Membuat Tumpeng

Dian Nugraheni

 

Untuk seseorang, atau diri sendiri, ketika ada acara, berulang tahun, misalnya, adalah seperti “melihat” perjalanan hidup orang yang sedang kita bikinkan tumpeng.

Ada yang sejak perencanaan, dari sediaan uang, proses belanja, sampai proses bikinnya sampai selesai, lancar dan mulus-mulus saja, dengan hasil yang memuaskan.

Ada juga yang di sana-sini mengalami kekurangan, halang rintang, sehingga jalannya pembuatan Tumpeng mengalami banyak kesulitan, dan seterusnya.

Maka ketika membuat Tumpeng untuk seseorang, si Mak selalu bersiap diri, memulai dengan ikhlas dan senang hati, melakukan semua proses (mengupas bahan makanan, mencuci, memasak, membentuk, dan lain-lain) dengan cara terbaik, dan pantang menyerah, persis seperti ketika si Mak menjalani setiap tahap dalam kehidupan.

Dan tak pernah ketinggalan, selalu dimulai dengan doa, diiringi dengan doa, dan diakhiri dengan doa…

Bagaimana pun sulitnya halang rintang pembuatan Tumpeng yang didedikasikan buat seseorang (termasuk untuk diri sendiri), tapi akhirnya toh akan “mengkerucut” juga. Nah, yang sangat penting akhirnya, bagaimanakah “bentuk” dari “kerucut” itu…Apakah kokoh, menjulang, dan benar-benar “lancip..?” Atau asal mengkerucut tapi lembek, dan “hancur” atau “cowel” di ujung kerucutnya.., dan seterusnya…

He..he.., dari bentuk dan kondisi kerucut tumpeng itulah yang si Mak “baca” akan bagaimanakah kehidupan seseorang (atau diri sendiri), ke depannya…

tumpeng

Tumpeng, melambangkan keramaian hidup di dunia yang nampak terhampar menjadi dasar (lauk pauk, sayuran, dan lain-lain), tapi jiwa, soul manusia, kemudian, akanlah tetap menjulang membentuk “kerucut”, yang bermakna akan makin meninggalkan keramaian, berprihatin, untuk mencapai suatu cita hidup, apa pun itu.

Pesan simpelnya: Perjalanan hidup manusia itu seperti tumpeng, penuh keramaian dunia yang menggoda, tapi nek meh berhasil, kalau mau menggapai keberhasilan, lahir batin, ya harus berani “rekasa” dan prihatin, meninggalkan keramaian dunia, dan berlandaskan dengan keteguhan rasa bahwa apa yang kita lakukan itu semua berdasarkan kecintaan kita terhadap Tuhan, Gusti Ingkang Hakarya Jagad, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi…

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Membuat Tumpeng"

  1. J C  17 March, 2016 at 15:39

    Dian, aku selalu suka tumpeng dan filosofi yang ada di baliknya…simbol-simbol filosofi dan universal wisdom…sayang sekali, atas nama “pemurnian ajaran”, hal yang begini di sini juga mulai banyak diharamkan karena acuan dan kiblat ngawur pemurnian ajaran kiblat padang pasir sono…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *