebagian dari Bhima Sakti yang kecil ini. Seperti sekarang sudah diketaui jumlah galaxy yang berada di luar Bhima Sakti masih ada Bhima Sakti lain yang jumlahnya luar biasa banyaknya. Akan musnah juga??

Sudah lama saya tidak mempercayai adanya Kiamat. Kalaupun ada, maka Kiamat masing-masing manusia itu mungkin ada. Tetapi Kiamat bersama-sama pasti tidak akan terjadi. Marilah kita hidup menjadi manusia baik, yang perduli dengan sekelilingnya. Tidak usah membela sesuatu yang di luar kemampuannya. Jangan pula membela Tuhan, lalu menghukum manusia lain. Tuhan tidak memerlukan pembelaan apapun. DIA itu Maha Kuasa, tidak ada wakil atau utusan untuk menindakkan apapun di dunia. Kita pikirkan apa yang baik untuk hidup bersama di Dunia. Yang sesudahnya tidak usah mengganggu kehidupan kita di dunia. SEKARANG..

 

Anwari Doel Arnowo – 29 Februari, 2016

 

 

11 Comments to "KIAMAT"

  1. bang aep  24 March, 2016 at 05:52

    Wallahu a’lam bisawab…. kun fayakun.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.