Diary (2)

Wina Rahayu

 

Kontak Via Telp

Hari / tanggal : Kamis, 16 April 2009

 

Deteksi Dini

     Sore pukul 15.30 WIB, aku terima telpon dari mbak Gin . “Lagi apa mbak?”. Kujawab “Biasa mbak masih di kantor.”, selanjutnya dia cerita tentang kedatangan tim dari dinas tenaga kerja (Disnaker) ke pabrik untuk melakukan “Deteksi Dini”. Beberapa buruh dikumpulkan, ada dari bagian produksi, bagian umum dan Satpam. Dari pihak perusahaan 2 orang staf personalia, dan manager produksi. Disnaker menanyakan ke buruh tentang UMP (Upah Mininum Provinsi) apakah sudah dilaksanakan, tapi nggak ada yang jawab. Akhirnya karena semua diam, mbak Gin berinisiatif bicara. “UPM sudah kita terima, tetapi perhitungan lembur yang belum jelas. Perjam lembur kita dibayar Rp. 5.000,-.”

Mendengar hal itu Disnaker menegur bagian personalia, perhitungannya harus jelas karena perhitungan lembur 1 jam pertama berbeda dengan 1 jam berikutnya. Bukan hanya soal jam lembur saja yang ditanyakan Disnaker, juga tentang hari kerja dan penggantian hari kerja saat giliran mati lampu dari PLN. “Di sini tidak ada tanggal merah semua tanggal biru.” “Maksudnya….?” lanjut Disnaker. “Soal hari libur tak jelas,” tambah mbak Gin. Bukan hanya mbak Gin yang bicara dalam proses “Deteksi Dini” tersebut, seorang satpam menyampaikan tidak jelasnya upah yang diterimanya. “Saya kerja dari jam 07.00 WIB sampai jam 19.00 WIB dan upah yang saya terima Rp. 850.000,“ ungkapnya.

Beberapa masalah yang disampaikan buruh menjadi bahan evaluasi tim deteksi dini terhadap pelaksanaan UMP dan beberapa pelaksanaan aturan perusahaan tentang jam kerja,upah lembur dll. Jika terjadi pelanggaran dalam pelaksanaannya maka perusahaan akan diperingatkan oleh Desnaker namun tidak ada mekanisme sangsi yang jelas.

“Setelah Mbak Gin menyampaikan beberapa pelanggaran yang dilakukan perusahaan, kira-kira akan berdampak negatif terhadap posisimu nggak mbak?” tanyaku. “Sampai saat ini tak ada masalah.” Jawab mbak Gin. Setiap perjuangan tidak lepas dari resiko, tapi bagaimana meminimalkan resiko. Itu hal prinsip agar perjuangan tidak patah sebelum sampai ke tujuan yang diharapkan. ######

 

Rabu, 22 April 2009

“Ditendang Aja Mbak”

     Suasana rumah itu nampak lengang, kondisi pintu tertutup tapi tak terkunci. Aku tetap memencet bel untuk meyakinkan diri. “Assalamualaikum,” itulah bunyi kas bel rumah mbak Gin. Setelah 2 kali tak ada reaksi dari dalam akhirnya kuputuskan untuk bertanya ke 2 orang laki-laki yang ada di depan rumah mbak Gin. Dari mereka aku tahu bahwa mbak Gin masuk pagi.

Kuputuskan untuk menulis surat dan memasukkan buklet PMS dan HIV-AIDS melalui celah pintu yang sempit itu. Saat aku baru menulis surat, ada bapak-bapak yang sepertinya tukang ojek mengantar 2 orang anak sekolah dan salah satunya Enggar anak mbak Gin. “Enggar, ibu masuk pagi ya?” “ Ia mbak.”jawabnya singkat. “Kamu bawa kunci,” tanyaku pada Enggar. “Pintunya tidak pernah dikunci, tendang aja.” Ucap Enggar sambil mengayunkan kakinya yang masih bersepatu untuk menendang pintu rumahnya.

Saat pintu terbuka, ada sepasang kaos dan celana yang sudah dipersiapkan untuknya di atas meja. Setelah melepas semua atribut sekolahnya Enggar segera beranjak pergi untuk bermain. “Mbak, mau di sini?” tanyanya. “Nggak, aku mau ke rumah Mbak Dewi.” Ucapku. Dan dengan sekilat pandang Enggar sudah meninggalkanku setelah pintu rumahnya di tutup.

Itulah pemandangan yang bisa saja tergambar tidak hanya di rumah mbak Gin, tapi juga di rumah-rumah lain. Orang tua mereka sedang bergelut untuk memperjuangkan hidup dengan menjadi buruh di pabrik. Dunia industrialisasi bukan hanya menghabisi kehidupan buruh sendiri tetapi juga keluarganya tidak terkecuali anak-anak mereka. Tak ada pilihan yang mengenakkan buat mereka, bila bermalas-malahan maka akan tergilas oleh kehidupan. Namun saat pilihan bekerja dilakukan oleh suami istri, ada anak yang harus tergadaikan haknya untuk mendapat pengasuhan yang layak. Itulah realitas yang menyedihkan dan memprihatikan. #####

 

24 Maret 2010

“Ibu Sekarang Sering Marah-Marah”

    Saat aku sampai di rumah mbak Gin, pintu tertutup rapat dan nampak lengang. Enggar anak kedua mbak Gin yang sedang bermain di rumah tetangga datang menyambutku dan menyampaikan ibunya masuk siang. “Enggar sama siapa di rumah?” tanyaku. “Aku sama mbak Dini,” jawabnya singkat dan segera lari bermain kembali. Karena lama tak bertemu Dini kuputuskan untuk bertemu dengannya, untuk tahu kabar semuanya.

Beberapa saat aku menunggu di depan pintu, walau sudah kutekan berkali-kali bel rumah tersebut. Saat pintu terbuka, Dini cukup kaget dan tak menyangka kalau aku yang datang. Dengan riang dia menyambutku, dan kamipun duduk sambil menanyakan kabar masing-masing. Obrolan berlanjut panjang saat aku tanya bagaimana kabar ibunya. “Sekarang ibu sering marah-marah. Apalagi kalau Enggar mulai minta yang aneh-aneh, untuk cari perhatian.” ungkap Dini sambil menahan kesedihannya. Ia paham kebutuhan adiknya atas perhatian ibunya, karena hal itu pernah terungkap jelas disampaikan oleh Enggar. “Aku pinginnya kalau libur pergi sama mamak, bapak naik motor. Tapi mamak kerja terus,” ungkap Enggar. Kesedihan itulah yang tak kuasa Dini sampaikan ke ibunya karena ia tahu pekerjaan ibunya yang menuntut harus lembur terus. “Aku kasihan sama Enggar karena ia kurang perhatian tapi aku juga kasihan ibu karena sekarang sering lembur. Aku juga pernah dengar waktu ibu cerita sama bapak kalau teman-teman kerjanya tidak bisa diajak kerja sama.” tambah Dini. “Gerakan buruh saat ini tidak seperti saat ibumu masih di kerja di pabrik tektil. Dulu tidak ada buruh kontrak sehingga buruh lebih solid dan mudah diorganiser, tetapi saat ini sejak sejak pola outsourcing diberlakukan maka gerakan buruh semakin melemah. Masing-masing buruh hanya bisa menegosiasikan apa yang menjadi kepentingannya sendiri, tidak bisa bergerak bersama-sama.” Ucapku.

Realitas yang disampaikan Dini memang sangat getir, namun semua itu tidak cukup hanya memberikan kesedihan. “Itulah Din realitas kehidupan saat ini. Hal ini harus jadi proses belajar untuk kita semua, saat ini orang tua punya tanggung jawab yang berat untuk memenuhi ekonomi keluarga. Kalau mereka dapat memilih tentu tidak ingin anak mereka terlantar karena tidak sempat mengasuhnya. Tapi kehidupan diera industrialisasi dan pola kerja kontrak membuat mereka serba terjepit dengan sistem kerja di perusahaan,” ungkapku. Dialog itu semakin dalam sebagai sebuah proses refleksi bersama. Sebagai generasi muda, Dini yang saat ini duduk di kelas 2 SMK tidak menutup kemungkinan akan memasuki dunia kerja seperti yang dijalani oleh ibunya. “Tidak menutup kemungkinan Dini juga akan menjadi buruh pabrik, jadi persoalan tentang perburuhan, bagaimana aturan dan UU perburuhan yang berlaku juga harus diketahui. Dan jika memutuskan berkeluarga, pilihan punya anak bukanlah suatu persoalan yang sederhana. Dini dan Enggar sudah merasakan bagaimana tidak sederhananya apa yan dijalani ibu dan bapak.” Nampak Dini serius mencermati dialog ini.

Proses pengorganisasian pikiran coba aku lakukan ke seorang anak buruh yang mulai merasakan efek kehidupan industrialisasi. Dengan proses ini, semoga Dini mampu menganalisa dan mencapai kesadadaran kritis atas berbagai realitas yang dihadapi. #####

 

 

4 Comments to "Diary (2)"

  1. J C  17 March, 2016 at 15:45

    Keren, keren…

  2. james  15 March, 2016 at 08:43

    mas DJ apa bedanya Diary dan Diare. kedua nya bikin mules perut loh….Diary bikin mules perut karena kadang ada yang lucu sedangkan Diare mules perut karena memang sakit perut salah makan

  3. Dj. 813  15 March, 2016 at 02:44

    Diary masih bagus, asal jangan Diare saja . . .
    Hahahahahahaha . . . . ! ! !

  4. james  14 March, 2016 at 14:27

    1…..Diary itu segi positif dan negatifnya

    absenkan para Kenthirs kedalam Diary Baltyra saja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.